Kentut yang mengganti namanya: 'Saya lega, tambah semangat'

Ihsan Hadi setelah sidang selesai. Hak atas foto Tribunnews/Andika Panduwinata
Image caption Ihsan Hadi setelah sidang selesai.

Pria yang bernama Kentut mengganti secara resmi namanya menjadi Ihsan Hadi setelah 31 tahun menyembunyikan jati diri.

Kentut langsung sujud syukur setelah hakim Pengadilan Negeri Tangerang memutuskan pergantian namanya,

Setelah ketukan palu hakim, Kentut resmi terbebas dari nama pemberian orang tuanya yang dipakainya selama 31 tahun, dan berganti nama menjadi Ihsan Hadi.

"Saya lega, tambah semangat dan tambah pede (percaya diri) terutama," kata Ihsan Hadi kepada BBC Indonesia, Senin (23/04). Pesta syukuran pun akan digelar Jumat depan.

Pria 31 tahun ini mengganti namanya karena takut anaknya diejek karena punya bapak bernama Kentut.

"Saya punya tiga anak, dua cowok satu cewek, saya ingin mereka tidak minder. Dan agar saya juga tidak minder lagi," kata Ihsan Hadi.

Kentut kecil sudah ingin mengganti namanya sejak umur enam tahun. "Saya tadinya agak minder, waktu kecil saya sering diejek," kata Ihsan. Dia sering kali bertanya-tanya pada orang tuanya, kenapa dia harus dinamai Kentut.

"Kata ibu, ya namanya sudah bagus. Itu namanya tidak ada artinya, pokoknya itu," kata Ihsan. Meski demikian, pergantian nama dilakukan atas izin kedua orang tuannya. Mereka pun mendoakan agar Ihsan makin sukses dan banyak rezeki setelah ganti nama.

Selama ini, Ihsan berhasil menyembunyikan nama aslinya. Tak banyak yang tahu dia sebenarnya bernama Kentut. Dia memakai nama Ihsan Hadi, kecuali kalau ada urusan resmi dengan dokumen.

Keluarga istrinya pun baru tahu bahwa nama aslinya adalah Kentut. "Mereka kaget tahu surat-suratnya, karena waktu kenalan pakai nama Ihsan Hadi, di KUA pakai nama itu," kata pedagang mie ayam bakso yang juga mengajar hafalan Al Quran pada sore hari ini.

Ihsan punya tiga anak, yang baru tahu namanya saya setelah melihat KTP. "Bapak kok namanya Kentut? Jelek banget namanya?" kata Ihsan menirukan anak sulungnya.

Seluruh proses pergantian nama memakan waktu satu setengah bulan, dengan biaya sidang Rp 270.000 dan lima kali bolak balik ke pengadilan.

"Hakim mengerti dan mengabulkan karena dasar saya kuat, saya kan guru ngaji dan agar anak-anak nggak minder," kata Ihsan.

Saking traumanya dengan namanya, Ihsan mengambil alih penamaan adiknya, Abdul Hisyam Romadona, yang kini berusia 13 tahun.

"Karena selisihnya banyak, saya yang memberi nama, takut bapak dan ibu nanti salah memberi nama lagi, kata Bapak dan Ibu saya saja yang cari nama," kata Ihsan sambil tertawa.

Kentut tak sendiri

Selain Kentut, atau yang sekarang sudah berubah nama menjadi Ihsan Hadi, ada berbagai nama aneh yang sempat menjadi pusat perhatian. Di Palembang ada "Saiton", sedangkan "Tuhan" tinggal di Banyuwangi.

Hak atas foto Tibun Jogja
Image caption Andi Go To School memamerkan KTP-nya

Di Magelang, Jawa Tengah ada polisi bernama Andi Go To School yang punya kakak bernama Happy New Year dan adiknya bernama Rudy Good Boy. Andi pun menurunkan keunikan itu pada anaknya, yang diberi nama Genio Silvero Go To Paradise.

Nama-nama aneh juga muncul di luar negeri, dan bahkan dilarang oleh hakim, seperti nama Nutella, dilarang di Prancis; Cyanide (sianida) dilarang oleh hukum di Inggris, dan mungkin yang paling aneh seorang anak perempuan yang dinamai 'Talula Does the Hula From Hawaii' (Talula Bermain Hula dari Hawaii) di Selandia Baru.

Sebuah studi di Jepang mengkaji praktik pemberian nama antara 2004 dan 2013 dan menemukan bahwa orangtua di Jepang menciptakan nama bayi yang unik dengan memadukan karakter huruf Cina tradisional dengan cara pengucapan yang tidak lazim.

Cerminan masyarakat yang semakin urban

Profesor Sosiologi Universitas Gajah Mada Sunyoto Usman menjelaskan bahwa pemberian nama-nama yang tidak lazim adalah cerminan lepasnya keluarga inti dari pengaruh keluarga besar dan lingkungannya.

"Zaman dulu keluarga adalah bagian dari keluarga besar, sehingga apa yang dilakukan seseorang tak bisa lepas dari pengaruh keluarga besarnya, dan bahkan terkait dengan pemimpin lokalnya," kata Sunyoto pada BBC Indonesia.

Dia mencontohkan bahwa di Madura misalnya, orang tua menamai anaknya dengan bertanya pada kyai. Keluarga santri menganggap nama adalah doa, dan mengadopsi nama nabi dan para sahabat. Adapun keluarga priyayi mengidentifikasi nama-nama keraton.

"Sekarang kaitan sudah lepas, semua ditentukan oleh keluarga itu sendiri. Dia mau memberi nama apa saja, jadi tanggung jawab keluarga itu sendiri," kata Sunyoto.

Hal ini tidak mungkin terjadi ketika kontrol sosial berpengaruh kuat pada keluarga. "Ketika kontrol sosialnya kuat, itu tidak mungkin terjadi karena nanti nanti jadi bahan celaan," kata dia. Seperti kasus Kentut, yang merasa minder karena namanya, dan mengganti nama karena takut anaknya menjadi bahan celaan.

Hak atas foto Tribunnews/Ega Alfreda
Image caption Kentut di warungnya.

Penyebabnya pemberian nama-nama tidak lazim adalah pola pikir yang semakin urban.

Nama-nama yang unik ini dianggap sebagai "gelar baru" yang akan melekatkan identitas baru pada diri seseorang.

"Mereka mengidentifikasikan keluarganya dengan tokoh-tokoh yang punya prestasi internasional, maupun nama barat yang dianggap bisa menaikkan status sosialnya di masyarakat," kata Sunyoto.

Ketika kontrol sosial masih kuat mempengaruhi keluarga inti, memiliki nama unik kemungkinan akan menyebabkan sanksi sosial. Misalnya jika petani memakai nama ningrat, maka namanya yang akan disalahkan jika terjadi hal yang buruk pada anak tersebut.

"Ada istilah nama yang berat, jadi ketika anaknya sakit, dianggap karena keberatan nama, keluarga besar pun menyarankan untuk ganti nama," kata dia.

Joyodiningrat misalnya, nama priyayi yang jika dipakai anak petani, maka akan diminta untuk menyesuaikan dengan kehidupan petani. "Petani punya nama yang sederhana dari lingkungan sekitarnya, misalnya kalau lahirnya Selasa, namanya Lasa, kalau pas lahir saat panen namanya Pariyem, parine ayem (padinya tenang),"

"Sekarang itu sudah pudar, sudah tidak nampak," kata dia.

Topik terkait

Berita terkait