'Kalau dia masih hidup saya ingin memeluknya': Jalan berliku mencari anak dan orang tua kandung

Andre Kuik yang sudah berhasil menemukan ibu kandungnya. Hak atas foto BBC Indonesia/Dwiki Marta
Image caption Andre Kuik yang sudah berhasil menemukan ibu kandungnya.

Begitu banyak anak yang mencari orang tua kandungnya dan juga sebaliknya, setelah proses adopsi yang tak jelas. Dari mana harus mulai mencari?

"Saya sangat merindukan putri saya yang pertama. Kalau dia masih hidup saya ingin memeluknya, kalau dia mati, di mana kuburnya?" kata Angelina, salah satu pembaca BBC Indonesia yang bertanya, ke mana harus mencari anaknya.

Pembaca bernama Ami bertanya tentang bagaimana mempertemukan ibu dan anak yang dipisahkan sejak lahir. "Sudah terpisah selama 30 tahunan."

Pertanyaan ini muncul terkait artikel dan video BBC Indonesia tentang Andre Kuik yang berhasil bertemu dengan ibu kandungnya di Lampung setelah 40 tahun terpisah.

Andre termasuk salah satu orang yang beruntung dapat bertemu ibunya lagi. Ia diadopsi warga Belanda sejak berusia lima bulan.

Sejak kisah Andre dipublikasikan, banyak sekali komentar masuk ke inbox BBC Indonesia yang meminta bantuan untuk menemukan orang tua kandung, anak kandung maupun kerabat lain yang hilang.

Adopsi memang banyak terjadi di Indonesia. Menurut Yayasan Mijn Root, pada rentang waktu antara 1978-1983 ada sekitar 3.000 anak Indonesia diadopsi ke luar negeri. Ada pula anak yang diadopsi secara resmi oleh sesama warga Indonesia, meskipun banyak anak yang diadopsi secara tidak resmi.

Sejak tahun 1983, pemerintah mulai membatasi adopsi oleh warga negara asing. Yayasan Sayap Ibu ditunjuk sebagai satu-satunya yang diizinkan memproses adopsi warga negara asing.

Syaratnya adopsi anak Indonesia oleh warga negara asing tidak mudah. Selain kelayakan secara ekonomi, umur, latar belakang dan syarat-syarat administrasi lain, warga negara asing juga harus punya pekerjaan di Indonesia.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Pertemuan pertama setelah 40 tahun terpisah

"Mereka sudah harus tinggal minimal dua tahun di Indonesia dan masih akan ada di Indonesia selama proses adopsi," kata Ketua Yayasan Sayap Ibu Jakarta, Tjondrowati Subiyanto, kepada BBC Indonesia.

Proses adopsi, baik oleh WNI maupun warga negara asing, bisa memakan waktu sampai satu tahun. "Karena kita harus memastikan bahwa anak ini masa depannya akan lebih baik," kata Tjondrowati.

Di Yayasan Sayap Ibu saja, ada lebih dari 1.500 anak yang sudah diadopsi selama 48 tahun terakhir, baik oleh orang Indonesia maupun oleh warga negara asing. Dari ribuan anak tersebut, seringkali ada anak yang kembali ke Yayasan Sayap Ibu untuk mencari orang tua kandungnya.

"Kami beberapa kali mempertemukan anak dengan orang tua kandungnya," kata Tjondrowati.

Sebagian besar anak yang mencari orang tua kandungnya adalah anak-anak yang diadopsi oleh warna negara asing.

Kini ada 30 anak yang tinggal di Sayap Ibu, berusia dari bayi hingga 17 tahun.

"Mereka adalah anak-anak yang tidak teradopsi karena ada kebutuhan khusus, dari ringan hingga berat," kata dia.

Ada anak yang butuh terapi fisik, pendampingan psikolog, berbagai pemeriksaan dan operasi.

Sejumlah organisasi lain termasuk melalui sosial media juga ada yang ikut membantu pencarian kerabat termasuk sejumlah kelompok di Facebook.

Mutiara Norma Rini dari grup Facebook Mencari Orang Tua Kandung mengatakan kepada BBC Indonesia, "Dari beberapa klien dari Belanda, kita sudah membantu menemukan empat anak adopsi dan orang tuanya via Facebook."

Di tengah berbagai upaya ini, apa langkah yang perlu dilakukan untuk mencari kerabat? Inilah proses yang kami rangkum:

Proses mencari anak atau orang tua

1. Mengumpulkan data lengkap

Ketua Yayasan Sayap Ibu Jakarta Tjondrowati Subiyanto menjelaskan bahwa proses pencarian orang tua kandung akan lebih mudah dilakukan jika pencari masih punya data-data lengkap mengenai siapa orang tua kandungnya.

Siapa yang menjadi saksi saat adopsi dilakukan, di daerah mana, siapa nama lengkap orang tua kandung dan alamatnya.

Lebih baik lagi jika masih ada dokumen resmi, seperti dokumen adopsi, surat dari notaris, atau keputusan pengadilan.

Foto dan ciri-ciri fisik juga dapat menjadi data tambahan.

2. Mencari ke yayasan atau lembaga yang membantu proses adopsi

Anak yang diadopsi dari lembaga resmi, dapat mencari ke lembaga yang mengurus adopsinya.

Setiap anak yang diadopsi melalu Yayasan Sayap Ibu, misalnya, pasti memiliki surat-surat yang lengkap. Jika mereka masih memiliki dokumen tersebut, lebih mudah mencari asal usulnya.

"Kalau yang diadopsi di Yayasan Sayap Ibu, bisa kita carikan. Asal ada data jati dirinya siapa, kira-kira tahun berapa, nama orang tuanya siapa, yang angkat siapa," kata Tjondrowati.

"Kumpulkan data apa yang dia punya, lalu bisa hubungi ke bagian adopsi," kata dia. Catatan mengenai adopsi yang dilakukan Yayasan Sayap Ibu sejak tahun 60-an masih tersimpan hingga sekarang.

Pencarian juga dapat dimulai dengan mengumpulkan data dari notaris atau pengadilan yang memutuskan kasus pengadopsian.

Hak atas foto AFP/Getty Images

3. Bagaimana jika tidak punya dokumen apa-apa?

Tjondrowati tetap mempersilakan pencari orang tua kandung untuk datang ke Yayasan Sayap Ibu dan bisa dibantu oleh bagian pengangkatan anak.

Siapa tahu, mereka diadopsi melalui yayasan ini. Kalaupun ternyata mereka tidak diadopsi melalui yayasan ini, maka yayasan tidak dapat membantu.

"Masalahnya biasanya kalau orang Indonesia yang mengadopsi anak Indonesia, biasanya tidak pakai dokumen-dokumenan," kata Eko Murwantoro, tim pencari orang tua kandung dari Yayasan Mijn Roots.

Tanpa itu, menurut Eko, memang luar biasa sulit melacak siapa keluarga kandung. "Kalau pengadopsian di bawah tangan tanpa saksi-saksi, susah sekali," kata Eko.

4. Menggunakan jasa lembaga khusus maupun sosial media

Ada Yayasan Mijn Root yang fokus untuk mencari orang tua kandung anak-anak Indonesia yang diadopsi oleh warga negara asing.

Pada era digital seperti saat ini, salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan menyebarkan informasi melalui media sosial.

Selain media sosial pribadi, ada beberapa akun yang dapat membantu menyebarkan informasi mengenai pencarian orang tua kandung.

Salah satunya adalah halaman Facebook Mencari Orang Tua Kandung.

https://www.facebook.com/mencariorangtuakandung/

Kendala dalam pencarian keluarga yang hilang

Andre Kuik merupakan salah satu dari 24 anak adopsi warga Belanda yang berhasil kembali bertemu dengan keluarga mereka melalui bantuan Yayasan Mijn Roots, yayasan yang didirikan oleh Christine Verhaagen dan Ana van Keulen tiga tahun lalu untuk membantu anak-anak adopsi menemukan orang tua kandung mereka.

"Ada yang sudah terlambat tidak menemukan orang tua mereka, namun berhasil bertemu dengan kakak atau adiknya, tapi masih banyak yang belum berhasil juga," kata Eko Murwantoro, tim pencari orang tua kandung dari Yayasan Mijn Roots.

Mencari orang tua kandung tidak mudah. Tahap awal yang biasanya dilakukan oleh Eko adalah mengumpulkan semua data. Data yang lengkap tak menjamin kesuksesan karena data juga sering dipalsukan.

"Misalnya, orang tua dari kampung, pengadopsian di Jakarta padahal mereka bukan penduduk Jakarta, jadi alamat yang tercantum tidak benar. Setelah dilacak, alamatnya tidak ada," kata Eko.

Eko menceritakan kasus di Pasuruan, di mana dulu ada ratusan bayi yang diadopsi dari anak-anak yang dilahirkan oleh wanita tuna susila.

"Ibunya sudah tidak terlacak, dan pengadopsian memakai nama ibu-ibu lain," kata dia.

Untuk menelusuri keberadaan orang tua kandung, Mijn Root juga harus menelusuri dokumen kependudukan ke Kelurahan maupun Kantor Catatan Sipil. Sayang, usaha ini sering terhambat karena petugas yang tidak kooperatif.

Mencari data dari notaris pun menjadi kesulitan tersendiri. "Notarisnya juga ada yang sudah meninggal. Penggantinya sering tidak kooperatif dan selalu minta uang," kata Eko.

Hak atas foto BBC Indonesia/Dwiki Marta
Image caption Eko menjelaskan proses penelusurannya hingga menemukan ibu kandung Andre.

Menurut Eko, akses pada data sangat penting dan sangat membantu pencarian.

Misalnya, pengetahuan bahwa ibu kandung lahir di daerah tertentu, apalagi dengan tanggal dan tempat lahir, data tersebut dapat digunakan untuk melacak melalaui Dinas Kependudukan.

"Kalau saya didukung pemerintah, saya akan lebih bisa menemukan anak dengan orang tuanya," kata dia.

Setelah melewati proses panjang tersebut dan orang tua kandung akhirnya ditemukan keberadaannya, mereka harus mencocokkan identitas, cerita, dan kemiripan anak dan kedua orang tuanya.

Jika sudah yakin, barulah tes DNA dilakukan.

Bahkan dengan data-data yang sudah lengkap, tes DNA tak selalu berakhir positif. Beberapa pengalaman Mijn Root, saat tes dilakukan, hasilnya negatif, yang artinya, tidak ada hubungan ibu dan anak.

"Begitu kompleksnya masalah ini, saya berharap pemerintah mau ikut berpartisipasi dan membantu kami yang selama ini bergerak sendiri," kata Eko.

Berita terkait