Tagar #TerorismeBukanIslam dan perdebatannya: Benarkah terorisme tak terkait agama?

Warga saling membantu menyalakan lilin saat mengikuti aksi solidaritas Malam Seribu Lilin di depan Gereja Katedral, Malang, Jawa Timur, Senin (14/5). Hak atas foto ANTARA/ARI BOW0 SUCIPTO
Image caption Warga saling membantu menyalakan lilin saat mengikuti aksi solidaritas Malam Seribu Lilin di depan Gereja Katedral, Malang, Jawa Timur, Senin (14/5).

Setelah terjadi tiga ledakan bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur, banyak unggahan di media sosial yang menyatakan bahwa terorisme bukan bagian dari agama.

Namun kemudian, pernyataan tersebut banyak diperdebatkan oleh pihak-pihak yang mengatakan bahwa agama sering digunakan untuk menanamkan bibit ajaran terorisme.

Melalui akun media sosialnya, Presiden Joko Widodo, selain mengatakan bahwa terorisme adalah tindakan biadab, dia juga mengatakan bahwa, "Terorisme adalah musuh bagi semua agama".

Unggahan Presiden Jokowi tersebut kemudian sudah disebar 13.000 kali dan disukai 19.000 kali.

Video singkat dari unggahan media sosial Presiden Jokowi itu kemudian digunakan untuk menegaskan pesan bahwa 'terorisme tidak ada kaitannya dengan agama apa pun'.

Unggahan media sosial Cholil Nafis, Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia, juga mengatakan bahwa, "Terorisme itu bukan produk agama apalagi termasuk ajarannya", namun kemudian pernyataannya tersebut dibalas oleh pengguna lain yang mengatakan bahwa para pelaku menjalankan ketentuan agama.

"Sebaiknya intro(s)peksi ada yang salah dalam cara dakwah selama ini," kata pengguna @mfalemi.

Cuitan lain yang juga ramai dibagikan meminta agar orang "pisahkan agama dengan perilaku manusianya" dan bahwa para pelaku aksi terorisme adalah "oknum yang membajak ajaran agama".

Di media sosial, tagar #TerorismeBukanIslam pun ramai digunakan. Spredfast mencatat ada sekitar 152.000 cuitan lebih yang memakai tagar itu sejak 14 Mei.

Ada beberapa tagar lain yang juga kurang lebih sama populernya dan menyampaikan pesan serupa, seperti #islamlawanterorisme, #dakwahtanpakekerasan, #waspadaskenariojahat, dan #islamselamatkannegeri.

Hak atas foto Spredfast
Image caption Penggunaan tagar #TerorismeBukanIslam sesuai catatan Spredfast.

Narasi yang disampaikan lewat tagar tersebut kemudian ramai dipertanyakan oleh pengguna media sosial lain.

Salah satu yang populer dibagikan adalah dari pengguna @diqit yang mengatakan, "Ada temen bilang : kalau ada teroris suruh liat perbuatan, bukan agamanya. Tp kalau milih gubernur, suruh liat agamanya, bukan perbuatannya."

Unggahan tersebut sudah disebarkan hampir 10.000 kali dan disukai lebih dari 4.000 kali.

Musisi Jerinx dari band Superman is Dead juga mengatakan bahwa, "Ini fakta yg harus kamu terima, bibit terorisme justru ditabur pemuka agamanya."

Unggahan tersebut kemudian dibagikan lebih dari 1.500 kali dan disukai lebih dari 600 kali.

Sementara itu, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Alissa Wahid mengatakan bahwa, "Semua agama & semua ideologi di muka bumi pernah dijadikan alasan aksi terorisme."

"Perebutan makna dan simbol agama di ruang publik"

Hak atas foto Yaya Ulya
Image caption Doa bersama untuk korban serangan di Surabaya dilakukan di Yogyakarta.

Bagi peneliti radikalisme Doktor Najib Azca dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, perdebatan ini memperlihatkan "perebutan makna, tafsir, dan simbol agama di ruang publik".

"Itulah yang terjadi, tidak hanya di Indonesia, tidak hanya Islam, ini gejala global. Makna dan simbol agama selalu dikontestasikan oleh berbagai pihak, ada yang menggunakan agama sebagai simbol inpirasi untuk gerakan-gerakan damai, transformasi sosial ekonomi politik, dan bisa juga sebaliknya, agama apapun bisa dijadikan simbol, jadi identitas, jadi basis mobilisasi gerakan sekelompok orang untuk tujuan-tujuan sebaliknya, bisa destruktif, bisa macam-macam," kata Najib.

Perebutan makna agama ini terjadi karena, menurut Najib, agama tak pernah hadir di ruang vakum dan terisolir, tapi pada praktiknya, "agama selalu ada di ruang sosial, ekonomi, politik di mana ada pertarungan dan percaturan antar-pihak yang menggunakan argumen dalih dan dalil identitas keagamaan".

Najib mengakui bahwa memang, pelaku terorisme tidak eksklusif dan tidak melekat pada agama tertentu, namun, dia menambahkan, bahwa agama memiliki dimensi yang ambigu.

"Di satu sisi dia mengajarkan damai, rahman rahim, pengampunan, cinta kasih, tapi agama punya sisi dimensi yang memuat unsur-unsur yang bisa ditafsirkan sebagai katakanlah perintah untuk menegakkan kebenaran, perintah untuk menegakkan keadilan, perintah untuk menegakkan sesuatu yang dianggap baik secara moral dengan cara-cara yang keras. Ini adalah tafsir," kata Najib.

Menurut Najib, karena karakter ambivalensi dari kitab suci itu, maka ada umat-umat yang menafsirkan ayat-ayat suci dengan perintah menegakkan kebenaran sebagai justifikasi atas perilaku teror.

Agama untuk kepentingan tertentu

Hak atas foto Robert, Suara Wajar Bandar Lampung
Image caption Pemuda lintas agama di Bandar Lampung berdoa bersama dan melakukan aksi solidaritas pengeboman Surabaya.

"Saya kira itu yang terjadi di Jawa Timur, dan itu tidak eksklusif Islam, karena ada penganut agama Shinto di Jepang, atau Hindu di India, atau Buddha di Myanmar, mereka menggunakan dalil dan dalih agama untuk melakukan kekerasan pada pihak lain yang menurut mereka justified (bisa dibenarkan), legitimate (punya dasar kuat)," ujar Najib.

Sebelumnya, Profesor Abdul A'la, salah seorang ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang pernah menjabat sebagai rektor UIN Sunan Ampel, Surabaya, mengatakan bahwa serangan atas tiga gereja di Surabaya merupakan aksi terorisme yang semata-mata untuk mengganggu ketenangan masyarakat.

"Terorisme itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan ajaran (agama) mana pun, ajaran (agama) apa pun. Kalau mengatasnamakan agama, maka itu sebenarnya agama hanya digunakan untuk kepentingan-kepentingan tertentu."

Konferensi Wali Gereja Indonesia juga memilih untuk tidak membuat pernyataan sendiri terkait serangan bom di tiga gereja di Surabaya agar jelas bahwa peristiwa di Surabaya tidak menyangkut komunitas agama tertentu.

"Yang diserang bukan hanya lembaga gereja, lembaga agama, tapi juga lembaga negara, khususnya kantor kepolisian. Sehingga jelas ini bukan masalah agama, tetapi masalah yang menyangkut Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata Monsinyur Ignatius Suharyo dari Keuskupan Agung Jakarta dalam jumpa pers.

Ignatius juga menyerukan kepada masyarakat, khususnya para tokoh dan pemimpin, supaya tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk kepentingan apapun.

Di Facebook BBC Indonesia, perdebatan soal kaitan agama dan terorisme pun juga terjadi.

Salah satu pembaca, Dian Tri Hardianto berkomentar, "Terorisme memang bukan islam, kalau muslim ada yg menjadi teroris itu benar. Islam dan muslim itu tidak selalu sama. Dalam islam tidak ada ajaran terorisme, tapi seorang muslim bisa saja menjadi teroris. Maka yg perlu dilakukan adalah menghukum teroris dan menyadarkan umat agar tidak melakukan kejahatan terorisme."

Pembaca lain, Yuki, berkomentar, "Bagi pelaku ya tentu saja ini berkaitan dengan agama yang dianutnya karena sesuai pemahaman mereka ya begitu, mereka menelan bulat-bulat tanpa filter dan berguru pada tempat yg salah."

Pembaca lain, Yohanes AR mengatakan, "Tidak usah cuci tangan gitu lah, mending introspeksi diri dan memperbaiki dari dalam."

Berita terkait