Menyusul serangan teror, pemakai cadar dan celana cingkrang menangkis kecurigaan

cadar Hak atas foto AFP
Image caption Para perempuan yang mengenakan cadar.

Setelah serangan di Surabaya dan Pekanbaru, perempuan bercadar merasa ada di bawah sorotan karena sejumlah pihak mengaitkan mereka dengan terorisme.

Menyusul serangan-serangan itu, muncul gerakan untuk tidak mengasosiasikan cadar dan celana cingkrang dengan teroris.

Pemakai cadar sendiri merasa memang mereka berada di bawah sorotan ketika mereka berada di ruang publik.

"Dulu biasa saja, misalnya jalan ke mal bersama keluarga, tidak terlalu ada yang melihat. Sekarang agak lebih banyak yang melihat, hanya saja mereka melihatnya lebih gimana gitu, lebih ada stigma buruk sepertinya," kata Triningtyas Anggraini, salah satu pengurus Niqab Squad yang lebih dikenal dengan nama Tyas Ummu Zahid di komunitasnya.

Niqab Squad adalah komunitas perempuan berniqab yang dalam Instagramnya menulis bahwa mereka bertujuan "merangkul" muslimah agar tak merasa sendirian dalam berhijrah dan berniqab.

Akibat sentimen kecurigaan pascaserangan terorisme, suami Tyas melarang istrinya untuk ke luar rumah yang tidak perlu.

"Saya tidak diperbolehkan dulu ke luar rumah karena khawatir ada hal-hal semacam itu (sentimen negatif). Saya hanya ke tempat kerja dan ke tempat yang memang harus ke sana," kata Tyas saat dihubungi BBC Indonesia.

Di beberapa kota, para pemakai cadar dan pria bercelana cingkrang turun ke jalan untuk menghapus tudingan miring.

Peluk saya jika mereka aman

Pemakai cadar meminta perempuan yang lewat, baik memakai kerudung atau tidak, untuk memeluk mereka, jika mereka merasa aman. Pria bercelana cingkrang dan berjenggot meminta pria yang lewat untuk memeluk mereka.

Neng Dara Affiah, doktor sosiologi dan pengasuh pengasuh Pondok Pesantren Annizhomiyyah, Banten, mengapresiasi usaha tersebut.

"Mereka ingin mengatakan pada publik bahwa mereka bisa bersahabat dengan orang-orang yang tidak mengenakan pakaian yang sama, itu ekspresi pembelaan diri yang harus kita hargai," kata Neng Dara Affiah.

Adapun Tyas Ummu Zahid dan Niqab Squad lebih suka menangkis anggapan buruk tentang pemakai cadar, melalui sosial media.

"Wanita lebih baik ada di dalam rumah dan tidak turun ke jalan, jadi kami lebih memilih di Instagram, kampanye melalui tulisan," kata dia.

Tyas menjelaskan bahwa usaha tersebut memang selama ini telah dilakukan oleh Niqab Squad, untuk memberikan pengertian pada masyarakat luas bahwa yang berniqab, berjenggot, atau bercelana cingkrang itu bukan teroris.

"Karena teroris, perjuangan jadi lebih berat," kata Tyas.

Selain menulis di sosial media, Tyas menjelaskan, mereka juga berusaha mengambil hati masyarakat dengan menjaga perilaku.

"Kalau ada warga yang menggunjing dan mengolok-olok kita harus membalas dengan adab perilaku yang baik, misalnya tetap menyapa mereka, dan terus berbuat baik kepada tetangga," kata dia.

Untuk membangun hubungan yang lebih terbuka, Neng Dara menyarankan agar para pemakai cadar untuk membuka diri.

"Para pemakai niqab sebaiknya tidak eksklusif, mereka harus inklusif, mau bergabung lintas kelompok," kata Neng Dara yang juga dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia.

Selama ini dia menilai bahwa komunitas pemakai cadar masih eksklusif dan cenderung tertutup. "Misalnya masjidnya masih di antara mereka saja, misalnya sesama pakai burqa, sesama pakai jubah," kata dia.

Sikap menutup diri dan menjaga eksklusifitas itu membuat kecurigaan muncul. "Orang kan menjadi curiga kalau eksklusif seperti itu, harusnya membangun keterbukaan dengan kelompok-kelompok lain yang berbeda dengan mereka dan membangun dialog," kata dia.

Cadar vs rok mini

Dalam pembicaraan mengenai cadar, seorang ustaz menarik perhatian warganet karena membela perempuan bercadar tapi menuduh perempuan berpakaian mini sebagai penebar teror.

Saya selalu merasa aman & nyaman melihat wanita bercadar, justru saya merasa terganggu dengan para wanita berpakaian minimalis. Merekalah justru penebar teror, teror dosa kepada para lelaki.

Pendapat ini banyak dibantah oleh warganet.

Stop asosiasikan cadar sebagai simbol teroris hanya bisa berhasil jika masyarakat juga stop asosiasikan rok mini dengan penyebab perkosaan.

"Intinya berpakaian itu hak orang untuk berekspresi, kurang elok mengatakan bahwa tidak nyaman melihat orang berpakaian mini, atau tidak nyaman melihat orang mengenakan burqa," kata Neng Dara.

Menurutnya, pakaian perempuan adalah hak berekspresi yang harus dihargai. "Biarkan perempuan nyaman menggunakan apa saja, sepanjang itu sejalan dengan kepantasan-kepantasan sosial," kata Neng Dara.

Tyas yang telah mengenakan cadar sejak tiga tahun lalu pun tidak setuju jika perempuan yang berpakaian mini dan tidak memakai jilbab disebut sebagai teror.

Menurut Tyas, dalam agama Islam muslimah wajib menutup aurat seluruhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Meski demikian, banyak perempuan Islam yang belum menutup aurat.

Menanggapi hal itu, Tyas menyatakan tetap memperlakukan mereka yang tidak berjilbab seperti mereka memperlakukan muslimah lain.

"Kami tidak men-judge mereka, kami tidak pernah memperlakukan mereka seperti hal-hal yang meledek, mengejek dan memperlakukan mereka secara tidak baik, kami memperlakukan mereka dengan adab dan perilaku yang baik," kata dia.

Topik terkait

Berita terkait