Turun ke jalan sampai terjebak kerusuhan: Apa yang terjadi di kota Anda pada Mei 1998?

Demo mahasiswa. Hak atas foto AFP/BAY ISMOYO
Image caption Demo mahasiswa menuntut pengusutan tuntas kasus korupsi Soeharto.

Apa yang terjadi di kota Anda pada Mei 1998? Apakah Anda ikut turun ke jalan atau menjadi saksi kerusuhan? Bagikan pengalaman Anda dengan kami.

20 tahun lalu, rezim Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun akhirnya tumbang. Di Jakarta, 4 mahasiswa gugur tertembak senjata api aparat. Kerusuhan menyusul, menimbulkan ribuan korban.

Ruminah, seorang warga, mengenang saat kerusuhan di Yogya Plaza, Jakarta.

Dia melihat banyak sekali orang berteriak bakar, juga melihat banyak orang dikurung di dalam pertokoan yang pintunya dikunci.

"Saya dengar teriakan orang-orang meminta tolong sampai gedor-gedor rolling door, 'tolong buka-buka mama tolong ibu pintunya' tapi saya lihat pintunya digembok, saya bingung gimana mau nolong," kata Ruminah.

Setelah 20 tahun berlalu, Ruminah masih sering mengingat teriakan mereka.

"Kalau lagi tidur saya suka mimpi dengar kebisingan orang teriak-teriak minta tolong, kalau udah kayak gitu saya minum obat".

Warganet turut mengingat ketegangan saat terjadinya kerusuhan di kotanya. Dari Solo, Heriy Santoso, menceritakan kejadian yang dia ingat saat kecil.

Tak hanya mimpi buruk tentang penjarahan, warganet juga mengenang 1998 sebagai perjuangan menumbangkan rezim Orde Baru.

Di Makassar, mahasiswa turun ke jalan, Abraham Samad, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi ini menceritakan bahwa saat reformasi dia sudah bekerja sebagai pengacara, yang ikut turun ke jalan bersama para mahasiswa di Makassar.

Para mahasiswa masa itu pun mengenang kebanggaan menjadi agen perubahan yang memungkinkan terjadinya reformasi.

Di Jakarta, para mahasiswa menduduki gedung MPR/DPR di Senayan.

Berikut ini cerita para pembaca BBC Indonesia mengenai pengalaman mereka saat Mei 1998:Surabaya:

'Ninit' Lakshmi Paramanitya: Demo dimana mana termasuk di kampus saya di Surabaya. Kasihanetnis tionghoa, mereka sampai gak berani keluar beraktivitas. Harga yang sangat mahal untuk sebuah reformasi. Saya tidak ikut demo karena seringnya demo bukannya memperbaiki keadaan tapi justru memperburuknya, prinsip saya siapapun pemimpinnya, saya dukung dia bekerja dengan tenang.

Medan:

Ricky Sagita: Saya tinggal di Medan,pada Mei 98, ada rasa bahagia tentang berhembusnya angin REFORMASI.Hanya saja hal tersebut tercoreng oleh tragedi penjarahan, pembakaran dan perusakan rumah dan toko-toko. Masif dan besar-besaran, pecahan kaca dimana-mana, motor mobil dan gedung terbakar, asap hitam yang membubung tinggi ke angkasa.

Banjarmasin:

Novia Rossifumi: Saya asyik nonton kartun di tv, bermain dengan mainan saya, minum susu masih pakai dot. Waktu itu umur saya masih 3 tahun, sedangkan kakak saya umurnya 13 tahun. Mama memborong camilan di warung, supaya saya dan kakak saya tidak jajan. Kalau kakak saya ke sekolah, mama minta tolong guru kenalan almarhum ayah saya untuk mendampinginya. Malamnya, TNI bergantian menjaga gang kami. Rasanya gimana ya, nggak bisa main di luar, nggak bisa metik buah tinta yang tumbuh diluar. Nggak bisa melihat soang peliharaan Pak RT.

Solo

Jepara

Apa yang terjadi di kota Anda pada Mei 1998? Apakah Anda ikut turun ke jalan atau menjadi saksi kerusuhan? Bagikan pengalaman Anda dengan kami.

Topik terkait

Berita terkait