Dari Dilan ke Minke, film Bumi Manusia jadi jembatan antar generasi?

Para aktor film Bumi Indonesia, termasuk Iqbaal Ramadhan (depan, ketiga dari kiri). Hak atas foto Twitter
Image caption Para aktor film Bumi Indonesia, termasuk Iqbaal Ramadhan (depan, ketiga dari kiri).

Rencana pembuatan film Bumi Manusia berdasarkan novel Pramoedya Ananta Toer menimbulkan sejumlah perdebatan di media sosial. Di antaranya terkait dengan pemeran utama film tersebut dan juga apakah kisah dalam novel itu bisa dipahami generasi milenial.

Sutradaranya, Hanung Bramantyo, mengaku bahwa menyajikan substansi novel kepada kaum muda saat ini adalah pekerjaan rumah baginya. Untuk itu, dia memilih memusatkan perhatian mereka terlebih dahulu ke kisah percintaan antara tokoh Minke dan Annelies.

"Kisah cinta di dalam Minke dan Annelies itu menjadi trigger. Itu dulu yang saya pasang. Bukan itu yang akan saya eksplorasi secara berlebihan. Sebagai gula, sebagai pemantik orang-orang, akhirnya kemudian para milenial yang jauh dari karya sastra itu, jauh dari pemahaman sejarah itu, setidaknya bisa menikmati," kata Hanung.

"Jangan kemudian ditafsirkan bahwa saya hanya akan membuat kisah cintanya saja. Oh tidak sama sekali," tambahnya.

Gustika Jusuf-Hatta lewat twitter menulis bahwa dirinya sinis tentang rencana penayangan film Bumi Manusia.

Menurutnya, isi novel itu sangat mendalam dengan narasi bebas, tentang penjajahan Belanda, dan banyak hal lain. Dia khawatir film ini akan diubah menjadi "benar-benar" film percintaan.

Mega Soekardjiman menulis sisi positif, yaitu dirinya melihat begitu banyak teman-teman generasi milenial yang benar-benar membacanya.

Kaia salsnadia menulis, buku yang sudah ada selama lebih tiga puluh tahun ini adalah sebuah karya antar generasi yang (filmnya) akan ditonton bukan hanya Anda saja, tetapi juga orangtua Anda.

Salah satu ahli sastra Indonesia yang juga mengikuti perkembangan masyarakat adalah Profesor Sapardi Djoko Damono dari Universitas Indonesia.

Penyair yang juga pernah menulis buku berjudul Alih Wahana (2014) tentang perubahan dari satu jenis kesenian ke jenis lain ini bisa menjadi jembatan antara generasi yang lebih tua dengan milenial.

"Itu untuk menjual karya sastra (ke generasi yang lebih muda). Menjual film supaya laku. Itu saja. Bukan bagus atau tidak. Orang jualan bagus apa? Nggak ada masalah. Itu jualan kok. Orang bikin film kan jualan. Kan biaya besar, harus kembali dan untung," Sapardi menjelaskan.

Hak atas foto tribunnews.com
Image caption Iqbaal Ramadahn akan memerankan Minke, tokoh utama pada novel Pramoedya Ananta Toer.

Dilan jadi Minke?

Sebagian pihak memandang, selain perubahan format dan pendekatan cerita, penunjukan Iqbaal Ramadhan sebagai pemeran Minke adalah cara lain untuk mendekatkan karya sastra sarat makna ini ke generasi muda.

Tetapi muncul juga sejumlah protes dari netizen yang mempertanyakan kemampuan akting anggota boyband yang terkenal lewat film percintaan anak belasan tahun, Dilan 1990.

Hanung Bramantyo, yang tidak dibayar sebagai sutradara film ini, membantah Iqbaal tidak 'berisi' karena remaja 18 tahun ini sudah pernah membuat resensi Bumi Manusia saat menyusun tugas sekolah di Amerika Serikat.

"Saya bertemu dengan dia. Saya ngetes seberapa jauh pengetahuan dia, pertama tentang Bumi Manusia. Dan mengagetkan buat saya. Dia menjawab bahwa 'Bumi Manusia itu adalah novel yang saya pilih dengan sendirinya', bukan atas dasar karena mau main film atau apa," kata Hanung yang dikenal juga lewat film Ayat-Ayat Cinta.

Sementara Sapardi Djoko Damono tidak mempermasalahkan siapapun yang menjadi pemeran Minke di film Bumi Manusia. Profesor sastra UI ini belum bisa mengomentari kemampuan Iqbaal dalam pengkhianatan kreatif perubahan format kesenian ini.

"Harus berbeda, tidak bisa tidak berbeda (format buku dibanding dengan film). Karena wahananya lain. Renungan hanya bisa di kata-kata, di gambar nggak bisa. Semacam pengkhianatan terhadap karya sastra, tetapi kreatif. Itu wajar. Yah positif, yah negatif. Sama. (Terkait dengan perdebatan Iqbal sebagai Minke) Itu kan angan-angan orang. Itu kan tuduhan. Kan belum terbukti," Sapardi menegaskan.

Selain di Twitter dan Facebook, change.org juga menyediakan tempat bagi orang-orang yang mengomentari petisi terkait dengan pemeran Dilan sebagai Minke. Sudah ratusan orang yang menyampaikan pandangannya di situs organisasi ini.

Hak cipta buku Bumi Manusia dibeli Falcon Pictures dari keluarga Pramoedya Ananta Toer. Beberapa tahun lalu, sastrawan Indonesia yang meninggal pada tahun 2006 ini mengatakan kepada Hanung bahwa novelnya ini pernah ditawar Oliver Stone seharga US$60.000 atau Rp840 juta.

Shooting film akan dimulai pada bulan Juli selama tiga bulan, setelah selama lima bulan sebelumnya telah dilakukan sejumlah langkah persiapan. Masih belum diketahui kapan film ini akan beredar di umum dan dapat ditonton masyarakat.

Topik terkait

Berita terkait