Kemunculan spanduk "Anda sedang melewati jalan tol Pak Jokowi": Ada apa di balik 'politisasi' mudik?

Kendaraan pemudik antre di gardu tol darurat di jalan tol fungsional Pejagan-Pemalang, Kertasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Minggu (10/6). Pada H-5 lebaran kendaraan pemudik di jalan tol fungsional dari arah Jakarta menuju Jawa Tengah meningkat dan terjadi kemacetan di gardu tol darurat. Hak atas foto ANTARA/Oky Lukmansyah
Image caption Kendaraan pemudik antre di gardu tol darurat di jalan tol fungsional Pejagan-Pemalang, Kertasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Minggu (10/6). Pada H-5 lebaran kendaraan pemudik di jalan tol fungsional dari arah Jakarta menuju Jawa Tengah meningkat dan terjadi kemacetan di gardu tol darurat.

Mudik yang sudah menjadi aktivitas rutin tahunan bagi jutaan penduduk Indonesia menyambut Idul Fitri tahun tak lepas dari gaung politisasi dan persaingan menjelang pemilihan presiden 2019.

Bentuk politisasi yang menjadi perhatian warganet adalah kemunculan spanduk yang bertuliskan, "Pendukung #2019GantiPresiden, Anda sedang melewati jalan Tol Pak Jokowi."

Foto spanduk tersebut yang diunggah di akun @GieWahyudi sudah disebar lebih dari 500 kali dan disukai lebih dari 300 kali.

Sebelumnya, politisi PKS Mardani Ali Sera, lewat cuitannya sudah terlebih dahulu mengajak pendukung gerakan #2019GantiPresiden untuk membunyikan klakson tiga kali dalam perjalanan mudik.

Perdebatan soal 'klaim' jalan tol dan siapa yang 'berhak' melewatinya pun ramai di kalangan warganet, sebagian menyayangkan kemunculan spanduk yang menyatakan "Anda sedang melewati jalan tol Pak Jokowi" tersebut.

Menurut situs Spredfast, dalam sejak Jumat (08/06) pagi, 'jalan tol Jokowi' digunakan dalam hampir 12.000 cuitan dan meningkat pemakaiannya sejak Sabtu (09/06) malam.

Hak atas foto Spredfast
Image caption Penggunaan 'jalan tol Jokowi' di Twitter menurut pencatatan Spredfast.

Direktur Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia Aditya Perdana menilai "wajar" pada tahun menjelang pemilihan presiden, pihak-pihak yang berkepentingan dalam konteks pemilu sedang mencari dukungan pemilih.

"Baik yang pro maupun yang bukan pendukung Pak Jokowi akan melakukan hal yang sama," kata Aditya.

"Petahana pasti punya cara untuk mensosialisasikan program-program yang berhasil, apapun itu, semua kalau bisa dikeluarkan, sementara yang oposisi atau siapapun itu kan berusaha mencari celah, itu hukumnya memang begitu," kata Aditya lagi.

Hak atas foto ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA
Image caption Sejumlah kendaraan bermotor terlibat antrean panjang untuk secara bergantian melewati turunan dan tanjakan ruas tol fungsional Salatiga-Kartasura di Jembatan Kali Kenteng, Susukan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Minggu (10/6). Titik dengan tanjakan curam di tol fungsional tersebut menjadi tantangan bagi pemudik mobil yang melintas, karena menyebabkan antrean panjang sekitar 2 kilometer.

Momentum mudik di mana banyak orang ramai berkumpul dan berinteraksi, menurut Aditya, memang sering digunakan dalam upaya kampanye politik.

"Mudik gratis, misalnya, yang biasanya dilakukan oleh partai atau kandidat caleg tertentu, karena memang di situ ada kumpulan orang banyak, dan berusaha mendapat simpati dari peserta mudik gratis ini, asumsinya bersimpati pada partai yang memberikan," katanya.

Bagi pengajar sosiologi komunikasi FISIP Universitas Diponegoro, Semarang, Triyono Lukmantoro, dia menilai bahwa anonimitas pembuat spanduk 'jalan tol Jokowi' tersebut menjadi persoalan tersendiri.

"Tepat menggunakan itu sebagai politisasi, tapi siapa? Kita tidak bisa menyebut (spanduk) itu (dibuat) pendukungnya Jokowi, dan agak sulit mengatakan itu pendukungnya oposisi, (karena) kita nggak tahu yang memasang siapa," kata Triyono.

Sementara itu, pembuat film dokumenter Dandhy Laksono dalam cuitannya yang viral dan sudah dibagikan lebih dari 1.000 kali menyatakan bahwa spanduk "jalan tol Pak Jokowi" tersebut adalah "bentuk perayaan status sebagai konsumen, bukan sebagai warga negara".

Berita terkait