Mudik 2018: Dari 'hoax' Tanjakan Kenteng sampai waktu yang 'lebih cepat'

mudik, semarang Hak atas foto ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho
Image caption Sejumlah kendaraan pemudik antre di ruas tol Semarang-Salatiga di Gerbang Tol Salatiga, Jawa Tengah, Minggu (10/06).

Puncak arus mudik dari ibu kota menuju kota-kota di Pulau Jawa sudah terjadi pada Sabtu (09/06) dan Minggu (10/06), dan kisah-kisah soal pengalaman mudik pun mulai banyak dibagikan di media sosial, dari waktu tempuh yang berubah sampai soal tanjakan Kenteng yang viral.

Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Setyo Warsisto di Mabes Polri, mengatakan bahwa prediksi puncak kepadatan arus mudik memang pada akhir pekan tersebut.

Namun Kapolri Jenderal Tito Karnavian menambahkan ada empat titik kepadatan yang patut diwaspadai, yaitu di pintu tol Kertasari, di jembatan Kali Kuto, titik ke luar di Krapyak, dan di Kali Salatiga.

Hak atas foto ANTARA/Dedhez Anggara
Image caption Rangkaian kendaraan di jalan tol Cipali, Cirebon, Jawa Barat, dengan para pemudik yang mulai menuju ke kota-kota di Pulau Jawa dari Jakarta.

Di media sosial, video viral soal tanjakan Kenteng muncul di akun resmi Dinas Kominfo Jawa Tengah. Video yang memperlihatkan sebuah mobil dibantu didorong oleh tiga petugas jalan dan satu polisi itu sudah disebar lebih dari 900 kali dan disukai lebih dari 400 kali.

Dalam cuitan tersebut, disebut bahwa mobil CC kecil akan sulit melewati jalan tol fungsional Salatiga ke arah Solo karena "sulitnya medan yang menanjak hingga 57 derajat".

Namun, cuitan dari akun resmi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat membantah informasi tersebut.

"Tingkat kemiringan jalur tersebut+- 10%. Dengan kata lain, naik 10m per 100 m atau tangen-1 0.1= 5.7 derajat," menurut akun tersebut.

Dalam pernyataan resminya, Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR mengatakan bahwa, "Mengenai faktor keamanan jalan tersebut, PT Waskita Karya sebagai kontraktor pelaksana dalam laporannya menyatakan tingkat kemiringan jalur ini adalah berkisar 10%, sehingga cukup aman untuk dilintasi."

Dari panjang tol Jakarta-Surabaya 760km, dapat dilalui pemudik dengan kondisi operasional sepanjang 525km dan fungsional sepanjang 235km.

"Meski sudah bisa dilalui menerus hingga Surabaya, namun para pemudik diharapkan tetap berhati-hati pada beberapa titik kritis, salah satunya pada Jembatan Kali Kenteng, bagian dari ruas tol Salatiga-Kartasura, di mana terjadi konsentrasi kepadatan kendaraan yang melintas," menurut pernyataan tersebut.

Dan agar tetap dapat dilewati pemudik, telah dibangun dan disiapkan jalan sementara sepanjang 500 meter di sisi bawah jembatan yang hanya dapat dilalui satu lajur kendaraan.

"Kendaraan harus mengalami antrean rata-rata 30 menit akibat penyempitan dari dua lajur menjadi satu lajur. Kendaraan melintas perlahan satu-per-satu dengan kecepatan sekitar 20 km/jam," menurut pernyataan itu lagi.

Hak atas foto ANTARA/MUHAMMAD ADIMAJA
Image caption Memasuki H-5 Lebaran, lalu-lintas di kawasan jalur tol Batang-Semarang, Batang, tampak ramai namun masih lancar.

Dinas Kominfo Jawa Tengah juga mengeluarkan imbauan bagi mobil yang akan melalui tanjakan tersebut,

"AC dimatikan atau apabila ragu bisa keluar tol Salatiga kemudian melewati jalur Salatiga-Tengaran-Ampel-Boyolali."

Instruktur pengemudian aman dari lembaga Defensive Indonesia, Erreza Hardian, mengatakan bahwa tanggung jawab atas kemampuan atau kegagalan suatu kendaraan melewati suatu jalan adalah "murni pada pengemudi".

"Bukan hanya dia pintar berkendara dapat SIM, tapi kompetensi seorang pengemudi juga harus ditambah pengetahuan dan pola pikirnya. Misalnya, dia sudah tahu nih, mobilnya LCGC (low cost green car) 1000 cc, jumlah orangnya lima, bawa barangnya banyak, dia harus tahu nih, mobil saya pasti nggak akan kuat, karena di bawah standar, ada hal-hal yang dilanggar," kata Erreza.

"Bukan salah jalannya. Yang pertama, kenali mobilnya, yang kedua ya kenali apa kita sudah biasa dengan mobilnya untuk naik turunnya. Kalau bukan mobil bawaan kita sehari-hari, kalau sudah terlihat sebuah tanjakan, ya harus diantisipasi," ujarnya lagi.

Hak atas foto ANTARA/Izaac Mulyawan
Image caption Calon penumpang berjalan menuju tangga kapal milik PT Pelni KM Nggapulu yang merapat di Pelabuhan Ambon untuk membawa pulang pemudik.

Dan karena tanjakan tersebut merupakan jalan darurat, maka rambu-rambu dan petugas, menurut Erreza, juga harus sudah siap di situ.

Waktu tempuh

Warganet juga banyak yang membagikan kisah soal waktu tempuh mereka dalam perjalanan mudik kali ini.

Di akun Facebook BBC Indonesia, beberapa pembaca pun turut membagikan kisah mudik mereka pada 2018 ini, seperti Febian Muhammad Roehan Roehan yang mengatakan bahwa perjalanannya dari Jakarta-Wonogiri yang membutuhkan waktu 15 jam.

"Nggak macet, malah cepat banget sampainya," dia menulis.

Sementara pengguna Waruombbo juga menulis perjalanan Jakarta-Ciamis ditempuhnya dalam 10 jam.

Hak atas foto ANTARA/ARDIANSYAH
Image caption Jumlah penumpang yang sudah melakukan penyeberangan melalui pelabuhan Bakauheni di Lampung sudah mencapai 27.132 orang pada H-5 menjelang Idul Fitri.

Pengguna lain, Richardus Andjar Pamungkas, menulis, "Start dr Jakarta 15.30 pada 9 juni 2018, masuk dari tol rawamangun keluar tol salatiga pada pukul 23.30. Terima kasih untuk pemerintah dan aparat yang terlibat dalam kelancaran mudik tahun ini."

Namun bagi para pemudik kapal, dari Pulau Jawa menuju Sumatera lewat pelabuhan Bakauheni harus berdesak-desakan. Banyak yang tidak mendapat tempat duduk dan harus duduk di dek kapal sehingga mereka harus mengeluarkan biaya sewa tikar sebesar Rp10 ribu.

Bagaimana kisah mudik Anda tahun ini? Moda apa yang Anda gunakan? Bagikan foto dan kisah Anda dengan mengirimkan pesan pada kami di halaman Facebook BBC Indonesia.

Topik terkait

Berita terkait