Ikan araipama: Predator yang dikhawatirkan jadi 'monster penguasa' Sungai Brantas

ikan araipama

Sumber gambar, Ecoton

Keterangan gambar,

Ikan araipama yang dilepas pemiliknya di Sungai Brantas dan ditangkap warga.

Paling tidak tujuh ekor ikan araipama, yang disebut pegiat lingkungan sebagai super predator yang dapat menjadi "monster penguasa Sungai Brantas", telah ditangkap dari kali di Jawa Timur.

Ikan air tawar besar yang berasal dari Amerika Latin ini diduga dilepas oleh pemiliknya ke Sungai Brantas hari Minggu (24/06) dan banyak dibicarakan netizen karena ukuran yang mencapai lebih dari 1,5 meter dengan berat sekitar 30 kilogram.

Nandang Priadi, ketua Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur mengatakan melepas liarkan satwa ke sungai tanpa izin merupakan langkah yang melanggar peraturan dan pihaknya tengah menyelidiki lebih lanjut.

Sementara Prigi Arisandi dari Lembaga Kajian Ecologi dan Konservasi Lahan Basah, Ecoton, yang ikut bersama BBKSDA Jawa Timur dan warga menangkap araipama mengatakan jenis pemangsa semua ikan ini dikhawatirkan "akan jadi monster penguasa Sungai Brantas yang dapat menghabiskan ikan-ikan setempat," bila tidak diamankan.

Sumber gambar, Ecoton

Keterangan gambar,

Dua dari tujuh ikan araipama yang ditangkap tengah dikarantina.

Inilah empat hal tentang ikan araipama yang ditangkap dari sungai di Jawa Timur yang perlu Anda ketahui:

Ikan super predator

Ikan air tawar yang berasal dari Amazon, Amerika Selatan ini "dikhawatirkan akan merusak ekosistem... sehingga ikan-ikan kecil dimangsa dan akhirnya keanekaragaman hayati akan hilang," kata Nanang Priadi.

Menurut catatan Ecoton, pada penelitian 2011 terdapat 11 spesies ikan air tawar di sungai Jawa Timur ini, termasuk ikan bader dan montho.

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Menjaga berbagai jenis ikan ini penting, menurut Prigi, untuk kelangsungan hidup para nelayan sungai.

"Ikan ini super predator, pemakan segala dan menurut pemilik satu ikan perlu satu kilogram ikan per hari...jadi ikan ini bisa makan semua ikan yang ada di Brantas," kata Prigi.

Ia juga mengatakan peneliti menemukan ikan-ikan yang dilepas di Sungai Brantas ini mengalami gangguan sisik sehingga bila dibiarkan akan menyebabkan "ledakan penyakit kulit ikan-ikan di sungai".

Daniel Lumbantobing, staf peneliti ikan (ichthyologist) di Smithsonian National Museum of Natural History, Washington DC, menyebut jenis ikan ini adalah "predator agresif" dengan bisa makan dalam jumlah banyak.

"Populasi Arapaima yang besar dengan habitat alamiah yang baru berhasil berkembang biak dan keturunan-keturunannya mampu menghasilkan generasi-generasi baru yang terus berlipat ganda...otomatis bisa membahayakan populasi spesies-spesies alami di Brantas karena jadi mangsa utama Arapaima," kata Daniel.

Ia juga menambahkan "lepasnya beberapa individu Arapaima dikhawatirkan akan menjadi populasi besar yang baru di habitat alam."

Mengapa bisa masuk ke Sungai Brantas?

Sumber gambar, Ecoton

Keterangan gambar,

Ikan araipama aman dikonsumsi manusia.

Menurut pemilik ikan yang telah ditemui pegiat Ecoton, Prigi, ikan-ikan ini dibeli sekitar tujuh dan 12 tahun lalu saat masih berukuran 20cm sampai 30 cm di pasar ikan hias.

"Ikan ini banyak dijual bebas... (Ini menunjukkan), ada kelemahan di sistem pengawasan dengan adanya ikan-ikan invasif ini dipasar," kata Prigi.

Pemilik ikan masih memelihara sekitar 30 ekor ikan araipama dengan panjang sekitar dua meter dan yang sejumlah lain yang dianggap cacat diberi ke orang yang kemudian melepaskannya ke sungai.

Prigi mengusulkan komunitas pecinta ikan hias harus diawasi dan didaftar sehingga tidak terjadi kehebohan di tengah masyarakat.

Masuknya ikan hias ini ke Indonesia, menurut Daniel Lumbantobing karena "perdagangan ikan hias atau eksotik yang kebetulan juga sudah diternak ex-situ, jadi relatif luas diperdagangkan."

Daniel juga mengatakan banyak ikan yang bukan berasal dari Indonesia yang sudah lepas di alam.

Salah satu contoh yang penyebarannya luas adalah ikan mujair, ikan asal Afrika yang banyak dikira orang berasal dari Indonesia.

"Mujair ini ditengarai menjadi salah satu biang keladi utama yang menyebabkan penurunan drastis dari ikan-ikan endemik di danau-danau Sulawesi," kata Daniel.

"Selain mujair, contoh ikan invasif lainnya yang mengkhawatirkan itu misalnya Alligator gar (Atractosteus spatula) asli Amerika Serikat yang ukurannya juga bisa mencapai tiga meter. Ini diperkirakan ada kemungkinan sudah ada di waduk Jatiluhur (Jawa Barat)," tambahnya.

Melanggar peraturan

Sumber gambar, Ecoton

Keterangan gambar,

Panjang ikan araipama dapat mencapai dua meter.

Kepala BBKSDA Jawa Timur, Nandang mengatakan bahwa impor ikan hias yang bukan berasal dari Indonesia sudah terdaftar di pihak karantina perikanan, namun peraturan pemeliharan yang kemungkinan masih belum dipahami dan dipatuhi mereka yang hobi ikan hias.

Nandang juga menyatakan pihaknya akan memberikan informasi kembali kepada para pecinta ikan hias dan masyarakat pada umumnya menyangkut ikan yang bukan berasal dari Indonesia.

"Ini yang tidak disadari dan harus disosialisasikan ke masyarakat bahwa ikan non endemik dari Indonesia, yang selama ini diimpir untuk kesenangan (hobi), bila tak ingin dipelihara lagi tak bisa dilepas begitu saja karena akan mengganggu ekosistem di Indonesia," kata Nandang.

"Peraturan ini sudah ada, bagaimana cara melepas liarkan satwa," tambahnya.

Aman dikonsumsi warga

Sumber gambar, Ecoton

Keterangan gambar,

Ikan araipama yang ditangkap dan dikonsumsi warga.

Dari tujuh ekor ikan araipama yang ditangkap, lima di antaranya telah dikonsumsi oleh warga setempat.

Dua ikan lainnya telah masuk ke balai karantina untuk selenjutnya diteliti, kata Prigi dari Ecoton, ada dua ikan yang dievakuasi dan dikarantina, dari tujuh yang ditangkap, lima sudah dimakan masyarakat.

"Ikan ini aman dikonsumsi karena sudah dibagikan ke sekitar 200 orang Senin (26/06) dan dikatakan enak," kata Prigi.