Cara menangani komentar 'jahat' soal atlet Asian Games

bulutangkis, ginting, asian games Hak atas foto ANTARA/INASGOC/PUSPA PERWITASARI
Image caption Pebulutangkis Indonesia Anthony Sinisuka Ginting menjatuhkan diri ke lapangan pertandingan usai menundukkan lawannya pebulu tangkis Jepang Kento Momota pada babak kedua nomor perorangan Asian Games 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (25/8).

Pernahkah Anda merasa kesal dengan komentar-komentar negatif di media sosial dan terpancing untuk berdebat? Pengguna media sosial ini berhasil membuat mereka yang berkomentar negatif mengubah pikirannya.

Seorang pengguna media sosial prihatin melihat komentar-komentar negatif di akun media sosial atlet Asian Games Indonesia dan memutuskan untuk bertindak.

Safira Larasati, perempuan berusia 25 tahun yang berdomisili di Bandung ini mengirimkan pesan pribadi ke akun-akun yang dianggapnya memberi komentar 'jahat' di akun atlet.

"Saya hanya ingin melakukan sesuatu yang positif di tengah 'kerusuhan' ini. Saya mulai memilih akun yang berkomentar negatif, lalu mengirimkan pesan positif," kata Safira saat dihubungi BBC Indonesia.

Tindakan ini awalnya dia lakukan setelah memperhatikan beberapa akun atlet, seperti akun media sosial pebulutangkis Anthony Sinisuka Ginting, atau akun pesepakbola Indonesia Andritany Ardhiyasa yang dirundung karena gagal memenangkan pertandingan.

Pesan yang dia kirimkan melalui pesan pribadi di Instagram adalah:

"Omongannya dijaga ya kak :) kalo kakak kecewa Indonesia kalah, para atlet kita lebih kecewa karena pengorbanannya lebih besar. Be kind always <3"

Dia mengirimkan pesan ini kepada puluhan orang. Hasilnya, beberapa orang justru membalas dengan sumpah serapah. Safira tetap pada strateginya, bicara dengan nada positif dan tidak terbawa emosi.

"Saya tetap melanjutkan karena mungkin mereka cuma sedang emosi sesaat dan kecewa karena Indonesia kalah. Saya positive thinking saja, karena saya tidak bermaksud menasehati atau menghakimi," kata dia.

Dan memang, setelah diajak bicara beberapa orang mengakui bahwa mereka berkomentar sebagai cara melampiaskan emosi. "Beberapa orang memilih menghapus komentar negatifnya," kata Safira.

Hak atas foto Safira Larasati
Image caption Salah satu percakapan Safira dengan komentator Instragram.

Ada yang awalnya marah karena pesan Safira, tapi pada akhirnya dia justru menceritakan penyebab kekecewaannya.

Hak atas foto Safira Larasati
Image caption Salah satu percakapan dengan komentator bernada negatif.

Safira tak sembarang mengirim pesan. Mula-mula, dia membuka akun komentator negatif dan melakukan pengecekan singkat.

"Awalnya saya cek dulu apakah akun tersebut memang akun milik pribadi dan bukan bot. Saya cek yang postingannya lebih dari 10, yang follower dan followingnya beneran," kata dia.

Ini bukan kali pertama Safira mencoba membalas dengan nada positif. Sebelumnya dia pernah melakukannya untuk membalas komentar negatif dan penyebaran hoax bertopik politik.

"Tapi ini lebih sulit karena saat memberitahu saya dituduh berpihak. Misalnya, saya tidak mendukung A, tapi ada yang menyebarkan hoax tentang A. Ketika saya tegur saya dituduh berpihak pada A, padahal tidak," kata dia.

Tanggapan yang dia dapatkan juga tidak terlalu positif, sehingga dia memilih untuk tidak lagi melakukannya untuk komentar negatif bertema politik.

Safira memposting pengalamannya di Twitter dan kisahnya di-retweet sebanyak 4,5 ribu kali dan disukai 3 ribu kali. Tindakan Safira membuat beberapa orang ingin meniru jejaknya.

"Setelah mendapat respon positif saya ingin melakukan lagi. Tadinya saya takut karena saya pikir saya cuma sendiri. Ternyata yang setuju banyak banget. Secara berkala saya ingin tetap melakukan hal kecil yang positif," kata dia.

Stop membalas komentar, tapi laporkan komentar 'jahat'

Ada pula warganet yang menyerukan ajakan untuk stop membalas komentar yang berisi ujaran kebencian dan kata-kata negatif.

"STOP ngeladenin dengan balas komentar-komentar mereka yang jelas-jelas berisi ujaran-ujaran kebencian," kata Niko Aditya Rahmawan, pemilik Instagram @kodit3 menulis di Instagramnya. Sebab, komentar Instagram dengan banyak interaksi akan menjadi komentar teratas.

Jika memang ingin mengajak diskusi atau berargumen, dia meminta untuk cek akun itu terlebih dahulu. Jika akun tersebut nampak seperti akun palsu, tidak perlu membuang energi untuk menanggapi akun tersebut.

"Netizen Indonesia yang pintar dan bijak itu jauh lebih banyak," kata dia. Ajakan Niko melalui Instagram Story ini kemudian dibagikan sampai ribuan kali di berbagai media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter dan Line.

Selain itu muncul pula gerakan untuk melaporkan komentar-komentar bernada kebencian.

Usaha-usaha ini nampaknya berhasil. Pantauan BBC di Instagram Anthony Ginting menunjukkan komentar-komentar positif sebagai komentar terpopuler.

Topik terkait

Berita terkait