Kisah pencarian kerabat yang 'hilang' di Palu dan Donggala

Palu, gempa, tsunami Hak atas foto MOHD RASFAN/Getty Images
Image caption Mencari keluarga yang hilang dengan segala cara

Keluarga korban masih mencari anak, istri, suami yang hilang dalam gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala, walau operasi pencarian resmi direncanakan berakhir hari Rabu (10/10).

Mereka membuat dan menempel pengumuman, menyebar kabar, dan bertanya pada orang-orang: Adakah yang melihat kerabat saya?

Di tengah berbagai kesulitan, warga memanfaatkan apa saja yang mereka punya.

Seorang remaja yang membawa selembar kardus mendatangi tim BBC News Indonesia saat kami berada di alun-alun Palu. "Boleh pinjam pena?" dia bertanya.

Lalu di atas kardus itu, dengan pena pinjaman dari kami, ia menuliskan nama-nama anggota keluarganya yang hilang. Daftarnya sangat panjang: 23 orang.

Sambil menunggu, temannya berbicara dengan suara kaku. "Kalau ada gempa susulan, cepat lari ke tempat terbuka. Jauhi tiang, pohon besar, jangan tidur di dalam rumah," kata lelaki muda itu memperingatkan.

"Dia menatap saya dengan berlinang air mata. Dia bilang, 'saya tahu bagaimana rasanya kehilangan. Kedua orang tua saya jadi korban, meninggal'," papar wartawan BBC Rebecca Henschke.

Kini, dia berusaha sekuat tenaga untuk membantu temannya mencari keluarganya. Namun mereka tak mau menyebutkan nama mereka sendiri.

Hak atas foto Getty Images/BAY ISMOYO

Pada malam ketika tiba pertama kali di Palu, BBC juga bertemu seorang anak perempuan berusia lima tahun yang ditemukan sendirian dengan kaki patah.

Menurut dokter, dia tidak ingat siapa nama orang tuanya, atau di mana tempat tinggalnya. Malam itu dia menangis kesakitan, memanggil-manggil ibunya, yang entah ada di mana.

Image caption Anak ini tidak ingat siapa nama orang tuanya, dan di mana tempat tinggalnya.

Ersa Fiona, anak berusia satu tahun kehilangan ibunya, Fatmawati, dan adiknya, Malik. Dia masih sering menangis mencari sang ibu.

Kini, Fiona diasuh bibinya, Nur - yang menghiburnya dengan mengatakan bahwa mama Fiona masih dicari, masih jauh. Fiona kembali bertanya, "Enggak naik motor?"

Fiona masih menderita trauma. Suara keras, termasuk suara pesawat, masih selalu membuat Fiona ketakutan.

Image caption Fatmawati dan bayinya, Malik. Keduanya masih hilang setelah gempa dan tsunami

Di salah satu tenda pengungsi kami bertemu Ida, perempuan setengah baya yang hampir putus asa mencari-cari anak perempuannya. Pada saat tsunami menerjang, anaknya sedang berada di pantai di teluk Palu.

"Saya cari dia siang malam. Dia punya anak kecil, apa yang akan terjadi dengan mereka kalau dia tidak pulang?" dia bertanya. Saya hanya bisa mengelus bahunya.

Di seluruh kota Palu banyak orang berusaha menempelkan pengumuman berisi foto, tulisan tangan, untuk mencari orang-orang tercinta.

Hak atas foto Getty Images/OLAGONDRONK

Wartawan BBC, Heyder Affan, juga bertemu Akbar, orang tua Mohammad Gibran, anak laki-laki berusia 6 tahun 10 bulan.

Dia menceritakan bahwa Gibran, sangat suka makan tempe dan bermain robot-robotan. Cita-citanya ingin jadi penghafal Al Quran.

Saat gempa yang disusul dengan likuifaksi terjadi, Gibran sedang bermain bersama dua temannya di salah satu jalan di perumahan Balaroa.

Image caption Akbar membawa foto anaknya, Gibran, yang hilang saat likuifaksi.

"Ada beberapa orang yang bilang lokasi bermain anak saya, paling parah terdampak gempa. Saya sedih juga mendengarnya. Berilah semangat, jangan buat kami putus asa. Apapun yang terjadi, saya mau melihat anak saya. Saya harus tahu," kata Akbar.

Tak mau menyerah, dia membawa kertas berisi foto dan keterangan tentang Gibran dan menunjukkannya ke orang-orang yang dia temui.

"Harapan saya anak saya dapat ditemukan. Hidup atau mati secepatnya ditemukan. Agar orang tua tidak terlalu kepikiran, walaupun kita sangat mengharapkan dalam kondisi hidup, tapi mau bagaimana lagi semua kehendak Allah," kata dia.

Wartawan BBC News Indonesia Silvano Hajid yang meliput di Desa Jono Oge, Sigi, menemui para korban yang belum menyerah mencari keluarganya yang hilang.

Desa Jono Oge termasuk desa yang kerusakannya paling berat saat tersapu likuifaksi setelah gempa. Desa ini bergeser hingga 3 km, dengan ratusan rumah tenggelam dalam lumpur.

Saat gempa, ada Bible Camp yang diselenggarakan di desa itu dan diikuti puluhan siswa SMA, yang kini sebagian besar masih hilang.

Image caption Micha mencari anaknya, Windy Fransisca Mantong.

Sebelum gempa, Windy Fransisca Mantong sempat menelepon ibunya dan mengatakan bahwa dia ingin pulang. Itu kali terakhir keluarganya mendengar suara Windi.

"Desember nanti usianya 18 tahun, dia penurut, dan selalu ramah menyapa orang," kata ayahnya, Micha Mantong.

Image caption Dicari: Gabriella

Ada juga Seska Sumilat, yang kehilangan anaknya, Gabriella Cesilia Adam (17 tahun). "Keluarga dan orang-orang terdekat merindukan senyumnya," kata Seska, yang berusaha mencari dengan lembaran-lembaran pamflet bertuliskan foto anaknya.

Image caption Friardini, anak yang periang dan sering menyanyi di gereja.

Connie Lumentu mencari Friardini Pokalosa, anaknya yang berusia 17 tahun. Friardini anak yang periang, dia sering menyanyi di gereja dan memimpin doa dalam setiap kesempatan.

Para keluarga masih berharap anak-anak mereka bisa ditemukan dalam keadaan hidup. Namun, pemerintah akan menghentikan pencarian korban pada 11 Oktober.

Selain mencari di lokasi kejadian dan memasang pamflet, keluarga korban juga memanfaatkan teknologi untuk mencari keluarga mereka.

Halaman Google Person Finder untuk pencarian orang hilang telah mencatat sekitar 1800 rekaman terkait gempa dan tsunami Palu pada 10 Oktober 2018.

Para keluarga selalu memelihara harapan, bahwa orang-orang tercinta mereka akan kembali, akan ditemukan dalam keadaan hidup tak kurang suatu apa. Atau kalau dalam keadaan meninggal, setidaknya mereka mendapat kepastian -dan bisa memakamkan dengan layak.

Hanya sedikit yang sudah brsiap menrima yang terburuk: harus merelakan para tercinta yang hilang itu untuk tak pernah bertemu lagi, bahkan tak akan pernah diketahui kepastian nasibnya.

Topik terkait

Berita terkait