Tagar #UninstallGojek dan tuduhan 'dukungan' pada kelompok LGBT

Iklan aplikasi Gojek di sebuah stasiun di Jakarta. Hak atas foto GOH CHAI HIN/AFP/Getty Images
Image caption Iklan aplikasi Go-Jek di sebuah stasiun di Jakarta pada 18 September 2017.

Tagar #UninstallGojek menjadi viral setelah muncul sebuah unggahan di media sosial yang dinilai sebagian warganet sebagai tanda penerimaan Gojek terhadap kelompok LGBT di Indonesia.

Sampai Minggu (14/10) siang saat berita ini ditulis, tagar #UninstallGojek, menurut pencatatan Spredfast, sudah digunakan lebih dari 30.000 kali sejak Sabtu (13/10) sore WIB.

Hak atas foto Spredfast
Image caption Penggunaan tagar #UninstallGojek menurut pencatatan Spredfast.

Awalnya adalah unggahan di media sosial seorang karyawan Gojek terkait Hari Melela Nasional (National Coming Out Day) yang diperingati pada 11 Oktober lalu.

Unggahan tersebut menampilkan kampanye internal yang menyatakan bahwa "GO-JEK membawa isu inklusivitas dan keragaman dengan lebih serius dengan menerapkan kebijakan non-diskriminasi kepada kelompok yang kurang terwakili, yaitu LGBT, meski ini adalah perusahaan Indonesia".

Unggahan tersebut juga mengklaim bahwa ada 30 lebih karyawan serta pendukung LGBT yang profilnya ditampilkan dalam rangkaian galeri foto untuk berbagi apa artinya "penerimaan, kebebasan, autentisitas, kebebasan, dan persamaan".

Gojek kemudian memberikan pernyataan resmi terkait tersebar luasnya unggahan tersebut di media sosial, bahwa "post tersebut merupakan pendapat dan interpretasi pribadi dari salah satu karyawan GO-JEK terhadap salah satu event internal dengan tema keberagaman".

Terlepas dari konfirmasi tersebut, sebagian pengguna media sosial sudah menggunakan tagar #UninstallGojek untuk menyatakan protes atas apa yang mereka anggap sebagai dukungan dari perusahaan tersebut bagi kelompok LGBT.

Namun para pengguna media sosial juga menggunakan tagar itu untuk menyoroti bahwa banyak perusahaan teknologi lain penyedia layanan atau perangkat yang sering digunakan oleh warganet telah memposisikan diri sebagai 'sekutu' bagi kelompok LGBT.

Selain dari pro-kontra terhadap tagar tersebut, ada juga pengguna media sosial yang sudah mencuitkan dampak dari boikot aplikasi transportasi tersebut.

Dan ada yang menyebut bahwa menghapus atau memasang suatu aplikasi adalah soal 'kebebasan individu'.

Di sisi lain, ada menyatakan bahwa meski mereka tak setuju atau malah netral dengan kelompok LGBT, mereka masih tetap membutuhkan aplikasi tersebut.

Lainnya, ada yang menanggapi tagar tersebut dengan humor dan satir.

Tetapi ada juga yang membandingkan 'dukungan' Gojek terhadap kelompok LGBT dengan kasus pelecehan seksual yand dilakukan oleh pengemudi Grab, aplikasi transportasi saingan Gojek, yang penanganannya juga sempat viral karena dianggap tidak tepat oleh warganet.

Langkah Grab untuk mempertemukan pengemudi yang dituduh melakukan pelecehan seksual dengan korban untuk melakukan mediasi dianggap tidak sensitif terhadap korban.

Di Spredfast, tagar #UninstallGrab, meski sudah muncul sejak Kamis (11/10) siang WIB, namun sampai berita ini ditulis pada Minggu (14/10) siang, digunakan dalam sekitar 1.600 cuitan.

Hak atas foto Spredfast
Image caption Sampai Minggu (14/10) siang saat berita ini ditulis, tagar #UninstallGrab, menurut pencatatan Spredfast, digunakan sekitar 1.600 kali sejak Kamis (11/10) siang WIB.

Berita terkait