KPR Milenial: Menabung bertahun-tahun demi rumah

kpr, perumahan Hak atas foto ANTARA/Yulius Satria Wijaya

Pemerintah menyatakan akan membuat KPR milenial dengan uang muka kecil, bunga kecil dan tanpa batasan gaji. Tapi apa sebenarnya masalah yang dihadapi para pekerja muda saat ingin membeli rumah pertama?

Gelar Pradipta, seorang milenial berusia 28 tahun, telah menabung selama beberapa tahun terakhir untuk mewujudkan cita-cita punya rumah sendiri.

"Harus beli rumah, karena ada semacam tekanan sosial, kalau tidak punya rumah seperti belum mencapai sesuatu. Rumah adalah pencapaian yang lebih dari resepsi mahal," kata Gelar kepada BBC Indonesia.

Karyawan di sebuah startup alias perusahaan rintisan ini menjelaskan bahwa mahalnya uang muka menjadi hambatan utama kenapa hingga saat ini dia belum membeli rumah. "Kalau cicilannya saja, saya mampu. Tapi sekarang masih menabung untuk membayar uang muka," kata Gelar.

Meskipun bekerja di sebuah kantor di Jakarta Selatan, Gelar mengincar rumah di daerah BSD, Serpong, Jawa Barat. Bukan karena tak berminat tinggal di Jakarta: setelah sempat melihat-lihat beberapa rumah yang ditawarkan pengembang, harga rumah di Jakarta dinilainya sudah tidak masuk akal karena mahalnya kelewatan dan tak terjangkau orang biasa.

Gelar adalah satu dari banyak warga yang harus putar otak dan banting tulang untuk mendapat rumah -bahkan kalau pun letaknya nun jauh di mana.

Ketika BBC Indonesia bertanya di Instagram @bbcindonesia, lebih dari seribu follower menjawab ingin membeli rumah sendiri, namun, mahalnya uang muka, besarnya cicilan, durasi cicilan dan jauhnya perumahan yang terjangkau dari tempat kerja menjadi alasan yang paling banyak disebutkan oleh para pembaca BBC sebagai alasan kenapa mereka tak kunjung membeli rumah.

Image caption Masalah yang dihadapi pembaca BBC Indonesia dalam membeli rumah.

KPR milenial

Langkah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mungkin menerbitkan harapan bagi mereka.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menyatakan tengah menyiapkan rancangan pembiayaan perumahan khusus untuk mengatasi masalah perumahan yang dihadapi generasi milenial.

Skema ini memiliki uang muka rendah, kata Basuki, bahkan bisa hingga satu persen. Bunganya pun direncanakan lebih rendah dari lima persen.

Selain itu, tidak ada syarat maupun pembatasan besaran gaji untuk mendapatkan pinjaman milenial.

Saat ini pemerintah sudah punya Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk mereka yang berpenghasilan antara Rp 4-7 juta. Mereka yang berpenghasilan lebih dari tujuh juta rupiah tidak dapat mengakses fasilitas ini dan harus mengajukan pinjaman komersial.

Basuki Hadimuljono mengatakan, hal ini menjadi bahan pertimbangannya. "Padahal (penghasilan di atas 7 juta) juga mungkin pas-pasan, jadi kita pikirkan itu," kata dia. Jadi, program pinjaman yang akan datang ini akan bisa diakses oleh mereka yang pendapatannya di atas 7 juta rupiah. Bank swasta pun direncanakan bisa memberi pembiayaan.

Gelar, tokoh kita ini sudah jelas tertarik. Tapi dia masih ingin mengetahui detil program tersebut. "Berapa uang mukanya, dan berapa bunganya, karena biasanya DP kecil akan terkait dengan cicilan mahal," kata Gelar.

Meski demikian, aturan pasti dan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan pinjaman ini masih belum pasti, karena masih dirancang bersama Otoritas Jasa Keuangan dan Kementrian Keuangan.

Menteri Basuki mengatakan bahwa program ini akan dimulai pada 2019.

Hak atas foto ANTARA/MOCH ASIM
Image caption Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (bertopi) melayani permintaan swafoto pengunjung saat acara Jokowi Millennials Festival di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (8/12/2018).

Rumah murah yang jauh

Olla, 27 tahun, karyawan swasta yang bekerja di Jakarta Selatan menceritakan kesulitannya mencari rumah yang dekat dengan tempat kerjanya. "Uang muka tinggi, cicilan tinggi dan lama. Harga yang lebih murah, adanya di sekitar Bekasi dan Tangerang," kata Olla.

Jika membeli rumah di Bekasi atau Tangerang, Olla butuh waktu 90 menit hingga dua jam untuk pergi ke kantornya dalam sekali jalan. Artinya, waktu 3-4 jam sehari akan dihabiskan dalam perjalanan pergi dan pulang kantor.

"Saya galau karena sudah menabung, tapi makin lama harga rumah juga makin naik, jadi tidak terkejar," kata dia.

Saat ini Olla masih tinggal di sebuah kamar kost, yang biaya sewanya juga terus naik setiap bulannya.

Bunga Ayu, pembaca BBC yang baru saja menikah, masih berusaha mencari rumah yang sesuai dengan anggarannya. Dia sudah beberapa kali melakukan survei di perumahan, tapi masih terkendala mahalnya uang muka. "Info DPnya melebihi tabungan, 30 juta belum termasuk uang administrasi dan notaris," kata dia.

Beberapa bank BUMN telah menjadikan generasi milenial sebagai sasaran mereka. Tapi, bank-bank tersebut menetapkan syarat khusus tertentu. Bank BTN, misalnya, menawarkan program pinjaman dengan jangka waktu 30 tahun. Bank Mandiri punya program cicilan khusus untuk mereka yang punya rekening gaji di bank tersebut dan telah bekerja selama satu tahun.

Tapi ada juga beberapa orang yang mengatakan tidak ingin membeli rumah.

Salah satunya adalah Aga (23 tahun), seorang wartawan di media online. Dia menyatakan tidak ingin punya rumah sendiri karena tidak ingin berkeluarga.

Aga hanya memimpikan tinggal di sebuah apartemen kecil sewaan. Tinggal di apartemen, menurutnya memberikan banyak privasi, tanpa perlu berinteraksi dengan tetangga sekitar.

Nah orang seperti Aga tentu tak memerlukan KPR Milenial -mungkin yang dibutuhkannya adalah fasilitas lain.

Topik terkait

Berita terkait