Harga tiket pesawat 'naik turun': Semua yang perlu Anda ketahui

Sejumlah calon penumpang pesawat udara antre untuk lapor diri di Bandara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Senin (14/1/2019). Hak atas foto ANTARA FOTO/Septianda Perdana
Image caption Sejumlah calon penumpang pesawat udara antre untuk lapor diri di Bandara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Senin (14/1/2019).

Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) telah mengumumkan penurunan tiket penerbangan setelah melapor ke Kementerian Perhubungan.

Penurunan harga yang diumumkan Minggu (13/01) itu terjadi setelah sebelumnya muncul petisi online yang menuntut penurunan harga tiket pesawat domestik.

Menurut INACA lewat pernyataannya, seluruh maskapai nasional yang tergabung dalam Indonesia National Air Carrier Association (INACA) telah menurunkan tarif tiket penerbangan sejak Jumat (11/1).

Penurunan harga tiket itu sudah dilakukan pada beberapa rute penerbangan seperti Jakarta-Denpasar, Jakarta-Yogyakarta, Jakarta-Surabaya, Bandung-Denpasar.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Reno Esnir
Image caption (Kiri-kanan) Direktur Niaga AirAsia Indonesia Rifai Taberi, Dirut Sriwijaya Air Joseph Adriaan Saul, Dirut Citilink Juliandra Nurtjahjo, Sekjen INACA Tengku Burhanuddin, Dirut Airnav Indonesia Novie Riyanto, Dirut Angkasa Pura 1 Faik Fahmi, Dirut Garuda Indonesia dan Ketum INACA Ari Askhara Danadiputra, Dirut Angkasa Pura 2 M Awaluddin, Direktur Niaga Garuda Indonesia Pikri Ilham Kurniansyah dan Dirut Lion Air Rudy Lumingkewas berfoto bersama usai memberi keterangan pers terkait penerapan tarif batas atas dan tarif bawah pada maskapai penerbangan di Jakarta, Minggu (13/1/2019).

Penurunan harga ini, "akan dilanjutkan dengan rute penerbangan domestik lainnya menyusul keprihatinan masyarakat atas tingginya harga tiket dan adanya komitmen positif atas penurunan biaya kebandaraan dan navigasi dari para stakeholder seperti AP1, AP 2, AirNav dan Pertamina", menurut pernyataan yang disampaikan Ari Askhara, Ketua Umum INACA.

"Di tengah kesulitan para maskapai kami tetap paham dan mengerti akan kebutuhan masyarakat dan kami memastikan komitmen memperkuat akses masyarakat terhadap layanan penerbangan nasional serta keberlangsungan industri penerbangan nasional tetap terjaga," kata Ari.

Penurunan harga antara 20%-60%, menurut Ari, bisa tercapai melalui "penyesuaian struktur biaya layanan penerbangan, khususnya pada aspek biaya pendukung layanan kebandarudaraan dan biaya navigasi".

Ari juga menegaskan bahwa penurunan tarif tiket penerbangan "sesuai dengan koridor regulasi dan aturan tata kelola industri penerbangan nasional dan tetap mengutamakan keselamatan penerbangan dengan tetap meningkatkan pengawasan atas safety dan maintenance seluruh pesawat".

Kenaikan, dan kemudian turunnya, harga tiket pesawat juga menjadi pembahasan warganet di media sosial.

Namun ada juga yang mengkhawatirkan faktor keselamatan jika harga tiket pesawat diturunkan.

Warganet juga sempat membuat petisi online di situs Change.org untuk menuntut penurunan harga tiket pesawat yang kemudian ditandatangani sampai lebih dari 170.000 orang.

Kementerian Perhubungan sudah mengatakan bahwa ini situasi berat bagi maskapai penerbangan karena lonjakan harga avtur dan situasi perekonomian yang tidak stabil, namun "demi menciptakan situasi kondusif di masyarakat, operator diminta menyesuaikan harga tiket pesawat", seperti kata Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Polana B Pramesti seperti dikutip kantor berita Antara.

Dia juga memastikan bahwa maskapai tetap menjamin keselamatan meski harga turun, dengan melakukan uji kelaikan yang lebih intensif.

Pengamat bisnis penerbangan Arista Atmadjati, mengatakan pada BBC News Indonesia bahwa apa yang dilihat masyarakat sebagai "kenaikan'" "sebenarnya adalah (bagian dari) gimmick."

Hak atas foto ANTARA FOTO/Septianda Perdana
Image caption Penumpang pesawat udara berjalan menuju terminal kedatangan saat tiba di Bandara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Senin (14/1/2019).

Menurutnya, dalam tiga tahun terakhir tak pernah ada koreksi atas tarif tiket penerbangan sehingga penerbangan menyesuaikan harganya.

"Harga tiket memang memiliki koridor tarif batas atas dan tarif batas bawah. Menjelang Natal dan Tahun Baru, yang tarif batas bawah dikunci, jadi yang ditawarkan itu adalah tarif batas atas. Nah itu yang dimainkan terus," kata Arista.

Menurut Arista, ada alasan kenapa maskapai memainkan tarif batas bawah atas, karena dalam 2-3 tahun terakhir, hampir semua maskapai "rapor keuangannya merah" karena komponen-komponen operasional, seperti leasing pesawat, avtur, dan perawatan, yang banyak menggunakan dolar dengan nilai fluktuatif.

"Biar survive, (bertahan) agar tidak bangkrut, mereka mencoba tarif yang ditawarkan batas atas. Itu yang dimaknai masyarakat sebagai kenaikan tarif pesawat, padahal mereka (maskapai) masih memainkan koridor dalam tarif harga atas dan bawah. Reaksi masyarakat ini belum terbiasa karena tidak ada sosialisasi," kata Arista lagi.

"Sudah lampu merah kondisinya, banyak komplain dari masyarakat, dan lampu merah bagi penerbangan. (Penurunan tarif) ini adalah win-win solution, bahwa untuk sementara, maskapai mau mengalah," tambahnya.

Berita terkait