Komik Instagram 'gay muslim' diblokir: 'Identitas keagamaan dan orientasi seksual tak perlu dipertentangkan'

Instagram Hak atas foto Aytac Unal/Anadolu Agency/Getty Images

Pemblokiran akun Instagram Alpantuni yang dianggap "memuat konten pornografi" karena menggambarkan kehidupan seorang tokoh gay muslim mendapat tanggapan beragam dari kalangan warganet.

Pengamat mengatakan bahwa sebenarnya tak ada masalah dalam penerimaan Islam terhadap kelompok LGBT, meski kemudian ada unsur politik yang menggunakan identitas keagamaan untuk menolak kelompok tersebut.

Dalam pernyataan persnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika mengatakan bahwa "Instagram memenuhi permintaan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk memblokir akun Instagram Alpantuni yang dianggap "memuat konten pornografi"."

Akun itu mulai tak bisa diakses pada Rabu (13/02) pagi. Menurut pernyataan Kemenkominfo yang dikeluarkan oleh Ferdinandus Setu, Plt. Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo, mereka menerima laporan publik dan melakukan verifikasi.

"Hasil verifikasi menunjukkan semua konten yang dimuat dalam akun instagram Alpatuni memenuhi unsur Pasar 27 ayat 1 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik mengenai larangan distribusi konten pornografi," menurut Ferdinandus.

Pasal 27 ayat 1 UU ITE menyatakan setiap orang dilarang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.

Menurut Kemenkominfo, publik juga "ikut melaporkan akun Alpantuni tersebut melalui fitur report di Instagram sehingga mempercepat proses takedown".

Di media sosial muncul tanggapan yang beragam dari warganet. Sebelumnya, ada yang mengajak untuk melaporkan akun Instagram tersebut yang dianggap "mempropagandakan gay".

Namun ada juga yang memberi tanggapan "marah dan sedih" atas komik tersebut yang menggunakan identitas Islam sekaligus juga sedih atas ancaman yang kemudian muncul pada si pembuat komik.

Tetapi, ada juga warganet lain yang membela komik tersebut dan menyatakan bahwa apa yang disampaikan oleh si pembuat komik sebagai sebuah bentuk ekspresi dan gambaran atas kondisi kelompok LGBT muslim di Indonesia.

Beberapa panel komik tersebut menggambarkan kehidupan seorang gay muslim yang menyatakan penyesalan karena tidak terbuka dengan orientasi seksualnya untuk menjalani kehidupan yang diinginkannya atau dia menyampaikan keinginan untuk pindah agar bisa menjadi dirinya yang sebenarnya tapi ternyata itu hanya mimpi.

Ada juga komik yang seolah menggambarkan kontradiksi identitas, bahwa di depan umum dia harus rajin salat dan menampilkan identitas saleh, namun sebenarnya dia adalah seorang gay.

Komik lain ada yang memperlihatkan karakter gay muslim tersebut sedang berhubungan seks dengan pasangannya, namun kemudian berhenti untuk menghormati azan.

Abdul Muiz Ghazali, dosen dan peneliti pluralisme di Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon, mengatakan bahwa meski 'dualisme identitas' antara LGBT dan muslim seperti yang muncul dalam komik tersebut "harus ditampilkan" namun dia keberatan dengan konten seksualitas yang muncul di situ.

"Ada masalah (dalam komik). Selama ini, jangankan yang homo, yang hetero saja menampilkan hubungan seks, itu ditolak, itu kan masih dianggap tabu di Indonesia. Bagi sebagian orang, (komik) ini dianggap pelecehan. Kita memang punya harapan bagaimana LGBT diterima, tapi kita juga harus paham bagaimana mengutarakannya, menjelaskannya," kata Muiz.

Menurutnya, persilangan identitas antara LGBT dan muslim harus dimunculkan "karena memang begitu kenyataannya".

Muiz mengatakan bahwa "sudah banyak" kelompok-kelompok dalam Islam di Indonesia yang tidak menolak kelompok LGBT.

"Cuma mereka tidak terlalu banyak bersuara karena kondisi sosial politiknya agak bermasalah. Penolakan yang secara terang-terangan dan blak-blakan terhadap LGBT itu, menurut saya, dimulai dari Pilkada DKI. Sebelumnya nyantai-nyantai aja," kata Muiz.

Hak atas foto Adriana Adinandra/SOPA Images/LightRocket via Gett
Image caption Demonstrasi anti-LGBT di Bogor, Jawa Barat, pada 28 November 2018.

Muiz mencontohkan bahwa di kampung-kampung, "misalnya perempuan yang tampil seperti cowok, ya biasa-biasa saja, tidak terlalu ditanggapi yang seperti gimana."

Gay yang saleh

Neng Dara Affiah, doktor sosiologi dan pengasuh pengasuh Pondok Pesantren Annizhomiyyah, Banten, juga menyatakan pendapat yang serupa.

Meski Neng Dara berpendapat bahwa tidak ada unsur pornografi dalam komik tersebut, namun dia menyatakan bahwa sebagian konten dalam komik tersebut "kontraproduktif".

"Mungkin sebaiknya komik-komik itu tidak terlalu vulgar. Ingin menonjolkan apa dengan komik itu? Kalau ingin menonjolkan kontradiksi identitas, kan pada kita juga identitas itu tidak tunggal," kata Neng Dara.

Menurutnya lagi, tak masalah jika identitas keagamaan ditampilkan bersamaan dengan orientasi seksual.

"Identitas-identitas itu kan tidak perlu dipertentangkan ya. Sebagai manusia, sebagai individu, kan memang kita punya berbagai identitas. Bisa berjalan beriringan. Kalau misalnya dia gay, kan dia tetap bisa menjadi gay yang saleh.

"Kesalehan itu kan kongkretnya adalah kebaikan terhadap sesama manusia, terhadap sesama makhluk Tuhan lainnya, kebaikan terhadap lingkungan. Kalau urusan ritual kan itu urusan dia dengan Tuhan ya," katanya.

Neng Dara juga mencontohkan pengalamannya sendiri saat di pesantren Quran. "Kita tahu sama tahu ada perempuan lesbi dan mereka pacaran di depan kita, ya biasa aja. Tapi kalau seperti terlalu butuh pengakuan, ini yang menjadi masalah."

Topik terkait

Berita terkait