KitaBisa: Soal iklan bila diajak bicara orang tak dikenal di angkutan umum, basa-basi atau potensi pelecehan?

Penumpang KRL di Jakarta Hak atas foto Tomohiro Ohsumi/Getty Images
Image caption Sebagian warganet, kebanyakan perempuan, menyatakan bahwa percakapan dengan orang asing, terutama dengan laki-laki, di angkutan umum kerap berujung ke pelecehan.

Iklan dari situs penggalangan dana online KitaBisa, soal diajak bicara oleh orang yang tak dikenal di angkutan umum, memicu perdebatan di kalangan warganet. Ada yang melihat percakapan dengan orang asing berpotensi berujung pada pelecehan seksual, sementara kelompok warganet lain menganggap bahwa iklan tersebut justru membuat terharu.

Awalnya seorang warganet membagikan iklan tersebut di Twitter disertai dengan pertanyaan, "Pernah naik KRL dan ketemu sama orang yang ngajak ngobrol walau gak kenal?". Cuitan tersebut kemudian sudah disebar lebih dari 1.000 kali.

Di iklan itu tertulis, bahwa orang yang mengajak berbicara meski tidak kenal itu sedang "kangen sama anaknya yang seumuran kamu...Buat kamu mungkin dia kebanyakan basa-basi, tapi buat dia percakapan ini jadi obat kangen yang berarti."

Ada sebagian warganet yang merasa bahwa iklan itu sukses membuat mereka merasa terharu.

Tetapi yang lebih menonjol adalah tanggapan keberatan dari para warganet, kebanyakan perempuan, yang menyatakan bahwa percakapan dengan orang asing, terutama dengan laki-laki, di angkutan umum sering berujung ke pelecehan.

Ada beberapa warganet perempuan juga yang membagikan kisah akan pelecehan yang mereka alami di angkutan umum yang diawali dari menanggapi percakapan dari orang tak dikenal.

Namun ada juga yang menanggapi iklan tersebut dengan netral atau malah menyarankan adanya penjelasan tambahan sehingga terkesan tak hanya satu pihak yang "menuntut dipahami".

Lewat akun media sosialnya, platform KitaBisa.com menyatakan bahwa mereka telah meminta maaf dan akan menurunkan iklan tersebut, serta menggantinya dengan konten lain.

Vikra Ijas, salah satu pendiri platform penggalangan dana tersebut, kepada BBC News Indonesia menyatakan bahwa, "Orang bisa mendapat dan menginterpretasi pesan secara berbeda-beda, menurut kami masukan dan kritikan itu sangat fair karena itu adalah opini yang dipegang masing-masing."

Menurutnya, narasi utama dalam iklan yang ingin mereka tampilkan adalah untuk berempati di bulan Ramadan.

"Kita melihat bahwa kondisi di kereta (KRL) itu banyak menjadikan cuplikan-cuplikan yang bisa membuat kita berempati di bulan Ramadan, tapi ternyata setelah kita publikasi kontennya, ada salah satu yang paling menonjol mendapat kritikan dan masukan dari publik."

Kisah kesaksian tentang pelecehan di kereta commuter telah beberapa kali dibagikan dan menjadi perbincangan di media sosial, baik oleh korban sendiri maupun mereka yang menjadi saksi terjadinya pelecehan.

Topik terkait

Berita terkait