Tagar BlueforSudan: Penghormatan bagi para pemrotes yang tewas

Sudanese women protesting Hak atas foto Getty Images

Ketika Anda mendengar kata Sudan, Anda mungkin berpikir tentang kekerasan, genosida, dan perang.

Tetapi menurut Hiba, seorang mahasiswi pasacasarjana yang tinggal di sana selama bertahun-tahun setelah pindah dari Inggris, hal itu sama sekali tidak mewakili negara itu.

Perempuan berusia 22 tahun, yang namanya telah kami ubah karena ia ingin tidak dikenali, mengatakan kepada Radio 1 Newsbeat: "Setiap orang Inggris yang pernah saya bawa ke Sudan - saya telah membawa belasan orang - telah jatuh cinta dengan negara ini.

"Orang-orang Sudan termasuk yang paling ramah dan murah hati di dunia."

Ada alasan mengapa selebriti seperti Rihanna, Naomi Campbell, dan Ne-Yo mencoba meningkatkan kesadaran tentang Sudan di Instagram minggu ini - dengan mengubah profil mereka menjadi berwarna biru.

Hak atas foto Instagram

Pada 3 Juni, lebih dari 100 pengunjuk rasa damai yang tidak bersalah tewas di ibukota Khartoum. Pembunuhan ini telah disebut sebagai pembantaian.

Gerakan media sosial #BlueForSudan dimulai ketika Mohamed Hashim Mattar yang berumur 26 tahun terbunuh dalam penumpasan itu.

Gambar profilnya pada saat itu berwarna biru yang sekarang digunakan di Instagram. Warna biru juga dilaporkan sebagai warna favoritnya.

Ketika pengguna Instagram @reresolve_ meminta para pengikutnya untuk mengubah gambar profil mereka dalam sebuah gerakan solidaritas, gerakan itu menjadi viral.

Bintang-bintang seperti Demi Lovato dan model Halima Aden telah mengubah gambar profil Instagram mereka dengan warna biru yang sama sejak itu.

Rihanna, Naomi Campbell, dan Ne-Yo juga telah menulis di media sosial yang meningkatkan kesadaran akan situasi di Sudan.

Negara itu berada dalam krisis sejak diktator yang memerintah Sudan selama 30 tahun, Omar al-Bashir, digulingkan ketika para pemrotes menduduki alun-alun di depan markas militer.

Itu adalah awal dari aksi yang telah menewaskan lebih dari 100 orang pada 3 Juni.

Image caption Protes telah berlangsung cukup lama di Sudan.

Namun terlepas dari aksi yang berakhir kacau, Hiba mengatakan gerakan yang dimulai di sana telah memberi orang-orang harapan di negara itu.

"Pertama kali saya pergi ke aksi, saya menyadari berbagai hal telah berbeda.

"Padahal di masa lalu para pengunjuk rasa biasanya dari kelompok etnis atau sosial yang cukup spesifik, di aksi itu hadir setiap kelompok etnis - Arab, Afrika, Kristen, Muslim. Semua orang di sana bersama, orang kaya dan anak-anak tunawisma.

"Saat itulah saya menyadari bahwa ini berbeda dibandingkan protes-protes sebelumnya."

Apa latar belakangnya?

Sudan mengalami dua revolusi, pada tahun 1964 dan 1985, tetapi kedua revolusi itu berhasil diputarbalikan saat militer mengambil alih.

Hiba mengatakan bahwa Sudan di bawah Omar al-Bashir adalah salah satu "kediktatoran paling keras dan brutal" di dunia.

"Rezimnya sangat rasis bagi siapa saja yang tidak termasuk etnis Arab, dan Sudan memiliki 160 kelompok bahasa yang berbeda, kami adalah negara yang sangat beragam - baik Arab dan juga Afrika."

Kelompok minoritas dianiaya dan orang-orang Sudan hidup di bawah sensor.

"Sudan adalah negara polisi di mana militer mendapat 70% dari pengeluaran kami per tahun dan mereka menggunakan militer dan polisi untuk menerapkan politik ketakutan dalam negara," kata Hiba. "Tidak ada yang bahkan tahu apa hukumnya, apa hukumannya, karena mereka menerapkannya begitu saja dan kapan mereka mau menakut-nakuti orang agar tunduk."

Image caption "Pertama kali saya pergi ke aksi, saya menyadari berbagai hal telah berbeda.," kata Hiba.

Sudan dibagi menjadi dua negara pada tahun 2011, setelah orang-orang di selatan memilih kemerdekaan. Kebanyakan orang Kristen dan Animis di selatan selama beberapa dekade telah berjuang melawan kekuasaan oleh Arab Muslim di utara.

Perang saudara utara-selatan selama dua kali menelan korban jiwa sebanyak 1,5 juta orang, dan konflik yang berkelanjutan di wilayah barat Darfur telah mendorong dua juta orang terlantar dan menewaskan lebih dari 200.000 orang.

Harapan kaum muda Sudan

Sudan adalah negara di mana dilaporkan 60% dari populasi berusia di bawah 30 dan revolusi yang telah berlangsung sejak Desember telah dipimpin oleh perempuan dan orang muda.

Sulit untuk berkumpul di tempat umum di bawah Omar al-Bashir, sehingga internet dan media sosial memainkan peran besar, menurut Dinan Alasad, perempuan 21 tahun yang tinggal di Sudan hingga kuliah di Toronto, Kanada, dua tahun lalu.

"Kaum muda benar-benar menyadari melalui pemaparan dan percakapan satu sama lain dan melalui analisis bahwa kita dapat melakukan jauh lebih baik, bahwa kita memiliki sumber daya dan keterampilan dan keinginan untuk negara yang lebih baik," katanya.

Dinan kembali dari universitas dan langsung ikut aksi, dan akan ada di sana pada malam pembantaian itu jika dia tidak menunggui saudara perempuannya yang sedang tidur.

"Jika dia tidak tidur sebentar, kami mungkin akan ada di sana.

"Tetapi banyak teman dekat saya ada di sana dan saya kehilangan teman dekat saya pada hari itu. Rasanya seperti tragedi yang sangat cepat, tragedi yang sangat dekat."

Image caption Selain bentrokan, ada juga protes damai di mana orang-orang muda membahas politik dan masa depan negara itu.

Hiba dan Dinan menyebut peristiwa beberapa minggu terakhir "pahit".

Tetapi mereka berpikir itu "menjadi perubahan yang telah ditunggu-tunggu sejak lama".

"Saya memiliki keyakinan besar pada kaum muda kami," kata Dinan.

"Saya dulu selalu merasa seperti saya memiliki cinta yang mendalam untuk Sudan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan itu. Rasanya seperti hambatannya sangat besar dan rezim itu begitu berkuasa. Tetapi melihat bahwa ada populasi besar yang merasa persis sama dengan saya memberi saya begitu banyak harapan."

Hiba menambahkan: "Fakta bahwa orang belum menyerah. Teman-teman saya masih di luar sana memrotes. Terlalu banyak orang yang mati, terlalu banyak yang telah dilakukan untuk membiarkan mereka mati sia-sia."

Meskipun mereka penuh harapan, masih ada kecemasan bagi mereka yang tinggal di Sudan dan seperti apa masa depan mereka nantinya.

"Kami tidak ingin tinggal di Sudan yang seperti ini selamanya, kami tidak ingin menjadi tua di Sudan yang seperti ini, kami tidak ingin pergi," kata Dinan.

"Kami memiliki hubungan yang sangat mendalam dengan negara kami. Kami tidak ingin dipaksa keluar dari negara kami ke berbagai negara dan harus menetap di tempat yang berbeda. Kami sangat ingin membangun di mana kami berada."

Berita terkait