Mati lampu di Jabodetabek dan sebagian Jawa Barat: 'Netizen sangat heboh' dengan kondisi yang sering dialami di luar Jawa

mati lampu Hak atas foto Antara
Image caption Seorang guru memeriksa tugas murid di satu sekolah di Jalan Cileduk Raya, Senin (05/08).

Keluh kesah warga karena mati listrik di Jabodetabek dan sebagian Jawa Barat disebut "sangat heboh" oleh warga di luar Jawa yang menyatakan sudah terbiasa hidup dengan listrik terbatas, kondisi yang tak mereka keluhkan.

Warga di Pontianak, Manokwari dan Teluk Bentuni, Papua yang dihubungi BBC News Indonesia mengatakan mereka mengalami pemadaman listrik berkali-kali dalam satu bulan dengan durasi lebih dari tiga jam.

Menurut Ombudsman, persoalan ini dapat menjadi momentum bagi pemerintah dan PLN tidak hanya memikirkan listrik di Jawa-Bali saja.

Sementara itu, Anggota DPR Komisi Energi, Kurtubi mendesak jajaran PLN transparan dalam memeriksa penyebab terjadinya pemadaman listrik massal ini.

Pemadaman listrik di sebagian Jabodetabek dan sebagian Jawa Barat mulai Minggu siang (04/08) sampai Senin, menimbulkan banyak tanggapan di media sosial dengan berbagai tagar termasuk #listrikmati dan #matilampulagi.

Berbagai tanggapan netizen termasuk keluhan, lelucon, makian dan juga ada yang menyatakan rasa bersyukur karena terlepas dari ketergantungan internet dan listrik walau hanya beberapa jam.

"Berita hanya sampai ke tenggorokan"

Akun @bobbyemha yang menyatakan sebagai orang Timika menulis, "Baru sekali, sebagian pulau Jawa mati lampu, beritanya sampai ke Papua. Papua sering mati lampu, beritanya cuman sampai tenggorokan."

Di Riau, akun atas nama @Gadih_melayu juga mengungkapkan pengalaman senada.

Sementara akun @ericklistyanto1 yang tinggal di Banjarmasin, mengaku "sudah kenyang" dengan listrik padam di Kalimantan Selatan itu.

Mati listrik lebih dari tiga jam pada akhir pekan

Hak atas foto Antara
Image caption Presiden Joko Widodo (kedua kiri) didampingi Plt Dirut PLN Sripeni Inten (kiri), Seskab Pramono Anung (kedua kanan) dan Menteri ESDM Ignasius Jonan (kanan) berjalan masuk ruang pertemuan saat mendatangi Kantor Pusat PLN, Jakarta, Senin (5/8/2019).

Warga Pontianak, Kalimantan Barat, Jessica Wuysang juga merasakan pengalaman serupa.

Kondisi yang terjadi Mei lalu, bahkan listrik mati lebih dari tiga jam tiap Sabtu malam dan hari Minggu.

"Kebayang kan, sebal kalau hari libur malah mati lampu," kata Jessica kepada BBC Indonesia, Senin (08/05).

Jessica menambahkan awalnya menganggap cuitan dan keluhan warga khususnya yang merasakan mati listrik di Jabodetabek dan sebagian Jawa Barat "sangat heboh", sementara kondisi ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga di Kalimantan Barat.

"Di sisi lain, saya paham itu mengganggu seperti aktivitas bank, ATM, semua kan bermasalah ya. Saya pun prihatin juga," katanya.

Image caption Pelanggan di mini market melakukan pembayaran tunai saat mati lampu.

Namun Jessica mengaku dalam beberapa bulan belakangan ini, sudah tak sering lagi pemadaman listrik, khususnya di kota Pontianak.

Tapi, menurutnya, pemadaman listrik masih terjadi di kabupaten dan kota lain di Kalimantan Barat.

Di Manokwari, Papua Barat, pemadaman listrik pernah terjadi 12 jam dan selama beberapa hari, cerita Duma Sanda, warga setempat.

"Waktu siang dimatikan lampu, malam baru dinyalakan. Kan merugikan masyarakat yang berbisnis," kata Duma tentang mati listrik yang terjadi tiga bulan lalu.

Duma melanjutkan, pemadaman listrik di Jabodetabek dan sebagian Jawa Barat semestinya jadi momentum untuk warganya turut memperhatikan orang-orang di Indonesia timur.

"Kalau masyarakat di sini senang, karena akhirnya Jakarta juga rasa dampak pemadaman listrik, yang sering sekali dirasakan oleh masyarakat di Papua Barat," katanya.

Di Teluk Bintuni, Papua Barat, mati listrik lebih parah dan bisa berlangsung selama satu bulan, kata warga setempat Arif Prianto.

Belum banyak pasok listrik

Hak atas foto Antara
Image caption Sejumlah pekerja beraktivitas di proyek pembangunan PLTU Suralaya Unit X di Suralaya, Cilegon, Banten, Senin (5/8/2019).

"Maka tempat kami dikenal sebagai kota genset," kata warga Teluk Bintuni, Arif Prianto kepada BBC Indonesia, Senin (05/08).

Direktur Bisnis Regional Maluku dan Papua, PLN, Ahmad Rofik menyebutkan peristiwa padam listrik di Pulau Jawa-Bali berbeda dengan di bumi Cendrawasih.

Pasokan listrik di Jawa dan Bali sudah berlebih, sementara di Papua dan Papua Barat pemerintah masih menggenjot listrik masuk desa dengan daya yang tidak besar.

"Kalau di Papua, transmisi listriknya belum banyak, masih mau dibangun. Kita masih banyak pakai 20KV (Kilo Volt)," kata Rofik kepada BBC Indonesia.

Saat ini, pemerintah masih fokus untuk memberi aliran listrik ke seluruh Papua meski dengan daya yang tidak besar. "Target 2020, seusai target yang diberikan pemerintah 99,5%, kami berharap bisa 100%," tambah Rofik.

Sementara itu, anggota Komisi Energi DPR, Kurtubi menilai terjadi perbedaan signifikan mati listrik di sebagian Pulau Jawa-Bali dan daerah lainnya.

"Tetapi yang terjadi kemarin, ini bisa dibilang di luar kebiasaan. Karena, satu, cakupan wilayah yang (listrik) mati ini luas sekali. Bukan satu kecamatan atau satu kabupaten, luas sekali, dan lama sekali," katanya saat dihubungi BBC Indonesia, Senin (04/08).

Di sisi lain, Anggota Ombudsman RI, Alvin Lie menyatakan kejadian mati listrik perlu dijadikan peringatan untuk meningkatkan layanan di daerah.

"Seperti Kalimantan, Kalimantan ini kurang apa. Segala jenis energi ada di sana tapi listriknya byar-pet juga," kata Alvin.

Pekan ini Dirut PLN dipanggil Ombudsman

Hak atas foto Antara
Image caption Fasilitas perbankan sempat terganggu saat mati listrik.

Menyusul evaluasi dari peristiwa mati listrik, Ombudsman RI akan memanggil Plt Direktur Utama PLN, Sripeni Inten Cahyani.

"Minggu ini, kalau tidak Kamis ya Jumat," kata Anggota Ombudsman, Alvin Lie.

Image caption Suasana di satu cafe di Jakarta saat mati lampu.

Alvin Lie mengatakan juga akan memanggil pihak-pihak yang memiliki pengaruh besar dalam hal keperluan listrik dan operasionalnya, seperti transportasi massal.

Alvin mengatakan ia ingin memastikan perusahaan seperti LRT, MRT dan Transjakarta memiliki rencana cadangan saat pemadaman listrik terjadi.

"Yang kami khawatirkan, kalau ini terjadi lagi, LRT coba perhatikan, sepanjang Jagorawi tingginya segitu, listrik padam, malam hari hujan, itu evakuasi penumpangnya bagaimana?" kata Alvin.

Sebelumnya, Plt Dirut PLN, Sripeni Inten Cahyani mengatakan pihaknya segera menangani soal mati listrik ini.

Ia mengatakan saat ini seluruh jaringan listrik sudah siap, akan tetapi penyaluran listrik dari pembangkit masih bertahap.

"Kecepatan pembangkit masuk, dan kemudian mendistribusikan dari 500 KV turun ke 150 KV, turun ke 20 KV, sampai ke pelanggan itu ternyata memerlukan waktu," katanya berjanji untuk bisa menyiasati kecepatan listrik digunakan oleh konsumen.

Mati listrik yang terjadi Minggu (04/08) itu disebut pejabat PLN, I Made Suprateka, karena Gas Turbin 1 sampai dengan 6 di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya mengalami gangguan atau trip, sementara Gas Turbin 7 di fasilitas tersebut dalam posisi mati.

Pembangkit Listrik Tenaga Gas Turbin Cilegon juga disebutkan mengalami gangguan.

Topik terkait

Berita terkait