Virus Corona: Warga Singapura ucapkan terima kasih kepada tenaga medis di hari Valentine

Ucapan terimakasih Hak atas foto Judith Perera-Lee
Image caption Judith Perera-Lee mengatakan beberapa teman dan kerabatnya adalah pekerja medis.

Warga Singapura mengunggah berbagai ucapan terima kasih kepada para tenaga medis yang berada di garis depan dalam menangani wabah virus corona.

Pesan tersebut mereka sampaikan dalam tulisan tangan, terkait dengan perayaan Valentine.

Singapura telah melaporkan adanya 50 kasus virus, dan pemerintah telah meningkatkan langkah-langkah untuk mendeteksi dan menahan penyebarannya.

Berbagai kalangan, termasuk diantaranya anak-anak sekolah, menggunakan media sosial untuk berbagi pesan cinta dan dukungan mereka, untuk membantu menyemangati moral para tenaga medis.

Wally Tham adalah salah seorang yang berada di balik grup Facebook @StandUpForSG, sebuah laman yang didedikasikan untuk masalah-masalah sosial Singapura, di situlah pertama kali gagasan tersebut disuarakan pada minggu lalu.

Ia mengatakan kepada BBC bahwa ia mendengar tentang kemungkinan diskriminasi yang dihadapi beberapa tenaga medis dan ingin memulai gerakan untuk mengatasinya, menggunakan tagar #braveheartsg.

"Saya membaca soal orang-orang Singapura yang keluar dari lift atau turun dari kereta, jika ada orang yang mengenakan seragam medis, karena takut dan paranoia bahwa mereka mungkin terkena virus corona.

"Jadi bagi saya ini tentang mengatasi kecemasan orang-orang.

"Gagasan saya memunculkan #braveheartsg sebagai tagar, karena kita harus memiliki hati yang berani.

"Kita membutuhkan keberanian, kita harus berani, dan sekarang siapa lagi yang melakukan itu selain para petugas kesehatan," katanya.

Hak atas foto EPA
Image caption Orang-orang mengenakan masker agar tidak terpapar virus di Singapura.

Tagar, yang telah digunakan lebih dari 5.000 kali sejak Sabtu (8/2), bahkan sudah di-mention Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong di laman Facebook-nya.

"Mari kita semua melaksanakan tugas kita untuk membantu dan menyemangati satu sama lain. Bersama-sama, kita akan mengatasi masa-masa sulit ini dan tampil lebih kuat," tulisnya.

Kekhawatiran akan krisis wabah Sars tahun 2003 silam, yang mengakibatkan ratusan orang terinfeksi dan puluhan lainnya meninggal, masih tersisa kuat di negara kecil tersebut.

Meski wabah Covid-19 ini tampaknya tidak terlalu parah, pemerintah Singapura berupaya keras untuk menangani kecemasan warganya dengan mendorong warga Singapura untuk bersatu.

Namun upaya ini tidak selalu berhasil - banyak warga Singapura panik dengan memborong berbagai persediaan di supermarket minggu lalu, ketika negara itu menaikkan tingkat kewaspadaannya.

Namun, ada orang lain yang ingin melakukan tugas mereka.

Sejauh ini sudah lebih dari 800 pesan dikirim ke grup Facebook StandUpForSG, dan Wally berharap pihaknya dapat mencetak pesan-pesan itu sebanyak mungkin untuk dibagikan ke berbagai fasilitas kesehatan mulai Hari Valentine nanti.

Felicia Lim, 13 tahun, membagikan pesan dukungannya sebagai bagian dari latihan menulis di sekolahnya.

Hak atas foto Felicia Lim
Image caption "Kalian adalah pahlawan sejati untuk masa depan Singapur," tulis Felicia Lim

"Mereka berjuang melawan virus tetapi mereka didiskriminasi karena orang berpikir bahwa mereka akan membawa virus.

"Saya yakin mereka juga takut terhadap virus," katanya.

Hak atas foto @missnio
Image caption Ucapan terimakasih dari salah satu akun pengguna media sosial @missnio.

Brenda Nio, seorang guru di Singapura mengatakan, "Saya ingin terlibat karena ada begitu banyak ketakutan saat ini. Ketakutan mengarah pada keegoisan dan diskriminasi.

"Jika kita bekerja bersama, kita dapat saling memperhatikan. Saya ingin melakukan apa yang dapat saya lakukan untuk menyebarkan pesan kebaikan, keberanian, harapan, dan semangat," katanya.

Berita terkait