Cerita Elis dan suami menyediakan buku gratis di angkot Bandung

Hak atas foto Facebook Elis Ratna
Image caption Angkot pustaka? Anda kini bisa menemukannya di Bandung.

Sebuah upaya yang dilakukan oleh pasangan suami istri di Kabupaten Bandung untuk memberi bacaan gratis pada penumpang angkot mendapat respons positif dari pengguna media sosial.

Elis Ratna, seorang petugas perpustakaan di SDN Cisalak, Kabupaten Bandung, bersama suaminya - yang sudah bekerja sebagai sopir angkutan umum selama 20 tahun - mengajak orang-orang membaca dengan menyusun rak sederhana di bagian belakang angkot dan mengisinya dengan buku-buku bacaan.

Kepada BBC Indonesia, Elis mengatakan angkot pustaka ini telah dioperasikan selama empat bulan dan mendapat sambutan positif dari para penumpang. "Kalau bapak-bapak suka buku kepribadian, kalau ibu-ibu banyak mau buku resep zaman sekarang," katanya.

Pada Sabtu (15/10) kemarin, Elis mengunggah foto-foto 'angkot pustaka' itu dan mendapat banyak tanggapan positif dari pengguna media sosial. "Keren," kata pengguna bernama Nobu. "Semoga nanti jadi banyak yang mengikuti gerakan ini dan Indonesia bisa lebih cinta membaca."

Banyak dari mereka juga lantas ingin ikut menyumbang buku, sementara yang lain mengomentari kritis. "Keren, tapi pusing gak ya abis bacanya (di angkot)," kata satu pengguna. Lainnya, akun bernama Budi Saragih mengatakan inisiatif ini kurang efektif karena perjalanan dengan angkot tidak menunjang untuk membaca.

Hak atas foto Facebook Elis Ratna
Image caption Perjalanan angkot di Jalan Raya Kopo Leuwi memakan waktu setidaknya dua jam. Waktu yang cukup untuk membaca buku tipis selama perjalanan.

"Di dalam angkot dengan kondisi berdesakan gerah panas gak bakalan konsentrasi baca buku malah bukunya bisa dipakai untuk kipasan, lecek dah. Baca buku di dalam angkot sangat berisiko kena copet," katanya.

Bukan spontanitas

Kecintaan Elis pada dunia literasi bukanlah hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, dia telah mengoperasikan perpustakaan keliling dengan menggunakan motor, menawarkan bacaan gratis pada anak-anak di desa sekitar.

"Idenya dari keprihatian pribadi. Dulu kan saya sekolah kurang dana, saya gak mau orang mengalami seperti saya. Pendidikan itu menuntaskan semua masalah kehidupan," katanya.

Hak atas foto Elis Ratna
Image caption Anak-anak yang meminjam buku dari perpustakaan kelliling Elis.

Melihat upaya rutin yang dilakukan isrinya, Muhamad Piyan Sopian lalu tergerak untuk ikut membantu dengan menyediakan buku di angkot. Trayek angkot Sopian dari kabupaten ke kota biasanya ditempuh dalam waktu dua jam, cukup bagi penumpang untuk membaca.

Elis mengatakan banyak mimpi yang ingin dia capai termasuk menyediakan perpustakaan sendiri di dekat rumahnya. "Banyak anak-anak kampung yang mungkin potensinya lebih baik dari orang kota. Anak-anak di sini butuh (buku-buku dan pendidikan). Saya hanya menanamkan (ajaran) bahwa pendidikan hak segala bangsa. Walau saya bukan guru, minimal dengan membaca, mereka bisa melangkah mandiri," katanya.

Hak atas foto Elis Ratna
Image caption Elis beserta anaknya menaiki motor yang biasa dipakai sebagai perpustakaan keliling.

Inisiatif membuat perpustakaan berjalan dilakukan oleh sejumlah orang dalam beberapa tahun terakhir. Di Purbalingga misalnya, Ridwan Sururi menggunakan kuda untuk menawarkan bacaan pada anak-anak. Di Lampung selatan, ada Sugeng Hariyono yang mencetuskan ide membuat motor pustaka.

Di Makassar, ada pula Muhammad Ridwan Alimuddin yang menggagas pembuatan perahu pustaka untuk menyediakan bacaan bagi warga yang tinggal di pulau-pulau kecil.

Berita terkait