Apakah cuti haid memang ada gunanya?

Perempuan mengalami kram mens Hak atas foto Getty Images

Berbagai langkah untuk memberi cuti haid mendapat tanggapan beragam — lalu bagaimana perusahaan bisa menyusun kebijakan yang mendukung karyawan perempuan?

Bex Baxter ketakutan ketika suatu hari dia sampai di kantor dan melihat resepsionis di kantornya 'meringkuk' di meja depan, "pucat pasi dan jelas terlihat kesakitan" namun tetap melayani seorang tamu.

"Saya langsung menyuruhnya beristirahat," kata Baxter, yang saat itu menjabat sebagai direktur perusahaan.

"Dia sangat merasa malu dan menghalau saya dan mengatakan, 'Ini sekadar haid saja, saya bisa mengatasinya.'"

Sampai saat itu, Baxter tak pernah mempertimbangkan apakah bekas perusahaan tempatnya bekerja, sebuah perusahaan di Bristol bernama Coexist yang menyediakan tempat bagi komunitas di barat daya Inggris, punya kebijakan cuti haid.

Namun saat itu, menurutnya, dia memikirkan akan hak dasar manusia — bahwa proses biologis yang normal tak seharusnya menjadi sesuatu yang memalukan.

Cuti haid, sebuah kebijakan yang memungkinkan perempuan yang mengalami kesakitan luar biasa saat haid untuk mengambil cuti satu atau dua hari, sudah tersedia di beberapa negara di dunia, namun banyak dikritik karena dianggap tidak produktif, dan kadang menguatkan stereotipe negatif akan pekerja perempuan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sebagian besar karyawan di seluruh dunia mengalami sakit yang mengganggu kerja, namun stigma menghambat pembahasan masalah ini.

Di beberapa negara Asia, termasuk Jepang, Indonesia, Taiwan, Korea Selatan dan beberapa provinsi di Cina, perempuan diizinkan untuk tinggal di rumah saat mengalami menstruasi.

Namun banyak yang tidak mengambil cuti ini, karena banyak dari mereka yang merasa khawatir akan mengalami pelecehan seksual atau dianggap lemah.

Dan saat parlemen Italia mempertimbangkan untuk memberlakukan cuti haid secara nasional pada Maret lalu, banyak yang mempertanyakan apakah cuti tiga hari sebulan yang tidak mengurangi gaji akan membuat perusahaan tidak tertarik untuk mempekerjakan perempuan.

Topik tabu

Stigma di seputar haid —bahwa menstruasi itu kotor, memalukan dan tak boleh disebut — bisa membuat bocah perempuan tak masuk sekolah dan perempuan dewasa terdepak dari tempat kerja.

Contohnya, perempuan yang tak mempu membeli pembalut terpaksa tinggal di rumah saat menstruasi, sementara buruh tekstil bisa terancam kehilangan pekerjaan jika mengambil waktu untuk mengganti pembalut sebelum jam istirahat, dan itu pun jika ada fasilitas yang memungkinkan untuk ganti pembalut.

Bahkan perempuan yang bekerja di kantor pun, dengan lokasi toilet yang dekat dan memiliki jadwal fleksibel, harus melakukan usaha ekstra untuk menyembunyikan menstruasinya. Itu karena, kendati tak banyak penelitian tentang bagaimana persepsi publik jika seorang perempuan diketahui sedang mens, namun sebuah penelitian dari 2002 yang menyimpulkan bahwa perempuan yang membawa-bawa tampon dianggap lebih tidak kompeten, lebih tidak disukai dan menjijikkan secara fisik.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Penelitian dari 2002 mencari tahu reaksi terhadap perempuan yang menjatuhkan tampon dari tas mereka. Mereka dianggap lebih tidak disukai daripada perempuan yang menjatuhkan jepit rambut.

Namun kini perempuan termasuk dalam 40% tenaga kerja dunia, dan hampir 20% perempuan mengalami kram perut ekstrem pada hari-hari pertama menstruasi — kondisi yang cukup intens sampai menghambat aktivitas sehari-hari ini disebut dismenorrhea.

Bagi perempuan-perempuan ini, cuti haid bisa menjadi sesuatu yang melegakan, namun bisa berpotensi menghambat mereka secara profesional. Jadi bagaimana agar cuti hamil benar-benar bermanfaat?

"Bisnis perusahaan perlu dididik ulang soal menstruasi, jelaskan lagi tujuannya dan memungkinkan perempuan bisa menjadi diri mereka sendiri tanpa stigma," kata Baxter, yang sudah meninggalkan Coexist tapi menjadi penasihat dalam kebijakan cuti haid perusahaan tersebut.

Jika percakapan yang terbuka bisa menghapus tabu, maka cuti haid setidaknya menawarkan satu cara agar orang-orang mulai bertukar pikiran tanpa rasa segan.

Tantangannya adalah mencari cara untuk menerapkan kebijakan cuti haid tapi tidak mengurangi peran perempuan di angkatan kerja.

Menerapkannya

Cara sebuah perusahaan menerapkan kebijakan cuti haid tergantung pada ukuran dan strukturnya, namun ada beberapa elemen kunci.

Salah satunya adalah bahasa, kata Lara Owen, seorang konsultan menstruasi dan menopause di tempat kerja dan seorang kandidat PhD di Monash Business School di Melbourne, Australia.

Cuti haid punya makna yang berat, dan ini bisa membuat orang yang tak pernah mengalami kram luar biasa berpikir macam-macam tanpa dasar,seperti, "bahwa perempuan akan mendapat waktu libur untuk sesuatu yang sebenarnya tidak menjadi masalah," kata Owen.

Daripada menggunakan istilah 'cuti haid,' dia lebih memilih menggunakan istilah yang mengakomodasi orang-orang untuk mengurus menstruasi mereka di kantor, daripada hanya menyuruh mereka pulang.

Hak atas foto Lara Owen
Image caption Cuti haid punya makna yang berat, dan ini bisa membuat orang yang tak pernah mengalami kram luar biasa berpikir macam-macam tanpa dasar.

Eden King, seorang asisten profesor psikologi di Rice University, Texas, yang juga berfokus pada diskriminasi di tempat kerja, setuju bahwa kebijakan untuk perempuan bisa berakibat buruk bagi perempuan.

King menyarankan untuk menghapus jenis kelamin dan membuat kebijakan umum sehingga penderita dismenorrhea bisa beristirahat.

"Tawarkan kebijakan cuti yang fleksibel buat semua karyawan di kantor, sehingga orang bisa cuti saat sakit, terlepas dari alasannya," katanya.

"Itu membuat semua orang ada di posisi setara, sementara kebijakan yang istimewa terhadap satu kelompok tertentu yang mengesankan mereka butuh waktu khusus karena dianggap lebih lemah, bisa berdampak buruk pada mereka dan menguatkan stereotipe gender."

Meski begitu, jika salah satu fungsi dari 'cuti haid' adalah untuk menghancurkan tabu, lalu kenapa menghilangkan kata menstruasi? Haid bukanlah penyakit, kata Owen.

Malah sebaliknya, siklus yang reguler menunjukkan kesehatan. Meski fleksibilitas itu penting, katanya, namun haid bisa digolongkan sebagai salah satu alasan yang bisa diterima perusahaan jika seseorang ingin cuti.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sekitar 20% perempuan mengalami kram berlebih di hari-hari pertama menstruasi — kondisi yang disebut dismenorrhea.

"Dengan menyebut masalahnya secara terbuka dan tanpa rasa malu, adalah satu cara untuk membongkar stigma, itu butuh waktu lama," kata Lisa Schechtman, direktur kebijakan dan advokasi untuk WaterAid America. Tapi perempuan harus ikut terlibat, katanya.

"Kebijakan-kebijakan seperti ini tidak bisa dirancang oleh laki-laki untuk perempuan. Orang-orang yang terdampak harus selalu berpartisipasi dalam merancang, menerapkan dan mengawasi program di seputar menstruasi."

Baxter bertujuan untuk melakukan ini: dengan menampung tanggapan dari karyawan, dia membantu Coexist menyusun kebijakan yang mengakui bahwa kebutuhan seorang karyawan yang berhadapan dengan tamu atau konsumen akan berbeda dengan perempuan yang bekerja di belakang layar.

Coexist mengumumkan kebijakan baru terkait haid. Menurut Baxter, karyawati diizinkan untuk secara longgar memasukkan waktu yang dibutuhkan terkait haid ke dalam jadwal profesional mereka.

Dengan bekerja bersama Owen, Baxter ingin menunjukkan menstruasi sebagai sesuatu yang positif — "penanda kesehatan yang optimal dan vitalitas," katanya.


Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di Can 'period leave' ever work? di laman BBC Capital

Topik terkait

Berita terkait