Bagaimana para pekerja asing mengatasi krisis identitas

Ekspatriat Hak atas foto Getty Images
Image caption Tak sedikit ekspatriat menyerah untuk berbaur ulang dengan komunitas di kampung halaman dan kemudian mengklaim diri sebagai warga dunia.

Setelah bertahun-tahun jauh dari kampung halaman karena penempatan kerja di luar negeri, mudik bisa jadi terasa asing dan berlebihan. Berikut ini adalah upaya sekelompok orang mengatasi kecanggungan tersebut.

Pekan lalu kami menemukan persoalan penting yang kerap diabaikan para ekspatriat, yaitu bagaimana penempatan kerja di luar negeri berpengaruh terhadap identitas dan ikatan emosional akan kampung halaman.

Hal ini ternyata mendorong banyak ekspatriat membagikan kisah mengejutkan sekaligus mencerahkan tentang berpindah ke pelbagai penjuru dunia.

Banyak dari ekspatriat mengenali dilema yang dialami penulis kami. Kami pun yakin, pengalaman dan kiat terbaik untuk beradaptasi kembali saat pulang ke kampung halaman itu bisa dibagikan.

Rumah yang tak tergantikan

Melalui komentarnya di Facebook, Wendy Skroch menyebut fenomena itu sebagai 'upaya membalikkan kejutan budaya'.

"Ada rasa ketidakterikatan dengan rumah yang muncul dalam fenomena ini. Perasaan tidak pernah merasakan rumah itu sungguh nyata," tulis Skroch.

Banyak orang tidak percaya diri untuk menanam keterikatan itu lagi saat pulang ke kampung halaman. Pete Jones yang meninggalkan Inggris tahun 2000 untuk menetap di Denmark, Belanda, dan Swiss angkat bicara.

"Saya menikmati perjalanan pulang ke Inggris selama beberapa hari. Namun kemudian perasaan bahwa saya harus pergi muncul. Ini bukan rumah saya lagi!"

"Saya tidak merasa akan terikat dengan Swiss, tapi saya nyaman hidup di sini. Sejujurnya, saya tidak tahu lagi, di mana kampung halaman saya sebenarnya," kata Jones.

Anda telah berubah

Bagi sebagian ekspatriat, reaksi orang terdekat kerap menjadikan pulang ke kampung halaman sebagai pengalaman yang pelik.

"Kembali ke rumah di Amerika Serikat setelah menetap di Australia selama 26 tahun cukup mengagetkan," tulis Bruce Felix.

"Menjadi anggota keluarga baru di tempat yang semestinya berstatus rumah sungguh saat-saat yang sulit," ujarnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Perasaan seolah tertinggal dari waktu yang terus bergulir menghampiri sejumlah ekspatriat yang pulang ke kampung halaman.

Membiasakan diri dengan sejumlah istilah dan frasa baru, tapi bukan aksen, kata Felix, membuat komunikasi di kampung halaman sebagai tantangan tersendiri.

"Tanpa aksen lokal, orang-orang akan menganggapmu aneh," tuturnya.

Setelah 20 tahun tinggal di AS, Mary Sue Connolly merasa diperlakukan sebagai orang asing saat pulang ke kampung halamannya di Irlandia.

"Saya telah berubah dan akhirnya saya merasa memang dianggap seperti itu," kata Connolly.

"Berintegrasi akan lebih mudah jika tidak membicarakan masa lalu karena Anda akan dianggap angkuh," kata Denis Gravel.

Hak atas foto Daniel Perez/Getty Images
Image caption Ekspatriat asal Inggris yang menetap di Spanyol menyaksikan upacara pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton dari perantauan.

Allison Lee juga mengalami hal serupa. Dia kembali ke Australia setelah selama tiga tahun berturut-turut menetap di Amerika Latin dan London.

"Sekarang jauh lebih sulit menemukan teman baru dan hampir tak ada yang mau mendengarkan ceritamu," ujarnya.

Eunice Tsz Wa Ma, asli Hong Kong, masih merasakan keterkejutan budaya meski kembali ke kampung halamannya setiap musim panas.

"Setiap saya pulang, saya merasa sepertinya saya ditinggal oleh waktu dan saya adalah satu-satunya orang yang hidup di masa lalu," kata dia.

Halo, kawan! Ingat saya?

Setelah lama absen di satu komunitas, bagaimana Anda dapat menyesuaikan diri lagi saat kembali? Beberapa solusi yang telah diuji sangat sederhana dan mudah dijalankan.

"Kalau bisa, hindari berteman di tempat kerja yang sama dengan orang-orang yang sama," kata penduduk Inggris, John Simpson.

"Akan ada kekesalan yang sama dan persoalan-persoalan harian yang sebenarnya sepele," ujarnya.

Vesna Thomas, yang kembali ke Sydney setelah 16 tahun menetap di AS dan Singapura, sulit menemukan teman baru di usia akhir 40-an tahun.

Akhirnya ia memulai klub pecinta buku, bekerja paruh waktu dan bekerja sosial di sekolah.

"Lucunya, seluruh teman saya di perkumpulan pecinta buku berstatus ekspatriat. Anda tertarik satu sama lain karena memahami apa telah Anda lalui," kata Thomas.

Sungguh, mereka yang berusaha pulang secara aktif mencari perkumpulan ekspatriat.

"Komunitas ini membantu karena saya tidak banyak bercengkerama dengan banyak orang Amerika lainnya selama di luar negeri," ujar Alexis Gordon.

"Saya harus mengulang pengalaman menjalani budaya Amerika melalui mata mereka. Itu membuat adaptasi lebih mudah dijalani," kata Gordon menambahkan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Beradaptasi dengan negara asal bagi beberapa orang merupakan pergulatan yang membuat minder.

Untuk ekspatriat lainnya, pulang ke kampung halaman terasa seperti penempatan kerja baru di negara lain.

"Saya akhirnya menganggap pengalaman berbaur dengan kampung halaman seolah-olah saya menjalani tugas luar negeri lainnya, walaupun saya lebih mengenali suatu daerah yang bahasanya saya kuasai," kata Katrina Gonnerman.

"Strategi itu membantu saya dalam proses adaptasi," kata dia.

Adapun, Mark Sebastian Orr berkata, "Saya sudah merantau selama 30 tahun dan kapanpun saya kembali ke AS, saya menganggapnya seperti negara asing lainnya," ujar Mark.

"Saya terkagum-kagum dengan segala kemudahan yang ada dan kenyamanan dalam mengerjakan tugas harian," kata dia.

Bagaimana Anda berbaur? Tidak bisa!

Barangkali respons yang paling menarik dari permintaan kami tentang kiat pembauran adalah pertanyaan yang malah terus menggema.

Banyak pembaca menilai penyesuaian diri terhadap kampung halaman memang sulit, tapi tidak sepenuhnya penting.

Nicole Jones memiliki tiga paspor dan pernah tinggal di lima negara.

"Saya tidak punya kacamata merah untuk setiap tempat sehingga dapat membedakan baik dan buruk secara jelas," tuturnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Dua ekspatriat asal Inggris di Berlin, Jerman, berunjuk rasa menolak negaranya mengundurkan diri dari Uni Eropa, Juli 2016.

"Saya merasa saya adalah warga dunia dan saya bangga atas hal itu."

Sementara itu, Paula Alvarez-Couceiro menyebut Anda tidak perlu berbaur.

"Anda menyadari bahwa dengan menetap di berbagai tempat dengan beragam budaya, sikap dan cara berpikir Anda berubah," kata dia.

"Dan berusaha beradaptasi terhadap diri lama Anda merupakan kekeliruan yang akan menggugurkan perubahan pribadi yang telah Anda alami," ujarnya menambahkan.

Seluruh tanggapan yang terkumpul ini menyimpulkan satu hal, bahwa bagi banyak ekspatriat, mendefinisikan kampung halaman dan identitas bukanlah pekerjaan mudah.

Mereka yang berusaha meraih identitas lama jelang pulang kampung, barangkali kenyamanan dapat ditemukan di tengah para warga global ini, yang bagi mereka, pembauran merupakan opsi, bukan kewajiban.

Anda dapat membaca artikel berjudul asli How expats cope with losing their identity ini dalam bahasa Inggris di BBC Capital.

Berita terkait