Apakah kantor bisa menghentikan kebiasaan karyawan curi-curi online saat bekerja?

Browsing internet Hak atas foto Getty Images

Dari mulai belanja online sampai melihat-lihat foto liburan di Facebook; ternyata ada istilah khusus untuk aktivitas online yang tidak berhubungan dengan pekerjaan di kantor, 'cyberloafing'.

Cyberloafing - atau menjelajah internet untuk urusan yang non-pekerjaan selagi di kantor - adalah versi modern perilaku tidak produktif di tempat kerja.

Karyawan bukan lagi mengambil peralatan kantor. Lingkungan kerja modern, dengan berbagai perangkat digitalnya, memudahkan karyawan untuk mencuri waktu perusahaan.

Sepertinya tidak ada niat jahat di balik tindakan cyberloafing ini, namun tidak selalu.

Dalam penelitian, kami menemukan bahwa cyberloafing bisa dihubungkan dengan perilaku keseharian yang cukup "gelap" yang kemungkinan tidak ketahuan.

Lalu, siapa yang akan melakukan cyberloaf ini dan apa alasannya?

Mengambil keuntungan

Ada 273 karyawan yang mengisi survey online anonim yang kami sebarkan untuk mengetahui tingkat cyberloafing dan kepribadian mereka sehari-hari.

Ada tiga karakter yang menjadi ukuran karena dinilai menandai sifat eksploitatif secara sosial.

Tiga ciri-ciri tersebut adalah tidak sensitif dengan orang lain dan hanya tertarik pada keuntungan diri sendiri atau parasit (psikopat), manipulatif (Machiavellianisme), dan superioritas yang arogan (narsisisme), dan semuanya ditemukan dalam berbagai kelompok masyarakat.

Hak atas foto Getty Images
Image caption ingkungan kerja modern, dengan berbagai perangkat digitalnya, memudahkan karyawan untuk mencuri waktu perusahaan.

Kami meneliti orang-orang yang punya keinginan untuk mencari keuntungan dengan mengorbankan orang lain, selain juga merasa berhak mendapat perlakuan khusus. Dan individu yang banyak memiliki ciri-ciri di atas akan lebih mungkin melakukan cyberloafing.

Kami juga meneliti sampai pada tahap apa seseorang merasa yakin bahwa mereka tidak akan menerima konsekuensi apa-apa dari tindakan mereka di tempat kerja (kemampuan mereka dalam menipu).

Dan tak mengejutkan, mengingat perasaan superior yang berhubungan dengan tiga karakter gelap itu, maka para individu tersebut cenderung merasa lebih mampu dalam mengelabui orang lain.

Di antara para responden penelitian, kami mendapati bahwa psikopat, Machiavellianisme, dan narsisisme berhubungan dengan perilaku cyberloafing karena dekat dengan kemampuan menipu.

Dengan kata lain, semakin banyak seseorang menunjukkan tiga ciri-ciri utama tersebut, maka ada keyakinan yang lebih kuat bahwa mereka tidak akan ketahuan, dan artinya semakin sering mereka melakukan cyberloafing.

Temuan kami menunjukkan bahwa individu dengan tingkat psikopat subklinis yang tinggi akan melakukan aktivitas cyberloafing, tanpa peduli apakah mereka mampu mengelabui orang lain atau tidak.

Hal ini sesuai dengan sifat dasar psikopat; individu dengan karakter psikopat cenderung tak punya rasa bersalah dan tak merasa menyesal, dan mungkin tak terlalu peduli apakah aksinya bakal ketahuan atau tidak.

Tentu dibutuhkan penelitian lebih lanjut, karena penelitian kami dilaporkan sendiri dan lebih memilih responden perempuan, namun hasil penelitian ini memunculkan beberapa pertanyaan menarik soal tempat kerja dan seberapa mampu kantor menangani perilaku seperti ini.

Haruskah bos khawatir?

Konsekuensi secara organisasi akan perilaku cyberloafing bisa bermacam-macam, dari teralihkannya perhatian si karyawan sampai terkurasnya sumber daya dan keamanan (contohnya, jaringan internet yang melambat atau virus komputer).

Penelitian kami menunjukkan bahwa jika perusahaan ingin mengurangi perilaku curi-curi waktu di internet, maka harus ada strategi untuk melawan kecenderungan karyawan untuk menipu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Psikopat, Machiavellianisme, dan narsisisme berhubungan dengan perilaku cyberloafing karena dekat dengan kemampuan menipu.

Maka penekanan terhadap akuntabilitas pun bisa jadi cara mengurangi cyberloafing.

Karyawan bisa diberi tahu bahwa semua aktivitas mereka menjelajah internet saat di kantor akan dimonitor, namun pengawasan seperti ini berisiko melanggar privasi karyawan dan bisa membuat lingkungan kerja menjadi tidak menyenangkan.

Untungnya, perilaku cyberloafing tidak sepenuhnya negatif.

Aktivitas browsing di internet bisa berdampak positif pada emosi karyawan, dan memberikan semacam pelepasan stres.

Aktivitas ini juga bisa mendorong produktivitas dengan memberi kesempatan karyawan untuk beristirahat sejenak agar mereka bisa memulihkan konsentrasi.

Tingkat keterhubungan yang menjadi masalah

Meski karyawan menyelipkan aktivitas online pribadi ke waktu kerja mereka, namun pekerjaan juga bisa memasuki ranah pribadi mereka.

Perangkat pintar mendorong orang-orang untuk terus terhubung 24 jam sehari, termasuk ke tempat kerja.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa karyawan yang menggunakan smartphone yang diberi oleh perusahaan merasa harus terus terhubung dan membalas pekerjaan setiap waktu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Meski karyawan menyelipkan aktivitas online pribadi ke waktu kerja mereka, namun pekerjaan juga bisa memasuki ranah pribadi mereka.

Bagi kantor, ini kabar baik dan buruk. Dengan status "on call", ada anggapan bahwa ini bisa meningkatkan volume pekerjaan yang diterima seseorang dari kantor mereka.

Namun, terus-menerus online dan bekerja juga bisa menyebabkan karyawan kelelahan dan bosan.

Karyawan sudah sejak lama mencari "keseimbangan antara kantor dan kehidupan pribadi", namun bagi sebagian orang, kini batas itu semakin kabur.

Cyberloafing dan ketersambungan bisa dianggap sebagai dua sisi koin yang sama. Orang melakukan aktivitas online pribadi di tempat kerja, dan aktivitas kerja di rumah.

Definisi 'keseimbangan' yang baru?

Beberapa penelitian menyarankan agar istilah 'keseimbangan' itu kini harus diganti, karena kini karyawan mencari "fleksibilitas hidup-kantor", di mana mereka bisa mengendalikan waktu yang dialokasikan untuk kerja dan kehidupan, dan menggabungkan keduanya jika diperlukan.

Contohnya, Anda bisa menerima telepon soal pekerjaan sambil menonton pertandingan sepak bola anak Anda, namun bisa izin dari kantor untuk mencari hadiah ulang tahun buat sahabat Anda.

Kuncinya adalah agar karyawan merasa mereka punya kemampuan untuk menyeimbangkan berbagai tuntutan berbeda.

Penelitian lanjutan mengindikasikan bahwa batas yang fleksibel antara kehidupan pribadi dan pekerjaan berhubungan dengan tingkat kepuasan kerja yang lebih tinggi.

Penelitian yang sama juga menyarankan bahwa bagi orang-orang yang bisa mengerjakan tugas pribadi di tempat kerja, maka akan lebih sedikit mengalami konflik keluarga dan pekerjaan soal waktu.

Meski begitu, bagi orang-orang yang merasa bahwa mereka bisa mengerjakan tugas kantor di rumah, malah justru ada lebih banyak konflik pekerjaan dan keluarga.

Penelitian kami menunjukkan bahwa kemampuan seorang karyawan untuk mengambil keuntungan dari perusahaan adalah bagian penting dalam aktivitas cyberloafing.

Namun ada timbal baliknya: perusahaan juga harus berpikir, apakah mereka mengambil keuntungan dari semakin mudahnya karyawan mereka terhubung ke internet.

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di How can bosses put a stop to workers idly browsing online? di laman BBC Capital

Topik terkait

Berita terkait