Tak punya kehidupan sosial, adakah untungnya?

perempuan di komputer Hak atas foto Getty Images

Selama lebih dari sebulan, saya menjauhi pergaulan dengan teman-teman untuk mengukur bagaimana dampaknya terhadap produktivitas kerja. Hasilnya mengejutkan.

Kiat menjadi sukses, boleh jadi, sederhana.

Dari pengalaman saya mewawancarai seniman, penulis, dan pengusaha kreatif yang sukses, saat mereka ditanya mengapa mereka bisa begitu produktif umumnya mereka menjawab karena tidak punya kehidupan sosial.

Saatnya sukses

Saya seorang pekerja lepas yang bekerja dari rumah sendirian, di saat teman-teman serumah berangkat ke kantor. Saya selalu saja mencari pembenaran bahwa punya kehidupan sosial yang aktif adalah kebutuhan dasar manusia. Tapi, kemudian saya menghitung banyak sekali waktu terbuang hanya untuk bergaul. Di situ saya sadar, mungkin gaya hidup saya sudah kelewat ekstrem.

Kalau dihitung-hitung, rata-rata 22 jam dalam seminggu saya habiskan untuk bersosialisasi. Untuk melihat dampak pergaulan terhadap hasil kerja, kesehatan, dan kesejahteraan saya, maka saya coba memutus kehidupan sosial.

Sebab saya juga sadar, kadang-kadang saya sibuk berusaha mengisi waktu luang cuma demi eksistensi atau yang dikenal juga dengan istilah fear of missing out (FOMO). Saya tidak mampu menolak ajakan teman, tapi juga memakainya untuk alasan menunda pekerjaan atau mengalihkan fokus dari tugas yang harusnya diselesaikan.

Hak atas foto LUDOVIC MARIN/Getty Images
Image caption Menjauh sejenak dari keramaian penting untuk merangsang kreativitas dan membiarkan pikiran mengembara sehingga Anda lebih kreatif saat mencari jalan keluar terhadap suatu persoalan

Sebulan saya menjauhi pergaulan, acara minum-minum dengan teman, nongkrong sambil minum kopi, makan malam, pesta, dan berbagai kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Saya ingin melihat apakah menjauhi pergaulan saya jadi bisa lebih produktif, lebih fokus, dan punya prospek karier yang lebih baik.

30 hari sesudahnya

Di hari pertama eksperimen sebulan tersebut dimulai, beberapa kali kecemasan luar biasa menyergap, khususnya cemas dengan eksistensi. Menurut saya, kadang-kadang FOMO berakar dari banyaknya pilihan yang kita miliki. Sebab banyak sekali kegiatan menarik yang bisa dipilih di Sabtu malam, lalu bagaimana kita tahu keputusan mana yang tepat?

Seiring berjalannya waktu, kecemasan soal eksistensi surut dan saya pun bisa lebih santai. Di malam minggu, agenda saya cuma satu yaitu tinggal di rumah.

Dengan pilihan yang terbatas saya jadi puas dengan keputusan yang saya ambil. Biasanya saya suka marah-marah sendiri kalau tidak keluar rumah Jumat malam atau saat harus pergi meninggalkan acara lebih cepat, tapi selama eksperimen ini berlangsung saya puas-puas saja bekerja, membaca, nonton Netflix, ketimbang memikirkan acara yang saya lewatkan.

Punya jadwal yang bebas dan menyenangkan juga akan membuat kita bisa 'mengerjakan sesuatu secara lebih mendalam' (hal yang menurut profesor ilmu komputer, Cal Newport, yang membuat kita mampu tetap fokus pada pekerjaan yang melibatkan kognisi tanpa terpengaruh dengan gangguan).

Tidak lagi memikirkan hal menyenangkan yang seharusnya dilakukan atau acara bersama teman yang terlewat membuat saya bisa berkonsentrasi dengan baik, tetap fokus pada pekerjaan, tanpa diganggu oleh tuntutan bersosialisasi dengan orang lain. Jumat malam, saya bisa menyelesaikan urusan kantor atau Sabtu pagi saya bisa duduk menulis di kafe.

Bersahabat dengan bosan

Saat waktu yang saya miliki untuk menyelesaikan pekerjaan jadi lebih banyak, saya sadar kesehatan dan kesejahteraan saya juga berubah. Saya lebih sering masak di rumah, rajin olah raga setiap hari, tidur lebih awal setiap malam, lebih banyak membaca, dan bisa menikmati istirahat dan rasa bosan sepanjang hari.

Bahkan, saya juga lebih menghargai proses memasak dan aktivitas sepeda statis di pusat kebugaran. Tak punya pergaulan membuat saya punya banyak waktu bebas, lebih dari yang saya bayangkan. Rasa bosan dan kesepian seringnya dihubungkan dengan 'tidak melakukan aktivitas apapun'.

Hak atas foto AFP
Image caption Takut ketinggalan zaman bisa berakhir pada mengisi kalendar Anda dengan berbagai kegiatan supaya merasa tetap sibuk

Pada akhirnya, saya bisa lebih menerima situasi tidak melakukan apa-apa dan menikmati kesendirian. Saya berjalan kaki keliling, duduk di kafe tanpa membawa gawai, dan sering melamun, sebab saya tidak lagi memaksakan diri mengisi tiap waktu kosong dengan suatu aktivitas.

Melamun juga baik untuk kreativitas. Membiarkan pikiran melayang juga disebutkan mampu membantu Anda melahirkan solusi kreatif untuk suatu permasalahan. Saat pikiran melayang, otak bisa mengakses ingatan, emosi dan berbagai kejadian acak yang tersimpan dalam memori kita, kata Amy Fries, penulis Daydreams at Work: Wake Up Your Creative Powers dan penulis serta editor untuk Psychology Today.

Selama eksperimen ini berlangsung, saya sering mendapat ide baru dan bisa membayangkan lagi proyek-proyek yang sedang saya kerjakan.

Tidak melakukan apapun bisa menghasilkan energi yang sama besarnya dengan energi yang dipakai untuk bergaul. Dan, terbukti, energi manusia juga perlu diisi ulang, kata Pedro Diaz, CEO dari Workplace Mental Health Institute di Sydney.

Klaim ini didukung oleh penelitiannya pada 2016 yang melibatkan 48 orang. Dalam penelitian tersebut, partisipan diukur situasi mentalnya, suasana hati, keletihan, dan stres yang dialami selama 12 hari.

Orang yang ekstrovert punya suasana hati dan energi yang lebih baik, tapi mereka juga gampang lelah sehingga tanda-tanda keletihan akan muncul setelah tiga jam. Penelitian dengan sampel kecil tersebut juga mendukung pendapat bahwa aktivitas yang fokus - entah dalam bergaul, bekerja atau belajar - ada dampaknya.

Dari pengamatan ini ada satu pertanyaan penting yang menggantung, benarkah kekerapan sosialisasi dan pekerjaan penyebab keletihan atau kurangnya jeda istirahat penyebabnya?

''Kita kurang menjatahkan aktivitas menyendiri dan sebagian besar orang bahkan tak tahu bagaimana cara supaya otak dan sistem syaraf mereka mendapat istirahat yang cukup,'' kata Diaz.

Di masyarakat, menjadi orang sibuk menjadi semacam lambang kehormatan tersendiri. Sulit juga menguraikan apakah kurang bergaul atau tidak punya kehidupan sosial sama sekali adalah konsekuensi yang sulit dihindari setelah kita bekerja atau ini semacam cara manusia mengirim sinyal betapa penting dirinya kepada orang lain.

Hak atas foto Marco Di Lauro/Getty Images
Image caption Orang yang ekstrover punya suasana hati dan energi yang lebih baik, tapi mereka juga gampang lelah sehingga tanda-tanda keletihan akan muncul setelah tiga jam.

''Saat Anda memberi sinyal Anda sibuk, pada dasarnya Anda memberi tahu orang lain bahwa status Anda lebih tinggi dan penting, bukan karena apa yang Anda pakai mahal, tapi [karena] Anda sangat diinginkan dan diperlukan,'' kata Silvia Bellezza, penulis penelitian Harvard Business School yang berpendapat bahwa orang yang banyak kerjaan kini menjadi simbol aspirasional ketimbang orang yang menikmati liburan.

Perangkap tak punya teman

Efek positif menyendiri membuat pikiran lebih jernih dan energi seseorang seperti diisi ulang, tapi kalau terlalu lama terisolasi dan menjadi antisosial efeknya juga mengkhawatirkan.

Di lingkungan kantor, sosialisasi adalah elemen terpenting dalam karir dan mempunyai 'sahabat' di kantor membuat orang tujuh kali lipat lebih niat mengerjakan pekerjaan mereka.

Tempat kerja yang dibangun atas dasar saling percaya dan sifatnya bersahabat juga membuat Anda bisa bekerja dengan akal sehat, punya tujuan, dan ada jaringan sosial yang mendukung Anda mendapat promosi jabatan dan saran profesional.

Hak atas foto AFP
Image caption Sosialisasi adalah elemen terpenting dalam karir dan mempunyai 'sahabat' di kantor membuat orang tujuh kali lipat lebih niat mengerjakan pekerjaan mereka

Dan, tentu saja bersosialisasi di luar jam kerja sama pentingnya dengan membangun jaringan pertemanan di kantor. Adapun, satu bulan tidak bersosialisasi sama sekali tidak mempengaruhi hubungan dengan klien yang saya miliki, tapi seandainya ini diteruskan maka kemungkinan kemampuan saya membangun hubungan sosial dengan klien akan hilang.

Bekerja dan bermain

Ketimbang berusaha menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan, lebih baik kita mencoba membawa kehidupan sosial kita ke dalam pekerjaan. Saya jadi sadar bahwa barangkali kunci memiliki karier yang sukses bukan memotong jalinan pertemanan dan kehidupan sosial, tapi menggabungkan keduanya.

Ellen Galinsky, salah seorang pendiri Families dan Work Institute berpendapat bahwa orang yang bisa fokus pada dua hal - punya lebih dari satu ketertarikan dengan prioritas yang setara - akan lebih puas dengan hidupnya.

''Kita mendapati bahwa orang yang bisa merangkap dua hal sekaligus cenderung lebih sehat dan bisa menyelesaikan tugas dengan baik, serta lebih baik di rumah,'' kata Galinsky.

''Jika Anda hanya punya satu fokus dalam hidup, kemudian terjadi satu hal yang membuat rencana Anda melenceng, maka Anda bisa cukup kecewa. Saat ada hal lain yang penting bagi Anda - bisa sesuatu yang kreatif atau di bidang olahraga, komunitas atau lingkaran pertemanan, secara keseluruhan Anda menjadi lebih baik.''

Selama eksperimen berlangsung, saya tidak serta-merta mengganti waktu luang yang baru saya dapat dengan kerja ekstra tapi memecah fokus ke hal lain. Saya bisa lebih berkonsentrasi dengan pekerjaan dan melakukan berbagai aktivitas yang sebelumnya saya tinggalkan - pusat kebugaran, berlatih piano, dan meditasi.

Saya belajar bahwa saya bisa memotong area dalam hidup dengan rapi untuk mendorong yang lain - koneksi dengan orang yang terkait dengan pekerjaan dan membantu kita menghadapi hidup yang naik-turun.

Sesudah eksperimen tersebut, saya mendefinisikan kembali sukses - bahwa itu bukan perkara pekerjaan atau main terus-terusan, atau kehidupan yang serba seimbang, tapi perpaduan dari berbagai keterlibatan berbeda setiap harinya dan dengan stabil menjatahkan istirahat yang cukup.

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini, Is there an upside to having no social life? di BBC Capital.

Topik terkait

Berita terkait