Keuntungan tak terduga dari dunia yang serba cepat

Hidup serba cepat Hak atas foto Getty Images

Pernahkah Anda merasa kehidupan melaju begitu cepat dan kian menjauh dari Anda?

Mungkin Anda tidak sedang mengkhayal: ada banyak indikator bahwa laju kehidupan terus bertambah cepat, dari persepsi kita tentang seberapa cepat hari berlalu, durasi adegan di film Hollywood, sampai kesabaran kita yang terus berkurang dalam mengantre.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Survei terhadap 7.331 pekerja AS menemukan bahwa lebih dari setengahnya gagal mengambil seluruh jatah cuti liburan.

Hal ini terasa paling nyata di kantor, tempat hidup serasa seperti rangkaian surel dan rapat tanpa henti, dengan sedikit waktu tersisa untuk melakukan pekerjaan produktif.

Menurut riset Jonathan B Spira, CEO perusahaan penelitian dan konsultan TI Basex dan penulis buku berjudul Overload!, dua pertiga dari pekerja merasa bahwa mereka tidak punya cukup waktu untuk menyelesaikan tugasnya - dan 94% pernah, pada suatu saat, merasa "kewalahan dengan informasi sampai merasa tidak berdaya".

Survei terhadap 7.331 pekerja AS menemukan bahwa lebih dari setengahnya gagal mengambil seluruh jatah cuti liburan.

Alasan paling populer? Mereka khawatir dengan tumpukan pekerjaan yang menanti saat mereka kembali.

Informasi dalam jumlah besar yang kita terima bisa membunuh produktivitas.

Manusia tidak mahir mengerjakan beberapa tugas sekaligus: setiap kali Anda mengalihkan perhatian dari satu hal ke hal lain - menanggapi notifikasi surel, misalnya - Anda mengerahkan sumber daya kognitif, yang suatu saat akan habis.

Hal-hal pengalih perhatian ini bisa menumpuk: sebuah studi pada tahun 2005 menemukan bahwa rata-rata waktu yang dihabiskan seorang pegawai untuk berfokus pada sebuah tugas hanya 11 menit sebelum diinterupsi.

Studi terbaru dengan sampel yang lebih kecil menemukan bahwa melarang pegawai memeriksa kotak masuk surel mereka dapat mengurangi stres dan membuat mereka lebih fokus.

Tempo kehidupan yang lebih cepat dikaitkan dengan stres yang lebih besar, dan mereka yang menghabiskan waktu berjam-jam di kantor lebih berisiko mengalami stroke, serta sejumlah masalah kesehatan lainnya.

Namun seiring dengan kehidupan kerja yang semakin cepat, para pegawai juga bisa mendapatkan manfaat yang berarti.

Stres yang positif

Sebenarnya tidak banyak penelitian tentang laju kehidupan. Studi internasional yang paling mendalam mengenai topik ini ialah makalah tahun 1999 oleh profesor psikologi Robert Levine dan Ara Norenzayan.

Mereka menemukan bahwa orang yang tinggal di komunitas yang serba cepat cenderung lebih produktif, dan memiliki rasa kesejahteraan subjektif yang lebih besar.

Studi lain, yang meneliti laju kehidupan di kota, menemukan bahwa kehidupan berjalan lebih cepat di wilayah perkotaan yang luas karena frekuensi interaksi sosial yang lebih besar - mengarah pada laju inovasi dan penciptaan kekayaan yang lebih cepat.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Riset menunjukkan bahwa orang yang tinggal di komunitas yang serba cepat cenderung lebih produktif, dan memiliki rasa kesejahteraan subjektif yang lebih besar.

Ada juga perbedaan penting di sini yang kerap kita abaikan. Ketika membayangkan stres di tempat kerja, secara tak sadar kita mengasosiasikannya dengan 'distress', yaitu jenis stres yang menyebabkan penderitaan.

Tapi kita sering mengabaikan sisi sebaliknya, yang disebut 'eustress' - perasaan positif dan menyenangkan yang muncul setelah berhasil menangani dan menguasai tugas yang sulit.

Gagasan tentang eustress pasti ada benarnya - sebagian besar survei tentang kepuasan kerja di Eropa dan AS menunjukkan bahwa ternyata kebanyakan orang tidak membenci pekerjaan mereka.

Sekarang ini, hampir delapan dari sepuluh orang di Inggris mengatakan mereka agak, cukup, atau sangat menyukai pekerjaan mereka.

Di Eropa, 74% orang merasakan hal yang sama; sedangkan di AS, angkanya mencapai 88%.

Dan persentase ini umumnya stabil atau meningkat: di Inggris, menurut Chartered Institute of Personnel Development, kepuasan kerja meningkat 3% pada tahun lalu, dengan 64% puas dan 16% tidak puas.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Peranti lunak dengan kecerdasan buatan kini bisa membaca ribuan halaman dokumen hukum dan menyoroti bagian-bagian penting.

Rutinitas

Meskipun meningkatkan tekanan waktu pada kita, dunia yang serba cepat juga mengubah sifat pekerjaan sehari-hari - dan dapat membuatnya lebih kreatif dan bermanfaat.

Ya, otomatisasi dan mekanisasi memang telah mengganggu industri dan menghancurkan beberapa pekerjaan (juga menciptakan yang baru). Tapi otomatisasi juga menghapus banyak tugas yang membosankan, rutin, atau menguras tenaga.

Di AS, tingkat sakit dan cedera terkait pekerjaan menurun drastis. Sedangkan di Uni Eropa, proporsi pekerja dalam pekerjaan "berat" atau "berbahaya" sekarang antara 1% dan 4%.

Kargo sekarang dibongkar oleh mesin derek, misalnya, bukan oleh buruh. Pengembalian pajak diajukan - dan dipindai - oleh komputer, bukan diurus oleh para juru surat.

Dan seiring bergulirnya revolusi digital, pekerjaan yang tersisa, atau yang baru tercipta, ialah hal-hal yang membutuhkan kecerdasan dan kreativitas untuk memecahkan masalah, atau mengelola proses yang dilakukan komputer.

Peranti lunak dengan kecerdasan buatan, contohnya, kini bisa membaca ribuan halaman dokumen hukum dan menyoroti bagian-bagian penting.

Berkat teknologi ini, waktu yang dibutuhkan untuk membuat dokumen legal untuk bank telah berkurang dari tiga jam menjadi tiga menit. Ini memungkinkan para pengacara untuk memusatkan pikiran pada tugas yang lebih kompleks dan bernilai.

Lebih luas, dampak percepatan di masyarakat adalah mengurangi malas-malasan. Makan siang santai selama dua jam telah diganti dengan rangkaian acara dan tugas.

Memang, gaya hidup serba cepat bisa membuat kita tegang dan stres. Tapi itu biasanya bisa diatasi - misalnya dengan mematikan notifikasi email; atau beristirahat sejenak untuk bermeditasi.

Dan jika diberi pilihan untuk menyingkirkan teknologi yang memungkinkan kita untuk hidup dengan laju secepat ini, kebanyakan dari kita tidak akan mau.

Kita memang suka mengeluh tentang laju kehidupan. Tapi mungkin kita melakukannya dengan rasa sombong - karena menganggap bahwa dengan sibuk bekerja kita akan dipandang penting dan dihargai.

Dan setiap kali kita dihadapkan dengan pilihan antara lebih cepat atau lamban, kita memilih cepat - meski tetap merasa berhak untuk berkeluh kesah.

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini, The surprising upsides of an accelerating world, di BBC Capital

Berita terkait