Apakah psikopat dapat menjadi pemimpin yang lebih baik?

Michael Douglas Hak atas foto Twentieth Century Fox

Karakter psikopat seringkali dipandang diinginkan dalam lingkungan perusahaan, tetapi riset menunjukkan bahwa mereka lebih banyak mendatangkan kerugian dibandingkan kebaikan.

Lihatlah di sekeliling kantor Anda. Apakah ada rekan Anda yang bisa digolongkan sebagai psikopat?

Publik sering mengaitkan istilah psikopat dengan tokoh-tokoh pembunuh dalam film, seperti Hannibal Lecter dan Dexter Morgan. Namun, ternyata ada bukti yang menunjukkan bahwa karakter psikopat sangat umum bertebaran di dunia bisnis.

Sejumlah penelitian mengindikasikan bahwa, bergantung dari mana Anda melihat, satu dari lima orang di dewan direksi atau posisi manajemen senior menyembunyikan kecenderungan psikopatik, dengan menggunakan ciri kepribadian tertentu untuk memikat dan memanipulasi agar keinginan mereka tercapai di lingkungan kerja.

Riset yang dilakukan seorang psikolog di New York Paul Babiak, menunjukkan hingga 4% para pemimpin bisnis di AS mungkin adalah psikopat. Studi lain yang mengkaji manajer rantai pasokan (supply chain manager) menemukan antara 3% dan 21% secara klinis tergolong psikopatik, dibandingkan dengan 1% dari populasi umum.

Data ini menggambarkan pemimpin bisnis yang menempatkan ambisi yang tak kenal belas kasihan di atas segalanya dan tak ragu memanfaatkan orang untuk keuntungan dirinya.

Tetapi riset terbaru menantang gagasan bahwa psikopat mungkin tak begitu cocok berada di dewan direksi seperti yang diungkapkan dalam studi sebelumnya.

Asumsi yang menantang

Manajer hedge fund yang mencetak skor lebih tinggi dalam tes kecenderungan psikopat, punya performa kerja lebih buruk dibandingkan rekan mereka, menurut sebuah studi baru yang dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Denver dan Universitas California, Berkeley.

Mereka membandingkan kepribadian dari 101 manajer hedge fund dengan keuntungan investasi dan keuangan mereka sepanjang 2005 sampai 2015. Dari situ mereka menemukan bahwa manajer yang memiliki kecenderungan psikopatik menghasilkan keuntungan yang rendah.

Leanne ten Brinke, kepala penelitian dan asisten profesor psikologi di Universitas Denver, yakin ini saatnya untuk "memikirkan kembali" asumsi lama bahwa kekejaman dan tidak mengenal belas kasihan merupakan karakter yang disukai untuk mengisi posisi manajer bisnis.

"Penemuan kami konsisten dengan riset lain yang menunjukkan bahwa individu dengan ciri psikopat tampak lebih mampu "berbicara", tetapi tidak "bekerja", kata dia.

Psikopat lebih cenderung mendapatkan kekuasaan melalui dominasi ,perundungan, dan intimidasi, dibandingkan menaruh rasa hormat, kata dia. "Bagaimanapun, mendapatkan kekuasaan tidak sama dengan menggunakannya secara efektif."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Manajer hedge fund mencetak skor lebih tinggi untuk psikopat, memiliki performa lebih buruk dibandingkan rekan mereka.

Riset menunjukkan bahwa psikopat meninggalkan jejak kekacauan. Seorang CEO psikopatik dari lembaga amal, misalnya, menyebabkan peningkatan karyawan berhenti kerja dan penurunan pendapatan. Studi lain menemukan bahwa, terlepas dari pesona mereka, psikopat menyebabkan perilaku kontraproduktif, perundungan dan konflik di tempat kerja, serta menurunnya kesejahteraan karyawan.

Namun, ada sejumlah peran di mana menjadi seorang psikopat dapat membawa keuntungan. Dr Kevin Dutton, peneliti psikologis dari Universitas Oxford dan penulis buku The Wisdom of Psychopaths, berpendapat bahwa selain keterampilan yang tepat untuk pekerjaan, kepribadian juga berperan besar dalam bagaimana seseorang masuk ke tempat kerja.

"Anda memerlukan kepribadian yang tepat untuk memungkinkan Anda mengoptimalkan kemampuan keterampilan," katanya. "Ada beberapa profesi yang terkadang membutuhkan tingkat psikopatik yang lebih tinggi daripada yang kita bisa toleransi dalam kehidupan sehari-hari."

Salah satu cara umum untuk menilai keberadaan ciri psikopat pada orang adalah dengan menggunakan penilaian yang dikenal sebagai The Hare Psychopathy Checklist. Mari kita lihat beberapa ciri yang tercantum daam daftar untuk melihat apakah karakter itu dapat menyebabkan kerusakan atau bermanfaat di lingkungan kerja.

Pesona superfisial

Psikopat sering dianggap menarik, menyenangkan dan tenang, karena kurangnya kesadaran diri yang membebaskan mereka dari hambatan dan kekhawatiran untuk mengatakan hal salah yang dapat menyebabkan orang lain menjadi canggung secara sosial.

Studi menunjukkan bahwa direktur eksekutif yang memiliki skor psikopatik tinggi cenderung dipandang karismatik, kreatif dan mahir dalam berkomunikasi.

Ini karena pesona psikopat bisa memuluskan masalah perilaku, menurut sebuah studi tahun 2010 oleh Babiak. Dia menemukan bahwa orang-orang yang memiliki nilai tinggi berdasarkan ukuran psikopatik memiliki penilaian kinerja buruk secara keseluruhan, namun bagus ketika dikaitkand engan kemampuan komunikasi, pemikiran strategis, dan kreativitas.

Impulsif

Ada kaitan erat antara psikopatik dan impulsif disfungsional, termasuk perilaku kriminal dan kekerasan. Tapi itu juga bisa berarti psikopat memiliki kecenderungan untuk terlibat dalam perilaku berisiko tanpa memikirkan konsekuensinya. Impulsivitas ini berasal dari kurangnya rasa takut, menurut psikolog kriminal David Lykke.

Meski kadang-kadang bisa melukai orang lain, sikap impulsif ini terkadang bisa menjadi pendorong untuk berbuat baik. Periset telah menemukan hubungan antara psikopatik dan sikap kepahlawanan, seperti membantu menyelamatkan seseorang dari situasi berbahaya.

Adrian Furnham, profesor psikologi di University College London, menulis dalam jurnal Psychology Today bahwa orang-orang yang sangat impulsif dapat berkembang di lingkungan yang serba cepat, seperti tempat kerja yang sibuk. Namun mereka juga berbicara dan membuat keputusan tanpa memikirkan dampaknya terlebih dahulu.

Pengambilan risiko berjalan seiring dengan kewiraswastaan, menurut penelitian dari Universitas Cambridge. Pengujian terhadap 16 pengusaha menunjukkan bahwa mereka memiliki perilaku adaptif dan berisiko tinggi yang memungkinkan mereka membuat keputusan dengan cepat di bawah tekanan.

Kurangnya penyesalan atau rasa bersalah

Publik lazim menganggap bahwa psikopat tidak merasa bersalah atau menyesal, namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa mereka dapat memiliki emosi negatif semacam itu, namun hanya jika ada sesuatu yang berdampak langsung pada mereka. Dengan kata lain, jika mereka menyakiti orang lain, mereka tidak akan disiksa dengan rasa bersalah seperti orang lain, tapi jika ada situasi yang membuat mereka lebih buruk secara finansial, misalnya, mereka mungkin merasa menyesal.

Serangkaian penelitian pada tahun 2014 menemukan bahwa mereka yang mudah merasa bersalah cenderung menghindari hubungan yang saling tergantung dengan orang lain yang mereka anggap lebih kompeten daripada mereka sendiri. Alasannya - mereka cenderung merasa bersalah karena tidak cukup dapat berkontribusi terhadap relasi tersebut.

Tapi jelas ada juga keuntungan memiliki perasaan bersalah. Studi juga menemukan bahwa ketika orang-orang yang rentan memilki rasa bersalah membentuk hubungan ini, mereka bekerja lebih keras untuk tidak mengecewakan orang.

Sebuah studi dari Stanford Graduate School of Business juga menemukan bahwa rasa bersalah dapat bertindak sebagai motivator. Sikap ini membantu membimbing orang secara moral untuk tidak melakukan sesuatu yang salah secara hukum dan moral.

Psikopat secara intelektual mengetahui apa yang benar dan salah, tapi mereka tidak merasakannya, seperti yang dikatakan oleh seorang ahli.

Hak atas foto Showtime Networks
Image caption Tokoh Dexter Morgan dipandang memiliki ketergantungan emosional dari orang lain- yang merupakan ciri psikopat .

Gaya hidup parasit

Karakteristik penting lain dari psikopat adalah bahwa mereka kebanyakan membentuk hubungan jangka pendek dan dangkal dengan orang lain, sebelum dengan santai mengabaikannya.

"Psikopat umumnya mencoba melakukan yang terbaik untuk diri mereka sendiri, namun tidak merasa perlu untuk orang-orang yang bekerja dengan mereka atau untuk mereka," kata Galynker.

"Mereka sangat baik dalam membuat kesan baik, membuat diri mereka dipromosikan dan gaji mereka naik, tapi belum tentu bagus dalam manajemen. Mereka hanya bekerja keras di perusahaan jika mereka merasa perlu dipromosikan dan menghasilkan lebih banyak uang."

Orang-orang yang bertindak demi kepentingan pribadi mereka dapat dipandang lebih dominan, bahkan dibandingkan dengan orang-orang yang berkontribusi lebih banyak, demikian menurut serangkaian eksperimen dari Kellog School of Management. Tapi kepentingan pribadi perlu diimbangi dengan altruisme, kata peneliti Robert Livingston.

"Jika Anda terlalu lembut - tidak peduli seberapa kompeten dan mampu Anda - orang mungkin tidak menghormati otoritas Anda," kata dia .

"Tapi jika Anda hanya memiliki dominasi dan Anda tidak memiliki ide bagus, dan Anda menggunakan kekuatan untuk tetap berkuasa, maka orang akan membenci Anda. Menjadi sukses sebagai pemimpin mengharuskan seseorang memiliki dominasi dan prestise."

Konteks yang tepat

Meskipun ada beberapa sifat yang bisa menjadi buruk untuk bisnis, dampak ciri kepribadian pada akhirnya bergantung pada konteks, kata Dutton.

"Apakah ciri psikopat sangat berguna tergantung konteksnya," kata dia. "Kekejaman bukanlah hal yang buruk, tapi dalam konteks yang salah bisa berubah menjadi tanpa perasaan. Tak kenal takut juga bisa menguntungkan, tapi dalam konteks yang salah bisa tergelincir menjadi kecerobohan. Kuncinya adalah memiliki kombinasi sifat yang tepat pada tingkat yang tepat dan dalam konteks yang benar."

Anda bisa membaca artikel aslinya Do psychopaths really make better leaders atau artikel lain dalam BBC Capital.

Topik terkait

Berita terkait