Suka atau tidak, popularitas di tempat kerja itu penting

Mean Girls Hak atas foto Paramount Pictures
Image caption Tokoh Cady Heron mengalami "kontes popularitas" di SMA dalam film Mean Girls.

Jika di tempat kerja Anda merasa seperti menjalani masa SMA lagi, mungkin itu bukan kebetulan.

Riset psikologi menunjukkan bahwa dinamika popularitas di masa remaja sama sekali tidak berbeda dari aturan sosial yang mengikat hidup kita sebagai manusia dewasa.

Tentu saja, kita jarang bicara tentang hubungan profesional dari segi "popularitas"; tapi persis seperti di SMA, di kebanyakan tempat kerja juga ada orang-orang yang paling disukai, dibenci, diabaikan, dan kontroversial. Dan sesungguhnya, posisi kita di dalam hierarki sosial ini tetap lebih penting dari yang kita sangka.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Dalam film Back to Future, tokoh Marty McFly merasakan hierarki sosial SMA di tahun 1950-an yang dialami orang tuanya.

Apa taruhannya?

Orang yang disukai berpeluang lebih besar daripada sejawatnya, yang sama layaknya, untuk mendapatkan pekerjaan, promosi, dan bahkan gaji yang lebih besar. Mereka juga cenderung merasa lebih puas dalam pekerjaan, lebih bahagia di rumah, serta lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami adiksi, depresi, dan kegelisahan.

Temuan terbaru dari akademisi AS, Julianne Holt-Lunstad dan Timothy B. Smith dari Universitas Brigham Young dan J Bradley Layton dari Universitas Carolina Utara di Chapel Hill, mengungkap bahwa tingkat likeability - atau sejauh mana orang menyukai kita - bahkan bisa berdampak pada kesehatan fisik, dengan mereka yang paling tidak disukai hampir dua kali lebih mungkin untuk mati daripada orang lain - risiko kematian yang sama kuatnya dengan dampak merokok terhadap kesehatan.

Dengan kata lain, popularitas tetap penting, suka atau tidak. Bagi mereka yang menginginkan kesuksesan, ada gunanya mempertimbangkan apakah Anda bertindak dengan cara yang membuat Anda dipandang baik oleh kolega Anda atau malah membuat mereka menjauh.

Sayangnya, likeability bukan satu-satunya bentuk popularitas yang dicari orang. Banyak dari mereka berusaha menjadi lebih populer dengan meningkatkan "status" - bentuk lain dari popularitas yang muncul di masa remaja.

Berbeda dari likeability yang berdasarkan pada kemampuan seseorang untuk membuat orang lain merasa dihargai, terlibat, dan bahagia; status berdasarkan pada perhatian, kekuasaan, pengaruh, dan ketenaran. Siapapun yang pernah mengalami masa sekolah dapat mengenali perbedaan dua bentuk popularitas ini.

Si murid "alfa" punya status yang tinggi - semua orang mengenalnya, dan beberapa ingin menjadi seperti dia - tapi dia tidak selalu disukai. Bahkan, banyak yang membenci si murid "terkeren" di sekolah, seperti halnya di kalangan orang dewasa. (Misalnya seperti Sandra Bullock dan Tom Hanks kontra Kim Kardashian dan Donald Trump.)

Hak atas foto Getty Images
Image caption Layaknya di SMA, di kebanyakan tempat kerja ada orang yang paling disukai, dibenci, diabaikan, dan kontroversial.

Berapa banyak 'likes' yang kamu dapat?

Status adalah bentuk popularitas yang sangat kita pedulikan sebagai remaja, tapi tidak lagi setelah menjadi dewasa. Banyak tempat kerja menekankan pentingnya produktivitas, menghargai kolaborasi, dan lingkungan kerja yang kolegial.

Namun itu telah berubah: sekarang ini, sangat mudah untuk bertahan di masa remaja selamanya, mati-matian mencari status daripada likeability. Contohnya media sosial - kontes popularitas virtual yang memungkinkan siapapun mencari status melalui likes, retweet, dan followers.

Dengan setiap kiriman atau unggahan, kita dapat mengikuti semacam lotere status. Begitu pula profil bisnis, laman web, dan artikel yang kita buat tampaknya hanya dinilai dari kemampuan mereka menghasilkan traffic dan hit.

Beberapa perubahan pada cara kita bekerja di tahun 2017 juga bisa menjadi latar yang sempurna bagi perburuan status. Kantor terbuka dan aturan pakaian yang lebih longgar, misalnya, menawarkan lebih banyak kesempatan bagi para pegawai untuk mengamati interaksi sosial dan hierarki status secara nyata.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Tom Hanks adalah aktor yang populer dan disukai banyak orang.

Seiring budaya kerja, terutama di Barat, semakin menghargai otonomi dan individualitas, semakin sedikit orang mengutamakan kerja sama yang produktif dan sebagai gantinya berfokus pada upaya untuk kelihatan lebih penting dari sesamanya.

Tentu saja, obsesi besar-besaran terhadap status diiringi dengan konsekuensinya. Riset mengungkap bahwa orang-orang yang menyandang status lebih agresif, lebih cenderung melakukan perilaku berisiko, dan kurang mampu merasakan empati, kasih sayang, dan mengambil sudut pandang lain.

Mereka yang menyandang status tinggi di masa remaja juga menyandang risiko yang lebih besar untuk kesulitan dalam hubungan dan kesepian berpuluh-puluh tahun kemudian, seperti halnya mereka yang mengejar status sebagai orang dewasa tidak pernah merasa sepenuhnya puas - penghargaan diri mereka bergantung pada keberlangsungan status yang mereka kejar.

Korporasi terus menghadiahi status, dengan gelar profesional, kantor yang luas, serta struktur manajemen organisasi yang menggambarkan hierarki kekuasaan dan pengaruh.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Status berdasarkan pada perhatian, kekuasaan, pengaruh, dan ketenaran - terlepas dari seseorang disukai atau tidak.

Jadi amatlah penting, terutama bagi Anda di lingkungan korporasi, untuk mengingat bahwa kepribadian baiklah yang akhirnya membawa kesuksesan. Para kolega kita yang berstatus tinggi bisa memberikan arahan yang kita turuti sebagai tugas, namun ide dari orang-orang yang paling disukai akan menghasilkan kepatuhan, kesetiaan, dan keutuhan tim yang jauh lebih besar.

Lalu bagaimana caranya menjadi pribadi yang lebih disukai? Berdasarkan wawancara dan percakapan saya dengan para korporasi, jawabannya ialah membuat orang lain merasa dihargai, terlibat, dan bahagia. Ada banyak cara untuk melakukannya - berikut ini beberapa cara yang efektif:

  • Berinvestasilah pada manusia dengan memuji orang lain, memahami tujuan mereka, dan menawarkan kesempatan bagi para kolega Anda untuk terhubung secara sosial dengan satu sama lain, melampaui profesi mereka. Pemimpin berstatus tinggi tidak peduli dengan basa-basi, lebih memilih cara memanfaatkan kekuasaannya untuk memotivasi orang lain. Namun pemimpin yang likeable menunjukkan ketertarikan pada sesamanya sebagai pribadi, sehingga meningkatkan semangat, kesetiaan, dan kegigihan mereka untuk sukses.
  • Dalam rapat, jadilah yang terakhir berbicara, dan renungkan kontribusi yang telah diberikan orang lain sebelum menawarkan ide kamu sendiri. Sekadar membiarkan orang lain tahu bahwa mereka didengarkan, dan bahwa komentar mereka memengaruhi pemikiran Anda, membuat orang lain merasa dihargai. Ide yang diekspresikan menjelang akhir rapat, yang mempertimbangkan kontribusi orang lain, cenderung diterima daripada usulan di awal diskusi karena itu dianggap sebagai hasil kolaborasi daripada perintah seseorang yang dominan
  • Orang biasanya mengatakan bahwa pribadi yang paling mereka sukai membuat mereka tertawa dan membawa keceriaan di kehidupan sehari-hari mereka. Tapi tidak semua orang bisa menjadi peramai pesta. Sebagai gantinya, berusahalah mengingat satu detail tentang setiap rekan kerja dan bertanyalah tentang hal itu sesekali. Kita merasa terhubung ketika seseorang menyisihkan waktunya untuk mencari tahu tentang hidup kita, dan bertanya tentang perasaan kita. Bentuk kasih sayang yang sederhana dan tulus ini sangat ampuh dalam mendapatkan kepercayaan, membangun persahabatan, dan membuat orang lain merasa bahwa mereka adalah bagian penting dalam kelompok Anda.

Anda dapat membaca versi Bahasa Inggris artikel ini, Popularity at work still matters whether we like it or not, di BBC Capital.

Topik terkait

Berita terkait