Inikah saatnya kita berhenti gunakan sebutan 'milenial'?

Milenial Hak atas foto Ed Yourdon/CC BY-SA 2.0
Image caption Para milenial dewasa sedang menggunakan ponsel pintar.

Beberapa waktu lalu, Wall Street Journal menerbitkan tulisan blog yang menjelaskan masalah dalam pelabelan anak muda sebagai "milenial" di artikel berita.

Kenapa? Karena itu kata yang kerap mengundang cemoohan. Ia menciptakan gambaran tentang para narsis yang ketagihan Snapchat, benci kerja keras dan kritik tapi mencintai biji kopi 'fair trade' dan menghabiskan uang mereka untuk roti panggang alpukat.

"Milenial' telah menjadi ejekan sinis," tulis Wall Street Journal. "Kita telah menyalahkan mereka atas krisis perumahan, kebiasaan belanja mereka yang impulsif, atau keputusan mereka meninggalkan New Jersey. Kita telah menertawakan perilaku aneh mereka, seperti ketakutan mereka pada bel pintu atau 'penemuan' kembali antena televisi."

Wall Street Journal ada benarnya. Sebagai kelompok yang lahir di antara tahun 1980 dan 2000, milenial paling tua kini hampir menembus usia 40 tahun, tapi yang paling muda masih di masa remaja; dua kelompok yang sangat berbeda. "Penjelasan seperti ini layak dimasukkan dalam artikel yang berfokus pada milenial," tulisnya.

Hak atas foto Brendon Thorne/Getty Images
Image caption Seorang milenial tengah melahap roti panggang alpukat.

Para editor surat kabar itu bukan satu-satunya yang berpikir demikian. Media berita lainnya menyarankan agar penggunaan istilah tersebut dihentikan sama sekali, dan kaum milenial sendiri menjauhkan diri darinya. Studi menunjukkan kebanyakan milenial menolak label itu.

Jadi, haruskah kita berhenti menggunakannya? Apakah istilah tersebut merupakan generalisasi yang berlebihan - atau bahkan hinaan?

Pemantik percakapan

Para pakar berpendapat lebih baik tetap menggunakan sebutan 'milenial'. Kendati asumsi buruk melekat pada istilah itu, tapi ia juga secara langsung menyampaikan profil khusus satu kelompok manusia tertentu - bagus maupun buruk.

"Julukan generasi membantu memulai percakapan," kata Jason Dorsey, presiden dan peneliti utama tentang milenial di Centre for Generational Kinetics, firma riset yang mempelajari milenial dan Generasi Z. "Kalau tidak, kita mungkin akan menggunakan 'duapuluhan' dan 'tigapuluhan', yang sebenarnya bukan istilah yang secara spesifik mengacu pada generasi melainkan demografik.

"Ketika kita mengatakan 'Baby Boomer', kita tak hanya membayangkan orang di usia 60-an dan 70-an, tapi juga mereka yang tumbuh di tahun 1960-an dan menyaksikan berbagai peristiwa penting yang membentuk cara pandang mereka terhadap dunia," kata Dorsey.

Hak atas foto J. Marmaras/Getty Images
Image caption Para penggemar musik dari generasi Baby Boomer sedang berkumpul menyaksikan konser The Rolling Stones di Hyde Park pada 1969.

Ini tidak membuat media berhenti memperlakukan milenial seperti alien dengan kebiasaan aneh, seperti menceritakan betapa mereka membenci serbet. Jadi kenapa kita tidak membuang saja istilah "milenial" dan menggantinya dengan nama yang lebih netral? Generasi Y atau Generasi Internet, mungkin?

Tapi dengan melakukan itu, kita juga akan menyerah pada stereotipe milenial: pribadi yang sensitif, egois, mudah tersinggung, suka mengeluh dan butuh merasa spesial. (Lagipula, kita sudah hampir 30 tahun .)

"Saya pikir semua orang tidak suka dipandang sebagai stereotipe," kata Emily Miethner, CEO dan pendiri FindSpark, lembaga jejaring profesional bagi para pekerja muda. "Kata-kata itu sering digunakan dalam konteks negatif."

Ketika berbicara pada calon pegawai dari generasi milenial di perusahaannya, ia menggunakan sebutan seperti "para siswa dan profesional muda," karena istilah tersebut merujuk pada kelompok yang lebih spesifik di dalam suatu kelompok besar.

Keluhan abadi

"Saya memang merasa 'milenial' terlalu sering digunakan sebagai istilah negatif atau bahkan sindiran, tapi itu karena generasi tersebut sering digambarkan dari sudut pandang negatif," kata Dorsey. "Saya pikir menjuluki mereka dengan nama yang lain tidak bisa mengubah kesan negatif itu. Tapi menunjukkan bahwa milenial bisa berdikari, produktif, dan menginspirasi bisa."

Bagaimanapun, milenial punya banyak hal yang bisa dibanggakan: mereka adalah generasi berpendidikan terbaik, mereka selalu ingin tahu dan berwawasan luas, serta menyukai tantangan. (Mereka juga mungkin akan menyelamatkan perpustakaan umum!)

Milenial juga merupakan kelompok anak "muda" masa kini --'kids zaman now'-- yang dari waktu ke waktu selalu menjadi sasaran kejengkelan generasi yang lebih tua. Baby Boomer dulu dipandang dengan stereotip kaum hippy yang teler; Generasi X dikritik karena kecanduan obat dan MTV. Menyetop penggunaan label milenial atau menggantinya dengan label lain tak akan menghentikan tren ini.

Hak atas foto Everynight Images
Image caption Di setiap generasi, kelompok anak muda selalu jadi bahan cibiran; baik itu milenial maupun Generasi X.

Adapun mengenai Generasi Z yang akan datang - mereka yang terlahir setelah tahun 2000 dan tidak mengenal masa sebelum iPhone - Miethner memperkirakan bahwa keakraban mereka dengan pesan teks dan media sosial akan membuat para milenial kesal di masa datang.

"Milenial semakin merasakan transisi ini. Mereka punya kenangan indah tentang memiliki ponsel lipat dan berburu bonus SMS gratis," ujarnya. "Mereka tahu bagaimana jadinya hidup tanpa perangkat ini." Gen Z tidak, dan itu dapat menyebabkan perselisihan antara kedua generasi

Apakah Gen Z akan dipandang dengan stereotipe juga? Mungkin. Siapa tahu? Mungkin para orang tua milenial mereka akan lebih pengertian untuk menjaga nama baik mereka.

--

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini berjudul Should we drop the term 'millenial'? di BBC Capital.

Berita terkait