Persoalan yang akan timbul jika Anda bekerja di rumah dan cara mengatasinya

Bekerja dari rumah Hak atas foto AFP
Image caption Ilustrasi umum. Bekerja di rumah terkadang terhambang karena mudahnya mengakses beragam hal, seperti makanan hingga hiburan dari media elektronik.

Ketika kita bekerja di rumah, beragam godaan bisa memakan waktu produktif kita.

Saat ini ada lebih banyak orang yang bekerja di rumah dibandingkan sebelumnya. Fleksibilitas seperti ini mungkin awalnya terasa sebagai ide cerdas, namun ternyata banyak orang justru merasa sulit mengatur waktu.

Bekerja dari rumah dan terisolasi dari dunia luar membuat kita tidak merasakan hubungan personal sehari-hari yang biasanya muncul dalam lingkungan pekerjaan--yang tentu bisa membantu meningkatkan kreativitas serta gairah bekerja.

Waktu adalah komoditas kita yang paling berharga, sekaligus hal yang dapat kita habiskan. Seperti yang disorot dalam penelitian saya tentang keterlambatan, mengelola waktu melibatkan hubungan yang kompleks antara konflik dalam diri kita sendiri maupun dengan orang lain.

Di tempat kerja normal, manajemen waktu kita terbantu oleh terbatasnya akses kita terhadap beragam godaan. Kita tidak harus terus-terusan memperhatikan diri sendiri, karena ada teman sejawat atau atasan yang melakukannya di tempat kerja.

Meski kita sering meratapi keterbatasan pilihan kita tentang hal-hal yang bisa kita kerjakan di kantor soal waktu--antara lain saat terpaksa menghadiri rapat selama dua jam--kita sebenarnya terbebas dari kewajiban membuat keputusan berikutnya.

Namun ketika bekerja di rumah, godaan yang berlimpah dapat menghabiskan waktu produktif kita. Makanan berada di kulkas atau dapat dibeli dalam sekejap ke toko terdekat.

Beragam kehebohan juga dapat secara mudah diakses melalui media sosial. Berbagai situs atau permainan dapat menggugah, membuat marah, mengagetkan, menghibur, membuat tertawa, sekaligus memperbudak kita.

Bagi sebagian orang, godaan-godaan yang sangat menyita waktu itu, terutama yang diakses secara daring, terlihat begitu menggiurkan. Setiap saat, selalu aja ada tarik-menarik antara sisi kepribadian kita yang kreatif serta konstruktif dengan sisi diri kita yang mencari kepuasan dengan mengedepankan kemalasan.

Pekerjaan sering kali menakutkan dan tanggung jawab yang menyertainya membuat kita berpikir dua kali. Berbagai tugas yang sukar tidak akan terasa nyata jika kita tidak memutuskan untuk mulai mengerjakannya.

Hak atas foto AFP
Image caption Ilustrasi umum. Sejumlah orang yang menghasilkan uang dari membuat kerajinan tangan di rumah. Mereka rentan menghadapi beragam godaan untuk menunda pekerjaan.

Menunda pekerjaan bukanlah cara yang bijak untuk mengelola kegelisahan, tapi hal itu kerap menjadi pilihan yang sering diambil. Tentu saja, dengan menunda-nunda pekerjaan, kegelisahan kita juga berlanjut, tapi kita juga merasa bahwa kita bisa menyelesaikannya pada suatu waktu nanti.

Di tempat kerja, tekanan untuk mengatur waktu biasanya datang dari rekan sejawat. Meski kita membenci kolega yang senang menyuruh atau kealpaan teman kerja, kita tetap dapat mengerjakan tugas di kantor, dan diawasi oleh orang lain memacu kita untuk menuntaskan tugas-tugas tersebut.

Sementara, jika bekerja di rumah, kita berperan sebagai bos sekaligus karyawan. Artinya, konflik muncul dari dalam diri kita dan itu lebih sukar diatasi.

Jika kita beruntung memiliki sikap bijak dan dewasa di dalam diri kita, dua hal itu dapat mengarahkan kita ke pilihan-pilihan tepat sambil tetap memungkinkan kita bersenang-senang.

Bagaimanapun, banyak dari kita suka menggerutu sendiri, menyalahkan diri saat kita tidak melakukan hal yang sepatutnya kita kerjakan atau justru meragukan kemampuan kita sendiri untuk menyelesaikan tugas tepat waktu.

Bagi sebagian orang, 'bos' di pikiran mereka bisa lebih kritis dan tak bersahabat dibandingkan bos di lingkungan pekerjaan yang sesungguhnya.

Dan ini malah akan mendorong orang menggunakan cara-cara destruktif untuk menghindar dan membela diri: mereka akan menyerah pada godaan untuk mengabaikan pekerjaan.

Tak ada gantinya

Di tempat kerja, kita berhubungan dengan rekan sejawat untuk saling membantu, mereka ada untuk memberikan masukan ketika kita kekurangan ide atau bahkan untuk mengekspresikan perasaan kita terhadap pekerjaan.

Namun saat hubungan teman kerja itu renggang atau kita tengah berkonflik dengan rekan sejawat, tetap saja mereka berkontribusi terhadap pekerjaan kita melalui cara lain.

Perdebatan seperti ini tidak hanya mendorong kita menegaskan sekaligus menyaring ide-ide di tempat kerja, namun juga tidak mengganggu pikiran kita.

Tetapi ketika kita bekerja di rumah, kita tetap bisa merasakan pengalaman tempat kerja itu secara virtual. Meski demikian, berhubungan melalui surat elektronik, pesan pendek atau media sosial sungguh berbeda dengan bertatapan muka secara langsung.

Interaksi virtual sepertinya tidak akan membuat kita merasakan hubungan antara kolega sejawat yang 'hidup' seperti di kantor yang membuat proses bekerja menjadi lebih produktif.

Hak atas foto AFP
Image caption Pekerja seni adalah sejumlah profesi yang harus tetap produktif meski harus bekerja di rumah.

Banyak orang sebenarnya membutuhkan kesempatan untuk berseberangan pikiran dengan orang lain agar bisa berhasil dalam tugas dan tuntutan kreativitas.

Hal yang sama dibutuhkan untuk meningkatkan kepekaan, dan memenuhi kebutuhan pertemanan atau sekadar menghindari kesepian.

Jadi apabila Anda justru merasa kesulitan saat bekerja di rumah, Anda tak perlu khawatir. Banyak orang merasakannya dan ini bukan berarti Anda aneh.

Anda harus mempertimbangkan segala kemungkinan untuk menciptakan suasana rumah seperti halnya tempat kerja pada umumnya. Anda bisa merancang area kerja jauh dari tempat santai dan menentukan jam kerja, yang tentu saja terbatas karena di rumah.

Pikirkan hal-hal yang mungkin bisa Anda buat untuk memunculkan tekanan eksternal, seperti dengan cara melibatkan orang lain dalam tenggat waktu kerja, menjadwalkan pertemuan rutin untuk mengecek perkembangan proyek kerja, dan yang terpenting, batasi akses Anda terhadap gangguan di rumah, salah satunya dengan mematikan akses internet pada siang hari.

Hubungan intrapersonal dengan kolega kerja dan teman-teman lain juga jangan dianggap remeh. Hal ini harus dilakukan secara tatap muka, bukan melalui perangkat daring.

Manusia tidak diciptakan untuk mengelola emosi dalam ruang hampa dan kita butuh orang lain untuk tempat berbagi kisah. Kebutuhan itu jauh dari sekadar soal pertemanan atau keintiman.

Sue Kegerreis adalah dosen senior di Pusat Studi Psikoanalisis di Universitas Essex. Tulisan ini telah lebih dulu ditulis di situs The Conversation dan diunggah ulang di bawah lisensi Creative Commons.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dalam judul The trouble of being both boss and workerdi BBC Capital.

Topik terkait

Berita terkait