Ditemukan: algoritma yang dapat menuntaskan krisis pengungsian

Pengungsi Hak atas foto Getty Images
Image caption Sejumlah pengungsi di Jerman mengikuti kursus bahasa setempat agar lebih mudah mendapatkan pekerjaan.

Para pembuat program komputer telah menemukan solusi untuk arus pengungsian yang kian marak. Mereka merancang program yang menemukan para pengungsi dengan lapangan pekerjaan.

Setidaknya 65,5 juta orang terpaksa menjadi pengungsi hari ini. Mereka melarikan dari konflik, persekusi, dan korupsi.

Berdasarkan kajian Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), angka tersebut adalah rekor jumlah pengungsi tertinggi sepanjang sejarah.

Di negara, di mana pengungsi memimpikan hidup baru yang sukses, seperti di Australia, Amerika Serikat, Inggris dan Jerman, pemukiman dan izin tinggal merupakan hal pelik dan kontroversial.

Selain kepentingan politik yang tak bersahabat, terdapat pula hambatan besar yang menghambat sistem.

Sejumlah negara belakangan ini memukimkan pengungsi secara sembarangan, mengirim mereka ke suatu kawasan dengan pertimbangan ketersediaan lahan untuk menampung banyak orang.

Tidak ada garansi bahwa area itu menyediakan cukup pekerjaan bagi para pengungsi. Apalagi, status pengangguran merupakan penghalang utama para pengungsi menemukan pekerjaan dan membiayai hidup di tempat baru mereka.

Namun sekelompok peneliti dari Universitas Stanford, ETH Zurich, dan Universitas Dartmouth menemukan sistem yang mereka yakini dapat mendekatkan lapangan pekerjaan kepada para pengungsi.

Seperti yang dipublikasikan jurnal Science, tim itu membuat algoritma berbasis data yang menghubungkan pengungsi dengan lapangan pekerjaan yang paling memungkinkan untuk mereka.

Program itu belum diaplikasikan secara faktual, akan tetapi para pembuatnya yakin karya mereka dapat mendorong probabilitas penerimaan kerja untuk setiap rumah tangga hingga 70%.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pengungsi mengantre keluar dari Stasiun Kereta Api Zakany di Hungaria dalam perjalanan menuju Jerman.

Peneliti di Laboratorium Imigrasi Universitas Stanford, Jens Hainmueller, menyebut pemerintah selama ini menggunakan tabel data untuk menempatkan pengungsi ke satu lokasi dengan pertimbangan daya tampung daerah.

"Jika ada kasur yang menganggur di Minnesota, maka Anda akan ditempatkan di sana. Tidak ada tujuan lain dari penempatan itu," ujarnya.

Jika pemerintah mampu menganalisis profil demografi pengungsi dan mengirim mereka ke kota kecil, kota besar, atau suatu kawasan yang memungkinkan mereka meraih pekerjaan, probabilitas kesuksesan para pelarian itu barangkali lebih tinggi.

Tim peneliti mengkaji data dari dua negara: AS dengan statistik lebih dari 30 ribu pengungsi berusia 18-64 tahun yang sampai ke negara Paman Sam periode 2011 hingga 2016 dan sekitar 20 ribu pengungsi yang tiba ke Swiss dari 1999 sampai 2013.

Algoritma itu dibangun dari peluang seorang pengungsi mendapatkan pekerjaan di negara tujuan mereka.

Langkah pertama, tim itu menilik data demografi pengungsi, yaitu pendidikan, usia, jenis kelamin, dan kemampuan bahasa Inggris. Mereka kemudian menyinergikan data itu, daerah dengan jumlah lapangan pekerjaan tinggi untuk pengungsi dengan rekam data tertentu.

Tim pengkaji itu pun menemukan tren tertentu, misalnya, pengungsi asal Afrika yang fasih berbahasa Prancis secara mudah menemukan pekerjaan di kawasan Swiss yang bahasa Perancis pula, bukan di daerah dengan bahasa Jerman.

"Jika ada pabrik pengepakan daging yang mempekerjakan pengungsi laki-laki muda dan memunculkan lowongan kerja, algoritma itu akan secara otomatis menemukan orang yang tepat," kata Hainmueller.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Lima pengungsi asal Suriah menghadiri festival lapangan pekerjaan di Berlin, Januari 2017.

Cara sederhana memahami program ini, kata para peneliti itu, melihat dua pengungsi asal Afganistan yang memiliki tingkat pendidikan sama, yang dikirim ke dua lokasi berbeda.

Satu dari dua pengungsi itu ditempatkan dan bekerja di lokasi A, sementara yang satu lagi dikirim ke lokasi B, tapi tak memperoleh mata pencaharian.

Mesin algoritma akan mengambil data dari fakta itu. Jika satu pengungsi lain asal Afganistan dengan data demografi serupa datang ke negara itu, program tersebut akan menempatkannya di lokasi A.

Tentu saja situasi dan kondisi setiap pengungsi berbeda satu sama lain. Tim peneliti itu mengakui, pejabat pemerintah terkadang mungkin mengesampingkan kesesuaian pengungsi dengan pemukiman baru.

Dalam kondisi itu, seperti program teknologi lainnya, algoritma tersebut hanya menjadi bahan pertimbangan lain bagi sang pejabat, bukan pengganti yang mengambil keputusan.

"Teknik pengolahan data yang kami gunakan sangat fleksibel," kata Kirk Bansak, seorang anggota tim pengkaji lainnya.

"Sejumlah metode itu mampu menemukan dan mencari pola dalam data yang sangat kompleks," tuturnya.

Sebagai contoh, setelah algoritma itu diimplementasikan di AS selama 2011 hingga 2016, para peneliti yakin rata-rata penerimaan kerja meningkat dari 34 menjadi 48%. Di Swiss, algoritma itu membuat penerimaan kerja di kalangan pengungsi melonjak dari 15 ke 26%.

"Yang kami temukan, pengungsi lebih berpeluang meraih pekerjaan, mereka mempelajari bahasa setempat dan berintegrasi secara cepat, dan tidak sering menggunakan jaminan kesehatan."

"Mereka mengikatkan diri secara ekonomi, membayar pajak, dan berkontribusi pada masyarakat," ujar Hainmueller.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Seiring meningkatnya jumlah pengungsi yang datang ke Jerman, sejumlah kelompok berinisiatif menjadi penghubung mereka dengan lapangan pemberi kerja.

Tentu saja masih dibutuhkan penelitian lanjutan soal ini, namun tim tersebut akan bekerja sama dengan pemerintah dan beberapa organisasi.

Mereka akan membuat program percobaan untuk mencoba efektivitas algoritma itu di dunia nyata.

Nantinya, mereka berharap tempat seperti AS dan Swiss dapat mengaplikasikan algoritma itu untuk menemukan daerah yang tepat bagi pengungsi.

Program itu tersedia gratis untuk banyak organisasi, kata universitas tempat para peneliti itu bernaung.

Pemerintah Swiss telah mengungkapkan ketertarikan mereka, kata tim pengkaji. Mereka juga tengah bernegoisasi dengan dua badan penempatan pengungsi di AS, untuk menerapkan algoritma itu.

Jika diterapkan, peneliti dari Stanford berharap algoritma mereka dapat membantu para tenaga kerja dan merevitalisasi perekonomian daerah setempat.

Algoritma itu disebut dapat membantu pemerintah mengatasi persoalan politik yang kerap menimbulkan perselisihan tersebut.

"Kami memiliki rekam data. Kami mungkin akan berkaca pada informasi itu pula," kata Hainmueller.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris di BBC Capital, dengan judulThe algorithm that could help tackle the refugee crisis.

Berita terkait