Apakah nama kita mendorong kita untuk meraih karier tertentu?

Bayi Hak atas foto Mike Simons/Getty Images

Baker (pembuat roti), Barber (pemangkas rambut), Butcher (tukang daging), Painter (tukang cat): mengapa kita ingin melihat refleksi diri kita dalam apa yang kita kerjakan.

Seorang proktologis yang disebut Dr Butts, seorang pembuat kue bernama Baker - apakah itu merupakan kebetulan belaka atau semesta memiliki cara untuk mendorong orang menggeluti karir yang sesuai nama mereka?

Ada sebuah istilah untuk pandangan ini: determinisme nominatif sebuah frase yang dipopulerkan oleh sebuah kolom di dalam majalah New Scientist, yang merujuk terutama pada teori bahwa orang tertarik pada pekerjaan yang cocok dengan nama mereka. Itu merupakan bagian apa yang para peneliti sebut "egoisme implisit" - gagasan bahwa kita tertarik pada sesuatu yang mengingatkan kita pada diri sendiri, apakah itu menikahi seseorang yang sama ulangtahunnya, atau pindah ke suatu tempat dengan nama secara fonetis sama dengan Anda.

Namun adakah bukti lain untuk menunjukkan bahwa nama Anda dapat menentukan pekerjaan Anda?

Brett Pelham, seorang profesor psikologi dari Montgomery College di Maryland, AS, berpikir seperti itu. "Nama Anda menentukan aspek hidup Anda," jelas Pelham, yang menghabiskan beberapa dekade untuk meneliti egoisme implisit. Dia yakin fenomena ini "bukan sebuah kebetulan; ini kenyataan."

Kembali pada 2002, Pelham dan rekannya pada saat itu Matthew Mirenberg dan John Jones mempublikasikan penelitian mengenai egoisme implisit dalam Journal of Personality and Social Psychology. Mereka melihat bagaimana ejaan nama-nama orang di AS berpotensi mempengaruhi keputusan hidup mereka, seperti karir yang mereka kejar.

Tim peneliti menemukan bahwa orang dengan nama Dennis atau Denise lebih cenderung menjadi dokter gigi (dentis) dibandingkan orang dengan nama populer lainnya dan menentukan bahwa pria yang dipanggil George atau Geoffrey "mungkin lebih mungkin bekerja di bidang geosains" ketimbang bidang ilmiah lainnya.

Hak atas foto PHILIPPE HUGUEN/Getty Images
Image caption Ilmuwan berdebat apakah nama seseorang mempengaruhi pilihan kariernya.

Memanggil Dr Payne

Para dokter keluarga di Inggris yang memiliki nama belakang Limb (anggota tubuh), sejak lama memiliki pertanyaan apakah nama mereka mempengaruhi karir kedokteran mereka.

"Orang dulu bertanya kepada saya mengenai nama saya dan apakah itu mempengaruhi keputusan saya untuk menjadi seorang dokter dan kemudian ahli bedah ortopedi," kata Dr David Limb, yang istrinya bernama Dr Catherine Limb.

Ketika putra mereka, Richard dan Christopher, memasuki sekolah kedokteran dan mulai mendengar lelucon yang sama, maka seluruh keluarga memutuskan untuk mengatasinya. Mereka menghabiskan beberapa minggu untuk meneliti salinan daftar medis dari General Medical Council Inggris, yang akhirnya mempublikasikan laporan "ringan" yang mengidentikan praktisi medis dengan "nama keluarga yang 'cocok' untuk spesialis atau untuk urusan medis secara umum."

Artikel mereka mengidentifikasikan sebuah rangkaian tren, termasuk sejumlah nama ahli medis professional, seperti spesialis urologi dengan nama keluarga Dick, Cox, Ball dan Waterfall, juga dojter spesialis anak dengan nama keluarga Boys, Gal, Child dan Kinder.

Sementara Limbs mengakui bahwa riset mereka tidak berdasarkan pada bukti empiris dan analisis yang kuat, mereka menyenangi gagasan bahwa mereka- dan professional medis lainnya- mungkin secara sadar memiliki nama yang terdengar mirip dengan yang berkaitan dengan klinis.

"Pendapat saya tak hanya berasal dari riset determinisme nominatif, namun juga perenungan saya terhadap takdir saya," kata David Limb. "Saya pikir (bahwa) banyak yang kita lakukan dan putuskan, terdapat elemen bawah sadar yang kuat yang bahkan tidak ada dalam pikiran kita namun mempengaruhi keputusan yang kita buat."

Hak atas foto ORLANDO SIERRA/AFP/Getty Images

Tren nama bayi

Namun, para peneliti lain tidak semuanya yakin dengan data dari artikel atau bukti anekdotal yang mendukung eksistensi determinisme nominatif. Uri Simonsohn, seorang profesor Wharton School, Universitas Pennsylvania merupakan penentang yang vokal, melalui makalah yang ditulis pada 2011, menentang egoisme implisit. Di dalamnya dia mereplikasi penelitian Pelham dan mengungkapkan bahwa hasilnya diplintir untuk berbagai alasan.

"Ketika menganalisa data nama-nama, para peneliti mengabaikan, atau tidak menganggap serius dua masalah penting: korelasi itu bukan merupakan sebab akibat atau pun kesalahan pelaporan," tulis Simonsohn dalam sebuah email.

Sebagai contoh, dia berpendapat bahwa orang-orang yang namanya seringkali tergantung usia mereka karena tren nama bayi berganti setiap waktu.

Jadi, meskipun lebih banyak dokter gigi (dentists) bernama Dennis dibandingkan nama yang sama populernya, seperti Walter, Walter merupakan nama yang lebih tua, jadi para dokter gigi dengan nama Walters akan banyak yang pensiun dari kedokteran gigi sementara dokter gigi dengan nama lebih muda masih bekerja di dunbia itu.

Ketika membicarakan Georges dan Geoffreys, ya, kehadiran mereka banyak sekali dalam geosains- namun juga di semua ilmu lain, katanya dalam laporannya.

"Para peneliti biasanya menganggap bahwa nama-nama tidak berkolerasi dengan apapun, jadi setiap korelasi antar nama menjadi menarik dan dikait-kaitkan. Namun itu gila," Simonsohn. "Analisis egotisme implisit tanpa seleksi yang baik pada nama-nama hanyalah merupakan kebetulan yang menyenangkan belaka, tidak lebih."

Hak atas foto Chris Jackson
Image caption Nama juga mengikuti tren.

Nama sana nama sini

Tidak terpengaruh dengan kritik, Pelham meneruskan proyeknya. "Orang terus saja mengecam dan menganggapnya gila," kata dia mengenai pandangan buruk terhadap determinsme nominatif.

Untuk menanggapi berbagai kritik, dia mengkaji sebuah tren dalam periode waktu yang lama untuk menunjukkan apakah koneksi nama dengan karir benar-benar eksis sejak bergenerasi, atau apakah itu merupakan produk popularitas nama pada saat itu. Dia juga ingin mengetahui bagaimana faktor ras seseorang dapat mempengaruhi pilihan karirnya.

Pada 2013, dia bagai menemukan harta karun. Pada 1940 catatan sensus AS yang baru saja dipublikasikan dengan detail secara online- yang penuh dengan informasi yang relevan bagi proyeknya. Kendati statistik dasar bisa diakses segera setelah sensus, salinan lengkap nama-nama, alamat, ras, dan lainnya biasanya baru jauh hari kemudian dipublikasikan.

Alih-alih memfokuskan pada nama depan, Pelham dan rekan penelitinya Mauricio Carvallo mengidentifikasi 11 target nama keluarga untuk melihat apakah pria dengan nama-nama ini lebih cenderung menggapai karir sesuai referensi nama mereka: Baker, Barber, Butcher, Butler, Carpenter, Farmer, Foreman, Mason, Miner, Painter dan Porter.

Bukan hanya nama-nama dan pekerjaan yang ada dalam daftar sensus, namun juga termasuk etnisitas dan tingkat pendidikan, yang membuat Pelham dapat mempertimbangkan dua variable kontrol yang sangat penting.

"Kami melihat pada setiap pekerjaan laki-laki dan menemukan bahwa pria dengan nama trkait pekerjaan, lebih banyak bekerja di bidang itu," kata dia. "Untuk memastikan penemuan ini bukan data yang dicocok-cocokan, kami melakukannya lagi dengan menggunakan data Sensus AS 1880 dan Sensus Inggris pada 1911."

Hak atas foto PHILIPPE HUGUEN/Getty Images

Para peneliti ini mempublikasikan studinya dalam jurnal Self and Identity, Pelham dan Carvallo menemukan bahwa "15,5% pria lebih mungkin bekerja di pekerjaan yang menggunakan nama keluarga mereka." Lalu pria kulit putih sekitar 30% lebih mungkin bekerja di bidang yang cocok dengan nama keluarga mereka. "Ketika mereka melihat pada Sensus AS 1880, efek dasar yang sama muncul, dengan sekitar 11% lebih mungkin bekerja pada bidang yang cocok dengan nama keluarga mereka. Pengkajian serupa dari Sensus Inggris juga secara keseluruhan menunjukan kecenderungan yang sama.

Karena sifat sejarahnya dari nama keluarga yang berhubungan dengan pekerjaan- nama diberikan orang berdasarkan pekerjaan mereka - tidak bisakah seseorang berasumsi bahwa orang mewarisi nama kedua orang tua dan sekaligus pekerjaan mereka? Pelham mengatakan bahwa itu sangat tidak mungkin. "Bahkan jika Anda berasumsi bahwa separuh waktunya pria melakukan sesuatu yang persis dengan yang dilakukan ayah mereka," kata dia.

Ketika egoisme implisit menjadi bumerang

Tidak semua orang cocok bagi determinisme nominatif. Terutama orang menolak suatu elemen dari identitasnya sendiri. Pelham menemukan bahwa sejumlah kelompok demografi, termasuk minoritas rasial dan budaya di mana perempuan mengadopsi nama keluarga suami mereka ketika menikah, kecil kemungkinan mendapatkan sebuah pekerjaan yang persis dengan nama keluarga mereka.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Tennys Sandgren merupakan atlet Amerika yang bermain tenis.

Perempuan yang tidak mengikuti tren determinisme nominatif cenderung lebih tua, menjalani pernikahan untuk waktu yang lama atau menjanda, dan mereka menyukai profesi yang didominasi perempuan seperti koki. Dia mencatat bahwa pada data Sensus AS 1940, mayoritas koki bernama Cook (koki) merupakan perempuan, terlepas dari fakta bahwa terdapat tiga kali lipat pria dalam pekerjaan tersebut pada saat itu.

Pria berkulit hitam kecil kemungkinan memiliki karir yang serupa dengan nama mereka, juga, menunjukkan bahwa pria kulit putih akan mengasosiasikam diri pada sesuatu yang lebih menguntungkan, terutama pada tahun-tahun ketika nama etnik dipandang negatif. "Anda hampir menstereotipe diri anda sendiri," kata Pelham, menduga bahwa mereka mungkin "menjauh dari identitas etnik."

'Mengancam kehendak bebas'

Jadi, jika nama kita dapat mendorong kita mengambil keputusan dalam karir, seperti dugaan Pelham dan Limb, bagaimana dengan kehendak bebas?

"Jal itu merupakan pengkondisian yang klasik. Bukan merupakan hal spiritual atau mistis; melainkan prinsip psikologi," jelas Pelham. "Hal itu mengancam rasa kehendak bebas Anda. Saya tidak menganggap bahwa kami tak pernah memiliki kehendak bebas, namun terkadang kita memang tak memilikinya. Itu sungguh masuk akal."


Artikel-artikel semacam ini akan hadir berkala di BBC Indonesia, karya berbagai penulis, mencakup beragam tema. Tulisan-tulisan itu merupakan pandangan pribadi penulis sepenuhnya.

Anda bisa membaca artikel ini dalam bahasa Inggris Do our names push us toward certain jobs atau artikel lain dalam BBC Capital.

Topik terkait

Berita terkait