Saat merantau ke luar negeri, apakah kemampuan berbahasa Inggris sudah cukup?

Siapapun yang hendak pindah ke luar negeri mungkin merasa bahwa mempelajari bahasa lokal adalah kewajiban. Tapi seiring perkembangan globalisasi, semakin banyak yang mempertanyakan apakah itu hal yang sia-sia.

Belakangan semakin banyak perusahaan nasional dan perusahaan perintis yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa resmi perusahaan, meskipun tidak berlokasi di negara dengan bahasa resmi Inggris.

Dan secara umum, generasi milenial tampaknya jauh lebih toleran untuk berkomunikasi dengan Bahasa Inggris dibandingkan generasi yang lebih tua. British Council memperkirakan bahwa pada tahun 2020, dua miliar orang akan menggunakan bahasa Inggris.

Selain itu, meski anggapan bahwa milenial lebih sering berganti pekerjaan dari orang tua mereka adalah mitos, mampu bekerja secara fleksibel di berbagai lokasi tetap menjadi tujuan utama banyak Generasi Y. Berdasarkan survei yang didanai Forum Ekonomi Dunia pada 2017, sebanyak 81% responden yang berusia antara 18 sampai 35 tahun, tertarik untuk bekerja di luar negeri.

Tapi bagi mereka yang hendak pindah tanpa niat untuk bermukim lama, seberapa pentingkah menghabiskan waktu luang untuk belajar bahasa asing lain, jika Anda bisa bertahan hidup hanya dengan bahasa Inggris?

"Sekarang tidak harus lagi," kata Sree Kesanakurthi, seorang konsultan IT dari India, yang pernah bekerja di Dubai, Singapura, Stockholm dan Brussels. Dia merasa sangat nyaman, baik secara profesional maupun sosial, hanya bisa berbahasa Inggris.

Perempuan
Image caption Sima Mahdjoub adalah karyawan asal Prancis yang pernah menetap di sembilan negara, termasuk Inggris, Australia, Spanyol, dan sekarang, Swedia.

Pekerja berusia 31 tahun itu menyarankan kepada siapapun yang ingin pindah ke sebuah negara selama kurang dari dua tahun, sebaiknya fokus untuk meningkatkan kemampuan teknis terkait pekerjaan, dan ikut berbagai aktivitas yang disenangi, agar bisa bertemu banyak orang.

"Di negara manapun di dunia ini, banyak komunitas yang membuatmu merasa bebas, tidak lagi merasa asing di negara yang orangnya tidak kamu kenali satupun," ungkapnya.

Kemampuan budaya versus bahasa

"Anda bisa bertahan di banyak tempat di bumi ini tanpa harus bisa berbahasa setempat," tutur David Livermore, seorang penulis.

"Anda tidak perlu fasih bahasa baru jika Anda hanya tinggal di negara itu lima tahun atau kurang," katanya. "Punya kemampuan beradaptasi dan sosialisasi yang baik, mungkin lebih penting."

Dalam penelitiannya selama 10 tahun di 30 negara, dia menyimpulkan ada empat kunci dasar dari Kemampuan Budaya (cultural intelligence atau CQ):

  • Punya keinginan untuk bekerja di lingkungan yang lintas budaya
  • Pengetahuan terkait persamaan dan perbedaan budaya
  • Keluesan untuk menganalisa dan menyesuasikan diri dengan kondisi lingkungan baru
  • Punya kemampuan untuk memilih bahasa verbal dan non-verbal yang tepat, untuk lingkungan berbeda

Meskipun mengakui bahwa bahasa juga penting, "kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru adalah konsep CQ yang paling penting agar seorang ekspat bisa sukses."

Pekerja Hak atas foto Getty Images
Image caption Kemampuan beradaptasi dinilai lebih bermanfaat saat pindah ke negara lain.

Meskipun begitu, dia menyadari ada sejumlah tempat yang sangat sulit untuk beradaptasi: misalnya negara-negara yang norma sosial dan budayanya benar-benar berbeda dengan tempat asal orang tersebut.

Profesor manajemen sosial Universitas Aalto di Finlandia menyebut bahwa Jepang, bagi orang dari negara barat, adalah salah satu negara tersebut.

Jepang adalah pusat pertemuan berbagai orang asing, di mana mereka bisa merasakan gegar budaya (culture shock) yang sangat intens. Sebut saja soal etika harus membungkuk, menghindari konflik, kesopanan yang ekstrim, budaya tepat waktu, menghargai ketenangan, dan bekerja dalam jam kerja yang panjang.

Mengubah nama?

Ryu Miyamoto, seorang lelaki 53 tahun, tinggal di Takarazuka, sebuah kota di dekat Osaka. Tapi dia sebenarnya adalah orang Amerika yang kemudian mengganti namanya saat pindah ke Jepang.

Dia bercerita banyak teman-teman ekspatnya yang kesulitan beradaptasi dengan berbagai norma budaya Jepang. Mereka akhirnya segera pulang setelah tugas pekerjaan selesai.

Jepang
Image caption Ryu Miyamoto nyaman hidup di Jepang.

Namun, dia berbeda. Miyamoto menyebut dirinya "fasih berbudaya" dan "sangat Jepang" setelah tinggal tiga tahun di sana.

"Jika orang tidak mengingatkan saya lewat bahasa tubuh mereka, saya mungkin tidak akan sadar kalau saya bukan orang Jepang," ceritanya.

"Orang Jepang masih melihat orang asing – yang mereka sebut 'gaijin' – sebagai orang luar... Namun orang-orang yang dekat dengan saya tidak melihat saya sebagai 'gaijin', sepertinya saya adalah pengecualian."

Dia mengungkapkan bahwa yang membuatnya bisa beradaptasi dengan baik adalah dengan mempelajari adat istiadat Jepang, menonton acara televisi Jepang, dan bahkan belajar memasak makanan Jepang.

Dan dari segi bisnis, mengganti nama menjadi nama Jepang bisa memudahkannya dalam membangun jaringan ketika dia mendirikan perusahaannya sendiri, yang bergerak di bidang pendidikan.

"Jika saya menelpon orang dan saya menyebut nama Amerika saya, dan menawarkan sesuatu, mereka cenderung menjawab 'tidak'. Tetapi kalau saya memperkenalkan diri sebagai Miyamoto, mereka biasanya lebih terbuka."

Gegar budaya tidak terduga

Namun, kadang ekspat kesulitan untuk memahami budaya baru di tempat yang rasanya tidak jauh berbeda dengan daerah asal mereka.

Misalnya Belanda atau negara-negara Skandinavia, yang menjadi salah satu tujuan utama bekerja warga Inggris.

Pindah Hak atas foto Getty Images
Image caption Pindah ke negara yang tidak begitu jauh dari negara asal juga punya kendalanya sendiri.

Direktur sebuah perusahaan di Stockholm, Caroline Werner, menuturkan bahwa banyak orang Inggris yang "melakukan kesalahan yang bertentangan dengan norma budaya dan sosial" di Swedia.

Misalnya terkait topik yang dibicarakan saat istirahat makan siang. Di Swedia, sangat tabu membicarakan agama, politik dan gaji seseorang.

Werner mengingatkan bahwa meskipun tidak terlalu penting, orang tetap perlu mempelajari bahasa lokal.

"Menurut saya, ini adalah kesempatan. Anda akan terbatas saat ingin berteman dengan orang-orang yang ingin Anda kenal, kalau tidak bisa bahasa mereka," katanya.

"Memang banyak orang Swedia yang bisa berbahasa Inggris. Tetapi itu hanya supaya terlihat sopan," ungkapnya. "Tapi kalau mereka ingin benar-benar santai, mereka 100% tidak nyaman berbicara dalam Bahasa Inggris."

Bahasa Hak atas foto Getty Images
Image caption Namun, kemampuan bahasa akan membuat ikatan sosial lebih cepat terjalin.

Penelitian bahasa yang dilakukan Eero Vaara, juga memperlihatkan hasil serupa.

"Di sebuah perusahaan pasti ada satu kelompok orang lokal dengan jabatan mumpuni, yang aksesnya akan sulit kita raih kalau kita tidak bisa berbicara dalam bahasa mereka," kata Vaara.

Contohnya, jika Anda orang Indonesia yang ingin naik pangkat ke posisi tinggi di sebuah perusahaan Rusia, maka fasih berbahasa Rusia pasti akan memudahkan jalan Anda.

Asimilasi atau penerimaan?

Sima Mahdjoub, 30, seorang warga Prancis yang pernah tinggal di sembilan negara termasuk Inggris, Australia dan Spanyol, memutuskan untuk menetap di Swedia. Keputusan itu karena dia suka mendaki gunung, dan Swedia punya alam yang berlimpah untuk aktivitas itu.

Dan kini dia pun sudah fasih berbahasa Swedia dan paham cara berbisnis warga setempat. Di Perancis, dia bisa mencapai kesepakatan bisnis dalam sekali pertemuan, sementara di Swedia tidak.

Meskipun begitu, dia tidak bisa melihat dirinya sebagai orang Swedia, lengkap dengan penerapan berbagai norma sosial dan budayanya.

"Di negara-negara Eropa selatan, kita cenderung lebih ekspresif dalam menyampaikan pendapat, baik yang positif maupun negatif," tuturnya. Namun, di negara Skandinavia karakter tersebut sulit ditemui.

"Saya juga melihat sejumlah orang mencoba lebih ekspresif, tapi rasanya tetap tidak enak saja kalau bersikap begitu di sini (Swedia)."

Sementara itu, konsultan IT yang sekarang berbasis di Brussels, Sree Kesanakurthi, mengungkapkan bahwa dia mulai belajar Bahasa Prancis ketika memantapkan diri ingin menetap di negara di kawasan Benelux itu.

menerima Hak atas foto Getty Images
Image caption Intinya adalah penerimaan, dan kelilingi diri Anda dengan orang yang Anda senangi saat tinggal di luar negeri.

Meskipun begitu, dia tidak memaksakan dirinya untuk benar-benar menguasai kemampuan bahasa dan budaya yang diterapkan di Belgia.

"Belajar bahasa setempat sangat penting. Terutama waktu membeli properti, mengerjakan laporan pajak, akunting dan sebagainya," kata dia.

"Meskipun begitu, itu bukan keharusan. Selama saya dikelilingi orang-orang yang saya senangi, saya akan bisa hidup baik-baik saja di negeri asing ini."

Bagi profesor Eero Vaara, penerimaan seperti inilah yang biasanya membuat ekspat hidup dengan nyaman dan lama di sebuah negara.

"Akan banyak perbedaaan yang akan dialami. Namun, ketika kita belajar mengapresiasinya, itulah yang membuat hidup di negara asing semakin menarik. Jangan dipaksakan. Nikmati saja."

Anda bisa membaca versi asli dari artikel ini dalam Bahasa Inggris di BBC Capital, dengan judul Is cultural knowledge more important than language skill?

Berita terkait