Bagaimana kucing dan algoritme bisa memprediksi pemenang Piala Dunia 2018

piala dunia Hak atas foto Getty Images
Image caption Achilles, kucing tuli yang menjadi hewan peramal resmi di Piala Dunia 2018.

Algoritme yang dipakai di pasar modal bisa memprediksi hasil Piala Dunia. Tapi seberapa besar kemungkinannya?

Dengan meongan setengah hati, seekor kucing putih bernama Achilles berpindah-pindah dengan malas di antara dua mangkuk makanan yang dihiasi bendera nasional Rusia dan Arab Saudi.

Pilihan kucing yang nampak biasa-biasa ini, yang tinggal di ruang bawah tanah Museum Nasional Hermitage di St Petersburg, Rusia, telah mendapat perhatian luar biasa selama beberapa saat terakhir.

Alasan perhatian itu?

Dia adalah binatang peramal resmi untuk Piala Dunia 2018. Kucing peramal ini akan memberi pertanda, siapa yang akan memenangkan pertandingan dengan cara memilih dua kotak yang diberi bendera atau lambang tim nasional yang bertanding. Di luarnya ditaruh makanan kucing. Ia memilih, yang mana yang ia santap.

Menurut kurator Hermitage, Achilles punya rekam jejak yang baik untuk memprediksi hasil pertandingan sepak bola setelah sukses menebak pemenang Piala Konfederasi tahun lalu.

Keberuntungan kucing?

Achilles hanyalah hewan paling mutakhir dari serangkaian hewan 'ajaib' yang dipakai untuk memprediksi hasil Piala Dunia. Sepanjang Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, gurita bernama Paul tampil di televisi nasional Jerman dan menebak hasil pertandingan. Piala Dunia terakhir di Brazil diberkahi dengan beberapa binatang ahli nujum, seperti kanguru, babi dan unta.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Masih ingat Paul si gurita? Dia meramalkan hasil Piala Dunia 2010.

Bagaimanapun juga, tak semua orang merasa puas menyerahkan peramalan kepada hewan-hewan berkekuatan gaib. Para bandar judi punya pendekatan yang lebih metodis untuk mengatur peluang, tak hanya dengan menggunakan data historis kinerja tim, tapi juga kejadian seperti formasi tim dan cedera yang terjadi, untuk menemukan jagoan mereka.

Menurut bandar di Paddy Power, tim favorit untuk memenangkan Piala Dunia 2018 di pertaruhan mereka adalah Brazil dengan 4/1 dan Jerman dengan 5/1.

Sebagian orang membuat pertaruhan dengan menggunakan model statistik canggih. Algoritme yang biasanya dipakai bank untuk memprediksi gejolak pasar modal, diubah untuk mengira-ngira hasil permainan kaki para bintang seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Mohammad Salah, dan Harry Kane.

Dalam banyak hal, menurut para analis, membuat prediksi akurat soal hasil Piala Dunia jauh lebih mudah daripada pekerjaan sehari-hari mereka menebak naik turunnya pasar modal.

"Kami tahu banyak tentang Piala Dunia karena FIFA sudah mengumumkan jadwal pertandingan, aturan main dan peringkat tim jauh-jauh hari," kata Michael Bolliger, Kepala Alokasi Aset Pasar Berkembang di bank investasi UBS, yang telah mengubah algoritme finansial yang dia gunakan sehari-hari untuk memprediksi siapa yang akan memenangkan Piala Dunia.

"Jadi kami tahu lebih banyak tentang apa yang akan kami tebak, dibandingkan apa yang kami tahu saat menebak kinerja pasar investasi."

Bolliger menguji ratusan kemungkinan variabel yang dapat mempengaruhi hasil pertandingan sepak bola. Dia menemukan bahwa hanya ada empat hal yang akan benar-benar menentukan kemampuannya memprediksi pertandingan, ketika mengetes modelnya dengan hasil di sepuluh turnamen Piala Dunia terakhir.

Pertama, peringkat tim yang objektif dengan menggunakan peringkat Elo mereka, yang mengurutkan tim nasional dengan menggunakan kemampuan relatif masing-masing regu. Dia juga memasukkan unsur seberapa baik penampilan tim dalam 12-18 bulan tahap kualifikasi Piala Dunia.

Meskipun kinerja masa lampau biasanya dipakai untuk memperingatkan penanam modal agar tidak bertaruh untuk kinerja saham di masa mendatang, penampilan di Piala Dunia sebelumnya dan pengalaman kemenangan punya peran penting dalam meramalkan siapa yang akan menang dalam permodelan Bolliger.

"Brasil, Jerman, Italia dan Uruguay, telah bermain di banyak turnamen dan menang," kata Bolliger. "Mereka tahu bagaimana caranya memenangkan Piala Dunia, tapi pemainnya sekarang juga punya lebih banyak rasa percaya diri karena rekan mereka sebelumnya menang, jadi mereka percaya mereka bisa menang lagi."

Bolliger juga memasukkan faktor psikologi dalam modelnya: keuntungan tuan rumah. Tim yang bermain di kandangnya sendiri cenderung bermain jauh lebih baik dibanding yang diharapkan, karena punya pendukung yang memberi mereka suntikan rasa percaya diri.

Menariknya, di juga melapisi algoritme dengan sengaja memasukkan semacam elemen peluang dalam model. Ini karena dalam olahraga, seperti juga di dunia luar, kejadian buruk bisa terjadi. Tim terbaik tak selalu menang, dan kuda hitam bisa jadi pembunuh raksasa.

"Dalam dunia investasi kami melakukan sesuatu yang serupa — kami memasukkan unsur ketidakpastian yang membuat kami bisa membuat kesimpulan yang lebih baik," kata Bolliger.

Algoritme Bolliger mengolah data peringkat tim, kinerja lampau, hasil terbaru, dan keuntungan jadi tuan rumah, untuk menghitung kemungkinan 10.000 turnamen. Unsur acak juga ditambahkan untuk menghitung gangguan yang mungkin mengubah hasil yang sudah diharapkan, misalnya, tim bukan unggulan yang bisa berprestasi di luar harapan. Dia lalu menghitung berapa kali masing-masing 32 tim pernah menang, sampai semi final, atau tereliminasi di babak penyisihan grup.

Hasilnya, perhitungan menunjukkan bahwa Jerman dan Brasil paling mungkin bertemu di final.

Meramal yang tak dapat diramalkan

Ide bahwa ketidakpastian dapat membuat prediksi semakin akurat mungkin terasa aneh pada awalnya, tapi dunia adalah tempat yang tak terduga. Dan dunia bisnis adalah salah satunya, yang tunduk pada keanehan sifat manusia.

Satu yang pasti dari Piala Dunia adalah bahwa turnamen ini akan selalu punya sesuatu yang tidak mungkin diduga sebelumnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Saat pemain Uruguay Luis Suarez menggigit bahu pemain Italia lawannya di pertandingan grup Piala Dunia 2014.

Siapa yang akan menduga, misalnya, bahwa penyerang Uruguay Luis Suarez akan menggigit bahu pemain Italia yang menjadi lawannya di pertandingan grup Piala Dunia 2014 di Brasil? Suarez dilarang bermain di sembilan pertandingan gara-gara itu. Hal yang disebut oleh banyak pengamat sebagai salah satu penyebab gagalnya Uruguay maju ke babak berikutnya.

Keputusan Asosiasi Sepak Bola Spanyol menyingkirkan pelatih nasional mereka Julen Lopetegui hanya sehari sebelum dimulainya Piala Dunia di Rusia, juga salah satu hal yang menunjukkan ketidakpastian di turnamen kali ini.

Hal-hal tak terduga dan perilaku pemain yang temperamental bisa mengubah hasil pertandingan, seperti yang biasa terjadi dalam negosiasi bisnis atau pasar modal. Kegugupan sebelum tanding, tekanan saat hari pertandingan, dan masalah di rumah bisa mengubah tim bintang sepak bola jadi berantakan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Asosiasi Sepak Bola Spanyol menyingkirkan pelatih nasional mereka Julen Lopetegui hanya sehari sebelum dimulainya Piala Dunia di Rusia.

"Pola pikir pemain akan memegang peran penting dalam kesuksesan dan kegagalan dalam Piala Dunia," kata Jennifer Cumming, psikolog olahraga di Universitas Birmingham. Kondisi psikologi pemain bisa menjadi unsur kejutan yang sulit diprediksi di dalam pertandingan.

"Rata-rata sekitar 86 persen hasil pertandingan antara dua tim adalah acak," kata Andreas Heuer, profesor teori sistem kompleks di Universitas Munster, yang telah mempelajari bagaimana cara meramalkan skor sepak bola.

"Jika pemain adalah robot dengan keterampilan yang setara, kesempatan menang jadi seperti melempar dadu. Dengan data yang benar, Anda bisa memperkirakan hasilnya. Namun ditambah dengan kondisi psikis pemain, prediksi makin sulit dilakukan."

Heuer menyebut fenomena yang sudah banyak dipelajari, yaitu 'menghindari kehilangan', yang pertama kali diidentifikasi oleh psikolog pemenang Nobel, Daniel Kahneman. Manusia dianggap lebih takut kehilangan daripada kesenangan mendapatkan sesuatu. Ini sangat nampak ketika skor pertandingan 0-0 di menit ke-80, demikian menurut analisis Heuer.

"Ada lebih sedikit gol di 10 menit terakhir pertandingan sepak bola, dibanding yang secara statistik mungkin terjadi," kata Heuer.

"Aktivitas tim menurun dan mereka mengambil lebih sedikit risiko. Mereka menganggap hasil seri dan mendapat satu poin lebih baik daripada tak dapat poin sama sekali."

Padahal pada sisi lain, seri bukanlah hasil yang baik ketika tim punya kemungkinan dapat tiga poin kalau menang. Tapi para pemain dan pelatih nampaknya lebih memilih bermain aman, khususnya di tahap awal turnamen seperti Piala Dunia, saat poin sangat berpengaruh.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Piala Dunia 2018 dalam angka

"Itu perilaku tidak rasional. Tapi orang memang cenderung menghindari kekalahan," kata dia.

Tim juga bisa terjebak dalam strategi tertentu dalam pertandingan hanya karena waktu dan usaha mereka telah dicurahkan untuk itu. Dalam ekonomi, ini disebut sunk cost fallacy, di mana orang punya kecenderungan untuk meneruskan usaha yang gagal karena mereka menghitung semua yang telah mereka keluarkan atau usahakan sebelumnya.

Ini juga masalah yang biasanya muncul dalam pengambilan keputusan bisnis. Mereka yang mengerti kapan saatnya mengabaikan insting manusiawinya, dan berani mengambil risiko, akan mendapat hasil yang lebih baik, menurut Heuer.

Steve Begg, profesor pengambilan keputusan dan analisis risiko dari Universitas Adelaide di Australia, biasanya menghabiskan waktunya membuat model bagaimana ketidakpastian bisa mempengaruhi industri minyak dan gas. Dia juga telah menerapkan model pasar finansial ini untuk memperkirakan hasil Piala Dunia.

Menggunakan teknik yang disebut sebagai 'simulasi Monte Carlo', yang awalnya dikembangkan oleh ilmuwan yang mengerjakan bom atom untuk menghitung bagaimana bentuk masing-masing tim bisa berubah selama turnamen. Dia melakukan 100.000 simulasi kemungkinan yang bisa terjadi di 63 pertandingan selama Piala Dunia.

"Ketidakpastian sangat penting dalam memperkirakan peluang nilai ekonomi ladang minyak dan gas," kata Begg.

Pada Piala Dunia, itu menentukan berbagai kemungkinan permainan dalam turnamen. Probabilitas adalah subjektif, tergantung pada apa yang Anda tahu. Dia tak butuh data -- Anda bisa memakai informasi yang ada untuk memperkirakan apa yang mungkin terjadi, dan kemudian membuat keputusan siapa yang akan menang, atau anggapan siapa yang akan menang. Yang terpenting adalah tidak ada bias dalam informasi dan alasan Anda."

Ini adalah sesuatu yang juga dianggap sangat penting oleh Bolliger: emosi. Tak peduli seberapa besar Anda ingin tim nasional Anda menang, keinginan ini tak boleh dimasukkan dalam perhitungan.

"Investor bisa belajar banyak dari kualitas pesepak bola yang sukses," kata Bolliger yang melakukan simulasinya saat shift larut malam di kantor. "Ketangkasan, keseimbangan dan ketenangan adalah hal-hal yang akan saya coba dunakan dalam interaksi dengan klien."

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Bisakah Salah mengalahkan Ronaldo dan Messi?

Siapa pemenangnya

Dan pemenang Piala Dunia 2018 menurut beberapa alat perkiraan terkuat di dunia bisnis? Menurut UBS, Jerman akan jadi juaranya, sedangkan Beggs memprediksi Brasil punya kesempatan terbesar merebut gelar.

Tapi bagi mereka yang ingin bertaruh tentang siapa pemenang Piala Dunia, masih ada pilihan lain untuk mempertaruhkan uang.

Sebuah riset yang dipublikasikan pada 2007 menemukan bahwa pasar modal suatu negara bisa bereaksi positif atau negatif terhadap hasil Piala Dunia, yang mungkin dipengaruhi perubahan mood atau sentimen investor.

Peneliti dari Sekolah Manajemen Norwegia menemukan bahwa harga saham bisa turun sampai 49 poin, sehari setelah timnas kalah dari Piala Dunia.

Atau, tentu saja, Anda bisa ambil cuti dan menikmati sepak bolanya saja.


Anda bisa membaca versi asli tulisan ini di BBC Capital dengan judul How algorithms and cats predict the winners of the World Cup

Berita terkait