Sihir abadi para aktor dan aktris pengisi suara

sailor moon Hak atas foto Getty Images
Image caption Stephanie Sheh, pengisi suara Sailor Moon.

Pernah Anda bertanya-tanya, siapa wajah di balik suara yang anda dengar di industri hiburan hingga elektronik? Anda mungkin tak tahu wajah mereka, tapi Anda tahu suara mereka.

Mereka adalah para aktor dan aktris pengisi suara. Mereka membentuk masa kecil Anda: saya tumbuh besar bersama Looney Tunes. Mel Blanc berperan jadi penyihir—saya kaget ketika ayah saya menjelaskan bahwa Blanc mengisi suara hampir semua karakter di layar kaca.

Saya bangun pada pukul 6 pagi untuk menonton Count Duckula. Saya minta orang tua saya merekam anime Jepang (yang dulu tidak sepopuler sekarang di barat) di VCR setiap hari kerja karena saya harus berangkat sekolah. Suara karakter-karakter itu adalah suara latar masa kecil saya.

Bergerak ke 20 tahun kemudian saya baru tahu bahwa saya tidak sendiri.

Pertemuan para fans seperti Comic-Con, yang merayakan kartun baik yang baru maupun yang lama, kini muncul di setiap benua. Pengisi suara karakter yang populer punya banyak pengikut di media sosial, seperti Twitter.

Aktor pengisi suara punya kekuatan. Ketika Anda mendengar mereka melalui mesin yang diaktifkan dengan suara di dapur, sistem navigasi mobil Anda, film kartun yang Anda saksikan waktu kecil, atau video game yang Anda mainkan sendirian, suara mereka mengisikan kemanusiaan dalam pengalaman itu.

Aktor pengisi suara yang paling utama di industrinya mungkin bisa dibayar setinggi bintang film, tapi pengaruh mereka lebih mendalam. Mereka menjembatani terhubungnya emosi dan ikatan antara Anda dan sebuah karya, atau produk.

Lalu bagaimana rasanya jadi aktor pengisi suara, dan bagaimana perubahan dalam teknologi dan industri mengubah karier mereka?

Tumbuhnya kekuatan aktor pengisi suara

"Ini adalah profesi di balik layar—atau setidaknya dulu begitu," kata Rob Paulsen. Dia adalah aktor pengisi suara yang membintangi Animaniacs, Pinky and the Brain, dan dua versi Kura-Kura Ninja di 80-an dan 2010. Dia juga punya podcast rutin tentang industri pengisi suara.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Rob Paulsen berpose dengan penggemar.

Sekarang? Aktor yang tadinya tak terlihat kini jadi pembicara utama dalam diskusi di sebuah gedung pertemuan di acara tingkat dunia, dan bisa menarik pengikut media sosial yang melimpah. Tara Strong misalnya, dia punya lebih dari 350.000 pengikut di Twitter—dia membintangi film animasi seperti Rugrats, The Powerpuff Girls dan seri permainan video Final Fantasy.

"Benar benar sulit untuk memulai," kata Strong. "Kita harus yakin bahwa itulah satu-satunya yang kita inginkan. Kita harus banyak latihan akting, belajar adegan, kelas improvisasi, dan latihan bernyanyi." Dia menyebutkan bahwa di berbagai kongres, dia sering bertemu fans yang ingin menjadi aktor pengisi suara.

Strong juga menjelaskan bahwa tidak masalah bagaimana rupa kita, kita bisa memainkan segala macam karakter.

Ketika pengisi suara telah melakukan banyak hal di depan kamera, kadang berakting hanya dengan suara akan membuka banyak pintu.

"Saya tak harus khawatir soal suku ketika mencari peran, atau kondisi fisik: saya sangat pendek, di bawah 150 cm," kata Stephanie Sheh. Dia adalah aktor yang suaranya muncul di sulih suara bahasa Inggris untuk sekitar 300 seri anime Jepang. Ini termasuk sulih suara film superhero perempuan paling terkenal, Sailormoon, dan versi tahun 2014-nya, Sailormoon Crystal.

"Fisik saya sangat spesifik, sehingga itu membatasi banyak peran yang bisa saya lakukan sebagai aktor," kata dia. Tapi memang banyak dari mereka memulai karier sebagai aktor, dan terjerumus ke dunia pengisian suara. Mereka memperingatkan fans yang ingin mengikuti jejak mereka. "Ada kesalahpahaman bahwa mudah (jadi pengisi suara) karena itu hanya suara," kata Sheh. "Jadi ada banyak orang yang bukan aktor mencoba menjadi pengisi suara."

Penting untuk mereka yang ingin jadi pengisi suara untuk melatih kemampuan akting mereka, mengambil pekerjaan kecil, dan mau bekerja untuk sesuatu yang tidak glamor, seperti video perusahaan, dan pelan-pelan merangkak naik, begitu menurut para profesional. Bahkan di era video game yang mewah, robot bisa bicara dan film dengan gambar digital, banyak klien masih butuh pengisi suara.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Para pengisi suara The Flinstones, 1962.

"Jujur saja, di manapun kamu mendengar suara, itu mungkin saja berasal dari manusia," kata Tara Platt, yang menulis buku tentang kariernya bersama aktor suara Yuri Lowenthal. "Ciri suara Anda itu seperti sidik jari suara. Ada sesuatu yang sangat manusiawi tentangnya."

Kebangkitan anime

Untuk mendapat gambaran skala industri pengisian suara, kita harus melihat ke Jepang. Menurut Asosiasi Animasi Jepang, industri anime mencatat rekor di 2016 dengan pendapatan 2,01 triliun yen, atau ($17,7 miliar, atau Rp 253 triliun). Jumlah itu berasal dari TV, film, distribusi internet, dan pernik-pernik—yang semuanya berasal dari penjualan di luar negeri, yang menjadi sebagian besar sumber pendapatan.

Semua popularitas di luar negeri berarti lebih banyak lagi kesempatan untuk aktor, bahkan di luar Jepang. Mereka dibutuhkan untuk menyulih suara: itu adalah ketika ketika seorang aktor membaca naskah yang sudah diterjemahkan dan bicara di atas dialog karakter di film atau bahasa lokal. Beberapa aktor yang menyulih suara acara Jepang, awalnya adalah fans.

"Saya awalnya fans," kata Sheh. Sebagai fans, "Saya sudah akrab dengan material, gaya, dan apa yang mereka berusaha capai."

Menjadi seiyuu (aktor pengisi suara) di Jepang, seperti juga di negara lain, membuatuhkan pelatihan formal. Di Jepang, ada sekitar 50 akademi khusus untuk mendidik seiyuu. Sekolah Anime Tokyo adalah salah satunya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Tara Strong (tengah) pengisi suara Powerpuff Girls dan Final Fantasy

Sekitar lima tahun lalu industri video game mulai mencari lebih banyak lagi aktor suara, dan meningkatkan permintaan, kata Hironori Kagawa, guru akting suara di sekolah itu.

Lembaga ini menawarkan beberapa program akademik untuk siswa yang ingin bekerja di industri anime, dari ilustrasi hingga rekayasa suara. Program suara menawarkan lima jurusan, dan saat ini memiliki 100 mahasiswa terdaftar. Banyak siswa dari luar negeri seperti Cina, Hong Kong, Korea, Malaysia, India dan Kanada terdaftar di sana. Semua kelas diberikan dalam bahasa Jepang.

Siswa yang mengikuti kursus suara mengambil 15 kelas seminggu, masing-masing selama 90 menit, berfokus pada pernapasan, pengucapan, belajar cara kerja mikrofon, dan bahkan menari dan menyanyi untuk mengembangkan telinga dan perasaan terhadap ritme.

Yui Fukushima mengatakan dia terinspirasi menjadi aktor pengisi suara karena menonton Yo-Kai Watch, sebuah anime campuran antara Ghostbusters dan Pokémon, yang melanda Japans bagai badai beberapa tahun yang lalu.

Dia sangat mengidolakan Aya Endou, aktor suara yang memainkan peran utama dalam serial, yang juga berperan sebagai beberapa monster warna-warni.

"Saya sangat terkejut bahwa aktor suara bisa menyuarakan berbagai jenis suara berbeda di depan mikrofon—itu mengagetkan sekali," katanya.

Mimpinya? "Dalam kredit, saya ingin melihat nama saya tak hanya sebagai satu karakter—saya ingin nama saya di samping dua atau tiga karakter."

Bidang ini sangat kompetitif. Rata-rata, menurut Kagawa, butuh satu hingga lima tahun untuk menjadi aktor suara anime profesional—tahun-tahun itu dihabiskan untuk mengasah keterampilan, serta mengambil pekerjaan lain seperti iklan TV atau radio.

Menerobos masuk

Memenangkan peran dalam waralaba yang diakui secara global seperti Sailor Moon membutuhkan pengalaman bertahun-tahun, kerja keras, dan banyak waktu yang dihabiskan untuk melakukan peran yang jauh lebih kecil.

Dan ada banyak pekerjaan terkait suara lainnya di luar sana: iklan TV, video pelatihan perusahaan, sistem pengumuman transportasi publik, suara di YouTube, audiobook, podcast. Bahkan asisten suara digital seperti Siri dan Alexa membutuhkan manusia untuk mengisi suara dan memasok semua audio dalam banyak bahasa.

Masih saja, sebagian besar pekerjaan suara ada di industri hiburan. Laporan tahun 2017 dari Voices.com, perusahaan Kanada yang menghubungkan aktor pengisi suara ke klien, menemukan bahwa 53% dari total pekerjaan suara global adalah dalam animasi.

"Biasanya orang berpikir tentang iklan radio dan televisi, karena itulah asal usul industri ini," kata CEO Voices.com, David Ciccarelli. "Tapi saat ini iklan televisi dan radio hanya menyumbang sekitar 10% dari pasar."Industri ini tidak pernah kekurangan orang yang ingin jadi aktor suara. Voices.com punya 400.000 pengguna terdaftar, dengan lebih dari 100 dialek dan bahasa terwakilkan, dan 4.000 pekerjaan diposting sebulan.

Namun banyak aktor suara top saat ini mengatakan bahwa mereka tidak mengejar akting suara secara khusus.

Hal yang umum di antara aktor pengisi suara adalah bahwa mereka mengidentifikasi dirinya sebagai aktor, sebagai yang pertama dan terutama.

"Itu yang saya katakan pada orang-orang: datanglah ke sini [ke Los Angeles], ada banyak ruang," kata Paulsen. "Jadilah aktor pengisi suara. Tetapi dengan "s" kecil dan 'a' besar. Ini tentang akting."

Itu adalah hal yang sering diulang-ulang di antara hampir semua aktor suara: "Elemen akting selalu mengalahkan elemen suara," kata Sheh.

Ada alasan mengapa siswa di tempat seperti Tokyo School of Anime belajar menyanyi dan menari—ini semua adalah bagian dari pertunjukan. "Anda tidak akan pernah melihat aktor suara berdiri diam di belakang mikrofon," kata Strong. "Mereka menggerakkan tangan mereka dan masuk ke dalam perannya."

Dan aktor suara mungkin harus segera membawa semua gerak-gerik itu ke pekerjaan lain selain bilik rekaman kartun.

Video game berubah jadi sinematik

Video game sudah mulai menghasilkan keuntungan yang menyaingi film laris Hollywood. Itu artinya, seiring meningkatnya popularitas anime, berarti lebih banyak pekerjaan untuk lebih banyak pengisi suara.

Seiring naiknya anggaran, teknologi yang digunakan dalam game pun menjadi lebih canggih dan penceritaan menjadi lebih kompleks. Ada makin banyak permintaan untuk pekerjaan suara, mereka diminta menghidupkan karakter game.

"Karena grafis telah makin canggih, begitu juga keinginan untuk mendapatkan penampilan yang bermakna dan mendekati kenyataan, dari aktor pengisi suara," kata Roger Altizer, rekanan direktur program seni dan rekayasa hiburan Universitas Utah.

"Meskipun biayanya lebih mahal untuk memiliki aktor pengisi suara di game, para pemain game telah mengganggapnya sebagai keharusan. Ini mungkin menjelaskan kenaapa aktor pengisi suara terkenal bisa punya penggemar yang besar. "

Tara Platt dan Yuri Lowenthal menegaskan bahwa makin banyak video game menggunakan teknologi 'penangkapan kinerja': yang berarti bahwa gerakan aktor pengisi suara dan tindakan fisiknya juga direkam dan didigitalkan dalam game.

"Bagi kami, ini artinya kembali ke teater," kata Lowenthal. "Banyak dari kami mulai di teater. Dan kemudian untuk waktu yang lama kami berada di bilik [rekaman suara], di mana Anda tidak menggunakan tubuh dan wajah Anda sama banyaknya. Sekarang lingkarannya sudah berputar penuh."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Makin banyak video game menggunakan teknologi 'penangkapan kinerja'.

Ini perkembangan besar dibandingkan ketika game pertama kali mulai merekrut aktor pengisi suara. Saat itu mereka hanya diharapkan untuk melakukan puluhan pengambilan jeritan yang membakar tenggorokan, erangan dan suara kematian lainnya untuk menggambarkan kematian mendadak karakter mereka.

Tapi sekarang? Lowenthal menyebut sebuah permainan yang baru-baru ini dia kerjakan, punya 60.000 baris dialog nyata.

"Dengan teknologi, semakin banyak informasi yang dapat mereka masukkan ke dalam disk, semakin banyak tampilan yang dapat mereka masukkan ke sana," katanya.

"Dan sekarang dengan jenis cerita yang mereka tampilkan, mereka terus meningkatkan jumlah dialog dan kemungkinan percabangan yang bisa dimainkan oleh seorang pemain."

Platt mengatakan, sebagai aktor pengisi suara yang bekerja untuk game, "Anda mengisi dunia."

Kekuatan suara

Baik itu keluar dari karakter kartun atau dari Siri di iPhone, mendengar suara manusia memunculkan reaksi yang kuat dari dalam diri kita.

"Menambahkan suara manusia pada asisten digital bisa menjadi pedang bermata dua," kata Rhonda Hadi, profesor pemasaran di Universitas Oxford, Saïd Business School.

"Di satu sisi, konsumen umumnya merespon suara manusia dengan lebih positif. Konsumen cenderung berkomunikasi secara lebih alami dengan asisten-digital yang bersuara manusia, dibanding dengan suara robotik. Namun, suara manusia juga membuat konsumen mengharapkan tingkat pemahaman dan empati yang tinggi dari asisten digital. Ketika para asisten digital gagal—misalnya, tidak memahami apa yang dikatakan konsumen, atau tidak memberikan tanggapan yang memadai—konsumen akan merasa lebih kecewa. "

Itu berlaku juga untuk teknologi seperti video game: "Akting suara yang buruk akan merusak penghayatan permainan jauh lebih cepat daripada grafis yang buruk," kata Altizer Universitas Utah.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Aktor pengisi suara sangat penting dalam teknologi.

Dan bahaya yang sama bahkan berlaku di dunia korporat. "Ketika mereka melakukan sebuah proyek, mereka menjadi duta audio—mereka menjadi suara dari perusahaan itu," kata Ciccarelli. "Ada tanggung jawab. Kita mengasosiasikan merek dengan suara tertentu. "

Namun bagi banyak aktor pengisi suara, mereka sangat sadar akan tanggung jawab mereka—dan sangat sadar akan adanya ikatan nyata mendalam dengan pemirsanya juga.

Paulsen bertemu dengan penggemar yang mengatakan bahwa Kura-kura Ninja menemani mereka melalui perceraian orang tua mereka, atau dokter hewan Irak yang mengenang rekannya yang gugur dengan Pinky and the Brain.

Aktor suara itu sendiri pun terpengaruh, ketika mereka bertemu suara dari masa kecil mereka sendiri. Seperti ketika Tara Strong menceritakan saat dia bernyanyi dalam The Little Mermaid 2 bersama Jodi Benson, sang Ariel asli.

"Saya menangis ketika saya bertemu dengannya," kata Strong.

Yang pasti, masing-masing karya adalah produk dari banyak talenta, dari animator hingga penulis hingga musisi dan banyak lagi. Tapi ada sesuatu tentang suara yang sepertinya tidak bisa dilupakan orang.

"Ketika dilakukan dengan benar, itulah yang terbaik dari seluruh dunia," kata Paulsen.

"Suara menghubungkan orang-orang pada tingkat yang dalam, membantu mereka melalui keadaan sulit, mengingatkan tentang masa kecil mereka, mereka, yang dapat dibagikan kepada anak-anak mereka sendiri. Suara tak pernah menjadi tua."

Tampaknya, terlepas dari kemajuan teknologi dan segala kerumitan industri, kekuatan suara manusia tetap bertahan.

"Apa yang membuat suara unik adalah bahwa itu benar-benar manusia," kata Ciccrallei. "Itu bukan perpanjangan dari diri Anda sendiri. Itulah diri Anda sendiri. "


Anda bisa membaca versi asli tulisan ini di BBC Capital dengan judul The enduring magic of the voice actor

Topik terkait

Berita terkait