Relawan dan wartawan di balik penyelamatan 12 remaja dan pelatihnya di Thailand

anak-anak, gua
Image caption Oil Chuthatip Charoensuwan, salah satu relawan yang datang untuk membantu penyelamatan anak-anak di Gua Tham Luang, Thailand.

Cerita di balik layar pemberitaan penyelamatan anak-anak yang terjebak di Gua Tham Luang, Thailand. Wartawan BBC Haryo Wirawan yang meliput di tempat kejadian selama dua pekan menceritakan pengalamannya.

Haryo Wirawan adalah satu dari puluhan wartawan BBC yang melakukan peliputan berita dari Gua Tham Luang, Thailand. Ketika Haryo tiba di lokasi pada 27 Juni, hari ke lima sejak hilangnya anak-anak pada tanggal 23 Juni, pencarian masih dilakukan, nasib 12 anak dan pelatihnya masih gelap.

"Setiap pagi keluarga selalu berkumpul dan berdoa dipimpin biksu, cukup lama setiap berdoa," kata Haryo. Meski anak-anak sudah hilang selama berhari-hari, suasana di luar gua masih positif dan penuh harapan.

Keluarga korban memberi pernyataan bahwa mereka masih punya harapan besar. Mereka yakin anak-anak mereka masih hidup. Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha pun datang memberi dukungan dan keyakinan bahwa pencarian ini akan berhasil dan para korban akan ditemukan sehat-sehat saja.

"Di media lokal, mereka kembali ke kepercayaan lokal, mereka semua percaya semua bisa dilakukan dan tetap positif," kata Haryo.

Siapa sangka, pada hari kesembilan, tim penyelamat menemukan tiga belas korban dalam keadaan selamat dan sehat. Kabar gembira itu datang menjelang tengah malam, 4 Juli 2018. Saat itu Haryo berada di hotel, sekitar dua kilometer dari gua.

"Hotel sudah seperti gempa, ramai sekali ada yang keluar dengan celana pendek, tidak pakai sepatu, menarik-narik koper, alat-alat, simpang siur, semua keluar. Kami capek tapi happy, happy karena akhirnya (anak-anak) ditemukan tapi kaget karena terbangun dari tidur," kata Haryo. Para wartawan pontang-panting untuk segera melaporkan secara langsung.

Hak atas foto BBC News
Image caption Haryo (nomor tiga dari kiri) saat bekerja di lokasi kejadian.

Saat pencarian belum membuahkan hasil, belum banyak media asing yang meliput. Hanya ada media lokal, dan sekitar empat-lima televisi asing, termasuk BBC. "Tapi setelah ditemukan, bisa ada 400-an orang dari media, kami sampai harus berbagai tenda karena tidak cukup lagi orangnya," kata Haryo.

Relawan berdatangan

Seiring bertambahnya jumlah media, bertambah banyak pula relawan yang berdatangan ke lokasi kejadian. "Relawan berdatangan dari berbagai daerah, sesuai kemampuan mereka masing-masing," kata Haryo. Ibu-ibu yang bisa memasak akan membantu memasak. Ibu-ibu pekerja keras ini bahkan mencangkul batu-batu kecil, memindahkan batu untuk dijadikan jalan ke tenda media.

Haryo juga melihat ada relawan yang membuka jasa cuci gratis baju para penyelam dan petugas. Mereka yang keahliannya memijat, memijat punggung dan kaki penyelam dan wartawan. Semua bekerja tanpa dibayar.

Haryo dan tim BBC juga mewawancara para petani-petani yang sawahnya kebanjiran karena luapan air yang dipompa dari dalam gua. "Mereka tidak keberatan sawahnya banjir. Mereka bilang, "Ini semua demi anak-anak yang harus kami temukan, jadi mereka tidak keberatan," kata Haryo.

Seorang perempuan bahkan mendatangi tim BBC dan menawarkan bantuannya.

"Saya Oil, saya seorang ibu, saya datang ke sini ingin jadi sukarelawan," kata Oil Chuthatip Charoensuwan. Dia mengaku sempat diejek oleh temannya ketika dia akan berangkat, memangnya apa yang bisa dia bantu di lapangan?

Awalnya tim BBC pun kebingungan, apa yang bisa dibantu? Ketika Oil menjelaskan bahwa dia bisa menerjemahkan Bahasa Thailand ke Bahasa Inggris dan sebaliknya, tim BBC sangat gembira karena memang sedang membutuhkan penerjemah. "Pokoknya saya harus bantu untuk negara saya sendiri," kata Oil yang kemudian membantu tim BBC tanpa dibayar. Namun karena terbukti bahwa Oil dapat diandalkan, BBC kemudian memberikan bayaran kepada Oil atas jasanya.

"Awalnya para wartawan masih sulit tertawa, akhirnya setelah mereka ditemukan, kami bisa tertawa lagi," kata Haryo.

Para biksu terus melakukan ritual di dekat gua, setiap hari biksu utama dan terbesar di Thailand datang dan membawa alat-alat sembahyang.

Perhatian dari pemerintah

Perhatian tidak hanya datang dari para relawan, tetapi juga dari pemerintah Thailand. Media diberi tempat di sebuah tenda, sekitar lima meter dari mulut gua.

"Pemerintah sangat peduli, tidak cuma soal penyelamatan tapi juga hal-hal lain seperti media, para relawan. tenda disiapkan dengan baik sehingga hujan pun bisa kerja," kata Haryo. Tenda wartawan sangat berguna karena cuaca di tempat kejadian kerap berubah-ubah, kadang hujan deras, bisa panas sekali.

Di lokasi, lumpur setinggi dua kali mata kaki, dan karena banyak lumpur relawan pun menata batu-batu untuk berpijak.

Di tenda, semua kebutuhan telah disiapkan. Ada makanan gratis, air panas, air dingin, minuman energi, kaos kaki, bahkan celana dalam baru pun tersedia dan gratis. Ada peralatan kecil seperti obeng, obat-obatan dan anti nyamuk.

"Makanan tidak hanya dari orang biasa tapi juga dari kerajaan, mereka mendatangkan truk besar untuk masak, jadi makanan panas juga tersedia," kata Haryo.

Privasi untuk keluarga korban

Dengan perhatian dunia yang begitu besar pada kejadian ini, bukan berarti privasi keluarga korban dikorbankan.

Haryo menjelaskan bahwa media tidak bisa mengambil gambar dekat atau melakukan wawancara. Media hanya diizinkan mengambil gambar keluarga korban dari agak jauh, dan ada batas tali untuk membatasi area keluarga, dan wartawan tidak diizinkan masuk.

"Beberapa media lokal masuk-masuk saja tapi keluarga juga tidak memberikan pernyataan apa-apa selain bahwa mereka yakin semua akan selamat," kata Haryo.

Saat para korban sudah ditemukan, penjagaan pada keluarga korban makin ketat. Keluarga dipindahkan ke dalam safehouse, sekitar 300 meter dari mulut gua. Wartawan semakin sulit mendapatkan akses kepada keluarga, mereka pun dijaga oleh polisi dan petugas.

Itulah kenapa sampai sekarang belum ada foto korban yang tersebar di media maupun media sosial. Penyelamatan sangat mengutamakan kepulihan korban dari sakit fisiknya, maupun trauma ketika keluar dari gua.

"Sampai sekarang korban sangat dilindungi, kami tidak bisa ambil gambar muka anak-anaknya, tidak bisa ada gambar korban setelah diselamatkan, hanya ada update keadaan mereka dari waktu ke waktu," kata Haryo. Foto anak-anak baru diberikan pada 11 Juli, sehari setelah semua korban dievakuasi dengan selamat.

Profesionalitas regu penyelamat

Hak atas foto Getty Images
Image caption Para penyelam asing, termasuk Ivan Karadzic (kedua dari kiri) dan Erik Brown (ketiga dari kanan), turut andil dalam upaya penyelamatan 12 remaja dan pelatih mereka.

Penyelamatan tidak lepas dari jasa tim penyelam, tentara dan para petugas dari berbagai bangsa. Menurut pengamatan Haryo, para penyelam datang dari berbagai negara, seperti Inggris, Finladia, Cina dan lain-lain.

Para penyelamat itu bukan penyelam biasa, mereka adalah yang terbaik di dunia. Mereka datang dengan peralatan profesional, melakukan pekerjaannya dengan seaman mungkin. Menyelam di gua tidak semudah menyelam di laut karena airnya keruh dan gelap dan oksigen pun tipis.

"Mereka selalu ganti shift tepat waktu karena mengutamakan keamanan," kata Haryo. Mereka juga tidak banyak bicara kepada wartawan.

"Semua pihak bukan tutup mulut tapi nampaknya ingin fokus bekerja dengan baik tanpa ada pernyataan apapun pada media," kata dia.

Perkembangan setiap kejadian diberitahu pemerintah lokal. Mereka akan memberi pengumuman di speaker besar agar para wartawan berkumpul di lokasi konferensi pers yang sudah disiapkan, sekitar 5-10 meter dari tenda utama. Biasanya yang berbicara adalah gubernur dan perwakilan tentara lokal.

Upaya penyelamatan disiarkan secara langsung televisi lokal Thailand, di hampir semua channel. Ketika ada pernyataan pers, semua acara berhenti untuk menyiarkan secara langsung. BBC sendiri menurunkan sekitar 30 orang yang bergantian melaporkan secara langsung. Tidak hanya wartawan, tapi juga divisi digital yang memberikan laporan untuk media sosial dan video.

Setelah korban terakhir keluar dari gua dan dibawa dengan ambulans, 10 Juli 2018, suasana kegembiraan tak bisa dibendung.

"Waktu misi selesai, semua yang keluar dari area gua selalu ceria, semuanya bertepuk tangan, saling memuji. Tentara, penyelam, disambut dengan meriah, mereka diangkut naik pick up dengan gembira dan melambaikan tangan dengan senang sekali di depan lensa kami," kata Haryo.

Warga menyambut ambulans dengan bertepuk tangan di jalan-jalan sampai ke rumah sakit. Para korban masih perlu waktu untuk pemulihan, tapi kerja keras berbagai pihak demi penyelamatan mereka telah menghangatkan hati banyak orang di seluruh dunia.

Berita terkait