Di balik fakta kaum milenial Norwegia yang kaya raya

Norwegia Hak atas foto Maddy Savage
Image caption Tak seperti kaum milenial di berbagai negara, kelompok penduduk muda di Norwegia hidup dengan taraf hidup yang tinggi.

Muda-mudi di Norwegia menikmati kenaikan 13% pendapatan siap dibelanjakan, berlawanan dengan tren yang berlangsung di negara dengan perekonomian mapan. Akankah era keemasan ini akan bertahan?

Orang-orang muda di Eropa barat akan segera menjadi generasi pertama yang tumbuh dewasa dalam kondisi lebih miskin dibandingkan orang tua mereka. Namun bagaimana kelompok milenial di suatu negara menjalani kenyataan yang bertentangan dengan tren ini?

Adalah berita lawas bahwa utang talangan ongkos kuliah dan biaya perumahan yang meningkat merupakan keprihatinan umum bagi mereka yang lahir pada awal 1980-an dan dekade 2000-an, tinggal di Amerika Serikat, Inggris, dan sejumlah negara lain.

Sejumlah kajian menyebut kelompok penduduk ini akan menjadi yang pertama tercatat dalam sejarah sebagai kaum yang lebih miskin dibandingkan generasi sebelum mereka.

Tapi barangkali temuan itu bukanlah konklusi yang tidak dapat dielakkan.

Di negara yang terletak di bagian paling utara Eropa, situasinya terang-terangan berbeda.

Banyak dikenal atas sejarah bangsa Viking, olahraga salju, dan teluk yang terbentuk dari lelehan gletser, Norwegia kini dikenal sebagai satu-satunya negara maju di Eropa yang orang-orang mudanya kaya raya.

Penduduk berusia di 30 tahun awal di Norwegia memiliki pendapatan siap pakai (disposable income) per tahun sekitar US$56 ribu atau Rp814 juta.

Orang muda di Norwegia tengah menikmati kenaikan 13% pendapatan siap pakai, yang telah dipotong pajak, dibandingkan Generasi X (yang lahir antara 1966 dan 1980) ketika mereka mencapai usia yang sama.

Angka yang mengejutkan itu berasal dari data komperatif persebaran kekayaan terbesar, yaitu pusat data penghasilan Luxemburg. Data itu dianalisis dalam laporan terakhir tentang pendapatan per generasi untuk lembaga riset berbasis di Inggris, The Resolution Fondation.

Bandingkan temuan ini dengan yang dialami generasi muda di negara kuat: pendapatan milenial di AS turun 5% dibandingkan era sebelumnya, sementara di Jerman 9%.

Bagi mereka yang tinggal di Eropa selatan, pendapatan siap pakai bahkan turun hingga 30%. Negara-negara di kawasan itu paling merasakan dampak buruk krisis ekonomi global tahun 2008.

Tingkat pengangguran di kalangan muda-mudi Norwegia yang berusia 15-29 tahun juga terhitung rendah, yakni 9,4%, sementara di para anggota Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) rata-rata berkisar 13,9%.

'Situasi mujur'

Pada hari terik yang jarang terjadi di ibu kota Norwegia, Oslo, tak sulit menemukan orang muda yang menikmati keberuntungan negaranya.

"Saya tidak begitu memikirkan bagaimana cara saya menghabiskan uang," kata Aleksander Aarnes, sarjana berusia 25 tahun.

"Saya pergi ke teater setidaknya sekali sebulan, menonton film di biskop satu kali dalam sebulan. Saya bisa nongkrong, makan, dan minum di luar bersama teman-teman. Saya juga pergi berlibur."

Hak atas foto Maddy Savage
Image caption Aleksander Aarnes difoto saat menjalankan pekerjaan sehari-harinya.

Aarnes meniti karier sebagai penulis musik teater, namun belum meraih apapun dari perjuangannya. Maka dia membiayai gaya hidupnya dengan cara bekerja satu atau dua giliran di toko serba ada di Korsvoll, kota sepi yang penuh rumah kayu berwarna pastel.

Pemuda itu berbagi apartemen dengan seorang temannya di pinggiran kota, berjarak 20 menit perjalanan bus dari pusat kota.

"Saya sangat paham atas situasi mujur yang saya jalani. Saya tidak harus mengorbankan diri untuk mengejar karier yang saya dambakan," ujarnya.

Gaji per jam yang didapatkan Aarnes sekitar US$20 atau Rp280 ribu dan meningkat saat akhir pekan atau pada giliran kerja malam hari.

Setelah potongan pajak yang relatif tinggi di wilayah Skandinavia, Aaron mendapatkan sekitar US$1700 atau Rp24 juta per bulan.

Setengah penghasilan itu digunakannya untuk sewa tempat tinggal, transportasi, dan tagihan lainnya. Sisanya ia gunakan untuk apapun yang disukainya.

Lebih jauh di Korsvoll, analis bisnis berusia 31 tahun, Øystein, memasukkan peralatan barbekyu ke mobil BMW miliknya. Ia tidak ingin menyebut nama lengkapnya dan berkata, "meski Norwegia adalah negara kaya, masyarakatnya tak ingin membicarakan seberapa tajir mereka."

Namun Øystein mengaku, ketika berumur 27 tahun, penghasilannya cukup untuk membeli apartemen dua kamar di kawasan tepi laut. Ia juga rutin plesir ke AS dan Asia.

Apa yang berbeda dengan Norwegia?

Gaya hidup muda-mudi Norwegia yang fantasis didasarkan pada pertumbuhan ekonomi pesat negara mereka.

Setelah mencatatkan kenaikan pendapatan terbesar di antara negara maju antara 1980 dan 2013, Norwegia kini memimpin sejumlah daftar global untuk isu kekayaan dan kesejahteraan. Norwegia mampu bertahan dari resesi global.

Tahun lalu, Norwegia berada di puncak Indeks Kesejahteraan Legatum yang menganalisis 110 negara di seluruh dunia.

Sektor minyak dan gas Norwegia jelas merupakan faktor yang mendorong kemajuan ekonomi negara itu selama tiga dekade terakhir, diikuti penemuan besar di North Sea, meski kejatuhan harga energi beberapa tahun terakhir sebenarnya juga berdampak pada mereka.

Namun seperti dijelaskan Hilde Bjørnland, profesor di BI Norwegian Business School, signifikansi itu bukan hanya soal seberapa banyak uang yang dihasilkan negaranya, tapi apa yang diperbuat olehnya.

"Norwegia sukses mengelola uang minyak untuk tabungan dan menggunakan sebagian porsinya untuk kesejahteraan masyarakat."

"Jadi daripada sedikit kelompok merasakan manfaatnya, banyak orang memiliki akses pada kekayaan itu," ujar Bjørnland.

Hak atas foto Maddy Savage
Image caption Hilde Bjørnland yakin pendekatan ekonomi yang egaliter berkontribusi besar pada standar hidup tinggi masyarakat Norwegia.

Norwegia mencapai titik ini dengan menempatkan uang mereka di badan finansial yang mengatur dana publik dan menginvestasikannya ke berbagai aset. Secara sederhana, ini adalah periuk besar tabungan yang menghasilkan uang karena diinvestasikan di lebih dari 9000 perusahaan.

Dana itu kini mencapai sekitar US1 triliun.

Selain itu, pajak tetap diberlakukan tinggi dan pemerintah Norwegia juga menekan struktur pengupahan, artinya gaji minimum dinegosiasikan oleh serikat pekerja.

"Orang muda dan mereka yang bekerja di industri berupah rendah merasakan kenaikan gaji setiap tahun...dan perbedaan antara mereka yang berpendapatan rendah dan bergaji tinggi tidak begitu lebar seperti di negara lain," kata Bjørnland.

Laporan The Resolution Foundation tentang pendapatan dari generasi ke generasi menyimpulkan, peningkatan ketimpangan merupakan faktor utama penurunan pendapatan siap pakai milenial di negara maju seperti AS, Inggris, dan Jerman.

Di negara-negara ini, di mana terdapat jurang perbedaan gaji yang besar, orang mudalah yang menanggung dampak negatif ketiadaan peningkatan upah dan mobilitas pekerjaan.

Sebaliknya, Bjørnland menyebut pendekatan egaliter--distribusi kesejahteraan antargenerasi--berkontribusi pada tingkat kepuasan hidup yang besar dan ketiadaan keresahan sosial di Norwegia.

Bantuan finansial bagi kelompok tidak mampu dan jaminan kesehatan yang disubsidi pemerintah juga berdampak positif pada masa depan milenial di Norwegia, tak seperti yang terjadi di negara Eropa lain.

Fasilitas bagi pengangguran cukup banyak: mendapat uang sebesar 60% dari pendapatan selama dua tahun terakhir di saat mereka berupaya meraih pekerjaan baru.

Seperti di negara Nordik lainnya, ongkos pengasuhan anak rendah dan sistem cuti orang tua juga memastikan partisipasi tinggi perempuan di lapangan pekerjaan.

Pendidikan gratis di hampir semua sekolah dan universitas negeri serta akses mudah untuk pinjaman (peminjam tidak membayar bunga selagi masa pendidikan), di samping tingkat penerimaan kerja yang tinggi juga berpengaruh pada situasi itu.

"Ini adalah faktor yang signifikan, ketika orang muda menempuh pendidikan, mereka bisa mendapatkan pekerjaan sampingan," kata Bjørnland.

Ia berkata, pekerjaan sederhana kerap memberi pendapatan besar bagi muda-mudi Norwegia, tidak seperti di negara barat lainnya.

Hak atas foto Maddy Savage
Image caption Gabriella Sanzana, mahasiswa asal Chile, menempuh pendidikan tinggi di Norwegia sambil bekerja paruh waktu.

Pemikiran Bjørnland itu diutarakan pula oleh gerombolan pelajar yang tengah bersantai di Sungai Akerselva, beberapa meter dari gedung kaca bercahaya yang mendominasi bangunan kampus.

"Tidak sulit mendapatkan pekerjaan di sini dan mereka selalu memberi gaji yang layak. Jadi ini sangat membantu menanggung plesir dan biaya pendidikan anda," kata Gabriella Sanzana, mahasiswa berumur 27 tahun dari Chile.

Sanzana yang tengah mengejar gelar S2 di bidang hak asasi manusia bekerja paruh waktu sebagai pramusaji.

"Saya harus membayar pajak tinggi, tapi saya tidak peduli karena pada saat yang sama pemerintah memberi saya banyak fasilitas," ujar Sanzana.

Masa depan terjamin?

Di luar keberhasilan Norwegia, ada sejumlah perhatian bagaimana negara ini melanjutkan kesuksesannya.

Tingkat penerimaan kerja generasi muda menurun, berdasarkan kajian terakhir OECD bertajuk Investing in Youth: Norway.

Penelitan itu menyatakan, jumlah peluang kerja untuk warga berusia 15 hingga 29 tahun tidak setara dengan kebtuhan populasi kaum muda yang membengkak, meningkat 18% antar 2007 dan 2016.

Lebih dari 4/5 penyebab situasi itu adalah imigrasi dan tingkat pengangguran di antara populasi yang lahir di luar Norwegia kini sekitar 10%.

Kristian Heggebø, peneliti senior di Pusat Perburuhan dan Penelitian Kesejahteraan di Universitas Metropolitan Oslo, menyebut meski pelajar asing yang berpendidikan baik dan buruh migram dari negara Eropa cenderung sukses di pasar tenaga kerja, terdapat kecenderungan tinggi yang terus-menerus soal diskriminasi etnis minoritas.

"Dalam beberapa hal barangkali karena kualifikasi yang rendah, tapi tidak dipungkiri bahwa isu diskriminasi ini ada di sisi permintaan tenaga kerja, bukan penawaran," ujarnya.

Hak atas foto Maddy Savage
Image caption Norwegia berada di puncak daftar global kesejahteraan masyarakat, unggul dari sejumlah negara maju lainnya.

Heggebø berkata, terdapat bukti empiris kuat yang menunjukkan bahwa meski tingkat imigrasi meningkat selama dua dekade terakhir, banyak orang di negara itu masih skeptis untuk mempekerjakan orang yang tak berlatar belakang Norwegia.

Bahkan generasi kedua imigran yang meraih gelar pendidikan dari negara Nordik susah payah mendapatkan akses ke pasar tenaga kerja, kata Heggebø.

Menurutnya, daftar riwayat hidup tanpa nama pada tahap awal rekrutmen karyawan dapat menjadi solusi krusial dalam situasi itu.

Masyarakat yang terkotak-kotak

Bersiap mengejar kereta menuju rumah setelah seharian memerah keringat di pusat kota, Ove George yang berasal dari Nigeria dan tengah menganggur, mengaku yakin berjejaring adalah kunci mendapatkan pekerjaan di Norwegia.

Sangat sukar bagi orang asing untuk meraih pekerjaan tanpa memiliki jaringan di masyarakat Norwegia.

"Saya mendapatkan pekerjaan terahir dari teman asli Norwegia dan setelah itu saya tidak mendapatkan pekerjaan yang cukup bagus," ujar George.

Hak atas foto Maddy Savage
Image caption Data OECD menunjukkan, jumlah penduduk Norwegia yang berpenghasilan kurang dari setengah rata-rata pendapatan nasional sebesar 8,1% pada 2015.

Di stasiun itu juga ada pemuda berusia 19 tahun bernama Djibouti-bom Kayad Mahammed yang tengah bekerja di perusahaan media.

Mahammed berkata, dia 'tidak bersusah payah' dan secara personal mudah mendapatkan pekerjaan. Namun dia yakin, banyak imigran cukup sulit menjadi kaya, terutama yang bergantung pada pekerjaan level terbawah karena takut menjadi pengangguran lagi.

Sementara itu, meski negara-negara Skandinavia bangga atas egaliterisme yang mereka jalankan, ada pula tanda-tanda ketimpangan yang meningkat di tengah masyarakat.

Data OECD menunjukkan, jumlah penduduk Norwegia yang berpenghasilan kurang dari setengah rata-rata pendapatan nasional sebesar 8,1% pada 2015, meningkat dari 6,9% tahun 2004, di mana orang muda merupakan kelompok yang paling rentan.

Meski dalam konteks ini, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan standar global. Persentase di AS mencapai 16,8% dan di Inggris berkisars 10,9%.

Mereka yang menganggur, tak memiliki keterampilan atau pendidikan kerap menjadi kelompok paling rentan di Norwegia, dibandingkan situasi yang sama di negara lain, kata Sebastian Konings, salah satu penulis kajian Investing in Youth: Norway.

"Muda-mudi Norwegia yang kurang beruntung dan memiliki persoalan sosial lebih sukar menemukan posisi mereka di masyarakat Karena pada umumnya, semua orang sukses, maka hal itu menjadi stigma," kata Königs.

Kelompok ini enam kali lebih mungkin mengalami depresi dibandingkan muda-mudi Norwegia lainnya, sembilan kali lebih rentan mengalami kesehatan yang buruk dan tak laku di pasar tenaga kerja, menurut laporan OECD.

Harga sebuah kesuksesan

Menurut Bjørnland, penduduk terkaya di Norwegia seharusnya juga mewaspadai kerapuhan fondasi ekonomi pada masa depan.

"Anda terbiasa hidup nyaman, menikmati akhir pekan yang panjang...Jika anda merasakan situasi itu sejak lama, anda tidak menghargainya karena menganggapnya hal biasa."

"Tapi sejumlah hal yang telah terjadi di masa lalu mungkin tidak akan terulang lagi," kata Bjørnland.

Bjørnland menilai Norwegia perlu bekerja ekstra keras untuk mendiversifikasi industri agar tetap kompetitif pada masa depan. Langkah ini termasuk memperbesar penggunaan teknologi, bahan mentah, dan sektor energi terbarukan.

Seluruhnya berdampingan dengan lanskap perusahaan rintisan yang tengah menanjak dan berkembang pesat beberapa tahun terakhir, namun masih tertinggal di bandingkan negara tetangga Norwegia di kawasan Nordik.

Pemberi kerja, menurut Bjørnland, juga harus lebih terbuka menarik minat bakat-bakat dari negara lain untuk mengisi pekerjaan di luar sektor minyak dan gas.

Di sisi lain, muda-mudi Norwegia yang terbiasa 'bekerja di manapun yang mereka suka' harus lebih fokus pada bidang yang membutuhkan keterampilan mereka. Tujuannya untuk mengelola standar kehidupan layak saat kaum milenial memasuki lapangan pekerjaan.

Apa solusinya?

Walau terdapat sejumlah tantangan yang kini dihadapi Norwegia, banyak pakar yakin masih terdapat banyak yang dapat dipelajari negara itu.

Di forum OECD, Sebastian Konings menyebut hubungan yang lebih dalam antara pendidikan, pekerjaan, dan layanan publik dibandingkan negara-negara lain sebagai cara efektif mendukung kaum muda menapaki karier awal mereka.

Setiap lulusan sekolah di Norwegia mendapatkan layanan telepon personal untuk mendiskusikan opsi mereka jika tak memasuki dunia kerja atau mengejar pendidikan yang lebih tinggi, misalnya.

Konings berpendapat, meski populasi Norwegia hanya 5,1 juta orang, negara yang lebih besar tetap dapat meniru kebijakan itu.

"Ini bukan persoalan ukuran negara, tapi seberapa banyak sumber daya yang ingin anda investasikan...Norwegia melihat hal itu sebagai prioritas utama dan memang selayaknya begitu," tuturnya.

Adapun, Kristian Heggebø yakin, meski kekayaan minyak nantinya habis dan Norwegia terpaksa membentuk ulang perekonomiannya pada masa depan, negara ini tetap akan sejahtera karena pendekatan egaliter dan jaring keamanan bagi generasi muda.

"Jika kita menjaga cara pandang ini, saya bersedia mempertaruhkan segala yang saya punya bahwa Norwegia akan tetap berada di level tinggi dibandingkan negara Eropa lainnya."

"Alasannya sederhana, karena kita memiliki jalan keluar untuk menghadapi sejumlah kesulitan dengan cara yang manusiawi," kata Heggebø.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris di BBC Capitaldengan judulUnlike most millenials, Norway's are rich.

Topik terkait

Berita terkait