Generasi pemberontak Cina dan kebangkitan bahasa 'kasar'

Cina

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Pemerintah Cina membatasi penggunaan media sosial. Warga lokal pun berinisiatif menciptakan kata dan istilah baru agar lolos sensor.

Bahasa Mandarin adalah salah satu bahasa paling rumit di dunia. Jika anda membuka kamus Mandarin, anda akan menemukan sekitar 370 ribu bahasa.

Jumlah tersebut lebih dari dua kali jumlah total kata dalam kamus bahasa Inggris terbitan Oxford serta hampir tiga kali lipat isi kamus bahasa Perancis, Rusia dan Indonesia.

Namun banyak istilah Mandarin yang baru diciptakan oleh segerombolan orang kaya beberapa tahun terakhir.

Reci, yang secara terminologi berarti kata tak baku, merupakan langgam bahasa nonformal yang diciptakan muda-mudi Cina untuk mengekspresikan pandangan mereka terhadap trend dan isu terkini.

Kombinasi huruf dan simbol

Terdapat lebih dari 750 juta pengguna internet di Cina —setengah dari jumlah penduduk seluruhnya sekitar 1,4 miliar orang— dan mereka menciptakan huruf serta simbol-simbol baru.

Kata 'duang' misalnya, gabungan huruf yang membentuk nama Jackie Chan. Mereka yang membentuk kata baru itu akan mendapatkan apresiasi dari media dan pengguna internet lainnya, berupa 'niubi' (牛逼)alias simbol 'keren'.

Betapapun, simbol 'keren' itu kini menjadi jalan setapak orang muda Cina menuju popularitas.

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

BBC Capital bertanya kepada Robert, yang enggan memberitahu nama belakangnya, tentang pandangannya bahwa generasi muda Cina mengembangkan metode komunikasi baru ini.

"Ini adalah reaksi atas realitas sosial. Perasaan rendah diri dan ketidakberdayaan merupakan alasan kami mencampurbaurkan kata-kata," ujarnya.

Robert menyebut istilah baru 'antizen' (蚁民) —gabungan antara semut dan warga negara untuk merujuk ketidakberdayaan kepentingan umum—serta 'innernet' (中国互联网) yang merujuk kebijakan oportunis Cina mengontrol internet.

Flora Shen, yang bekerja untuk perusahaan multinasional di Shanghai, menyebut melimpahnya kata dan istilah baru mencerminkan kejengkelan masyarakat terhadap kontrol ketat Partai Komunis Cina atas media arus utama.

"Koran dan televisi penuh retorika partai tanpa ruang untuk perbedaan pendapat."

"Itulah mengapa begitu penting untuk warga biasa menggunakan media sosial untuk menciptakan retorika lain, tanpa terlacak otoritas sensor," kata Shen.

Sementara itu, Philip, yang juga tak ingin menyebut nama belakangnya, mendeskripsikan fenomena itu sebagai upaya mencegah melewati batas.

Philip berkata, "selalu ada orang yang ingin mengungkapkan hal yang sama setelah mereka dibungkam, tapi mereka tak bisa lakukan itu sehingga mereka menyatakannya secara tidak langsung."

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Generasi muda Cina menikmati pertumbuhan ekonomi pesat negara mereka. Plesir ke luar negeri merupakan salah satu kemewahan yang tak dirasakan pendahulu mereka.

Meskipun akses internet yang meningkat berarti masyarakat Cina dapat berkomunikasi dengan orang-orang di belahan dunia lain, jangkauan mereka terhadap berita, baik yang bersumber dari media independen maupun luar negeri, tetap terbatas.

Lembaga Reporters sans frontieres (RSF: Wartawan Lintas Batas) menempatkan Cina pada urutan 176 dari total 180 negara dalam indeks kebebasan pers tahun 2018.

Polisi siber Cina secara manual menjaring komentar pada platform media sosial terkenal seperti Weibo dan WeChat. Mereka menghapus komentar yang mereka anggap politis dan subversif.

Unggahan yang berisi kata kunci atau frasa sensitif akan terhapus otomatis, misalnya. Polisi siber yang berlaku sebagai admin pada platform seperti Sina Weibo menyimpan daftar kata dan terminologi yang mereka tuding sensitif.

Beragam istilah itu secara otomatis tersaring dari media sosial sebelum pengguna internet dapat melihatnya.

Beberapa konten dengan seketika diblok pada saat-saat yang menadai peristiwa sensitif. Setiap tahun, pada 4 Juni, saat peringatan unjuk rasa Tiananmen tahun 1989, angka '46' (4 Juni) dan '64' (Juni 4) '8964' (1989, Juni 4), dan variabel serupa lainnya dilarang.

Para pengguna Weibo berjuang unggahan mereka tentang peringatan itu tak disensor pemerintah.

Sempat muncul sensitivitas terhadap album penyanyi Taylor Swift bertajuk '1989' yang digunakan sebagai metafora peringatan peristiwa Tiananmen. Alasannya, selain judul album itu, Swift menjadi inisial yang merujuk Alun-alun Tiananmen.

Wabah katak

Sebagai respons situasi yang ada, generasi muda Cina muncul dengan cara kreatif untuk menghindari sensor. Kata-kata yang awam dapat digunakan untuk mencegah penyensoran yang luas.

Dalam beberapa tahun terakhir, penyensor berupaya menghapus komentar berisi kata 'katak', misalnya, yang secara tersembunyi merujuk pada mantan Presiden Cina, Jiang Zemin, yang berkacamata.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Tur musik Taylor Swift ke Cina memicu kontroversi karena penjualan sovenir bertuliskan '1989' yang kerap dianggap merujuk Tragedi Tiananmen,

Para penyensor juga kesulitan mengawasi penggunaan nama keluarga 'Zhao' yang memiliki banyak makna dan nuansa, namun kerap digunakan dalam ungkapan berisi kritik terhadap para pejabat.

"Perlahan, muda-mudi Cina, terutama yang berada di kota besar, berusaha mendorong batas-batas dan membuka diskusi persoalan sosial dari akar rumput ke kelas masyarakat atas."

"Kami ingin berpartisipasi dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya ," kata Ma Xin, sarjana dari kampus yang berbasis di kawasan tenggara Cina.

Melalui pesan singkat berbahasa halus dalam aplikasi yang sangat diawasi, WeChat, dia berkata, "Tentu saja upaya itu butuh kreativitas untuk menciptakan istilah dan kata-kata baru yang belum masuk daftar sensor."

Bagaimanapun, diskusi yang sedikit bernuansa subversif ini tidak menjangkau semua orang. Permainan kata yang ada kerap terbatas bagi orang yang telah mengetahuinya, sementara banyak pengguna internet lain tak menyadari kode tersembunyi.

"Biasanya ketika saya menemukan pesan aneh yang membahas persoalan sosial, saya bosan dan tak merasa perlu menyebarkannya," ujar Zhao Bin, juru antar di kantor pos Provinsi Fujian.

Adapun komunitas masyarakat Cina berbahasa Inggris yang terus berkembang memiliki kesempatan besar untuk bermain kata karena penyensoran kerap tak mampu menemukan dan menyaring terminologi yang provokatif.

Hingga kini masih mungkin menemukan unggahan di media sosial yang membicarakan 'freedamn' (中国特色自由) yang mencemooh meningkatnya kebebasan di Cina, walaupun dalam konteks kecinaan.

Sejumlah orang juga mempertanyakan 'harmany' (中国特色和谐) dalam masyarakat Cina, dan persoalaan sosial politik orang banyak yang dikuak ke publik, yang mereka anggap kasar.

Sebagian orang mengaku merasakan tekanan atas 'departyment' (政府部门) yang meningkat dan dipaksakan, selagi pemerintah menghabiskan banyak waktu dan sumber daya di tingkat lokal untuk mempertahankan generasi muda Cina yang penurut.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Warga Cina yang menguasai bahasa Inggris dapat lebih mudah menghindari sistem penyensoran yang lebih fokus ke bahasa mandarin.

Telah muncul banyak perubahan di masyarakat Cina selama satu dekade terakhir—perkembangan ekonomi yang pesat mendorong kesuksesan besar, terutama di bawah pemerintahan Xi Jinping.

Sejak Xi memegang kekuasaan pada 2012, dia telah menawarkan visi tentang kehidupan yang lebih baik dan kesejahteraan yang lebih memakmurkan bagi generasi masa depan.

Xi juga mewacanakan Cina yang berkembang sebagai pemimpin global.

Dan generasi milenial Cina kini tengah menikmati hal-hal yang memanjakan ini, termasuk lebih sejahtera dibandingkan pendahulu mereka.

Generasi muda Cina ini lebih siap menggunakan kemampuan berbahasa Inggris yang mereka pelajari di sekolah untuk perjalanan pelesir ke luar negeri.

Namun pertumbuhan 'Chinsumers' (在外疯狂购物的中国人), generasi muda Cina yang menghabiskan tenaga dan hasrat untuk barang mewah juga menunjukkan tantangan baru untuk Partai Komunis yang mengontrol ketat rakyat mereka.

Sekalipun ada kemakmuran dan kebebasan berpergiaan, sejumlah orang yang bekerja keras untuk membiayai keseimbangan hidup merupakan isu yang paling sering ditemukan dalam perbincangan media sosial.

Generasi muda Cina menggerutu soal waktu mereka semakin habis untuk teknologi dan persaingan meraih keberhasilan. Keinginan untuk memulai sesuatu yang baru merupakan hal yang terus terdengar

Banyak orang muda Cina akhirnya hanya berupaya tak terlilit persoalan finansial dan menderita dalam 'smilence' (笑而不语) —menunjukkan paras sangar untuk menutupi rasa frustrasi.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris di BBC Capital dalam judul China's rebel generation and the rise of hot words.