Mengapa popularitas minyak ganja meningkat di seluruh dunia?

CBD Hak atas foto GEOFFROY VAN DER HASSELT/GETTY IMAGES
Image caption Minyak ganja bisa dalam bentuk minyak vape, krim pereda nyeri, koyo, permen, kapsul, dan senyawa.

Ekstrak ganja yang dikenal sebagai CBD sedang populer di AS, tersedia di mana-mana dari toko-toko hingga supermarket. Tetapi industri miliaran dolar itu tetap terjebak di wilayah abu-abu hukum.

Bisa dalam bentuk minyak vape, krim pereda nyeri, koyo, permen, kapsul, dan senyawa. Minyak ganja atau cannabidiol, lebih dikenal dengan CBD, adalah ekstrak alami tanaman cannabis sativa.

Dan sekarang itu sangat gampang ditemukan di AS. Anda dapat dimaafkan jika berpikir masih ada tempat yang tidak menyediakannya dan bahwa minyak itu dapat mengobati banyak penyakit.

Para penggunanya mengatakan bahwa mereka menggunakannya untuk semua penyakit mulai dari nyeri otot dan untuk menenangkan kecemasan hingga penyakit radang sendi, epilepsi, dan Post Traumatic Stress Disorder (Stres Pasca Trauma).

Dan minyak CBD juga bisa untuk anjing - dengan tambahan rasa daging asap.

Perusahaan riset pasar CBD Brightfield Group memproyeksikan industri ini akan bernilai $5,7 miliar (Rp85 triliun) tahun depan dan bernilai $22 miliar (Rp330 miliar) pada tahun 2022.

Direktur riset Bethany Gomez mengatakan Charlotte's Web Holdings, pemain terbesar industri ini, tumbuh sebesar 172% pada 2016-201717 dan akan menghasilkan $89 juta (Rp1,3 triliun) pada 2018.

Sektor kontroversial ini pada akhirnya dilirik di dunia investasi, belum termasuk minat dari beberapa pihak yang tidak lumrah.

Produsen minuman Coca Cola mengatakan perusahaan itu "mengawasi dengan seksama pertumbuhan CBD non-psikoaktif sebagai bahan dalam minuman kesehatan fungsional di seluruh dunia".

Permintaan dari BBC Capital untuk komentar lebih lanjut tentang hal ini tidak dijawab.

Gomez mengatakan ketika Brightfield Group membuat prediksi industrinya awal tahun ini, "banyak dari kami tak percaya".

Tapi, katanya, tiga hari kemudian media melaporkan bahwa Coca Cola sedang mengamati industri CBD dan tiba-tiba hal itu masuk akal.

"Jika Anda melihat jumlah total produk CBD yang dijual hari ini dan kemudian menambahkan perusahaan ritel raksasa ke dalamnya dan perusahaan farmasi besar yang memohon untuk masuk... kami memperikirakan akan melihat perubahan yang sangat cepat," ungkap Gomez.

Hak atas foto NurPhoto/Getty Images
Image caption Industri ini diproyeksikan akan bernilai $5,7 miliar (Rp85 triliun) tahun depan dan bernilai $22 miliar (Rp330 miliar) pada tahun 2022.

Mendahului tren

Zsolt Csonka adalah salah satu basis penggemar yang terus berkembang. Dia adalah pendiri Adriaen Block, sebuah restoran di Astoria, restoran dan bar CBD pertama di New York.

Csonka mengatakan ia ingin membuat koktail dengan kandungan alkohol yang lebih rendah, menggunakan bahan-bahan (seperti batang, buah, dan rempah-rempah) yang digunakan pada abad 16 dan 17, termasuk juga minyak CBD. Seperti yang suka ia katakan: "pencampuran generasi baru dan generasi lama".

"Jika Anda memasukkan CBD ke dalam minuman, alih-alih minum empat atau lima gelas wiski untuk mabuk, hanya dengan satu atau dua minuman yang diberikan CBD, Anda mendapatkan pikiran yang jauh lebih rileks, dan tingkat stres Anda menurun," katanya.

Hak atas foto NurPhoto/Getty Images

Csonka juga membuat saus yang mengandung CBD untuk disajikan dengan menu makanannya - seperti saus lada untuk daging steaknya; saus demi-glace, saus beurre blanc atau saus bearnaise.

Tapi bagaimana dengan sains? Belum ada bukti nyata bahwa CBD ampuh untuk penyakit kecuali orang-orang yang menggunakannya untuk konsep "wellness" atau kesejahteraan yang tidak jelas.

"Saya tidak bisa rileks atau tidur di malam hari; saya selalu banyak pikiran," katanya.

"Ketika saya minum dua gelas CBD atau meneteskannya di kopi saya atau apa pun, saya bisa tidur dengan sangat baik dan pikiran saya bisa rileks. Saya tidak akan pernah menjual sesuatu yang tidak saya yakini."

"Tapi," Csonka menambahkan, "Kami menyediakan pengalaman. Saya tidak menjual obat atau nasihat ajaib ke siapapun. Kami hanya meningkatkan pengalaman mereka; menciptakan dan sebuah lingkungan untuk mengurangi tingkat kecemasan atau stres mereka."

Siapa yang membelinya?

Jadi bagaimana konsumen CBD itu? Berdasarkan survei terhadap 5.000 pengguna CBD yang dilakukan Brightfield musim panas ini, milenial adalah yang pertama membeli produk CBD setelah berbagai negara bagian melegalkannya.

Ada juga lonjakan pengguna yang berusia awal tiga puluhan, tetapi jumlahnya turun di antara orang-orang di awal 40 tahunan (Generasi X) dan kemudian naik lagi di antara generasi baby boomer, yang membeli obat yang dilarutkan dalam alkohol, krim dan kapsul untuk penyakit-penyakit yang terkait dengan penuaan seperti arthritis atau sakit kronis, kata Gomez.

Perbandingan antara konsumen pria dan perempuan juga cukup merata - meskipun Gomez menyiratkan bahwa lebih banyak perempuan yang membelinya.

Namun, pembeli berhati-hatilah. Produk yang mengandung CBD dapat ditemukan di mana saja di AS tetapi - dengan satu pengecualian yang sangat spesifik - jika Anda membelinya dalam bentuk apa pun Anda akan melanggar hukum di setiap 50 negara bagian.

Bagaimana mungkin jika ganja untuk rekreasi telah disahkan di sembilan negara bagian, Anda mungkin bertanya?

Masalahnya terletak pada konflik antara hukum federal dan negara bagian, dan dengan bagaimana orang melihat dua jenis tanaman ganja yang sangat berbeda: mariyuana dan hemp.

Ada dua ekstrak ganja utama yang dibeli pembeli: THC, yang merupakan zat psikoaktif yang membuat Anda mabuk, dan CBD, yang tidak membuat mabuk.

Hemp industri didefinisikan mengandung kurang dari 0,3% THC tetapi dapat mengandung tingkat CBD yang tinggi.

Mariyuana, di sisi lain, biasanya dibudidayakan justru karena kandungan THC-nya.

Hak atas foto NurPhoto/Getty Images
Image caption Produk dengan CBD dapat ditemukan di mana saja di AS tetapi jika Anda membelinya dalam bentuk apa pun Anda akan melanggar hukum di setiap 50 negara bagian.

Singkatnya, hemp sangat berbeda dengan mariyuana tetapi ini tidak menghentikan kedua spesies ganja itu diklasifikasikan sebagai obat kelas 1 di AS pada 1970-an di bawah hukum federal - sama seperti heroin dan kokain.

Dan klasifikasi itu masih sama sampai hari ini.

Di negara bagian yang melegalkan CBD, produk yang mengandung THC harus dibudidayakan, diproses, dan dijual hanya oleh perusahaan berlisensi negara bagian.

CBD, di sisi lain, tersedia di mana-mana mulai dari supermarket hingga pom bensin.

Tapi CBD tetap terjebak di wilayah abu-abu hukum - banyak pengecer yakin jika selama mereka mematuhi peraturan negara bagian dan tidak mengirimkan produk mereka melintasi batas negara (yang akan menjadi perdagangan obat terlarang), maka penegak hukum federal seperti Drug Enforcement Administration (Administrasi Pemberantasan Narkoba, DEA) akan lepas tangan.

Seorang juru bicara DEA mengkonfirmasi kepada BBC Capital bahwa CBD dalam bentuk apa pun - termasuk yang berasal dari tanaman hemp - tetap merupakan obat kelas 1 dan ilegal.

Satu-satunya pengecualian, katanya, adalah obat yang disebut Epidiolex yang mengandung 98% CBD dan telah disetujui sebagai obat untuk mengobati epilepsi anak oleh badan pengawas obat-obatan AS Food and Drug Administration.

Diproduksi oleh perusahaan Inggris GW Pharmaceuticals, Epidiolex adalah obat kelas 5 - sama dengan obat batuk yang dijual bebas di AS.

Sementara itu, menurut National Health Service, Epidiolex belum memiliki lisensi di Inggris tetapi saat ini sedang melalui sistem perizinan.

Csonka, pendiri Adriaen Block, misalnya mengakui bahwa DEA dapat menyerbu tempatnya - "dan mereka mungkin akan melakukannya pada suatu titik" - tetapi dia mengatakan dia tahu peraturan negara bagian itu luar dan dalam dan CBD yang dia gunakan memiliki konten 0% THC.

Hak atas foto NurPhoto/Getty Images
Image caption Ada dua ekstrak ganja utama yang dibeli pembeli: THC, yang merupakan zat psikoaktif yang membuat Anda mabuk, dan CBD, yang tidak membuat mabuk.

Pendekatan hati-hati

Karena status hukumnya di Amerika tetap tidak jelas, investor potensial dalam industri CBD, meski semangat akan peluang untuk menghasilkan uang, juga berhati-hati.

Terlepas dari kenyataan total pasar CBD AS menyumbang $367 juta (Rp5,5 triliun) lewat penjualan ritel dengan tingkat pertumbuhan 39% tahun lalu, menurut Hemp Business Journal, industri ini masih rentan.

Tilray, salah satu produsen ganja medis, melihat sahamnya melonjak sebesar 30% pada satu minggu di bulan September, dan kemudian turun hingga 30% pada akhir minggu.

Yang akan menentukan kesuksesan industri ini adalah jika hukum federal akan berubah.

Hak atas foto NurPhoto/Getty Images
Image caption Forbes menyebut kehebohan atas saham ganja itu "konyol" dan mengatakan bahwa Apple masih merupakan investasi yang lebih baik daripada ganja.

Sementara itu, Forbes menyebut kehebohan atas saham ganja itu "konyol" dan mengatakan bahwa Apple masih merupakan investasi yang lebih baik daripada ganja.

Nasib CBD pada akhirnya bisa diputuskan oleh seorang politisi yang tak biasa: politisi Republikan dari Kentucky berusia 76 tahun dan pemimpin Senat Mitch McConnell.

Awal tahun ini, McConnell memperkenalkan ukuran yang melekat pada RUU Pertanian Senat, undang-undang yang mencakup kebijakan pertanian dan makanan di AS.

'Hemp Farming Act' ini akan menghapus hemp industri dari daftar zat yang dikendalikan di bawah undang-undang federal.

Jika disahkan, menurut Bethany Gomez, "akan benar-benar mengklasifikasi ulang hemp dan semua turunannya - termasuk CBD, membuatnya 100% legal untuk dijual".

Jadi bagaimana dengan sains? Obat ajaib yang dipercaya dapat membantu mengatasi nyeri dan depresi kronis, di antara sekian banyak penyakit lain, mungkin ada beberapa studi plasebo terkontrol yang double-blind (studi dengan partisipan dan orang yang melakukan eksperimen sama-sama tidak mengetahui yang mana yang mendapatkan obat) yang membuktikan keefektifannya? Tidak terlalu banyak.

Ilmu pengetahuan, tampaknya, masih harus mengejar popularitas CBD yang meningkat.

Tetapi itu tidak berarti tidak ada potensi. Igor Grant, ketua departemen psikiatri dan direktur pusat penelitian obat ganja di University of California, San Diego, mengatakan kepada BBC Capital ada beberapa petunjuk yang menjanjikan untuk penggunaan sebagai obat di masa depan.

Ada beberapa laporan - meskipun sebagian besar bersifat anekdot - yang menunjukkan CBD mungkin memiliki sifat anti-kecemasan, anti-inflamasi dan bahkan anti-psikotik.

Dan Grant mengatakan ada beberapa penelitian kecil terkait penggunaannya sebagai pengobatan untuk skizofrenia yang telah menghasilkan beberapa hasil yang menjanjikan - "sesuatu yang layak ditindaklanjuti", katanya.

Meskipun dia lalu menambahkan bahwa data yang ada tidak pada tingkat yang memastikan CBD secara definitif membantu orang dengan skizofrenia.

"CBD mungkin memiliki anti-inflamasi [dan mungkin dapat membantu] penyakit radang usus seperti penyakit Crohn atau kondisi neurologis yang memiliki beberapa komponen inflamasi," katanya.

Grant memaparkan ini sebagai petunjuk untuk penggunaan potensialnya dan arah ke mana komunitas medis bergerak, tetapi ia mengingatkan, sainsnya tidak terbentuk.

Adapun untuk orang-orang yang menggembar-gemborkan CBD sebagai produk untuk ditambahkan ke minuman buah untuk membuat kita merasa lebih baik - apa yang disebut 'minuman kesehatan fungsional' - Grant mengatakan bahwa ini, seperti banyak klaim yang dibuat di ruang nutrisi, tidak didukung oleh data.

"Tidak berarti mereka salah, tetapi kita tidak tahu. Saya akan mengatakan, valium juga membantu untuk kecemasan. Haruskah kita memasukkannya ke dalam Coca Cola dan membuat orang rileks? "

Hal pertama, katanya, adalah memastikan hukum negara bagian dan federal selaras. "Kita tunggu bukti sains muncul. Kemudian kita akan benar-benar tahu dan kita bisa memberi saran kepada publik."

Anda bisa membaca artikel aslinya dalam What's behind the rise in cannabis-infused products? atau artikel lain dalam BBC Capital.

Berita terkait