Alasan di balik ketenaran avokad dan kale

Makanan Hak atas foto Getty Images
Image caption Avokad dan kale dinobatkan sebagai buah yang paling populer, terutama di kalangan generasi milenial.

Roti panggang avokad. Minuman kocok berbahan kale. Smoothies berisi goji berry. Semangkuk quinoa.

Jika makanan adalah selebritas, hanya akan ada sedikit pangan yang menerima sambutan karpet merah dalam beberapa tahun terakhir.

Lantas mengapa sejumlah buah dan sayur duduk di peringkat teratas di industri kuliner-keberadaannya sangat didambakan karena berdampak besar pada profit dan membentuk pola makanan jutaan orang.

Mengapa popularitas kale dan alpukat melesat bak meteor dan terus-menerus disorot di saat wortel dan lobak tetap teronggok di peringkat terbawah?

Jawaban atas pertanyaan itu rumit dan kompleks.

Bagaimana alpukat menaklukkan dunia

Mari kita mulai dari avokad—kegemaran generasi milenial yang kerap ditemukan di atas roti panggang di berbagai bistro yang dijual dengan harga tinggi.

Saking terkenal dan menggiurkannya alpukat di kalangan milenial, sulit menemukan perusahaan yang tidak berusaha meraup untung dari buah hijau lembut ini.

Ambil contoh perusahaan kereta api asal Inggris, Virgin Trains, yang membuat program pemasaran bertajuk #Avocard tahun 2018.

Setelah seluruh kartu pelanggan yang mereka jual ludes, Virgin Trains memutuskan memberi diskon bagi pelanggan berusia antara 26-30 tahun.

Syaratnya, para penumpang muda itu harus datang ke stasiun membawa alpukat. Program itu direspons beragam oleh milenial, di antara mereka menganggap itu melecehkan.

Memang tidak ada yang dapat menyangkal bahwa milenial kini memakan sangat banyak alpukat.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Saat masih berstatus Ibu Negara Amerika Serikat, Michelle Obama mendemonstrasikan cara membuat smoothies berbahan dasar kale.

Manusia telah memakan buah ini ribuan tahun, tapi belakangan ini kegemaran terhadap alpukat melonjak di kalangan anak-anak muda di awal usia 20-an dan 30-an tahun.

Merujuk International Trade Centre, angka impor alpukat secara global mencapai US$4,82 miliar (Rp68 triliun) atau meningkat 21% antara 2012 dan 2016.

Salah satu ahli bedah kecantikan di London, Inggris, mengaku pada 2017 menangani banyak pasien yang tak sengaja melukai tangan mereka sendiri saat memotong alpukat. Ia lantas menyebut luka itu sebagai 'avocado hand'.

Harga roti panggang alpukat juga naik tidak karuan dan disebut-sebut sebagai salah satu alasan di balik ketidakmampuan milenial membeli rumah.

Ada banyak faktor yang mendorong kegemaran konsumen terhadap suatu bahan pangan, antara lain foto makanan yang cantik di Instagram atau iklan yang didanai perusahaan atau organisasi tertentu.

Sejarah panjang dan menarik juga memunculkan daya tarik makanan, terutama di lokasi yang jauh dari asal-muasal bahan pangan itu.

Jessica Loyer, peneliti pangan di Universitas Adelaide di Australia selatan, menunjuk pangan super seperti acai berry dan biji chia sebagai contoh.

"Banyak dari bahan pangan ini punya sejarah panjang dikonsumsi di negara berkembang," ujar Loyer.

"Secara umum, menurut orang-orang yang saya temui, mereka punya pengalaman positif tentang pangan itu dan tak bermasalah menghabiskan uang untuk membelinya."

Loyer menyebut akar maca dari Peru sebagai contoh lain. Bahan pangan ini digiling menjadi suplemen bubuk dan dikenal memiliki vitamin berkualitas tinggi, mineral, menyuburkan dan meningkatkan energi.

Hak atas foto TASS via Getty Images
Image caption Avokad Kenya dipajang dalam festival makanan internasional di Moskow, Rusia, September 2018.

Sebuah komunitas di pegunungan Andes bagian tengah mengagumi akarnya yang tinggi kurus dan berbonggol. Loyer berkata, kelompok itu bahkan mendirikan monumen akar maca setinggi lima meteri di alun-alun kota.

Namun Loyer juga memperhatikan sejumlah persoalan yang dapat muncul ketika suatu bahan pangan menjadi sangat terkenal, terutama jika berasal dari negara berkembang dan ketenarannya jauh dari asal-usulnya.

"Ada sisi baik dan buruk. Tentu keuntungan dari tren suatu bahan pangan tidak terdistribusi rata namun fenomena itu tetap membuka banyak pekerjaan baru"

"Artinya, ada peluang eksploitasi kawasan dan itu dibisa dibaca potensi pengisapan hak atas tanah yang dimiliki orang-orang terpinggirkan..."

"Ini juga tentu saja punya konsekuensi terhadap keanekaragaman hayati," ujar Loyer.

Xavier Equihua adalah pimpinan eksekutif di Organisasi Alpukat Dunia yang berbasis di Washington, DC., Amerika Serikat. Tujuan lembaga itu adalah mengendalikan konsumsi avokad di Eropa.

Equihua berkata, bahan pangan seperti alpukat mudah dijual karena lezat dan bernutrisi. Selain itu, alpukat juga pengganti daging bagi penganut vegetarian atau pola makan vegan.

Namun, kata Equihua, peran selebritas membanjiri media sosial dengan foto alpukat juga membantu penjualan buah ini.

Equihua menuturkan, masyarakat Cina, negara yang juga terjangkit demam alpukat, melihat foto Kim Kardashian menggunakan alpukat sebagai masker rambut di Instagram. Warga Cina juga melihat tato alpukat di lengan penyanyi Miley Cyrus.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Jumlah perkebunan kale bertambah drastis di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir.

Lalu mengapa kale juga sangat digemari?

Jika avokad adalah buah paling digemari, maka kale menyandang gelar itu di kalangan sayuran.

Sayur hijau tua ini telah membangun citra sebagai makanan pokok untuk orang-orang dewasa yang sehat, bertanggung jawab, dan teliti--baik mencampur sayur kaya serat ini ke dalam salad untuk mengurangi kolesterol atau mencampurnya menjadi smoothies penuh antioksidan.

Jumlah perkebunan kale di AS naik dua kali lipat antara 2007 dan 2012. Penyanyi Beyonce pun mengenakan kaus bertuliskan 'KALE' dalam sebuah musik video tahun 2015.

Bagaimana kale menjadi begitu keren?

Pembuat kaus yang berbasis di Vermont, AS, Robert Muller-Moore, menyebut ia melihat tren kale datang bermil-mil jauhnya.

Kini ia telah menjual kaus bertuliskan 'eat more kale' (makan lebih banyak kale) ke seluruh penjuru dunia selama 15 tahun terakhir.

Muller-Moore memperkirakan, selama ini ia telah memberi secara cuma-cuma 100 ribu stiker mobil yang bertemu penghargaan terhadap manfaat kale.

Produsen kaus ini bahkan bersengketa selama tiga tahun dengan pemilik waralaba ayam goreng terbesar di AS, Chick-fil-a. Jejaring makanan cepat saji itu memiliki slogan yang mirip dengan Muller-Moore: 'eat more chicken' (makan lebih banyak ayam).

"Permasalahan itu membuat kale dihujani perhatian," ujarnya.

Hak atas foto Boston Globe/Getty Images
Image caption Saat ini alpukat diolah ke dalam beragam sajian, termasuk menu-menu sehat.

Seperti avokad, kale memang berdampak positif bagi kesehatan. Kepopuleran kale tidak semata bergantung pada pemberitaan sengketa hukum atau sokongan idola pop.

Namun penting untuk tetap skeptis dan memahami bahwa tidak ada satu bahan pangan yang memberi garansi kesehatan, entah sepopuler atau seberapa banyak nutrisi yang dikandungnya.

Para pakar mengatakan, menu makanan bervariasi yang berisi banyak buah dan sayuran lebih padat nutrisi ketimbang menyantap satu jenis pangan yang sama terus-menerus.

Jadi, campuran selada, bayam, dan selada air barangkali lebih sehat ketimbang kale semata.

Fakta yang tidak menyenangkan adalah membuat satu jenis sayuran digandrungi lebih mudah ketimbang mempopulerkan sayur-mayur sebagai satu kelompok pangan.

Kesulitan itu tengah dihadapi Anna Taylor yang bekerja di lembaga kajian berbasis di Inggris, The Food Foundation.

Taylor baru-baru ini membantu produksi Veg Power, sebuah serial televisi dan iklan yang bernuansa film pahlawan super. Tayangan itu berusaha mengubah pola pikir anak-anak tentang sayuran.

"Selama bertahun-tahun, orang-orang dewasa terus menancapkan invasi terhadap sayuran di teluk," begitu narasi tayangan tersebut.

Taylor berkata, anggaran produksi itu bernilai tiga juta pounds, kebanyakan berupa donasi dari toko serba ada dan perusahaan media massa. Namun nominal itu sangat kecil dibandingkan anggaran berbagai perusahaan di sektor pangan.

"Ada dana 120 juta pounds untuk iklan permen, 73 juta pounds untuk minuman ringan bersoda, serta 111 juta pounds untuk cemilan manis dan gurih," kata Taylor.

Hak atas foto MediaNews Group/Getty Images
Image caption Mempopulerkan satu jenis bahan pangan dianggap lebih mudah ketimbang mengkampanyekan manfaat sayuran secara umum.

Persoalannya, sayuran bukanlah sebuah merek seperti makanan buatan. Tanpa merek, tenaga pemasaran enggan berusaha keras menandingi produk berlabel.

Untuk meningkatkan anggaran iklan sayur dan buah, butuh kerja sama antara pemerintah, petani, perusahaan pariwara, jejaring toko serba ada, dan lembaga lainnya.

Jadi ketika kale atau avokad muncul, mereka hadir sebagai item yang spesifik sehingga mudah dipasarkan. Ini berbalik 180 derajat dengan situasi yang dihadapi pemasaran sayur dan buah secara umum.

Taylor mengatakan, jika satu bahan pangan menjadi amat sangat terkenal, permasalahan dapat muncul.

"Secara khusus, tenaga pemasar akhirnya memasukkan sayur-mayur dalam kategori lain. Seperti yang kita lihat di Inggris, ada perkembangan besar industri buah beri yang sangat sukses, tapi terpisah dari pasar apel atau pisang," kata Taylor.

Tidak masalah seberapa terkenal suatu bahan pangan, ingatlah: menu makanan Anda tidak boleh hanya berisi satu jenis pangan.

Taylor mengingatkan kita, jika seseorang pernah berkata kepada Anda, "Kale adalah satu-satunya yang bisa memberi dampak x,y, dan z, itu sangatlah bodoh."

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris di BBC Capital.

Topik terkait

Berita terkait