Film pendek Pixar yang berusaha menantang budaya 'maskulin' di kantor

Potongan adegan 'Purl' Hak atas foto Pixar Animation Studios

Sebuah film animasi baru buatan rumah produksi Pixar menekankan pentingnya inklusivitas di dunia kerja.

Isu panas seperti misogini di tempat kerja dan kurangnya keberagaman sepertinya jarang dibahas oleh Pixar yang ramah keluarga. Tapi pada Februari silam, mereka merilis film pendek berdurasi sembilan menit untuk menjawab persoalan tersebut.

Film berjudul Purl itu dirilis pada 4 Februari dan sudah ditonton lebih dari sembilan juta kali di YouTube. Film ini menggambarkan sosok gulungan benang wol yang bisa berjalan dan berbicara bernama Purl. Warnanya pink terang, dia ceria dan tak sabar memulai pekerjaannya di perusahaan B.R.O. Capital.

Tapi setelah koleganya - yang semua pria - bereaksi negatif terhadapnya, dia membentuk dirinya (secara figuratif dan literal) menjadi seperti para karyawan hiper-maskulin di sekitarnya supaya dia bisa menyesuaikan diri.

Seniman perempuan Pixar Kristen Lester, yang menulis dan menyutradarai film pendek itu, mengatakan bahwa film tersebut terinspirasi oleh pengalamannya sendiri di industri animasi. Saat dia baru mulai bekerja, dia adalah satu-satunya perempuan di ruangannya, dan merasa bahwa dia harus berubah menjadi "salah satu rekan pria"-nya.

"Saya tidak mau ditolak, kadi saya berusaha menghilangkan risiko itu," katanya.

Film ini menjadikan "bro culture" sebagai satir. Istilah "bro culture" sendiri sering dikaitkan dengan bidang kerja teknologi, keuangan dan permainan video gim yang sering dikritik karena mendukung lingkungan yang macho dan bisa membatasi serta meremehkan perempuan.

Hak atas foto Pixar Animation Studios
Image caption Purl adalah sebuah gulungan benang wol yang ceria, bersemangat, dan langsung dipinggirkan oleh koleganya, para "bro".

Para kolega Purl adalah stereotipe dari para "bro". Mereka sering bercanda soal topik vulgar keras-keras, mereka selalu bicara soal pergi ke gym, dan ramai-ramai pergi berbarengan jam 17:00 untuk menikmati makan sayap ayam sepuasnya pada happy hour.

Saat Purl dengan riang memasuki kantor, mereka kebingungan dan tak bisa berkata-kata, tak tahu bagaimana caranya mulai berbicara dengannya. Dengan segera Purl mulai diacuhkan pada rapat-rapat, dan ditinggalkan saat tiba waktunya untuk nongkrong bareng sehabis kerja.

Ini merupakan bentuk tribalisme, yang bisa merusak individu pekerja dan juga perusahaan yang menyewa mereka - saat orang berada di lingkungan di mana semua orang terlihat, terdengar, bertingkah dan berpikir sama, maka ini bisa menciptakan kamar gema dan sistem berputar yang hanya memikirkan dan menghargai orang yang sama terus-terusan. (Semua foto "karyawan bulan ini" di tembok di B.R.O. adalah pria kulit putih dengan senyum yang sama.)

Banyak penelitian yang menyatakan bahwa tim yang lebih beragam menjadi lebih inovatif, sukses dan membuat keputusan yang lebih baik daripada tim yang homogen.

Pada akhirnya, Purl membentuk dirinya menjadi karakter karikatur non-feminin dua dimensi yang mengenakan setelan jas. Dia meniru perilaku rekan-rekannya sampai menjadi seperti mereka. Dia berkata kasar, agresif dalam pertemuan - dan langsung dia diterima. (Dalam montase bersama rekan prianya, dia memuntahkan gulungan benang warna hijau setelah sesi minum-minum berat di pub.)

Dari mulai kata-kata kasar sampai muntah, Purl bukanlah film Pixar biasa. Tapi itulah yang ingin dilakukan Pixar: Purl adalah satu dari enam film pendek dalam serial eksperimental berjudul "SparkShorts".

Perusahaan itu memberi beberapa karyawan dari latar belakang berbeda waktu selama enam bulan dan dana untuk membuat film mereka berdasarkan kisah pribadi, yang memungkinkan lebih banyak kreativitas.

Kenapa perempuan digambarkan sebagai bola benang?

"Kita bisa berubah menjadi bentuk apapun untuk bernegosiasi di situasi di mana kita tidak merasa nyaman," kata Lester.

"Ide berubah bentuk dan 'merajut kepribadian baru' adalah sesuatu yang menurut saya bisa jadi metafora yang keren." Pada awal pekerjaannya, menurut Lester dia harus melakukan hal-hal kecil seperti, menyunting percakapannya di sekitar kolega prianya.

Salah satu contohnya adalah menghindari menyebut film-film yang dia khawatir akan dianggap "terlalu perempuan".

"Saya tidak ingin dihubungkan dengan hal-hal itu karena saya merasa itu menekankan bahwa saya berbeda," katanya. "Jadi saya akan memilih menyebut film yang saya tahu kolega pria saya sudah menonton dan suka. Cara itu membuat pesan saya sampai, tapi itu bukan film yang membuat saya terhubung."

Hak atas foto Pixar Animation Studios
Image caption Purl adalah satu dari enam film pendek dalam serial eksperimental Pixar berjudul "SparkShorts".

Beberapa saat setelah transformasi Purl, seorang karyawan baru yang ceria bergabung dengan B.R.O. - bola benang kuning bernama Lacy. Para bro di kantor itu pun langsung menghancurkan semangatnya dan meninggalkannya.

Namun saat Purl melihat Lacy mengalami apa yang dia alami, dia berhenti menjadi salah satu dari koleganya dan menyambut Lacy, menjadikannya contoh buat yang lain.

Tapi film pendek ini bukan hanya soal diskriminasi gender di tempat kerja - ini tentang inklusi secara umum.

Di akhir bahagia film ini, kantor menjadi penuh dengan banyak bola benang warna-warni yang bekerja berdampingan dengan para pria yang kini sudah tercerahkan. Dan ada perubahan visual pada pria-pria itu; mereka menjadi semakin beragam dari sisi etnis. Menurut Lester, itu bukan kebetulan.

"Saya ingin menggambarkan dunia seperti yang terlihat. Dunia di mana orang-orang - dan bola benang - dari bentuk serta ukuran berbeda bisa bekerja bersama untuk membuatu sesuatu yang hebat,"

Sejak film ini dirilis, banyak orang yang menghubungi Lester dengan versi Purl mereka sendiri. "Beberapa kisah mereka lucu, ada yang sedih, tapi semuanya adalah kisah orang-orang yang terhubung dengan perjuangan [Purl]."

Dia berharap orang bisa mengisahkan cerita pribadi mereka, terutama lewat film.

"Mampu memahami dan berempati dengan sudut pandang yang berbeda dari kita membuka berbagai kemungkinan dalam budaya," katanya. "Film punya kekuatan untuk menciptakan empati dari sudut pandang yang mungkin tak pernah kita bayangkan."

Versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris bisa Anda baca di The Pixar short that tackles office bro culture di laman BBC Capital

Berita terkait