Apa yang membuat Marie Kondo jadi populer?

Marie Kondo Hak atas foto Getty Images

Di setiap dekade, selalu muncul bintang self-help, seperti ratu kebersihan Marie Kondo. Tapi apa yang membuat kita menyukai mereka?

Marie Kondo tidak tampak seperti seorang guru. Pakar dengan sosok mirip peri ini seolah melompat ke layar televisi kita, membuka-buka lemari rumah dan mendorong penghuni rumah untuk meremas pakaian agar 'memunculkan rasa bahagia', dan membuat dunia terpana.

Dia memotivasi orang untuk membereskan dan menciptakan pengalaman 'zen' di rumah masing-masing lewat acaranya di Netflix, Tidying Up With Marie Kondo.

Saat para pemilik rumah dengan mata terharu berterima kasih pada Kondo karena telah membantu mengatur rumah serta hidup mereka, jelas bahwa Kondo bukan hanya sekadar membantu membereskan rumah.

Dengan mengurangi kekacauan di ruangan para pemilik rumah, Kondo membantu memberi kelegaan di kepala mereka dan kekuatan untuk menghadapi dunia. Ratu kebersihan Jepang ini, tanpa dia rencanakan atau tidak, sudah menjadi seorang guru self-help.

Kondo, yang acara televisinya diangkat dari bukunya The Life-Changing Magic of Tidying Up, punya sistem yang sederhana — buang apa yang tak lagi diinginkan, simpan benda-benda yang 'memunculkan rasa senang' dan berikan waktu pada diri Anda sendiri untuk berfokus pada apa yang penting dalam hidup.

Pada masa di mana kita sibuk mencuci botol bekas selai di tengah rasa bersalah akan konsumerisme, Kondo memberikan kita alasan untuk membuang barang-barang.

Profesor Carl Cederström, yang menguji buku panduan self-helpatau menolong diri untuk buku yang dia tulis berjudul Desperately Seeking Self-Improvement, mengamati bahwa Kondo sudah menjadi bagian dari gerakan self-help.

"Dia menggabungkan antara ide mengizinkan kita membuang barang-barang dengan ide yang sangat menarik, untuk menjalani hidup yang lebih sederhana," katanya.

"Dia tiba di masa saat hidup bisa menjadi terlalu berat. Orang ingin hidup yang lebih sederhana, bersih — sebuah detoks. Mereka ingin membuang hal-hal yang membebani mereka. Kondo memberikan kita semacam izin moral untuk membuang benda-benda tanpa merasa bersalah."

Ide akan Mary Poppins Jepang ini dilihat sebagai panutan self-help tidak terlalu aneh.

Saat Cederström meneliti inti dari buku self-help, dia menemukan bahwa ada tiga tema yang muncul — sebuah metode rahasia; proses yang didasarkan atas nasihat kuno dan memasukkan anekdot 'asal' yang mengagumkan, di mana si penulis menjadi sosok pahlawannya.

Filosofi Kondo cocok dengan tradisi ini. Dalam metodenya ada teori yang diciptakannya sendiri untuk beres-beres, yang berdasar pada filosofi Shinto yang meditatif.

Kemudian ada kisah pencerahan: Konon Kondo pingsan pada usia 16 karena stres, dan saat dia sadar dua jam kemudian, ada suara yang muncul yang menyuruhnya untuk "lihat barang-barang dengan lebih dekat", dan metode KonMari pun lahir.

Di setiap dekade ada pahlawan self-help — seorang guru yang menangkap semangat zaman — dan dialah bintang kita sekarang.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Donald Trump dan Ivana Trump berfoto dengan penulis self-help Norman Peale dan istrinya Ruth Stafford Peale di sebuah pesta pada 1988.

Pada 1950an, ada pendeta Amerika, Norman Vincent Peale, yang menyebarkan Power of Positive Thinking.

Pada 1930an, bukunya hanya terjual sedikit, tapi saat religiusitas menjadi populer setelah Perang Dunia Dua, penjualan buku itu meningkat dramatis.

Buku berbasis agama lain yang juga populer di masa itu termasuk Pray Your Weight Away.

Peale bahkan mempengaruhi presiden AS sekarang, dia memimpin upacara pernikahan Donald Trump dengan istri pertamanya, Ivana, pada 1977.

Pada 2009, Trump mengatakan bahwa dia membaca buku Peale dan menjadi "punya keyakinan kuat dengan kekuatan positif".

Situs Politico menyebut bahwa "deklarasi penyebaran data yang positif" yang dilakukan Trump adalah bukti pengaruh Peale.

Lalu pada 1970an, saat orang-orang menggunakan berbagai pendekatan untuk menjelajahi pikiran — seperti dengan menggunakan obat-obatan — ada Pelatihan Seminar Erhard yang bebas obat.

Seminar yang didirikan oleh Werner Erhard itu memikat ratusan ribu orang ke kamp-kamp pelatihan akhir pekan di AS antara 1970-1984.

Orang-orang belajar untuk mengubah pola pikir mereka dari upaya bertahan hidup menjadi kepuasan dengan diri sendiri.

Pada akhir 1980an, saat MTV menguasai layar televisi, begitu pula seorang warga California yang tinggi, berkulit coklat, dan senyum dengan deretan gigi putihnya.

Dengan menggunakan mic seperti Britney Spears, Tony Robbins berjalan di panggung acara-acara seminarnya yang disiarkan televisi dan memikat generasi baru acara TV di siang hari.

Fokusnya pada keuangan dan kesuksesan yang dikemas dalam program televisi bergaya infomersial menjadi sangat menarik di era ada banyak PHK massal.

Sosoknya sebagai bintang menjadi resmi saat Robbins tampil bersama Jack Black di film Shallow Hal.

Dalam acara spesial yang ditayangkan di Netflix, Robbins berkata,

"Ada banyak jalan di luar sana. Saya bukan satu-satunya jalan. Saya adalah jalan bagi orang yang mau mencoba sesuatu yang baru."

Hak atas foto Justin Sullivan/Getty Images
Image caption Tony Robbins sukses berpindah dari infomersial ke layar bioskop lewat film Shallow Hal pada 2001.

Selain itu, muncul juga guru self-help yang paling besar — Oprah Winfrey, pada 1990an.

Dia memang memberi kita barang-barang gratis tapi dia juga memberi kita rasa nyaman akan diri sendiri. Di bawah pengaruh Winfrey, tak ada yang boleh melihat diri mereka sendiri sebagai korban, termasuk saat resesi terjadi.

"Saat orang-orang merasa takut di-PHK, ada Oprah Winfrey yang mengatakan, 'Jika Anda kehilangan pekerjaan — selamat! Ini adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada Anda.' Ada narasi positif lain yang ingin didengar orang," kata Cederström.

"Dia juga memberikan semangat pada orang-orang yang tidak ingin merasa bersalah akan orang-orang yang duduk di sebelah mereka. 'Oke, dia kehilangan pekerjaan, tapi saya tidak harus merasa kasihan padanya.'"

Sementara karakter-karakter besar seperti Robbins dan Winfrey menguasai televisi dan masih kuat, tapi ada cerita tentang orang-orang biasa yang menangkap imajinasi dunia dan muncul di daftar buku terlaris New York Times dari 1994 sampai 1998.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Menurut Cederström, Oprah Winfrey menawarkan narasi positif yang ingin didengar orang.

Seri The Chicken Soup for the Soul diluncurkan pada 1993 oleh pembicara motivasi, Jack Canfield dan Mark Victor Hansen, yang menampilkan banyak cerita dari orang biasa dan pelajaran hidup yang mereka dapat.

Serial itu kini dimiliki oleh pasangan suami istri William Rouhana dan Amy Newmark, dan kini sudah diadaptasi menjadi program televisi, podcast, dan bahkan makanan anjing.

Seri ini masih meluncurkan 10 buku setiap tahunnya, dengan judul-judul seperti The Best Advice I Ever Heard, The Empowered Woman dan Military Families.

"Ini seperti kelompok pendukung portabel. Tapi tak hanya 10 orang yang menceritakan kisah mereka untuk menolong satu sama lain, melainkan ada 101 orang," kata Newmark.

Pada 2006, lebih dari satu dekade setelah buku Chicken Soup pertama diluncurkan, muncul judul baru yang menangkap perhatian orang: The Secret.

Setelah Krisis Ekonomi 2008, kita semua masih merasa positif dan buku yang ditulis oleh eksekutif televisi Melbourne, Rhonda Byrne, menangkap semangat itu.

Inti dari buku Byrne — yang terjual 30 juta kopi — adalah hukum ketertarikan, intinya apa yang Anda inginkan akan datang.

Saat orang-orang mulai membahas tentang perlunya pajak yang lebih besar untuk golongan 1% teratas, Byrne mengatakan bahwa orang-orang ini punya kekuasaan dan kekayaan karena mereka paham soal hukum ketertarikan.

Filosofinya ini dikecam oleh para kritikus yang menyatakan bahwa tidak ada dasar ilmiah atas keyakinan tersebut dan karena dia bertahan dengan keyakinannya soal bencana alam, seperti tsunami.

Kini, 13 tahun kemudian, sepertinya 'The Secret' akan memunculkan kembali percakapan karena akan dirilis versi filmnya yang dibintangi oleh Katie Holmes.

Hak atas foto Carlos Chavez/Los Angeles Times via Getty Images
Image caption Satu buku kumpulan kisah memunculkan banyak produk lain dan sebuah kekaisaran bisnis.

Ketika terjadi resesi besar, sosiolog Daniel Nehring - yang mempelajari industri self-help - melihat bagaimana orang mulai melupakan kesuksesan material dan berfokus pada kesehatan mereka.

Menurutnya, pengalihan perhatian ini juga menjadi dasar bagi gerakan 'mindfulness' dan Marie Kondo.

"Saat masalah sosial yang besar terasa begitu susah ditangani, tata bahasa moral yang disediakan oleh para entrepreneur seperti Marie Kondo dan Rhonda Byrne menjadi sangat menarik dan mungkin terjadi. Ini kenapa menjadi luas," kata Nehring.

"Pada masa ketika situasi sosial dan politik terasa buntu, orang mungkin merasa tak ada yang berubah di skala besar. Tapi yang dilakukan Kondo dengan sangat baik adalah dia menunjukkan bahwa perubahan sederhana dan praktis yang dilakukan di hidup sehari-hari seseorang bisa punya dampak besar."

Jadi, meski lanskap politis terasa terlalu membebani di pagi hari di hari kerja, kita bisa lebih dulu merasa unggul dalam hidup dengan menumpul kaus secara teratur, membuang buku-buku lama dan mencoba untuk menguasai cara melipat seprai kasur.

Versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris bisa Anda baca di What Marie Kondo says about our new era of self-help di laman BBC Capital

Topik terkait

Berita terkait