Resep melanggengkan hubungan asmara jarak jauh dari sejumlah pasangan

pasangan, penglaju, hubungan, suami istri Hak atas foto Getty Images

Sejumlah pasangan yang sama-sama memiliki karier, memilih bermukim ribuan kilometer terpisah dari satu sama lain. Bagaimana hubungan asmara mereka tetap bertahan dan apa yang membuat hubungan mereka terus langgeng?

Sedemikian seringnya pasangan Brynne Gilmore dan David Cichon tinggal terpisah satu sama lain, mereka merasa janggal bermukim di bawah satu atap.

Bahkan sewaktu masih menetap bersama di Dublin, Irlandia—tempat mereka bertemu enam tahun lalu sebagai mahasiswa pascasarjana—riset yang mereka geluti kerap membawa mereka ke mancanegara.

Pasangan Kanada-Jerman ini masih mengganggap Dublin sebagai rumah, meskipun mereka telah bermukim terpisah di sejumlah negara. Cichon, seorang peneliti buruh yang berfokus pada upah pekerja garmen, kini sedang di Phnom Penh, Kamboja—walau kini dia bersiap kembali ke Berlin.

Adapun Gilmore, seorang peneliti kesehatan dunia, membagi waktunya antara Nairobi dan Marsabit di Kenya. Keduanya berusia awal 30-an tahun.

Mereka menganggap diri mereka sedang membangun fondasi untuk masa depan sehingga perlu pengorbanan.

"Mengapa kita sering terpisah dan mengapa kami oke terpisah begitu sering, adalah karena kami mencoba membangun karier dan menetapkan apa yang kami bisa selagi kami bisa," kata Gilmore.

Faktor yang meringankan beban adalah mereka sama-sama menyukai pekerjaan yang sedang digeluti dan memandang karier satu sama lain sebagai sesuatu yang bermakna.

Lagipula, sama-sama punya pekerjaan yang menghabiskan waktu lama di mancanegara berarti semakin sedikit peluang untuk menyimpan kekesalan terhadap pekerjaan satu sama lain.

Hak atas foto David Cichon
Image caption Brynne Gilmore dan David Cichon adalah pasangan Kanada-Jerman yang jarang bekerja di satu negara.

Pada saat bersamaan, mereka mengutamakan hubungan dan bersiap melakukan perubahan di masa depan jika ternyata jarak mengancam hubungan mereka. Ini penting bahkan sewaktu mereka masih berstatus mahasiswa.

Saat itu mereka mengetatkan anggaran untuk membeli tiket pesawat demi berjumpa setiap tiga bulan sekali. Biayanya sungguh besar. "Satu-satunya alasan kami menabung," kenang Cichon.

Meski berjauhan, bukan berarti hubungan mereka selalu indah bak drama romantis. Ada kalanya perbedaan zona waktu sangat menantang dan mengatasi jarak sungguh melelahkan. Gilmore juga harus terus berasumsi bahwa pasangannya berkorban dan tetap setia walau mereka berhubungan jarak jauh.

Namun, mereka jelas punya beragam keuntungan. Tidak hanya mereka berinvestasi pada pilihan karier, tapi mereka mengaku hubungan jarak jauh membuat setiap pertemuan diisi oleh waktu berkualitas.

"Ketika kami bersama, kami benar-benar bersama," kata Gilmore.

Pendidikan tinggi, jarak jauh

Sulit diketahui apakah hubungan asmara seperti ini sedang tren. Namun, data menunjukkan 7% pasangan Kanada yang berusia 20 tahun ke atas, serta 31% yang berusia 20-24 tahun, menyatakan menjalani hubungan dengan 'hidup terpisah satu sama lain'.

Data sensus juga memperlihatkan bahwa hampir empat juta warga Amerika dan 785.000 warga Inggris serta Wales hidup terpisah dari pasangan masing-masing.

Tidak jelas seberapa banyak dari pasangan tersebut yang terpisah karena alasan pekerjaan, bukan alasan hubungan sedang bermasalah atau karena kesehatan.

"Pasangan profesional berpendidikan yang hidup terpisah karena karier mustahil diukur dengan instrumen-instrumen demografi yang saat ini dipakai," jelas Danielle Lindemann, sosiolog dari Universitas Lehigh di AS.

"Tidak ada orang yang bisa mengatakan secara pasti bahwa gaya hidup ini lebih relevan ketimbang di masa lalu. Namun, siapapun yang mengkaji topik ini sepakat bahwa kemungkinan begitu."

Ada sejumlah bukti yang mengindikasikan hubungan pernikahan jarak jauh sedang meningkat, setidaknya di AS.

Bukti lainnya mengisyaratkan bahwa kencan jarak jauh sedang meningkat, sebagian karena dipicu oleh kepopuleran aplikasi kencan serta media sosial.

Namun, data mengenai pasangan sesama jenis yang hidup terpisah bahkan lebih sulit dicari buktinya karena datanya sangat kurang.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sebuah riset mengenai mahasiswa-mahasiswa S3 di AS menunjukkan pasangan berkarier amat mungkin memilih hidup terpisah.

Sebuah riset mengenai mahasiswa-mahasiswa S3 di AS menunjukkan pasangan berkarier amat mungkin memilih hidup terpisah, alih-alih memutus hubungan atau mengambil pekerjaan yang bukan pilihan pertama. Faktanya, berpendidikan tinggi sejatinya bisa menyempitkan pilihan.

Paradoks utama dalam buku karya Lindemann berjudul Commuter Spouses: New Families in a Changing World adalah menginvestasikan banyak waktu dan upaya dalam pendidikan serta keahlian berarti hal-hal yang bisa Anda lakukan dengan semua pelatihan itu sungguh sangat terbatas.

Contoh yang kerap diberikan Lindemann sebagai berikut: "Jika Anda seorang profesor yang mengkaji cangkir-cangkir teh Rusia abad ke-18, Anda akan bermukim di tempat yang memberi pekerjaan soal cangkir teh Rusia."

Seiring dengan meningkatnya spesialisasi dalam bursa kerja berarti orang berpendidikan tinggi harus bepergian lebih jauh untuk mendapatkan bidang pekerjaan yang spesifik. Pada saat bersamaan, Lindemann merujuk "individualisme yang diekpresikan secara ekstrem" dalam beberapa kebudayaan membuat jati diri seseorang sangat berpadu dengan kerja mereka.

Bagaimana mempertahankan hubungan

Tentu saja memilih hidup terpisah karena bidang pekerjaan yang spesifik terkait dengan keistimewaan.

Mereka yang membuat keputusan hidup terpisah berdasarkan kebutuhan finansial mengalami stres lebih berat ketimbang mereka yang menempuh keputusan tersebut demi karier, sebut Chei Billedo, periset bidang komunikasi dari Erasmus University Rotterdam dan Vrije Universiteit Amsterdam.

Keputusan semacam ini bisa berimbas secara negatif pada kemampuan merawat hubungan, seperti tidak bisa kembali ke kampung halaman atau bertemu dengan pasangan.

Contoh-contoh tertentu lebih ekstrem. Di beberapa tempat, pekerja domestik dari Filipina, negara asal Billedo, tidak diperbolehkan memiliki telepon seluler atau waktu untuk menelepon.

Namun, Billedo mengatakan, bagi pasangan yang tidak terpengaruh oleh eksploitasi buruh atau stres keuangan akut, tingkat pemutusan hubungan pada hubungan asmara jarak jauh dan pasangan yang dekat secara geografis relatif sama.

Mereka yang menjalin hubungan asmara jarak jauh sejatinya "memandang hubungan mereka lebih stabil", jelas Billedo.

Kemudian aspek-aspek tertentu yang mungkin menjadi ganjalan bagi pasangan yang dekat secara geografis justru berkontribusi positif pada pasangan jarak jauh.

Ambil contoh cemburu, yang menurut Billedo dapat menjadi hal yang membangun dalam hubungan jarak jauh, asalkan cemburunya adalah cemburu reaktif yang menanggapi ancaman aktual dalam hubungan asmara ketimbang cemburu curiga yang tidak ada buktinya.

Hal serupa juga berlaku bagi sikap pengawasan intrusif yang jelas menjadi masalah bagi setiap hubungan. Memantau media sosial secara ringan lebih berguna dalam hubungan jarak jauh.

Riset Billedo soal Facebook, bersama Peter Kerkhof dan Catrin Finkenauer, mengindikasikan "umpan balik dari jejaring sosial sesungguhnya bermakna dalam kepuasan hubungan". Dengan demikian, membentuk komunitas media sosial bagi pasangan jarak jauh dapat membantu satu sama lain melihat bahwa hubungan mereka sahih. Hal ini menggantikan fungsi kelompok teman yang bisa bertemu secara langsung. Validasi sosial berpengaruh pada persepsi pasangan.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Hari kasih sayang: Menyatukan cinta pasangan tuli.

Karakter pribadi tertentu juga membantu. Cichon dan Gilmore mengaku mereka dapat beradaptasi, mampu menjalin pertemanan di tempat baru, dan tidak masalah jika satu di antara mereka memilih waktu sendirian.

Inilah jenis karakter, yang dalam penelitian Lindemann, umum dijumpai pada pasangan jarak jauh dengan kemandirian, kemapanan, dan tidak bermasalah tanpa anak.

Faktanya, menjadi orang tua adalah faktor tunggal yang mempengaruhi bagaimana responden heteroseksual memandang hubungan mereka.

Meskipun perempuan dalam hubungan asmara jarak jauh kerap mengaku merasa lebih bebas dari ekspektasi gender dalam berumah tangga, menjadi orang tua membuat hubungan lebih tidak setara dalam konteks siapa pemikul tanggung jawab bersama terbesar.

Lindemann, yang pernah hidup terpisah dari suaminya, tidak mau hidup terpisah lagi setelah mereka punya anak.

Resep untuk hubungan jarak jauh

Pengalaman-pengalaman ini menunjukkan beberapa kesamaan dalam hubungan jarak jauh yang berhasil.

Komunikasi adalah faktor yang terus diulang. Metode untuk mengompensasi jarak, apakah itu menggunakan Facebook atau menunjukkan sedang berada di mana melalui Whatsapp, juga penting.

Mengurangi disparitas gender—faktor yang lebih kecil pada hubungan sesama jenis—jelas membantu.

Membantu pula untuk memiliki ekspektasi realistis, alih-alih membandingkan hubungan dengan mereka yang dekat secara geografis lalu merasa frustrasi tidak bisa seperti itu.

Ini sejalan dengan riset yang menunjukkan bahwa meskipun jarak atau ketiadaan fisik pasangan tidak secara otomatis mencederai hubungan, sifat dalam hubungan dan individu-individu yang terlibat bisa memprediksi kualitas hubungan.

Lindemann juga menyebutkan bahwa kemampuan beradaptasi yang lazim dalam hubungan jarak jauh mungkin perlu dperluas ke cara kita berpikir tentang pekerjaan. Harapan dia adalah "budaya penddikan bisa berubah, bahwa kita bisa menjadikan orang profesional melihat bagaimana kemampuan yang kita tanamkan…dapat diaplikasikan melampaui kategori pekerjaan yang sempit".

Mengingat betapa tidak pastinya bagaimana dunia kerja di masa depan, ini adalah usulan berguna untuk kita semua, tidak hanya untuk mereka yang ingin berpasangan secara jarak jauh.

Versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris bisa Anda baca di Are leaving apart relationship increasing di laman BBC Capital

Topik terkait

Berita terkait