Haruskah perempuan mematuhi aturan pakaian di tempat kerja?

Pegawai perempuan Hak atas foto Getty Images

Bekerja sebagai guru di sebuah sekolah di Devon, Inggris, Lindsey Bauer suka berpakaian modis. Entah itu gaun tropis berwarna cerah atau kardigan berpayet, ia percaya bahwa apa ia kenakan di tempat kerja itu penting. Sangat.

Ia menjelaskan bagaimana seorang murid, yang cukup sering mendapat masalah, sempat menyapanya di koridor ketika ia mengenakan sepatu berwarna hijau zamrud yang berkilauan.

"Bu guru, saya benar-benar menyukai sepatu Anda, dari mana Ibu mendapatkannya? " ia bertanya.

"Kami pun mulai mengobrol dan... setiap kali kita bertemu setelah itu, saya selalu mengobrol dengannya dan dia akan bercerita, 'Bu guru, saya sedang melakukan ini dan itu dan saya mendapat nilai yang sangat baik dalam bahasa Inggris sekarang'."

Bauer berkata bahwa berdiri di depan kelas yang dipenuhi siswa berusia 15 dan 16 tahunan adalah pengalaman yang mengintimidasi. "Kamu harus membangun hubungan profesional dengan semua siswa," ujarnya , "dan salah satu cara paling mudah untuk menjalin ikatan itu...ialah melalui pakaian Anda."

"Sebagai seorang perempuan, jangan membiarkan diri Anda tidak terlihat," ia berkata. "Jadilah berani. Kenakan warna-warna mencolok... pokoknya kenakan sesuatu yang sedikit di luar batas dan pede saja."

Selera mode Lindsey Bauer tentu saja sangat berbeda dari guru-guru lama. Tetapi seperti dijelaskan Helen McCarthy, dosen sejarah modern awal di Universitas Cambridge, evolusi pakaian kerja wanita sangatlah panjang.

Sejak penghujung dekade pertama tahun 1900-an - ketika perempuan mulai diizinkan untuk menyimpan penghasilan mereka sendiri, setidaknya di Inggris - seberapa besar kuasa perempuan atas pakaian yang mereka kenakan tergantung pada jenis pekerjaan yang ia lakukan.

Dalam jasa domestik, mata pencaharian yang paling umum pada saat itu, perempuan tidak punya banyak pilihan atas apa yang mereka kenakan. Itu tergantung apapun yang ditentukan bos untuk peran itu.

Namun, para buruh pabrik memiliki sedikit ruang untuk mengekspresikan diri mereka, McCarthy menjelaskan.

Di balik celemek atau baju terusan, mereka mungkin mengenakan blus berpola atau stocking warna-warni, atau mereka mungkin menata rambut mereka dengan cara tertentu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Perempuan yang bekerja sebagai buruh pabrik di tahun '50-an mengenakan kemeja warna-warni di bawah celemek kerja mereka.

"Yang menarik adalah bahwa banyak pekerjaan yang dilakukan perempuan [selama periode ini] bayarannya sangat rendah," katanya.

"Pekerjaan-pekerjaan ini sangat rutin, sangat repetitif. Tetapi perempuan menemukan cara untuk mengekspresikan kepribadian mereka, untuk menegaskan diri mereka sendiri, meskipun posisi mereka dalam angkatan kerja adalah subordinat."

Misalnya, para perempuan yang membuat perbekalan (senjata, amunisi, dan peralatan militer) selama Perang Dunia Pertama diberi aturan yang sangat ketat tentang tentang apa yang mereka bisa kenakan.

"Tapi Anda masih menemukan mereka mengenakan bandana warna-warni mengikat sepatu bot mereka dengan pita berwarna," tuturnya.

"Jadi, setiap ada peluang untuk menegaskan kepribadian mereka dan melawan kecenderungan homogen dari industri kapitalis, mereka akan memanfaatkannya."

Setelah PD I, busana perempuan, secara umum, menjadi lebih santai tahun 1920-an: garis pinggang turun dan garis kemeja naik, tetapi banyak pekerjaan perempuan pada saat itu membutuhkan seragam; misalnya, perawat, pelayan. Dan meskipun itu menyederhanakan pilihan pakaian kerja, dalam satu hal, ia juga memberi beban simbolis yang berat.

"Wanita berseragam membawa muatan psikologis yang tinggi dalam sejarah sosial Inggris," kata McCarthy.

"Seragam dikaitkan dengan militer, dan karena itu, ada banyak kecemasan tentang menempatkan perempuan dalam seragam selama dua Perang Dunia."

Tampaknya penting untuk mempertahankan perbedaan gender dan feminitas di tengah-tengah pergolakan sosial yang diakibatkan oleh perang.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ada yang berpendapat bahwa perempuan masih menghadapi penilaian yang tidak adil di tempat kerja karena pakaian mereka, tapi ada juga yang berpendapat bahwa penilaian itu memberi perempuan kebebasan untuk berekspresi.

Tentu saja, tidak adanya kode seragam yang eksplisit meniadakan fakta bahwa ada aturan tidak resmi yang mengatur apa yang boleh dikenakan perempuan.

Selama tahun 1960-an, ketika para perempuan profesional mulai ingin kembali ke tempat kerja setelah membesarkan anak, organisasi perempuan mengangkat persoalan tentang waktu dan uang yang para wanita ini harus habiskan untuk penampilan mereka.

Kebutuhan untuk berinvestasi dalam pakaian serta ongkos perjalanan rutin ke salon kecantikan menjadi pertimbangan nyata dalam memutuskan apakah mereka akan kembali ke dunia kerja.

Hari ini, meskipun komitmen untuk mempercantik kuku dan memperindah gaya rambut tidak menjadi faktor yang terlalu penting dalam kemampuan perempuan untuk bekerja, penulis dan komedian Viv Groskop menunjukkan bahwa kesadaran untuk memedulikan penampilan menyoroti kontradiksi dan batasan dalam feminisme.

Di satu sisi, sebagian besar perempuan bebas untuk memakai apa pun yang mereka inginkan di tempat kerja, kata Groskop. "[Namun], hal-hal ini tidak cukup karena kita berbenturan dengan kenyataan - dan kenyataannya adalah orang akan menilai Anda [dari apa yang Anda kenakan]."

Uma Creswell, pebisnis dan wakil presiden City Women Network, adalah seorang veteran di dunia usaha, yang telah bekerja di sektor perbankan sejak pertengahan 90-an. Bekerja di lantai perdagangan dengan staf yang mayoritas pria, ia berkata bahwa Anda perlu berpakaian dengan cara tertentu atar terlihat memiliki kredibilitas.

"Pakaiannya sangat formal," katanya. "Budayanya sangat kaku. Celana panjang tidak disukai... hanya setelan jas untuk pria dan wanita, tidak ada hari berpakaian santai - itu bahkan tidak pernah dibahas... "

"Saya tidak akan bisa berbaur jika saya tidak mengikuti aturan itu, dan saya tidak akan dianggap serius."

Dengan semakin populernya cara kerja yang fleksibel dan tren start-up, dunia kerja kini jauh lebih kasual, katanya, tetapi sektor perbankan masih cukup formal.

"Perempuan masih diharapkan untuk berpakaian dengan cara tertentu, dan saya pikir itu menunjukkan fakta bahwa telah ada banyak kemajuan, tetapi masih ada standar tertentu dalam peran tertentu."

Dan kesan pertama, katanya, masih sangat berarti.

"Saya telah merekrut ratusan orang dalam karier saya dan saya harus mengakui ada bias yang tidak disadari di sana. Saya pernah melihat orang dan - dalam tiga detik pertama langsung berpikir, 'Apakah Anda benar-benar memikirkan apa yang Anda kenakan? Karena Anda sedang berusaha mendapatkan pekerjaan'."

Konsultan merek dan citra Isabel Spearman sepakat bahwa orang-orang membuat penilaian cepat berdasarkan apa yang Anda kenakan, namun ia berpikir perempuan harus memanfaatkan itu.

"Saya pikir jika Anda belajar mencintai pakaian yang Anda rasa nyaman, Anda dapat menggunakannya sebagai baju zirah," katanya.

"Tirulah seseorang di tempat kerja, seseorang yang Anda kagumi, yang gayanya Anda kagumi, yang pekerjaannya Anda inginkan, dan berdandanlah," kata Spearman.

"Anda memproyeksikan merek pribadi, dan Anda memproyeksikan sebuah citra, dan menunjukkan bahwa Anda benar-benar menginginkan pekerjaan itu."

Magdalene Abraha, seorang manajer editorial di sebuah perusahaan penerbitan, langsung memasuki dunia kerja setelah lulus dari universitas pada usia 21 tahun, dan mengakui bahwa pada awalnya ia merasakan tekanan untuk menyesuaikan diri.

"Perempuan paham bagaimana harus berpakaian. Sepatu formal dan datar - kadang-kadang sepatu hak, rok, gaun, tidak ada yang benar-benar saya sukai. "

Setelah dua pekan, ia memutuskan bahwa ia tidak cocok dengan kode berpakaian yang implisit itu dan mulai mengenakan pakaian yang nyaman - yang baginya, berarti baju lari dan celana olahraga.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sepatu hak tinggi menjadi kewajiban bagi sebagian perempuan yang bekerja di kantor.

Begitu ia mulai beralih, komentar pasif-agresif dari para rekan kerja(laki-laki)nya mulai bermunculan. "Saya ingat ketika seseorang berkomentar bahwa saya seperti mengenakan piyama tepat sebelum kami memulai pertemuan yang cukup penting, jadi itu cukup melumpuhkan."

Sekarang, pada usia 25 tahun, ia sampai pada kesimpulan bahwa "jika saya tidak nyaman dengan pakaian saya, pekerjaan saya akan terganggu, jadi tidak masuk akal bagi saya untuk tidak merasa tidak nyaman. Saya tidak tahu apakah ini generasional tetapi saya hanya berpikir itu tidak layak dikompromikan. "

Abraha mengatakan bahwa ia menggunakan gayanya yang unik sebagai "kekuatan". "Itu membuat saya lebih menonjol sehingga akan lebih berkesan jika saya tampil dengan baik."

Jika Anda tidak bekerja di kantor, Anda mungkin merasa sedikit lebih fleksibel untuk mengenakan apapun yang Anda inginkan. Namun, itu seringkali lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

Penulis dan komedian Viv Groskop mengatakan ia dapat mengenakan apa yang ia inginkan kapan saja tetapi ia kadang-kadang berharap seseorang akan mengatakan kepadanya apa yang harus ia kenakan, karena "100% kebebasan juga bisa menjadi seperti penjara."

Dalam bukunya How to Own the Room: Women and Art of Brilliant Speaking, Groskop meneliti ekspresi kekuatan dan persuasi melalui komunikasi. Tetapi dalam hal kesan yang Anda berikan melalui apa yang Anda kenakan, bentuk komunikasinya adalah non-verbal.

Pada intinya, suaranya diredam. "Ada bentrokan nyata antara feminisme dan ekspresi feminin," kata Groskop.

Helen McCarthy mengatakan dunia akademis mengambil pendekatan yang sedikit berbeda dalam hal mode.

"Anda mendapat pujian jika terlihat sedikit berantakan karena akademisi seharusnya sibuk dengan pikiran," katanya. "Jika Anda menghabiskan terlalu banyak waktu untuk perawatan atau terlihat sedikit rapi, itu sebenarnya bisa jadi sedikit mencurigakan."

"Ada istilah yang pernah saya dengar di dunia akademis yang disebut 'glamourdemic' - akademik yang glamor," katanya. "Ada perdebatan seputar apakah keglamoran mengesankan dan memberdayakan dan membuat Anda menonjol, atau apakah itu meragukan kredibilitas Anda."

Tidak semua orang memandang apa yang mereka kenakan untuk bekerja sangat bernuansa dan simbolis, kata McCarthy. "Saya rasa kita harus ingat bahwa sejumlah besar perempuan bekerja dalam profesi yang memang bukan tempatnya untuk ekspresi pribadi atau untuk menegaskan kepribadian mereka," katanya.

"Sebenarnya, perempuan lebih sering bekerja paruh waktu, pekerjaan kasar dengan bayaran rendah sering melibatkan banyak kerja fisik dan apa yang mereka kenakan bukanlah persoalan yang paling penting."

Namun, tidak ada keraguan bahwa, sesepele apapun kelihatannya, politik mode dan kebebasan telah berkecamuk di banyak perjuangan feminis.

"Anda dapat berargumen bahwa waktu yang kita habiskan untuk memikirkan penampilan kita dan menghabiskan uang kita untuk membeli pakaian adalah waktu dan uang yang dapat dihabiskan untuk memerangi patriarki," kata McCarthy.

"Tapi di sisi lain, jika kita melawan patriarki, pakaian bisa menjadi baju zirah kita."

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris artikel ini, How women's workwear has evolved, di lamanBBC Capital.

Berita terkait