Mengapa Janet Jackson adalah legenda pop yang paling diremehkan?

Musik Hak atas foto Getty Images/Matt Roberts
Image caption Janet Jackson meraup beragam kesuksesan sejak awal dekade 1980-an.

Rencana penampilan Janet Jackson di Festival Glastonbury tahun 2019 telah menjadi perbincangan publik.

Saat Janet mengunggah poster festival musik Inggris yang mendunia itu Maret lalu, para penggemar menyadari bahwa dia telah mengedit poster aslinya untuk meroketkan namanya dari posisi kelima ke urutan satu di daftar bintang utama, melampaui The Killers, The Cure, Stormzy, dan Kylie Minogue yang manggung Minggu siang, di jadwal khusus musisi legendaris.

Itu adalah langkah membesarkan nama yang berani sekaligus kocak dari sang bintang musik asal Amerika Serikat, yang kembali disorot musim panas ini, setelah memulai pertunjukan Las Vegas-nya pekan lalu yang dianggap sebagai momen kembalinya Janet menuju puncak.

Namun banyak penggemar menilai beragam penilaian itu berlebihan. Sebab, meskipun kariernya bersinar dengan mengantongi 10 lagu hit di seantero AS, penjualan 100 juta keping album, dan jejak di Hall of Fame musisi rock and roll, Janet tetap menjadi ikon musik pop yang anehnya diremehkan.

Karier Janet yang ikonik menjadi sangat mengesankan karena ia harus keluar dari bayang-bayang keberhasilan kakak kandungnya. Ketika ia menerbitkan album bertajuk namanya sendiri pada September 1982, sang kakak, Michael Jackson, baru akan meluncurkan album Thriller--album terlaku sepanjang sejarah yang dianggap fenomena budaya pop.

Dikenal sebagai Jackson Five, kelima saudara laki-lakinya itu telah meraup popularitas sejak awal dekade 1970-an. Menanggung nama besar Jackson tentu memberi Janet modal besar untuk bersaing di industri musik yang kompetitif.

Namun faktanya, itu tidak menjamin popularitasnya: baik album Janet Jackson yang tidak berkesan tahun 1982 maupun album Dream Street yang sedikit lebih berkualitas tahun 1984, yang salah satunya berisi duet dengan legenda pop Inggris, Cliff Richard, mencatatkan penjualan yang kurang baik.

Perpaduan musik pop kontemporer yang tidak berkarakter dalam album-album itu, tak menyiratkan pertanda bahwa pada pertengahan tahun 1990-an Janet kemudian menjadi musisi dengan bayaran tertinggi sepanjang sejarah.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Janet Jackson dianggap sebagai pelopor musikus feminis di awal 1980-an.

Terobosan kreatifitas dan sisi komersil Janet muncul tahun 1986, ketika ia bekerja sama dengan produser Jimmy Jam dan Terry Lewis untuk membuat Control, album sukses bernuansa pop serta R&B yang memuluskan aliran jack swing pada akhir 1980-an.

Ketika ia menyanyikan lirik, "Kali ini, saya akan melakukannya dengan cara saya sendiri," Janet benar-benar serius. Sentuhan lincah tapi berbobot dari Jam dan Lewis memberi ruang besar bagi Janet untuk memunculkan persona pop yang kuat - perempuan muda kuat nan percaya diri yang tak ingin membuang-buang waktu untuk 'lelaki muda nakal'.

Lalu, melalui album dashyat bertajuk Rhythm Nation 1814, Janet menjadi musisi yang lebih terus terang dan politis.

"Satukan suara untuk memprotes ketidakadilan sosial," demikian salah satu penggalan liriknya. "Generasi yang penuh keberanian, bergabunglah denganku," ujarnya.

"Jauh sebelum Beyonce menampilkan kata 'feminis' di belakangnya saat tampil di panggung, Janet menelisik betapa menghadapi publik sebagai seorang perempuan kulit hitam merupakan sesuatu yang begitu politis."

Penilaian itu dikatakan Kirsty Fairclough dari School of Arts and Media di University of Salford.

"Melalui lagu, musik dan citranya menyatu menghadapi rasisme dan seksisme, tentang upaya tumbuh dewasa di tengah masyarakat yang dikuasai dua kelompok tadi," kata Fairclough.

"Dalam wawanara tahun 1987, tak lama setelah peluncuran album Control. Janet menanggapi pertanyaan tentang jati dirinya sebagai seorang feminis.

"Janet berkata, 'Seorang perempuan yang mengambil kuasa atas kehidupan dan kariernya. Itulah saya yang anggap feminis.'"

Hak atas foto Getty Images
Image caption Karier musik Janet kerap dituding tak lepas dari nama besar keluarga Jackson.

Dua album itu berisi beberapa tembang abadi Janet, termasuk What Have You Done for Me Lately?, Escapade, dan Nasty. Melalui lagu itu ia menyatakan teguran ikonik terhadap para laki-laki kurang ajar.

"Bukan, nama depanku bukan 'Sayang'. Namaku Janet, Nona Jackson kalau Anda nakal."

Lagu-lagu itu juga mengerek nama Janet menjadi salah satu pencipta video musik paling dinamis sepanjang sejarah.

Tembang When I Think of You adalah penghormatan menyenangkan untuk film-film musikal Hollywood, yang disutradarai Julien Temple, sutradara film musikal Absolute Beginners .

Adapun video musik untuk lagu The Pleasure Principle menampilkan tarian luar biasa Janet yang diakhiri adegan kursi yang ikonik, yang diikuti oleh Britney Spears tahun 2000, dalam klip video musiknya, Stronger.

Pembuka jalan yang bebas secara seksual

Melalui album selanjutnya, seperti Janet (1993) dan The Velvet Rope (1996), Janet merangkul seksualitasnya dengan cara yang tetap dianggap sebagai terobosan saat ini.

Lagunya di tahun 1993, If, merupakan fantasi seksual yang kuat. Video musik lagu itu dipuji karena memotret hubungan dua manusia beda ras.

"Ada beberapa lagu di album The Velvet Rope yang akan membuat Beyonce dalam lagunya (yang sangat seksual), Partition, tersipu malu," kata penyiar BBC Radio 1, Clara Amfo.

"Kemerdekaan seksual Janet yang tidak malu-malu, terutama sebagai perempuan berkulit hitam, masih menjadi hal tabu hingga saat ini," ujar Amfo.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Insiden kostum saat tampil bersama Justin Timberlake tahun 2004 dinilai meredupkan karier musik Janet.

Pada waktu yang sama, dari segi musik, Janet mulai beralih ke R&B yang seduktif. Dengarkanlah lagunya di era 1990-an seperti That's the Way Love Goes dan Got 'til It's Gone yang dinyanyikannya bersama Joni Mitchell.

Meski begitu, Janet tidak pernah benar-benar mencampakkan lantai dansa. Dua lagu hit pada masa pertengahan kariernya adalah Together Again (1997) dan All for You (2001).

Together Again adalah lagu beraliran house-pop yang terinspirasi dari kawan Janet yang wafat akibat HIV Aids. Lagu ini mengukuhkan Janet sebagai ikon LGBT.

Adapun All for You merupakan lagu neo-disko yang sangat menarik. Selama tujuh pekan lagu ini memuncaki Billboard Hot 100.

Janet terus berkolaborasi secara eksklusif dengan Jam dan Lewis hingga albumnya di tahun 2004, Damita Jo. Sejumlah produser juga turut berkontribusi pada album itu, termasuk Kanye West.

Amfo berkata, konsistensi Janet dalam berkarya bersama produser yang sama memungkinkannya mengasah ciri khas 'suara'nya. Namun Damita Jo menjadi album pertama Janet yang tidak memuaskan secara komersial sejak 1984. Album itu gagal memuncaki Billboard 200 atau bahkan sekedar menelurkan lagu hits.

Sekisme Super Bowl

Album Damita Jo diluncurkan dua bulan setelah salah satu momen terburuk dalam kariernya.

Kejadian yang disebut 'malfungsi pakaian' itu terjadi saat penampilannya bersama Justin Timberlake dalam Halftime Show ajang Super Bowl tahun 2004. Saat itu payudara Janet terlihat sekilas di televisi.

Dua musikus itu belakangan menyebut ide koreografi itu mulanya sebatas Timberlake merobek bustier kulit Janet untuk memperlihatkan bra renda berwarna merah rekannya itu.

Akan tetapi, pakaian yang gagal berfungsi malah menyembulkan payudara Janet.

Insiden itu menyebabkan kehebohan global. Michael Powell, orang nomor satu di badan pengatur media massa AS, Komisi Komunikasi Federal, berkata pada Senat bahwa itu adalah momen tercela dalam jam tayang utama televisi.

Walau nama Janet menjadi sosok yang paling dicari di internet tahun itu, reputasinya pudar dalam sekejap. Walt Disney World bahkan menyingkirkan patung Mickey Mouse yang mengenakan pakaian khas Janet dalam lagu Rhythm Nation.

Tahun 2018, sebuah laporan menduga bahwa setelah kejadian itu, Les Moonves, direktur sekaligus CEO televisi CBS yang menayangkan penampilan itu, dituduh terkait dengan upaya menghancurkan karier Janet.

Moonves disebut melarang tayangan apapun terkait Janet di seluruh jaringan televisi Viacom, termasuk MTV.

Moonves yang mundur dari jaringan televisi itu pada September 2018 akibat dugaan kasus kekerasan seksual, disebut marah karena ia yakin insiden itu adalah upaya yang dilakukan secara sengaja untuk memicu kontroversi bahwa Janet tidak tampak cukup menyesal usai kejadian tersebut.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Penampilan teranyar Janet di pertunjukkan Las Vegas-nya, Metamorphosis, dianggap menjadi upayanya untuk kembali ke puncak karier.

Apapun kebenaran di balik dugaan itu, tidak ada yang ragu bahwa insiden itu mempengaruhi karier Janet, tak seperti Timberlake yang mampu menghindar dari efek buruknya.

"Walau puting payudaranya hanya terlihat sekitar setengah detik, insiden itu memunculkan pandangan buruk lawas tentang seksualitas perempuan berkulit hitam," kata Fairclough.

"Ini tentang pandangan bahwa perempuan kulit hitam 'berbahaya' dan sosok yang tidak rasional secara 'seksual' yang mesti dikontrol."

"Karier Janet tidak pernah membaik setelah kejadian tersebut," ujar Fairclough.

Kebangkitan Janet

Namun dalam beberapa tahun terakhir, Janet tengah menikmati kebangkitan kariernya. Albumnya tahun 2015, Unbreakable, berada di puncak Billboard 200 saat peluncuran perdana. Tur musik Janet juga meraup banyak perhatian.

"Ketika (musikus handal Perancis) Christine and the Queens tampil dalam satu sesi acara radioku yang bertajuk Your Song (di mana bintang tamu memilih lagu yang mereka anggap spesial), Christine memilih tembang milik Janet, The Pleasure Principle," kata Amfo.

"Dan Christine begitu gembira saat membicarakan lagu tersebut."

"Janet telah dan terus menjadi rujukan banyak seniman: Christine, Ciara, rekan penampil di Glastonbury seperti Janelle Monáe, MNEK, Beyoncé, dan yang lainnya," ujar Amfo.

Tentu saja, kata musikus sekaligus produser MNEK kepada BBC Culture, "penulisan lagu dan penampilan Janet selalu luar biasa modern. Saya selalu kagum pada kecakapannya di atas panggung dan bagaimana ia mampu membalut lirik dengan suaranya secara lembut."

"Beberapa orang menyebut suaranya terlalu lembut atau bahkan ia tak mampu bernyanyi. Tapi itu tentu saja tidak benar. Ia punya suara yang indah," ujar MNEK.

Hak atas foto Getty Images/Joseph Okpako
Image caption Janet tampil di festival Glastonbury akhir Juni lalu.

MNEK juga memuji Janet yang "sangat menekankan pentingnya produksi album kepada khalayak ramai - yang pemberitaannya kemudian tertutupi karena ia adalah 'anak terkecil keluarga Jackson', tapi bakatnya adalah miliknya, di luar statusnya sebagai seorang Jackson.

Amfo bahkan memberi penilaian lebih. Ia menyebut warisan karier Janet adalah insipirasinya bagi orang lain untuk meraih kemandirian dari keluarga yang bersejarah panjang.

Sayangnya, sejarah keluarga Jackson diperkirakan akan selalu membayangi pencapaian individual Janet.

Kristy Fairclough berkata, rentetan dugaan kekerasan seksual oleh Michael Jackson dalam film dokumenter Leaving Neverland yang dirilis tahun ini, mau tidak mau mempengaruhi pandangan publik terhadap Janet.

Penampilan terbaru Janet di Las Vegas, Janet Jackson: Metamorphosis, dimulai dengan lagu Empty yang diubah dari versi asli pada album The Velvet Rope.

Diluncurkan 22 tahun lalu, lirik tembang itu seolah menebak pandangan masyarakat terhadap hubungan personal melalui internet.

"Apakah ini cara baru untuk mencintai? Tidak pernah bertatap muka, apakah itu cukup?" kata Janet.

Penampilan kembali Janet melalui lagu ini merefleksikan bagaimana ia mampu menjaga peninggalan karier musiknya secara cerdas. Ajang Glastonbury akhir Juni ini memberinya peluang untuk mengingatkan kita bahwa Janet adalah salah satu penampil paling menawan dan visioner di generasinya.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dalam judul Why Janet Jackson is pop's most underrated legenddiBBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait