Kisah polemik pekerja migran dan pedang bermata dua bernama 'gig economy'

Ekonomi Hak atas foto AFP/JOHN VIZCAINO
Image caption Seiring kebutuhan tenaga kerja di perusahaan rintisan berbasis teknologi, persoalan imigrasi dan upah perkerja lokal mencuat di Kolombia.

Inikah perekonomian yang manjur mengembangbiakkan unicorn?

Jusmely Vasquez mengecek ponsel pintarnya. Dia memiliki 10 menit untuk wawancara singkat, sebelum pekerjaan pesan-antar berikutnya.

Vasquez adalah kurir sepeda di Rappi, sebuah aplikasi ekspedisi yang menggemparkan Kolombia.

Vasquez, mekanik sekaligus musikus berusia 24 tahun yang pindah ke Kolombia dua tahun lalu, bertemu saya dengan tas punggung khusus yang diproduksi Rappi.

Sweter yang kerap dikenakan Vasquez, yang memuat tulisan 'Made in Venezuela, bukan bagian dari seragamnya sebagai kurir Rappi. Di ibu kota Kolombia, Bogota, sebagian besar karyawan Rappi diperkirakan merupakan warga negara Venezuela yang bermigrasi untuk menghindari kelaparan dan kemiskinan.

Pada 2018, Rappi mencapai status unicorn alias memiliki nilai valuasi leih dari US$1 miliar. Titel itu adalah pencapaian besar bagi perusahaan yang didirikan tiga warga Kolombia tahun 2015 tersebut.

Momentum naik daun perusahaan ini bertepatan dengan kejatuhan Venezuela, tetangga Kolombia di sisi timur. Ketidakpuasan politik yang berakar dari hiperinflasi, pemotongan daya listrik, hingga kelangkaan makanan memaksa warga negara itu meninggalkan kampung halaman.

Bagi banyak pelarian dari Venezuela itu, Rappi telah menjelma menjadi penyelamat hidup karena menyediakan pekerjaan yang banyak diidamkan.

Namun, para pekerja lokal di Kolombia berasumsi bahwa keberadaan tenaga kerja asing justru membuat standar upah menurun. Sementara sejumlah pakar terus mencari tahu apakah kesuksesan Rappi didorong krisis Venezuela.

Angkatan kerja baru

Rappi mulai bisnis mereka dengan menjalankan jasa pesan-antar makanan. Namun setelahnya, mereka berubah menjadi aplikasi super dengan menawarkan berbagai jasa lain.

Rappi menawarkan jasa pembelian makanan dan obat (Instacart), belanja di restoran (Uber Eats dan Deliveroo), penarikan uang tunai serta pengiriman uang via ponsel (Venmo).

Aplikasi ini juga menjadi cara bagi para pelanggan untuk menuntaskan ragam pekerjaan: karyawan Rappi dapat mengirim paket bahkan membelikan Anda pakaian (TaskRabbit).

Enam setalah setelah didirikan, Rappi berekspansi ke enam negara di Amerika Selatan. Mereka mengklaim bekerja sama dengan 100 ribu kurir.

Rappi mendapat titel unicorn tahun 2018, usai investasi senilai US$1 miliar dari lembaga perbankan Jepang, SoftBank, resmi mengucur ke kas mereka.

Hak atas foto Luiza Bandeira
Image caption Jusmely Vasquez adalah satu dari sejumlah kurir asal Venezuela yang bekerja di Rappi.

Rappi enggan membuka data tentang jumlah warga Venezuela yang bekerja di perusahaan mereka. Mereka mengklaim tidak ingin memunculkan sentimen anti-pekerja migran di kawasan tersebut.

Namun mereka menyatakan bahwa 30% kurir mereka adalah migran yang berasal dari berbagai negara Amerika Latin.

Meski begitu, pakar ekonomi, akademisi, lembaga swadaya di bidang migrasi serta belasan kurir Rappi yang diwawancarai BBC Capotal yakin bahwa mayoritas pekerja perusahaan itu di Bogota dan kota di negara lain seperti Argentina, merupakan warga Venezuela.

Keterangan itu memperkuat premis bahwa Rappi secara tidak langsung meraup keuntungan dari krisis yang menyebabkan 1,3 juta warga Venezuela hijrah ke Kolombia. Bank Dunia menyebut para imigran yang membutuhkan pekerjaan itu menyebabkan upah di Kolombia jatuh.

Rappi membantah kajian tersebut. "Sama sekali tidak benar. Kami sangat bangga mempekerjakan orang Venezuela, tapi tetap akan berada di posisi ini tanpa mereka," kata salah satu pendiri Rappi, Simon Borrero.

"Kami tidak berencana mempekerjakan mereka karena upah murah," tuturnya.

Bagaimanapun, beberapa pakar menilai krisis Venezuela turut mendorong perkembangan pesat Rappi. Secara global, imigran menjadi bagian besar dari model ekonomi berbasis tenaga kontrak.

Namun dalam konteks Kolombia, ada kekuatan yang secara tiba-tiba mengubah pasar tenaga kerja.

"Tidak benar mereka membayar pekerja Venezuela lebih rendah ketimbang karyawan Kolombia atau mereka mengurangi biaya kirim setelah kedatangan para imigran," kata Cristobal Perdomo, pendiri Jaguar Venture, firma modal ventura yang menganalisa bisnis Rappi tahun 2016.

"Yang saya yakin terjadi, jika mereka membayar 50 peso per pengantaran setahun atau dua tahun lalu, mereka dapat tetap pada harga itu dan terus mempekerjakan karyawan asal Venezuela," ujar Perdomo.

Di sisi lain, Simon Borrero mengkonfirmasih bahwa ongkos jasa pengiriman perusahaannya tidak naik sejak tahun 2018. Dia menyebut perubahan harga tak dibutuhkan karena Rappi memperbesar basis pelanggan mereka.

Artinya, kata Borrero, setiap kurir mengangkut lebih banyak barang kiriman dan ada pendapatan yang lebih besar. Ia berkata, pengiriman per kurir rata-rata meningkat 11%.

Juan Carlos GuataquĆ­, guru besar ekonomi di Rosario University, Kolombia, menyebut pekerja asal Venezuela memainkan peran vital.

"Jika tidak terjadi migrasi dari Venezuela, akankah warga Kolombia bekerja di Rappi? Mungkin iya. Tapi gelombang migrasi memberi Rappi akses ke pasar tenaga kerja yang lebih murah ketimbang Kolombia, karena imigran butuh pekerjaan," ujarnya.

Hak atas foto Luiza Bandeira
Image caption Rappi menyebut 30% kurir mereka merupakan imigran dari sejumlah negara Amerika Latin.

Apakah besaran upah terdampak?

Memasukkan warga Venezuela ke pasar tenaga kerja bukanlah pekerjaan mudah bagi pemerintah Kolombia yang bergulat dengan persoalan dalam negeri setelah selama beberapa dekade dikecamuk konflik sipil.

Tahun 2017, mereka menerbitkan izin kerja agar orang-orang Venezuela dapat bekerja secara sah. Terbit pula registrasi formal sehingga pekerja asing itu dapat mengakses sistem jaminan kesehatan dan pendidikan.

Kebijakan itu dianggap sebagai kemurahan hati Kolombia dan sama sekali tidak diduga dapat muncul di negara yang memiliki tingkat kemiskinan tinggi, kata Michael Lerner pejabat UNHCR, Michael Lerner.

Pasar tenaga kerja pun berusaha menyerap gelombang kedatangan pekerja Venezuela. Di Kolombia, hampir setengah pekerja tidak memiliki kontrak kerja. Akibatnya, para pendatang bakal sulit mendapatkan pekerjaan formal.

Lerner berkata, 10% dari pekerja asal Venezuela di Kolombia bekerja di atas kontrak resmi. Namun menurut kajian Universitas Rosario dan Konrad Adenauer Foundation (KAS), hanya 0,7% imigran Venezuela yang bekerja secara formal di Kolombia. Adapun, 45% pekerja asal Venezuela lainnya bergiat di sektor informal.

"Izin kerja yang sebagian besar mereka miliki hanya berlaku dua tahun, sementara pemberi kerja tidak mau mempekerjakan orang yang hanya untuk waktu singkat," kata Maria Clara Robayo, salah satu penulis dalam penelitian tersebut.

"Bahkan ketika mereka mendapat izin itu, mereka juga masih sulit membuka rekening bank atau meneken kontrak kerja," tutur Robayo.

Hak atas foto AFP/JOHN VIZCAINO
Image caption Perusahaan rintisan menjadi harapan bagi generasi muda di Kolombia untuk bekerja dan mendapat penghasilan.

Xenophobia di satu sisi, kata berperan dalam kerumitan ini, kata Guataqui dari Universitas Rosario.

Menurutnya, Kolombia tidak terbiasa menghadapi imigran. Artinya, mayoritas pemberi kerja lebih senang menerima tenaga lokal.

Salah satu dampak terbesar dari kehadiran pekerja asal Venezuela adalah penurunan upah minimum. Kajian Bank Dunia yang urung diterbitkan menemukan fakta, setiap kenaikan 1% migrasi dari Venezuela menurunkan upah kerja di Kolombia sebesar 3%.

Angka itu termasuk warga Kolombia yang pindah ke Venezuela untuk menghindari konflik sipil, namun bekalangan memutuskan kembali ke kampung halaman.

Jika yang dihitung hanya kedatangan warga asli Venezuela, penurunan upah di Kolombia dapat mencapai 5%.

"Perekonomian memberi angka yang pasti tentang pekerjaan yang tersedia, termasuk jumlah pekerja yang ada. Saat Anda menambah jumlah pekerja dan bukan pekerjaan, pemberi kerja dapat memberi upah rendah," kata ekonom Bank Dunia, German Caruso.

Dalam sebuah protes terbuka pada Oktober 2018, para mitra Rappi asal Kolombia menuduh perusahaan rintisan itu mengurangi upah per pengantaran akibat kehadiran tenaga asal Venezuela.

Para kurir itu menyebut imigran Venezuela tidak mengetahui standar upah sebelumnya. Namun akibat terdesak kebutuhan ekonomi, pendatang itu diklaim menerima pekerjaan dengan upah rendah.

Hak atas foto AFP/JOHN VIZCAINO
Image caption Isamar, imigran asal Venezuela, bekerja di Rappi setelah hijrah ke Kolombia.

Petinggi Rappi, Simon Borrero berkata, perusahaannya 'terhukum' karena perbuatan perusahaan lain penyokong gig economy yang kerap membayar tenaga kerja di bawah standar minimum.

"Orang-orang berpikir kita mencari cara untuk mendapat lebih banyak keuntungan, dengan memberi upah rendah kepada para kurir kami.

"Tapi kami memiliki daftar tunggu, kami tidak harus membayar lebih tinggi kepada mereka. Kami ingin menjadi perusahaan yang memberi peluang bagi masyarakat Amerika Latin. Kami ingin ikut mendorong benua ini terus berkembang," kata Borrero.

Borrero mengklaim, kurir Rappi rata-rata dibayar 2,5 kali lebih besar ketimbang upah minimum di Amerika Latin. Di Kolombia, gaji bulanan berkisar Rp3,6 juta.

Rappi menyebut besar upah tergantung pada jarak, jenis jasa pengantaran, dan kategori hari. Di Kolombia, seorang kurir mendapatkan Rp13-17 ribu per pengantaran makanan. Upah itu bisa melonjak sampai Rp55 ribu untuk pesanan yang rumit.

Carlos Esteban, kurir asal Venezuela yang tiba di Bogota tujuh bulan lalu, mengaku mendapat sekitar Rp4,1 juta perbulan, untuk sembilan jam kerja per hari dan enam hari sepekan. Angka itu lebih besar ketimbang upah minimum, tapi lebih sedikit dari yang diestimasi Borrero.

Kurir baru biasanya mendapat penilaian rendah dari pelanggan. Konsekuensinya, aplikasi memberi mereka lebih sedikit pesanan.

Margen Albornoz, kuris asal Venezuela lainnya, menyebut jumlah pekerja yang banyak membuat mereka menerima lebih sedikit pesanan. Namun dia bisa menerima gaji yang lebih besar di Rappi daripada perusahaan lain di Kolombia.

Kawan Albornoz asal Kolombia, Esteban Girardo, lebih terang-terangan. "Ada begitu banyak orang Venezuela di Rappi sehingga tidak mungkin kami menimba penghasilan dari tempat itu lagi," tuturnya.

Girardo yang berusia 18 tahun telah menunggu satu jam untuk pesanan berikutnya. Ia berkata, sebelumnya ia bisa meraup Rp140 ribu dalam enam jam. Saat nasib buruk menimpanya, ia meraih sekitar Rp30 ribu, jauh dari upah minimum.

'Hal positif'

Di seluruh dunia, imigran meraih keuntungan dari perekonomian yang berbasis tenaga kerja kontrak. Tapi para pakar menyebut perusahaan rintisan seperti Uber dan Lyft dapat menjadi pedang bermata dua.

"Di satu sisi, gig economy begitu fantastis bagi imigran karena ini memungkinkan mereka datang ke suatu negara dan bekerja keesokan harinya tanpa menghabiskan waktu untuk mencari lowongan," kata Kirsten Schnbruch dari International Inequalities Institute di London School of Economics.

Pada sisi lainnya, ada kecemasan tentang betapa rentannya para pekerja dalam sistem ekonomi ini: jam kerja panjang, tidak ada jaminan kerja serta tak terhubung langsung dengan jaminan sosial.

Hak atas foto Luiza Bandiera
Image caption Setengah dari angkatan kerja Kolombia bekerja tanpa kontrak kerja resmi.

Rappi mnyebut kurir mereka sebagai penyedia jasa independen. Mereka menerima asuransi kecelakaan kerja, tapi tak mendapat jaminan kesehatan dan pensiun.

Rappi beralasan, kurir mereka terhubung dengan aplikasi rata-rata selama 12 jam selama satu minggu. Kebanyakan dari mereka menambah penghasilan sampingan setelah menuntaskan pekerjaan siang hari.

Platform lainnya yang menggunakan sistem gig economy, antara lain Uber, juga digunakan dengan tujuan yang sama.

Pekerjaan dalam sistem gig economy tidak menawarkan perkembangan karier. Akibatnya, imigran berada di ujung pasar tenaga kerja.

"Dengan upah rendah, tidak mungkin mereka bisa berinvestsi untuk pendidikan. Pekerjaan ini tidak berdampak pada mobilitas sosial," kata Guataqui.

Guataqui melihat Rappi sebagai program darurat ketenagakerjaan untuk imigran Venezuela di Kolombia.

Mengintegrasikan pekerja melalui sistem informal tidak mengharuskan mereka membayar pajak. Karena mereka bekerja mandiri, banyak dari mereka tidak melaporkan pendapatan mereka ke pemerintah.

Caruso, dari Bank Dunia, menyebut situasi itu dapat mempengaruhi kemampuan Kolombia menuai keuntungan dari imigrasi dalam jangka panjang.

Felipe Munoz, otoritas Kolombia yang ditugasi mengelola krisis imigran, menyebut menyampurbaur pekerja asal Venezuela adalah langkah kunci. Ia berkata, idealnya setiap orang dapat berkontribusi pada sistem jaminan sosial.

Namun Munoz mengakui tujuan itu hingga kini ma sih berupa tantangan besar.

"Kami tidak naif. Kami tahu sejumlah kawasan memiliki sektor informal yang tinggi, jadi kami melihat fenomena ini sebagai hal positif, bahwa Rappi dan perusahaan lainnya membantu pemerintah membuka lapangan pekerjaan sehingga imigran setidaknya dapat bekerja."

Artikel ini sebelumnya ditulis dalam bahasa Inggris dengan judul The gig economy is a double edged sword for migrant workersdan lebih dulu terbit diBBC Capital.

Topik terkait

Berita terkait