Jam kerja di kantor tidak fleksibel, semakin banyak perempuan yang memilih bekerja mandiri

Ibu, telepon pintar dan anak Hak atas foto Getty Images

Bekerja secara mandiri bisa jadi rentan secara finansial. Jadi mengapa lebih banyak perempuan memilih untuk meninggalkan kantor mereka dan memulai usaha sendiri?

Ketika Kirsty Holden mengajukan jam pekerjaan yang fleksibel setelah anak keduanya lahir, saat itulah "peperangannya" dimulai.

Holden menyukai pekerjaannya di departemen hukum di salah satu lembaga pemerintah terbesar di Inggris selama 13 tahun.

Namun terlepas dari masa jabatannya, permintaannya untuk mengubah jam kerjanya menjadi lebih fleksibel ditolak oleh atasannya.

Dia diminta untuk naik banding. Dan Holden menang - tetapi ketika dia kembali bekerja paruh waktu, dia merasa semuanya berubah.

"Saya tidak punya meja kerja, hal yang mengerikan," katanya.

"Saya merasa karena saya bekerja paruh waktu, saya tidak lagi berhak mendapat meja kerja. Perasaan itu tidak enak. "

Hak atas foto Science Photo Library
Image caption Antara tahun 2001 dan 2016, perempuan yang bekerja sendiri secara paruh waktu meningkat dua kali lipat di Inggris.

Bukan manajemen yang membuatnya merasa tidak disukai, katanya, tetapi lebih kepada lingkungan kerja dan tim di sekitarnya.

Pada akhirnya Holden, 32, menyadari bahwa dia mengalami diskriminasi dan intimidasi.

Dia memutuskan untuk mengundurkan diri - dan sebagai gantinya ia menjadi bagian dari tren yang sedang berkembang di kalangan perempuan, yakni memilih bekerja sendiri daripada di tempat kerja konvensional.

'Sebuah keistimewaan'

Antara tahun 2001 dan 2016, perempuan yang bekerja sendiri secara paruh waktu meningkat dua kali lipat di Inggris, naik dari 439.000 menjadi 812.000, menurut laporan tahun 2018 yang disusun Kantor Statistik Nasional.

Pada periode yang sama, jumlah perempuan yang bekerja secara mandiri selama penuh waktu meningkat dari 433.000 menjadi 732.000.

Pada kuartal terakhir tahun 2018 saja, sekitar 31.000 perempuan, banting setir untuk bekerja secara mandiri

Selain itu, satu dari tujuh perempuan pekerja mandiri di Inggris adalah perempuan yang memiliki anak, kata sebuah laporan baru-baru, dan jumlah kelompok itu, yang bekerja di bidang yang membutuhkan keterampilan tinggi naik hampir dua kali lipat sejak 2008.

Tetapi memutuskan untuk bekerja untuk diri sendiri dapat menyebabkan kondisi finansial yang rentan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Tetapi memutuskan untuk bekerja untuk diri sendiri dapat menyebabkan kondisi finansial yang rentan.

Tidak ada fasilitas kantor seperti liburan berbayar dan Anda bisa jadi kesepian.

Jadi apa yang mendorong tren ini, terlepas dari semua kelemahannya?

Para HRD profesional berpendapat, bahwa sementara lebih banyak orang menginginkan kondisi kerja yang fleksibel, perusahaan lambat untuk merangkul perubahan yang ada- meskipun diketahui membiarkan para karyawan bekerja secara fleksibel dapat memberikan keuntungan.

Lucy Adams, CEO Disruptive HR dan mantan direktur HR di BBC, menunjukkan bahwa meskipun di Inggris setiap pekerja memiliki hak untuk meminta jam kerja yang fleksibel, para bos yang memegang keputusan akhir.

"Sayangnya, kerja paruh waktu, kerja fleksibel sangat sering dipandang sebagai bekerja lebih sedikit padahal sebenarnya itu kebalikannya," katanya.

Adams menyarankan manajer yang lebih tua untuk membuka diri mereka terhadap gagasan bahwa bekerja dari rumah adalah pilihan yang kredibel dan produktif.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Meskipun di Inggris setiap pekerja memiliki hak untuk meminta jam kerja yang fleksibel, para bos yang memiliki keputusan akhir.

Ia menyoroti budaya 'presenteeism' - gagasan bahwa pekerja yang baik harus berada di kantor - yang masih berlaku di banyak tempat kerja.

"Saya kenal orang-orang yang menaruh jaket di punggung kursi dan pulang ke rumah agar terlihat seakan-akan mereka bekerja lebih keras daripada orang lain karena mereka masih berada di kantor," katanya.

Di Inggris, hak untuk meminta jam kerja yang fleksibel mulai berlaku pada tahun 2014, artinya pengusaha harus menanggapi permintaan karyawan dengan 'cara yang masuk akal'.

Tetapi jajak pendapat baru-baru ini yang disusun Trades Union Congress (TUC) menunjukkan pengusaha menolak satu dari tiga permintaan yang diajukan.

Dan ada bukti bahwa pengalaman Kirsty Holden mencerminkan masalah yang lebih luas: ketika para ibu berubah ke pola kerja yang fleksibel, mereka lebih mungkin untuk menghadapi "stigma fleksibilitas" dibanding pria dan persepsi bahwa mereka berkontribusi lebih sedikit.

Laporan oleh Komisi Persamaan dan Hak Asasi Manusia Inggris pada tahun 2016 menemukan tiga perempat perempuan yang menjadi ibu mendapat pengalaman negatif atau mungkin diskriminatif selama kehamilan, cuti hamil atau setelah mereka kembali bekerja; 20% pernah mendapat komentar negatif terkait kehamilan atau jam kerja fleksibel dari atasan atau kolega mereka; dan 11% merasa terpaksa meninggalkan pekerjaan mereka.

'Tidak dapat dipercaya'

Namun bukan hanya para ibu yang sering distigma.

"Wanita yang tidak memiliki anak juga memiliki banyak alasan mengapa mereka ingin bekerja secara fleksibel," tandas Anna Codrea-Rado, jurnalis dan presenter podcast 'Is This Working ?'.

"Mereka mungkin memiliki kondisi medis atau kesehatan mental atau sejumlah alasan lainnya. Mereka mungkin juga memiliki orang tua yang lanjut usia. Mereka mungkin menderita claustrophobia dan bepergian mungkin menjadi masalah bagi mereka. "

"Kami melihat orang-orang yang memiliki lebih dari satu pekerjaan dan orang-orang yang tidak ingin bekerja di waktu-waktu operasional kantor pada umumnya," tambah profesional SDM Adams.

"Kami juga melihat sejumlah orang muda yang ingin bekerja seperti biasa, tapi juga memiliki bisnis sampingan."

Codrea-Rado mengatakan dia ingin mendapat jatah satu hari dalam seminggu di mana dia bisa bekerja dari rumah, jauh dari kantor yang bising.

Tapi saat mengutarakan hal itu ke bosnya, permintaannya langsung ditolak.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Secara global, Finlandia adalah pemimpin dalam tren waktu pekerjaan fleksibel.

"Alasannya adalah karena jika permohonan saya diizinkan, anggota tim lainnya juga ingin bekerja dari rumah dan mereka tidak bisa dipercaya," katanya.

Bagi Adams, hubungan layaknya 'orangtua-anak' antara departemen sumber daya manusia dan para pekerja adalah bagian dari masalah itu.

"Hampir semua kebijakan dirancang untuk sekelompok kecil orang yang berpotensi berperilaku buruk ... tetapi, sayangnya, kebijakan itu diterapkan pada semua orang."

Namun beberapa perusahaan sudah berubah dan tengah berusaha menciptakan kondisi di mana orang dapat memberikan performa terbaiknya.

Apple, Dell, dan Unilever adalah contoh perusahaan papan atas yang menerapkan pendekatan yang lebih gesit.

Enam puluh persen karyawan Dell bekerja secara fleksibel di seluruh dunia, sesuatu yang menurut perusahaan itu memungkinkannya menghemat $ 39,5 juta sejak 2014 dengan mengurangi pemakaian ruang kantor.

Secara global, Finlandia adalah pemimpin dalam tren waktu pekerjaan fleksibel.

Pada tahun 2020 di Filandia sebagian besar karyawan penuh-waktu akan memiliki hak untuk memutuskan kapan dan di mana mereka bekerja setidaknya setengah dari jam kerja mereka.

Tapi, di ujung dunia lainnya, hanya 13,3% dari perusahaan Jepang memiliki kebijakan kerja jarak jauh pada Oktober 2016.

Apakah efektif untuk perempuan?

Kembali ke Inggris, Adams mengatakan pengusaha sebaiknya melihat fleksibilitas sebagai cara yang bermanfaat untuk membuat situasi kerja yang beragam, alih-alih menganggapnya sebagai "hadiah yang mereka berikan kepada orang-orang yang akan bekerja lebih sedikit".

Sampai para perusahaan berhasil melakukannya, jumlah wanita yang akan memilih keluar dari pekerjaan akan terus bertambah.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pada tahun 2020 di Filandia sebagian besar karyawan penuh-waktu akan memiliki hak untuk memutuskan kapan dan di mana mereka bekerja setidaknya setengah dari jam kerja mereka.

Kirsty Holden, yang sekarang menjadi blogger dan pendiri themoneysavingmum.com, mengatakan bekerja untuk dirinya sendiri telah mengubah hidupnya.

"Saya ada di sana untuk anak-anak saya setiap kali mereka membutuhkan saya ... saya tidak perlu meminta izin siapa pun untuk mengambil cuti. Saya tidak perlu meminta izin siapa pun untuk berlibur. "

Meski kurang aman secara finansial, ia merasa keputusan itu paling cocok untuk keadaannya.

Namun meskipun hal ini mungkin ideal untuk sebagian orang, Codrea-Roda memperhatikan kesejahteraan perempuan secara keseluruhan.

"Sangat penting untuk menyadari bahwa sejumlah perempuan siap untuk menempatkan diri mereka dalam posisi yang rentan secara finansial daripada tetap bekerja di pekerjaan konvensional karena mereka merasakan manfaat sepadan," katanya.

"Perempuan tersebut merasa pekerjaan konvensional tidak cocok untuk mereka, maka mereka harus bekerja sendiri. Meskipun itu bisa sangat memberdayakan, itu tidak berarti Anda tidak bisa merasa puas kala bekerja pada orang lain."

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris Is 'flexibility stigma' driving women out of offices? di laman BBC Worklife.

Topik terkait

Berita terkait