Kiprah perusahaan yang 75% karyawannya penyandang autisme

Ilustrasi karyawan penyandang autisme Hak atas foto David Wong/South China Morning Post Getty Images
Image caption Ilustrasi karyawan penyandang autisme

Rajesh Anandan mendirikan perusahaan bernama Ultranauts (sebelumnya bernama Ultra Testing) bersama teman sekamarnya saat kuliah di MIT dulu, Art Shectman, dengan satu tujuan: untuk membuktikan bahwa orang dengan beragam kondisi saraf dan autisme bisa menjadi sebuah keuntungan kompetitif dalam berbisnis.

"Ada banyak sekali orang dewasa dalam spektrum autistik yang berbakat dan selama ini tak dilirik karena alasan yang salah," ujar Anandan (46 tahun).

"(Mereka adalah) orang-orang yang belum diberi kesempatan yang sama untuk sukses dalam berkarier, karena perusahaan, sistem kerja, dan praktik bisnis yang tidak berpihak untuk semua orang, dan sangat merusak kesempatan bagi mereka yang memiliki kondisi otak berbeda."

Perusahaan teknologi rintisan berkualitas asal New York itu kini menjadi satu dari mulai banyaknya perusahaan yang mencari karyawan penyandang autisme.

Jika program-program rekrutmen di perusahaan seperti Microsoft dan firma keuangan EY berskala kecil dan hanya fokus untuk mendukung keberagaman karyawan di tempat kerja, Ultranauts justru merancang ulang seluruh bisnisnya dalam lingkup keragaman kondisi saraf para karyawannya.

Caranya dengan mengubah upaya rekrutmen agar secara aktif mempekerjakan orang-orang dalam spektrum autistik dan mengembangkan tata cara kerja baru untuk bisa secara efektif mengelola tim yang memiliki beragam kondisi saraf.

"Kami mulai mengubah pola kerja, dan mengubah cara perusahaan dalam merekrut, mengelola dan mengembangkan potensi karyawan," kata Anandan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Rajesh Ananda, kanan, pendiri Ultranauts, yang bertujuan untuk membuktikan betapa berharganya keragaman kondisi saraf karyawannya

Keragaman kondisi saraf belakangan menjadi fokus agenda inklusivitas lingkungan kerja, namun keberadaannya masih cukup asing di telinga. Hal itu merujuk pada lingkup keberagaman fungsi otak manusia yang dapat diasosiasikan dengan kondisi seperti disleksia, autisme dan ADHD (gangguan pemusatan perhatian).

Penelitian lembaga asal Inggris, National Autistic Society (NAS), menunjukkan bahwa jumlah pegawai yang menyandang autisme di Inggris masih sangat rendah. Dari survei terhadap 2.000 penyandang autisme dewasa, hanya 16% yang bekerja penuh-waktu, padahal 77% di antara mereka menyatakan ingin bekerja.

Rintangan bagi para penyandang autisme dalam dunia kerja bisa jadi masih cukup besar, dan Richmal Maybank, manajer hubungan kerja di NAS, mengatakan bahwa banyak faktor yang menjadi penyebabnya.

"Persyaratan kerja seringkali memiliki daftar perilaku yang harus dipenuhi, dan bisa jadi cukup umum," ujarnya. "Mereka mencari 'pekerja tim' dan 'pegawai dengan keahlian komunikasi yang sangat baik' namun tidak mencantumkan informasi terperinci lainnya."

Istilah-istilah seperti itu - atau pertanyaan dalam wawancara kerja seperti 'di mana Anda melihat diri Anda lima tahun dari sekarang' - bisa jadi terlalu umum bagi para penyandang autisme, karena banyak di antara mereka yang khususnya menganggap pertanyaan tidak rinci sulit untuk dipahami.

Selain itu, mereka juga dapat merasa tidak nyaman untuk mengungkap disabilitas yang mereka miliki atau 'tertantang' dengan tata ruang kantor yang terbuka, di mana mereka mungkin merasa harus bersosialisasi atau justru terpaksa mendengar banyak bebunyian yang berada dalam batas tidak normal bagi mereka.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pengunjuk rasa di New York pada Januari lalu ikut serta dalam Unjuk Rasa bagi Perempuan Penyandang Disabilitas

Lima tahun berselang, 75% pegawai Ultranauts berada dalam spektrum autistik - dan salah satu alasannya adalah pendekatan inovatif mereka dalam proses perekrutan pegawai.

Di perusahaan-perusahaan lain, penilaian kandidat pegawai seringkali berfokus pada kompetensi komunikasi, yang berarti tidak mencakup kelompok orang dengan kondisi saraf berbeda.

Akan tetapi di Ultranauts, tidak ada yang namanya proses wawancara kerja dan pendaftar pun tidak perlu memiliki pengalaman yang relevan dengan keterampilan teknis tertentu.

"Kami telah mengadopsi pendekatan untuk menyaring pelamar kerja yang jauh lebih objektif daripada yang Anda temukan di sebagian besar perusahaan lain," kata Anandan.

Alih-alih menggunakan CV dan wawancara, pelamar kerja akan menjalani penilaian kompetensi dasar di mana mereka akan dievaluasi dalam menunjukkan 25 sifat yang diperlukan untuk menjadi penguji perangkat lunak, seperti kemampuan untuk mempelajari sistem baru atau kemampuan untuk menerima masukan.

Setelah tes awal itu, mereka akan menjalani masa kerja dari rumah yang digaji penuh. Mereka juga tahu bahwa mereka bisa memilih untuk bekerja sesuai jadwal yang diinginkan, yang berarti bahwa mereka bisa mengambil jam kerja sebanyak yang dirasa nyaman, ketimbang harus terikat dalam kerangka jam kerja penuh.

Keuntungan kompetitif 'keragaman kondisi saraf'

Penelitian Universitas Harvard dan BIMA menunjukkan bahwa merangkul dan memaksimalkan bakat orang-orang yang memiliki cara kerja otak yang berbeda dapat menghasilkan keuntungan yang besar dalam berbisnis.

Memiliki tenaga kerja yang punya keragaman kondisi saraf terbukti meningkatkan inovasi dan pemecahan masalah, karena mereka melihat dan memahami informasi dalam berbagai cara yang berbeda.

Peneliti juga menemukan bahwa akomodasi yang diberikan kepada pegawai dengan kondisi saraf berbeda, seperti jam kerja fleksibel atau bekerja dari rumah, juga dapat menguntungkan pegawai dengan kondisi saraf tipikal.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam sebuah acara tahun 2017 lalu di Paris yang menyoroti besarnya kebutuhan akan kesadaran terhadap autisme

NAS mengatakan mereka melihat adanya peningkatan jumlah organisasi yang menghubungi mereka untuk mencari tahu bagaimana cara merekrut orang-orang dalam spektrum autistik dan kondisi saraf yang berbeda, terutama di luar sektor Teknologi Informasi.

NAS memberi masukan berupa perubahan-perubahan kecil, seperti memastikan bahwa setiap rapat harus memiliki suatu agenda.

Persiapan agenda dan peralatan terkait dapat membantu pegawai dengan kondisi saraf beragam untuk fokus terhadap informasi yang dibutuhkan dan membantu orang lain dapat merencanakan segalanya lebih awal, dan membuat rapat menjadi lebih mudah diakses.

"Hal-hal yang kami sarankan adalah praktik yang baik untuk perusahaan mana pun, bukan hanya untuk orang dengan autisme. Hal-hal itu tidaklah mahal, dan seringkali justru sangat mudah dan cepat untuk dilakukan," kata Maybank.

"Para pengusaha harus mengenali budaya dalam organisasi mereka dan memahami peraturan tidak tertulis dari organisasi itu, untuk membantu orang menavigasi itu."

Maybank, yang telah bekerja dengan orang-orang autis selama satu dekade terakhir, mengatakan bahwa ia ingin melihat lebih banyak pelatihan wajib bagi para manajer untuk mempelajari tenaga kerja dengan keragaman kondisi saraf serta lebih banyak program untuk membantu orang menciptakan hubungan sosial yang lebih baik di tempat kerja.

Dia juga merasa para pemberi kerja perlu melihat rute perkembangan berbeda bagi karyawan yang mungkin tidak ingin menjadi manajer.

Namun ia mengatakan bahwa peningkatan kesadaran akan keberagaman kondisi saraf telah meningkatkan pemahaman di lingkungan kerja. "Orang-orang menjadi lebih terbuka dalam mengenali beragamnya perilaku autistik dan kondisi saraf yang berbeda," ungkapnya.

"Orang-orang memiliki persepsi tentang autisme sebelumnya, tapi yang terbaik adalah menanyakannya langsung kepada orang yang bersangkutan. Mereka mungkin saling bertentangan meskipun memiliki kondisi yang sama."

Menyesuaikan teknologi baru

Bukan hanya peningkatan kesadaran; bekerja dari rumah dan teknologi baru juga membantu mendukung pegawai yang sebelumnya mungkin kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Peralatan kerja termasuk platform berbagi pesan instan seperti Slack dan aplikasi pembuatan daftar seperti Trello telah meningkatkan komunikasi pegawai yang mungkin bekerja di luar standar lingkungan kantor.

Alat-alat itu dapat memberikan keuntungan tambahan bagi orang-orang dalam spektrum autistik yang mungkin menganggap komunikasi tatap wajah sulit dilakukan.

Ultranauts telah memanfaatkan teknologi ini, serta menciptakan alat sendiri agar sesuai kebutuhan pegawainya.

"Beberapa tahun lalu, seorang kolega di tim kami mengatakan bahwa mereka berharap setiap pegawai yang masuk, membawa buku petunjuk masing-masing," kata Anandan.

Maka itulah yang mereka ciptakan, sebuah alat panduan yang ditulis sendiri bernama 'biodex' yang memberi tahu seluruh pegawai Ultranauts informasi yang mereka butuhkan untuk mencari tahu cara terbaik dalam bekerja dengan karyawan tertentu.

Bersifat fleksibel dalam pengaturan tata ruang kerja dan menyesuaikan perilaku perusahaan untuk memenuhi kebutuhan pegawainya yang autis terbukti menjadi sebuah kesuksesan besar bagi Ultranauts, yang mulai membagikan pengalaman mereka kepada perusahaan lainnya.

Anandan mengaku bahwa menjadikan tempat kerjanya inklusif bagi kolega dengan kondisi saraf yang beragam tidak menciptakan gesekan ataupun inefisiensi, tetapi justru memungkinkan orang-orang yang sebagian besarnya diabaikan oleh masyarakat untuk menunjukkan bakat mereka yang sebenarnya.

"Kami telah berulang kali menunjukkan... bahwa kami memberikan hasil yang lebih baik karena keragaman tim kami," pungkasnya.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris pada Where 75% of workers are on the autistic spectrum di laman BBC Worklife.

Topik terkait

Berita terkait