Marlyn Monroe hingga Elvis Presley, bagaimana ketidaksetaraan gender berlanjut hingga liang lahat

Ekonomi Hak atas foto Getty Images
Image caption Ketimpangan gender terus terjadi bahkan saat para selebritas perempuan telah wafat. Hanya terdapat lima perempuan dalam 50 besar selebritas yang telah meninggal berpenghasilan terbesar.

Kurang dari 10% selebritas yang telah meninggal yang berpenghasilan terbesar di dunia merupakan perempuan.

Angka itu menunjukkan bagaimana ketimpangan upah berbasis gender begitu nyata, bahkan di antara mereka yang telah wafat.

Kematian bukanlah alasan bagi selebriti untuk berhenti bekerja. James Dean, meskipun sudah mati sejak 1955, baru-baru ini berperan dalam film perang Vietnam yang baru, Finding Jack.

Peran Dean dimainkan komputer yang menggabungkan rekaman dan berbagai foto lamanya. Suaranya pun diisi aktor lain.

Orang mati kini benar-benar menjadi saingan aktor-aktor yang masih hidup dalam film.

Pelibatan aktor yang telah wafat yang kontroversial ini memicu kemarahan banyak pemain peran di Twitter. Keluhan yang muncul antara lain manipulasi eksistensi seseorang hingga sikap tidak hormat terhadap para aktor idola yang sudah tiada.

Dean bukanlah selebritas pertama yang tampil ke publik setelah kematian.

Penyanyi legendaris Nat King Cole 'berkolaborasi' dengan putrinya, Natalie, pada album yang memenangi anugerah Grammy Award tahun 1991, Unforgettable… With Love.

Cole juga tampil di atas panggung bersama Natalie. Sosoknya muncul dalam layar video di atas panggung.

Sementara itu, Tupac Shakur bernyanyi di atas panggung dengan Snoop Dogg dan Dr Dre tahun 2012, sedangkan Michael Jackson tampil dalam wujud hologram di ajang Billboard Music Awards 2014.

Jika, seperti yang dinyatakan Dean, "keabadian adalah satu-satunya kesuksesan sejati," maka kesuksesan memang dapat digapai semakin banyak selebritas yang tetap produktif dan terkenal setelah kematian.

Namun, eksistensi sejumlah selebritas yang telah wafat memang lebih dihargai ketimbang yang lainnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Penyanyi rap Tupac Shakur tampil dalam wujud hologram bersama Snoop Dogg tahun 2012.

Baik hidup maupun mati, keberadaan pesohor begitu signifikan sebagai katalisator makna budaya. Nilai ekonomi dan ikon mereka berlanjut hingga kematian melalui jejak yang mereka tinggalkan semasa hidup.

Pengaruh para pesohor yang telah wafat itu terabadikan sebagai merek, yang mencakup foto, film, tanda tangan, rekaman suara, dan persona yang mereka tampilkan kepada publik.

Kematian bukanlah faktor akhir yang dapat menyamakan kedudukan karena ketidaksetaraan berlanjut dalam kematian. Selebritas yang telah wafat ini pun memiliki nilai yang beragam.

Bagi banyak selebritas wanita terkenal, jejak yang mereka tinggalkan bernilai seksual, seperti yang mereka miliki semasa hidup: masa muda, kecantikan, dan sensualitas.

Sebagian besar nilai simbolis dan ekonomi selebritas wanita itu terkait tubuh mereka. Dampaknya, penampilan mereka setelah kematian mencerminkan ketidaksetaraan gender.

Selebriti wanita yang sudah wafat dipekerjakan untuk menjual produk-produk feminim seperti cokelat atau parfum. Di sisi lain aktor Hollywood yang telah tiada, Steve McQueen, menjadi bintang iklan mobil Ford Puma, sedangkan almarhum ilmuwan terkemuka, Albert Einstein, mempromosikan roti tawar, Genius Bread.

Masuk daftar

Ketidaksetaraan gender yanga melampaui liang lahat secara jelas terungkap dalam publikasi majalah Forbes tentang Daftar Selebriti Wafat Berpenghasilan Tertinggi. Peringkat itu muncul setiap Oktober sejak 2001.

Disebut 'daftar orang mati kaya raya', publikasi itu mengungkapkan ketimpangan gender yang berbeda.

Dari 52 selebritas yang telah muncul dalam daftar tersebut selama dua dekade terakhir, hanya lima di antaranya perempuan, yaitu aktris Marilyn Monroe dan Elizabeth Taylor, artis striptis tahun 1950-an dan model Bettie Page serta penyanyi-penulis lagu Jenni Rivera dan Whitney Houston.

Selebritas laki-laki, antara lain Michael Jackson, Elvis Presley, dan Charles Schultz, secara konsisten mendominasi posisi teratas di daftar itu. Penghasilan mereka setelah mati sangat tinggi dibandingkan selebritas perempuan dalam peringkat itu.

Posisi teratas ditempati Michael Jackson setiap tahun, kecuali 2009 dan 2012, sejak kematiannya. Capaian Jackson melawan tren minimnya selebritas berkulit hitam dalam daftar itu.

Penghasilan Jackson sangat besar, tahun 2016 naik menjadi Rp11,6 triliun saat meraup untung dari penjualan setengah katalog lagu Sony / ATV Music, termasuk karya The Beatles yang dikuasainya.

Penghasilan Jackson jatuh ke titik terendah pada tahun 2019 dengan total Rp848 miliar.

Sementara itu, Marlin Monroe adalah selebritas perempuan terkaya dengan penghasilan Rp183 miliar pada tahun 2019. Angka itu mempertahankan Monroe di peringkat ke-8 dalam dua tahun berturut-turut.

Forbes mengatakan, pencapaian karier gemilang secara finansial pascakematian mudah diraih selebritas kulit putih, baik dari AS maupun Inggris.

Meski begitu, selebritas wafat yang berkulit hitam dan dari kelompok minoritas lainnya kini lebih berpeluang masuk daftar tersebut, ketimbang tahun 2001. Fobers merujuk pencapaian Michael Jackson, Bob Marley, Prince, dan Whitney Houston baru-baru ini.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Manipulasi komputer memungkinkan almarhum aktor James Dean tampil dalam film bertema Perang Vietnam terbaru.

Membangun citra sebagai selebritas yang telah tiada

Penghasilan Monroe, Taylor, Page, Rivera, dan Houston setelah setelah wafat menggambarkan bagaimana perempuan dan selebritas berkulit hitam atau beretnis minoritas kerap kurang terwakili dalam daftar orang-orang mati berpendapatan tinggi.

Keberadaan mereka menyingkap nilai selebritas, dalam hal simbolisme dan ekonomi, sangat bersifat gender setelah kematian.

Bagi banyak selebritas perempuan terkenal, jejak yang mereka tinggalkan bernilai seksual, sama seperti yang mereka miliki saat hidup. Citra mereka setelah kematian menjadi berharga karena modal tubuh mereka.

Di sisi lain, laki-laki memiliki rekam jejak yang baik dalam menghasilkan kekayaan melalui buku yang mereka tulis atau musik dan lirik yang mereka buat dan miliki.

Sebaliknya, selebritas wanita cenderung tidak memproduksi kekayaan bagi diri mereka, tapi untuk orang lain.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Michael Jackson duduk di peringkat pertama daftar selebritas meninggal terkaya versi Forbes.

Walau begitu, abad ke-21 menyaksikan munculnya selebritas perempuan yang tanggap dan berpengetahuan luas yang memiliki sumber produksi kekayaan dan tidak terbatas pada modal tubuh mereka.

Oprah Winfrey, kakak-beradik Kardashian, dan JK Rowling memegang kendali kuat atas nilai ekonomi dan simbolik mereka. Modal itu dapat mereka bawa menuju kematian.

Hampir semua kandidat perempuan yang mungkin masuk daftar itu memiliki umur panjang, mudah-mudahan, dengan cara mencegah penyakit atau kecelakaan. Artinya, butuh bertahun-tahun sebelum ketidaksetaraan gender dalam daftar selebritas wafat itu dapat berubah.

Selama kondisi belum berubah, saat modal tubuh selebritas perempuan masih menjadi citra utama, kematian jelas bukan akhir ketimpangan yang terjadi. Ketidaksetaraan bakal terus berlanjut hingga kematian.

Ruth Penfold-Mounce adalah dosen senior di University of York. Baca tulisannya yang lain di The Conversation.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris diBBC Worklifedengan judulWhat James Dean can tell us about the gender gap.

Topik terkait

Berita terkait