Stres menguntungkan atau justru merugikan?

Stres Hak atas foto Mark Kolbe/Getty Images

Teori yang berusia 100 tahun mengatakan stres dapat membantu kinerja intelektual dan fisik - tetapi hanya sampai pada titik tertentu. Jadi bagaimana Anda bisa memanfaatkan rasa stres?

Seperti banyak tenaga medis darurat, Nicholas Groom terbiasa dengan stres saat bekerja.

Dia berbicara dengan cepat, dengan urgensi yang tampaknya cocok untuk seorang tenaga paramedis.

"Kami adalah kelompok yang aneh karena kami secara sukarela datang ke situasi yang dihindari orang lain," kata Groom, 29 tahun, pengurus College of Paramedics yang tinggal di Oxfordshire, Inggris.

"Anda harus menyukai stres dan tekanan, sampai batas tertentu."

Di satu sisi, stres dapat membantu.

"Ketika menghadapi sebuah insiden serius, stres membantu saya mengambil keputusan karena stres membantu saya mempertahankan fokus," kata Groom.

"Stres membantu Anda tetap sadar akan perubahan keadaan di sekitar Anda."

Di sisi lain, pekerjaan bisa jadi penuh tekanan.

"Terlalu banyak stres menyebabkan apa yang kita sebut sebagai 'kelebihan kognitif', hal yang merusak kemampuan Anda untuk mengambil keputusan karena Anda telah kehilangan kesadaran situasional itu," tambahnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Di titik 'naik', sumber daya tubuh dialokasikan untuk keadaan darurat, menghasilkan kewaspadaan mental dan ketegangan otot yang lebih tinggi

Groom tidak sendirian dalam hubungannya yang rumit dengan stres.

Banyak orang bekerja dengan baik di bawah tekanan atau percaya banyak orang yang seperti itu.

Tetapi bisakah stres benar-benar membantu Anda melakukan pekerjaan dengan lebih baik dan jika demikian, berapa 'kadar stres' yang tepat?

'Hukum' stres

Banyak orang percaya pada pendekatan Goldilocks terhadap stres.

Terlalu banyak, dan Anda menjadi kewalahan.

Terlalu sedikit, dan Anda tidak akan termotivasi.

Bagaimanapun, beberapa bentuk kecemasan memotivasi; pikirkan adrenalin saat Anda mencoba memenuhi batas waktu atau rasa antusias sebelum mengikuti kompetisi.

"Stres sangat fungsional, oleh karena itu stres sangat penting untuk kinerja dan kesehatan," ujar James C Quick, seorang profesor manajemen di University of Texas di Arlington.

"Stres sangat membantu untuk keadaan darurat dan untuk pencapaian puncak dalam kegiatan-kegiatan tertentu."

Penggemar olahraga kadang-kadang bahkan percaya adanya "clutch gene" pada atlet, yang terlihat bermain sangat baik di saat-saat terakhir pertandingan.

Meskipun jelas tidak ada gen untuk itu, hubungan antara kinerja dan stres adalah prinsip psikologis yang sudah diakui sehingga diabadikan sebagai Hukum Yerkes-Dodson.

Teori ini ditemukan dua psikolog di tahun 1908.

Mereka menemukan bahwa tikus lebih cepat mempelajari tugas (yakni memilih satu dari dua kotak) jika mereka menerima "sengatan listrik yang tidak menyenangkan".

Guncangan "sedang" membuat tikus belajar lebih cepat daripada guncangan "ringan" atau "ekstrem".

Hasil serupa terlihat dalam penelitian pada hewan lain - untungnya tidak selalu melibatkan kejutan listrik.

Makalah itu berfokus pada pembentukan kebiasaan, bukan menganalisis stres dan perilaku manusia.

Tetapi pada dekade-dekade berikutnya, banyak penelitian lain dipengaruhi oleh makalah ini, sehingga teori itu kerap disebut sebagai "hukum".

Secara umum dipercaya bahwa kinerja meningkat dengan rangsangan tetapi hanya sampai titik tertentu, hubungan yang sering digambarkan sebagai kurva U terbalik.

(Istilah "stres" dan "naik" sering digunakan secara bergantian.)

Image caption Menemukan keseimbangan antara stres sebagai motivator dan stres sebagai sumber kelelahan luar biasa adalah kunci untuk memanfaatkan potensi kinerja kita.

Dalam istilah fisiologis, 'naik' mungkin terjadi karena peningkatan detak jantung, aliran darah yang dialihkan ke otak dan kelompok otot besar, dan pelepasan glukosa sebagai bahan bakar.

Sumber daya tubuh dialokasikan untuk keadaan darurat, membentuk kewaspadaan mental hingga membentuk ketegangan otot yang lebih tinggi.

Otak dan tubuh pada dasarnya menguatkan diri.

Ini membantu dalam krisis yang sebenarnya atau dalam menanggapi tantangan.

Sementara itu, kekurangan atau kelebihan kadar 'stres yang perlu' bisa mempengaruhi performa.

Menemukan keseimbangan adalah kuncinya, ujar Quick.

Mengapa tipe-tipe stres perlu diperhatikan

Sementara prinsip Yerkes-Dodson beresonansi dengan banyak orang, ada banyak kritik juga.

Pengkritik menyarankan teori itu diterapkan terlalu luas.

Studi tentang hubungan antara stres dan kinerja menunjukkan bahwa hasilnya tergantung pada berbagai faktor yang kompleks. Ini termasuk bagaimana kinerja diukur dan sifat stresor.

Kurang tidur dapat berpengaruh pada kecepatan, tetapi tidak pada akurasi (jadi pelari cepat tidak boleh keluar larut malam).

Kebisingan mungkin mempengaruhi ketepatan, tetapi bukan kecepatan (jadi seorang jurnalis harus mencoba menemukan ruang kerja yang tenang).

Dan ini tidak mencerminkan tujuan dan kepribadian seseorang, seperti orang yang introvert.

Misalnya, beberapa orang mungkin termotivasi oleh tekanan karena mereka adalah "pesimis defensif" yang bekerja lebih baik ketika mereka sedikit khawatir.

Yang lain lebih termotivasi dengan penguatan-penguatan positif.

Tentu saja, stres dapat menyebabkan kerusakan dalam jangka waktu panjang.

Contohnya, denyut jantung tinggi dikaitkan dengan risiko kardiovaskular.

Dan stresor tambahan, seperti tekanan keuangan atau masalah kejiwaan, jelas memengaruhi bagaimana seseorang dapat merespons stres dengan baik.

Crystal Wernicke, 30, selalu menggunakan stres sebagai motivator.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Terlepas dari efek sampingnya, stres dapat menjadi hal yang bermanfaat dalam situasi darurat

Sebagai anak sekolah yang sering bosan, dan kemudian menjadi karyawan Disney World, ia menciptakan cara-cara yang penuh tekanan untuk membuat dirinya tertarik, seperti baru belajar sebelum ujian atau mengambil tanggung jawab ekstra di tempat kerja.

"Orang-orang memiliki mentalitas negatif ketika menghadapi tekanan," katanya. "Tapi saya pikir itu bisa digunakan sebagai sesuatu yang baik jika dilakukan dengan benar."

Tetapi mengasuh anak, menjalani pekerjaan penuh waktu, melakukan kegiatan sukarela, dan masalah keuangan membuatnya kewalahan.

Akhirnya ini menyebabkannya menderita gangguan autoimun yang dipicu oleh stres selama dua bulan.

Sekarang Wernicke menjadi mahasiswa teknik penuh waktu yang tengah berusaha mengatur ulang hubungannya dengan stres - dan mengubah kebiasaannya.

Cara terbaik menggunakan teori Yerkes-Dodson

Jadi, adakah cara untuk memanfaatkan stres sambil tetap memperhatikan efek jangka panjangnya yang merugikan?

Salah satu faktor kuncinya adalah untuk menghindari, jika mungkin, titik kritis ketika stres menyebabkan burnout, atau perasaan kelelahan luar biasa.

Dalam kasus Groom, shift malam sangat melelahkan baginya.

"Pada akhir shift, saya merasa seperti saya sedang mabuk tidur dan perlu dua hari untuk pulih," katanya.

Setelah ia mulai menunjukkan compassion fatigue (kelelahan untuk menolong orang lain akibat stres), ia mengubah pola kerjanya dan menemukan dukungan dari rekan-rekannya.

Bagi mereka yang merasa tidak berdaya atas situasi mereka, stres tidak mungkin bermanfaat.

Studi menunjukkan bahwa stres akut dan tidak terkendali membatasi fungsi yang dikelola oleh korteks prefrontal, yang bertanggung jawab untuk memori, penalaran dan pengambilan keputusan.

Tetapi dengan kemampuan mengelola itu, tikus dan manusia sama-sama lebih mampu mengubah tekanan itu menjadi kinerja yang lebih tinggi.

Penelitian oleh Sian Beilock, seorang ilmuwan kognitif dan presiden Barnard College, menunjukkan peran memori otak berbeda tergantung pada tugas yang dihadapi.

Untuk aktivitas intelektual yang penuh tekanan seperti ujian, peserta ujian kemungkinan akan sulit bernapas jika mereka khawatir karena kekhawatiran akan menghabiskan memori kerja otak.

Untuk aktivitas fisik seperti pertandingan olahraga, kecemasan dapat melumpuhkan kesadaran berlebihan tentang apa yang terjadi secara fisik.

Jadi peserta ujian harus berusaha untuk tidak menghabiskan memori otak mereka yang berharga dengan khawatir berlebihan.

Sementara, para atlet harus fokus pada hasil (misalnya ke mana bola harus ditujukan) daripada pada tubuh mereka.

Beilock juga menemukan cara orang menafsirkan respons tubuh mereka terhadap stres dapat mengubah kinerja mereka.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Faktor-faktor eksternal, seperti stabilitas keuangan, dapat mempengaruhi bagaimana seseorang menanggapi stres

Ketika dia dan rekan-rekannya menguji kecemasan siswa sekolah menengah, mereka menemukan bahwa siswa dari keluarga berpenghasilan tinggi lebih cenderung percaya bahwa sedikit stres bisa memotivasi.

Penelitian Beilock menunjukkan bahwa siswa dari keluarga berpenghasilan rendah mungkin mendapat skor lebih baik pada tes seperti itu, jika mereka melihat respons tubuh mereka seperti - telapak tangan yang berkeringat, detak jantung cepat, dan sebagainya- sebagai sesuatu yang positif.

Akan sangat baik jika Anda mampu mengenali variasi stres dan di mana Anda berada dalam kurva stres.

Pada akhirnya, tidak ada gunanya mengambil pandangan sepihak, baik menyisihkan atau memuliakan manfaat stres.

Singkatnya, stres bisa menjadi ciuman kematian dan juga bumbu kehidupan.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dengan judul Is stress good or bad? It's actually both pada laman BBC Worklife.

Berita terkait