Kisah stigma sosial terhadap orang-orang bertato di seluruh dunia

Tato Hak atas foto AFP/BEHROUZ MEHRI
Image caption Di Jepang, orang bertato dilarang masuk ke kolam renang publik dan pusat kebugaran. Tato juga kerap mempersulit orang mendapatkan pekerjaan di Jepang.

Semakin banyak orang memiliki tato dan perusahaan-perusahaan harus menerima kenyataan itu. Namun persoalannya tidak semudah itu.

"Dalam beberapa tahun terakhir, tato makin digemari banyak orang."

Itulah pendapat George Bone tentang tato yang kini menjadi suatu hal lumrah. Bahkan di Konvensi Tato London yang diklaim sebagai ajang tato terbesar di Eropa, Bone tetap menonjol.

Pernah disebut sebagai orang yang paling bertato di Inggris, Bone yang kini berusia 74 tahun masih mengelola secara penuh studio tatonya. Namun, Bone tampak tidak terkesan pada perubahan pandangan publik terhadap tato.

"Tato berubah menjadi sekedar aksesoris fesyen. Saya menentang itu karena tato bukan aksesoris, melainkan pilihan hidup," ujarnya.

"Saya terbiasa menjadi orang yang dianggap berbeda, tidak patut, tapi kini saya menjadi orang normal. Saya harus memikirkan cara hidup lain!"

Bone seolah meremehkan persona dirinya di saat tato terus berkembang di berbagai negara. Di satu sisi, tidak setiap saat Anda dapat melihat manula berselimut seni rajah tubuh.

Hak atas foto AFP/DOMINIQUE FAGET
Image caption Di sejumlah negara, tato berhubungan dengan tradisi dan budaya, salah satunya di suku Maori di Selandia Baru.

Lembaga riset berbasis di Berlin, Jerman, Dalia Research, menggelar jajak pendapat terkait tato terhadap 9.000 orang di 18 negara pada tahun 2018. Mereka menemukan bahwa 46% responden di Amerika Serikat mempunyai tato.

Pada survei yang sama, terdapat 47% responden bertato di Swedia dan 48% di Italia.

Sementara itu dalam jajak pendapat tahun 2010 yang dilakukan Pew Research Centre diketahui bahwa 38% milenial di AS bertato. Meski begitu, 70% di antara mereka mengaku tato tersebut tidak berada di bagian tubuh yang mudah terlihat.

Di banyak tempat, tato kini tidak lagi menjadi milik pemberontak. Anthony Fawkes, salah satunya.

Berstatus sebagai konsultan teknologi informasi untuk berbagai bank investasi, Fawkes datang ke konvensi tato di London. Sebuah tato dirajah di tubuhnya oleh Nikole Lowe (47 tahun), pemilik studio Good Times Tattoo di Shoreditch, London Timur.

Lowe mengerjakan gambar naga rumit di sekitar lengan kiri Fawkes. Gambar itu pada akhirnya akan terdiri dari lima bagian.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Jelang Olimpade di Tokyo pertengahan tahun 2020, Jepang didorong mengubah cara pandang mereka terhadap tato.

"Saya akan ditato gambar pendekar Shaolin bertarung dengan binatang, gambar ular, harimau, naga, macan tutul, dan mesin derek," kata Fawkes. Sebelum proses pembuatan tato baru itu, kini lengan kanannya sudah bertato ular dan harimau.

"Awalnya saya berpikir harus menutup seluruh tato itu saat bekerja, tapi menurut saya tato sudah diterima secara luas oleh masyarakat. Satu-satunya reaksi yang saya terima adalah pujian," ujar Fawkes.

Fawkes memperkirakan gambar utuh tatonya harus ditebus seharga US$15 ribu atau sekitar Rp204 juta. Harganya tergantung seberapa lama proses pengerjaan tatonya.

Nilai itu cukup besar tapi tetap saja, tato tidak umum bagi orang-orang berpenghasilan besar di industri profesional yang mapan.

Sejumlah politikus dan pebisnis juga bertato, di antaranya Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau dan direktur eksekutif News Corp, Lachlan Murdoch. Logikanya, jika pimpinan negara dan sosok pebisnis penting bertato, maka seni rajah tubuh ini juga akan diterima masyarakat. Tapi kenyataannya tidak demikian.

Hak atas foto AFP/JUNI KRISWANTO
Image caption Angkatan Darat AS memiliki kebijakan rinci tentang tato yang boleh dan tidak boleh dimiliki personelnya.

Stigma sosial

Jika sejumlah orang nyaman memperlihatkan tato mereka, di Inggris, AS, dan beberapa negara lainnya, beberapa perusahaan masih melarang tato di kalangan pegawainya.

Lembaga seperti Angkatan Darat AS memiliki ketentuan tentang apa yang boleh dan yang dilarang.

Sementara dengan alasan pembebasan budaya, maskapai Air New Zealand mencabut aturan tentang tato di bagian tubuh yang tak terlihat. Di Selandia Baru, kebijakan agar suku Maori menutup tato menimbulkan kontroversi.

Selain pengecualian terhadap budaya tertentu, sikap perusahaan yang konservatif tidak serta-merta tak sejalan dengan norma sosial.

Anda mungkin berpikir bahwa di negara-negara dengan persentase penduduk bertato yang tinggi, akan ada pandangan yang lebih santai tentang seni tubuh. Namun kenyataannya tidak selalu seperti itu.

Penelitian yang dilakukan untuk Universitas Iowa Utara oleh Kristin Broussard dan Helen Harton mengungkapkan bahwa bahkan di AS, mengenakan tato sebagai pelapis lengan akan diganjar stigma sosial.

Dalam kajian mereka tahun 2017, Broussard dan Harton melibatkan dua kelompok. Grup pertama terdiri dari pelajar berusia rata-rata 19 tahun, sedangkan kelompok lain adalah penduduk AS dengan median umur 42 tahun.

Dua kelompok itu lalu ditunjukkan foto laki-laki dan perempuan yang memiliki tato di lengan mereka. Foto yang sama juga ditampilkan kepada responden, tapi setelah melalui proses penyuntingan yang menghapus tato.

Dua grup responden itu diminta menilai orang-orang bertato dalam foto tersebut. Penilaian diberikan dalam 13 karakter dan terhadap sifat personal seperti kejujuran, kesuksesan, kecerdasan, dan seberapa besar mereka dapat dipercaya.

Sebagian besar di kelompok pelajar berpendapat bahwa perempuan bertato lebih kuat dan mandiri. Namun secara umum dua kelompok lebih senang dengan foto orang-orang tak bertato.

Broussard mengaku terkejut dua kelompok responden itu memiliki penilaian yang sama. "Banyak remaja berusia 19 tahun memiliki tato, jadi Anda menilai mereka semestinya tak bermasalah dengan isu ini," ujarnya.

Hak atas foto Mykola Romanovksy
Image caption Walau 38% milenial di Amerika Serikat memiliki tato, hanya 30% di antara mereka yang menunjukkannya ke publik sehari-hari.

Akan tetapi Broussard menyebut walau seseorang memiliki tato, dia bisa saja tetap menyimpan pandangan negatif tentang seni rajah tubuh tersebut.

"Publik cenderung menginternalisasi stigma, termasuk jika Anda memiliki tato. Jika ada stigma masyarakat yang kuat terhadapnya, Anda akan memendam dan mempercayainya."

"Perilaku ini seolah baik-baik saja untuk saya, tapi tidak untuk mereka," kata Broussard.

'Skala penerimaan'

Jadi, bahkan jika Anda seorang CEO yang memiliki tato, Anda mungkin tidak akan mempekerjakan seseorang yang memiliki tato.

Johnny C Taylor Jr, presiden dan CEO di lembaga berbasis di AS, Society for Human Resource Management, yang mewakili sekitar 300 ribu praktisi personalia profesional SDM, menyebut ada skala penerimaan yang bisa diterima menyangkut tato.

"Dalam konteks tato yang paling bisa diterima hingga paling tidak dapat diterima, jika Anda bisa menyembunyikannya, tidak apa-apa," ujar Taylor.

"Ada pemberi kerja yang mengatakan Anda boleh bertato, tapi itu seharusnya tidak menjadi gangguan; seperti menutupi setengah wajah Anda atau yang menyinggung orang lain, seperti gambar wanita berpakaian minim di bisep seorang pria."

"Terakhir, ada kategori yang tidak dapat diterima, dan itu biasanya tato di wajah Anda dan itu adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun, atau ketika benar-benar kontroversial, misalnya gambar swastika," kata Taylor.

"Dalam sektor yang lebih konservatif, misalnya jasa keuangan, perbankan, dan layanan kesehatan, terdapat kebijakan yang lebih konservatif pula mengenai tato," tambah Taylor.

"Kami menemukan lebih banyak kebijakan liberal di sektor hiburan, bahkan di perusahaan hiburan di mana orang-orang di tingkat paling senior mungkin memiliki tato yang terlihat. Mereka tidak akan pernah bertato jika mereka merupakan eksekutif senior di bank."

Hak atas foto Getty Images
Image caption George Bone, yang pernah menjadi orang paling bertato di Inggris, mengutuk tato yang kini dianggap sebagai aksesoris fesyen semata.

Di beberapa negara, pimpinan yang bertato sama sekali tidak masuk akal. Jepang memiliki hubungan tidak mengenakan dengan seni rajah tubuh ini.

Tato sejak lama dikaitkan dengan yakuza. Anggota geng Jepang dikenal memiliki desain tato rumit untuk menunjukkan kekayaan, maskulinitas, dan kemampuan mereka menahan rasa sakit.

Tato dilarang oleh hukum Jepang sampai tahun 1948. Lebih dari 70 tahun kemudian, orang-orang bertato secara umum masih belum dianggap diterima secara sosial.

Hak atas foto NurPhoto/Getty Images
Image caption Ajang olahraga terbesar di dunia yang bakal digelar di Tokyo tahun 2020 mendorong publik negara itu mengubah pandangan tentang tato.

Piala Dunia Rugbi 2019 dan Olimpiade pertengahan 2020 di Tokyo menguak kembali persoalan ini. Di negara yang menganggap tabu memajang tato di depan umum, haruskah para atlet dan penonton menutupi gambar seni di tubuh mereka?

Konservatisme ini membuat Yutaro frustrasi. Ia adalah salah satu pemilik studio tato bernama Red Point di London. Ia berasal dari Chiba, suatu wilayah di dekat Tokyo.

Ketika beristirahat sejenak dari proses menggambar tato Hakutaku, makhluk mengerikan dari mitologi Jepang dan China, Yutaro - yang menggunakan satu nama - melampiaskan kekesalannya.

"Tato adalah fenomena budaya, orang-orang menghias tubuh mereka untuk merasakan hal tertentu, tetapi orang-orang di Jepang sulit keluar dari pola pikir mereka," katanya.

Pandangan terhadap tato sering kali sama rumitnya dengan desain itu sendiri. Namun bagi para penggemar seni rajah tubuh permanen, tato adalah tren yang akan terus ada.

Anda dapat membaca artikel ini di dalam bahasa Inggris diBBC Worklife, dengan judulNormalising the workplace tattoo taboo.

Topik terkait